Renungan


Translate

Mengapa Weda dan Kitab Hindu Lainnya dianggap Mitologi?

Om Swastiastu...

Begitu banyak tulisan maupun artikel yang saya lihat dengan judul judul berisi kata tentang kitab suci Weda adalah MITOLOGI sehingga kebanyakan Kaum Muda generasi Hindu menjadikan Kitab Suci Weda mungkin menganggap benar adalah MITOLOGI , hal ini perlu saya angkat walaupun banyak artikel yang menyangkal bahwa Weda Bukanlah Mitologi  dengan penjelasan penjelasan secara logika dan ilmiah. 

Marilah generasi muda hindu yang saya banggakan hentikan penggunaan kata kata  Mitologi dalam blog maupun wordpress anda gunakanlah kitab suci Weda yang merupakan wahyu bukanlah Mitologi sesuai dengan artikel yang saya tulis tentang Kronologi Pewahyuan dan Penulisan Weda 
Jika pun ada dari tetangga sebelah atau istilah dauh tukad yang menganggap Weda sebgai Mitologi lebih baek berikan pandangan dan sanggahan secara Hindu bukan dengan emosi dan membabi buta . Untuk  itu tingkatkan terus SDM kita sebagai Hindu untuk menambah wawasan yang lebih mumpuni. Semoga penjelasan di bawah ini yang saya dapat dari berbagai blog teman Hindu bisa memberikan sedikit arti dalam hati dan pikiran untuk Bangkit.

Memang, masih menjadi paradigma yang kuat dalam pikiran orang, bahkan orang Hindu sendiri, bahwa Weda dan Purana hanya berisi epos dan mitologi. Ambillah contoh kitab Bhagavadgita. Bhagavad-gita berisi wejangan rohani yang disampaikan oleh Sri Krishna kepada Arjuna menjelang berlangsungnya perang Bharata Yudha, yang konon terjadi sekitar lima ribu tahun yang lalu. Kita semua tahu bahwa Bhagavad-gita sebenarnya adalah bagian dari Bhisma Parwa, salah satu diantara 18 Parwa kitab Mahabharata. Sri Krishna, Arjuna, beserta para Pandawa adalah tokoh-tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Tetapi dalam anggapan sebagian besar masyarakat Hindu sekalipun, Mahabharata tidak lebih daripada sekedar sebuah epos, cerita kepahlawanan yang dikarang oleh Rsi Vyasa. Ketika kita jelaskan bahwa tempat-tempat yang disebutkan dalam kitab Mahabharata saat ini masih bisa kita telusuri lokasinya, orang masih akan menyangkal dan meragukan penjelasan itu. Menurut mereka, Rsi Vyasa terinspirasi oleh nama-nama tempat itu, lantas mengarang cerita fiksi, yang mengambil nama-nama seperti Hastinapura. (sekarang New Delhi), Dwaraka, dan lain-lain sebagai latar atau setting terjadinya kisah dalam Mahabharata.
Apalagi, dalam masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, Krishna dan Arjuna dikenal sekedar sebagai tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan. Bahkan, ada orang Jawa yang akan marah besar, kalau dikatakan bahwa Mahabharata berasal dari India. Mereka meyakini bahwa kisah Mahabharata terjadi di Jawa, dibuktikan dengan adanya nama nama tempat dan gunung di Indonesia yang diberi nama Arjuna, Bima, dan lain-lain. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam cerita pewayangan telah menjadi filosofi hidup bagi sebagian besar orang jawa. Karena itu, kalau kita katakan perang Mahabharata betul-betul terjadi dalam sejarah, mereka menyangsikan kebenarannya.
 
Pengertian Mitologi
Apa sebenarnya arti kata mitos atau mitologi? Kata mitologi, diadaptasi dari bahasa Inggris “myth”. Dalam kamus Webster New World College Dictionary 3rd Edition, kata “myth” diartikan sebagai : “1) any fictitious story; or unscientific account, theory,belief,etc  2) any imaginary persons or thing spoken as though existing”. Artinya : 1) sembarang kisah atau cerita fiksi (tidak nyata/hayalan/dongeng); atau kejadian, teori dan kepercayaan dan lain-lain yang tidak bersifat ilmiah. 2) sembarang orang atau sesuatu yang dianggap seolah-olah benar-benar ada.


Jadi, menurut definisi di atas, kalau orang menyebut Mahabharata, atau Ramayana, sebagai mitologi atau mitos, itu berarti bahwa kedua kisah itu hanyalah sebuah dongeng, sebuah cerita fiksi, yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi di alam nyata. Bukankah secara ilmiah, tidak ada bukti-bukti kuat yang mendukung kebenaran kisah-kisah Purana itu? Bukankah itu juga berard uraian tentang dasa awatara (sepuluh awatara Wishnu) dalam Purana-Purana tidak lebih dari dongeng? Lantas, apakah dapat disimpulkan bahwa umat Hindu memuja Tuhan dan para dewa yang hanya ada dalam dongeng?
 
Dari Mana Asal Sebutan Mitologi itu?
Kalau kita telusuri asal mula mengapa kitab-kitab Purana dijuluki mitologi, kita akan temukan beberapa alasan. Setidaknya, kami melihat ada dua alasan penting. Pertama, kata “Purana” secara harfiah berarti sejarah. Memang, kitab-kitab Purana mengandung banyak sejarah tentang kegiatan atau lila Tuhan, Para dewa, atau penyembah-penyembah mulia Tuhan. Matsya Purana, misalnya, berisi kisah tentang kemunculan Sri Wishnu yang menjelma sebagai seekor ikan raksasa yang menyelamatkan seorang raja saleh bemama Raja Satyavrata. Kisah ini sebenamya sangat mirip dengan kisah Nabi Nuh dalam Islam yang juga diselamatkan dari Banjir Besar. Sayangnya, dalam Mastya Purana tersebut tidak disebutkan kapan persisnya peristiwa tersebut terjadi Padahal, dalam dunia akademik dan ilmiah, adanya angka tahun ini merupakan syarat penting bagi kita untuk percaya bahwa sesuatu peristiwa benar benar terjadi. Kalau kita tanyakan kepada umat Islam, kapan terjadinya Banjir Besar itupun, mereka juga akan kesulitan menyebutkan angka tahun yang pasti.
Kalaupun kemudian kita berikan penjelasan bahwa Matsya Awatara muncul pada jaman Satya Yuga, ratusan juta tahun yang lalu, orang masih akan mendebat dengan menyatakan bahwa. menurut Teori Evolusi Darwin, adanya jenis kehidupan seperti kera (belum jadi manusia, lho) baru mulai sekitar 100 ribu tahun yang lalu. Manusia jenis homo sapien, yang dikatakan sebagai cikal bakal manusia modern seperti kita baru ada sekitar 5 ribu tahun yang lalu. jadi, bagaimana mungkin telah ada seorang raja bernama Satyavrata jutaan tahun yang lalu?


Begitupun dengan kisah Mahabharata. Menurut Professor K. Srinivasaraghavan, dalam perhitungan ilmu perbintangan Weda (Jyotishastra), perang di Kuruksetra tersebut terjadi pada tanggal 22 November 3067 Sebelum Masehi. Kesimpulan itu didasarkan pada keterangan-keterangan waktu yang terdapat dalam ayat-ayat Mahabharata itu sendiri. Namur, angka tahun itu ditolak oleh sebagian kalangan sejarawan Barat, karena menurut Teori Invasi (Penyerangan) bangsa Arya ke Dravida ciptaan Max Muller, bangsa Arya diperkirakan datang ke India baru pada sekitar tahun 1500 Sebelum Masehi. Menurut teori yang sudah terlanjur dianggap benar itu, Bangsa Arya lah yang merupakan pembawa Rg Weda ke India. jadi, kalau teori ini benar, bahkan Weda dan peradaban Hindu tidak murni lahir dari India, melainkan berasal dari wilayah Indo-jerman, tempat asal bangsa Arya. jadi, tidak adanya kronologi peristiwa yang runtut itulah yang menyebabkan Purana disebut mitologi.

Alasan kedua, julukan mitologi pada Weda tidak dapat kita lepaskan begitu saja dari konteks sejarah penjajahan India oleh Inggris selama ratusan tahun. Kolonial Inggris mulai resmi menjajah India sejak mereka memenangkan pertempuran yang dikenal sebagai Battle of Plassey tahun 1757 (Satsvarupa, 1977). Adalah sebuah fakta bahwa. penjajahan Inggris di India dimanfaatkan oleh Para misionaris Kristen untuk mengalihkan agama penduduk India dari Hindu menjadi Kristen. Mereka mulai membuka sekolah dan perguruan tinggi Kristen. Alexander Duff (1806 – 1878) mendirikan Scots College di Calcutta, yang ia cita-citakan menjadi “headquarters for a great campaign against Hinduism” (Pusat kampanye besar melawan Hindu).
Para misionaris itu tidak segan-segan menyebut kitab-kitab Weda sebagai “absurdities meant for the amusement of children “ yang artinya “serangkaian takhayul yang dimaksudkan untuk hiburan anak anak”.

Dengan tujuan besar seperti di atas, mulailah muncul kalangan intelektual Inggris yang menggangap perlu untuk mendidik orang-orang India dengan ilmu pengetahuan Barat. Upaya itu dimulai dengan lahirnya beberapa, orang Inggris yang mempelajari budaya India dan menguasai bahasa Sanskerta. Terbentuklah sebuah organisasi yang bernama Royal Asiatic Society. Mereka-mereka ini selanjutnya dikenal sebagai indologists, yang kemudian menjadi para penterjemah kitab-100kitab Weda ke dalam bahasa Inggris. Sir William Jones (1746 – 1794), Charles Wilkins (1749 – 1836), dan Thomas Colebrooke (1756 – 1837) dianggap sebagai para pelopor indologist (indology adalah bidang ilmu yang mengkaji budaya dan peradaban India).

Tentu saja, mereka adalah orang-orang Kristen yang sangat taat dan terpelajar, sehingga tujuan mereka menterjemahkan kitab-kitab Weda. ke dalam. bahasa Inggris bukannya tanpa maksud tertentu. Mereka sadar bahwa tidaklah mudah untuk mengubah keyakinan orang India terhadap tradisi turun temurun mereka yang bersumber pada kitab-kitab Weda. Karena itulah, mereka berpendapat bahwa satu-satunya cara adalah menunjukkan kepada orang-orang India bahwa kitab Weda yang mereka yakini tidak lebih dari sekedar takhayul, dongeng, dan mitologi yang tidak masuk akal.

William Jones misalnya, menyebut Bhagavata Purana sebagai “kisah saduran” dan ia berspekulasi bahwa Bhagavata sebenarnya meniru Gospel Kristen yang dibawa ke India, dan bahwa Kesava. (nama lain Krishna) sebenarnya adalah Apollo pahlawan Yunani. Teori ini telah terbukti salah, karena berbagai temuan arkeologi yang berhubungan dengan. legenda Krishna menunjukkan bahwa Krishna telah ada jauh sebelum agama Kristen lahir.

Tokoh Indologist lain yang sangat besar pengaruhnya pada kesan masyarakat dunia terhadap Weda adalah Frederick Max Muller (1823 – 1900). Muller adalah ahli bahasa Sanskerta asal Jerman yang kemudian bekerja pada East India Company, dan dipercaya untuk menterjemahkan kitab Rg Veda ke dalam bahasa Inggris. Muller inilah yang kemudian menciptakan teori “Legenda Arya” dan “Invasi bangsa Arya ke Dravida”. dengan mendasarkan argumentasinya pada ayat-ayat dalam kitab Rg Veda itu sendiri. Bahwa ada sebuah suku bangsa Arya yang telah memiliki peradaban yang tinggi, berasal dari kawasan Iran. Bangsa Arya ini hidup berpindah-pindah, berperang dan menaklukkan suku bangsa lainnya, termasuk suku bangsa Dravida berkulit hitam, yang merupakan suku asli India.

Kebanyakan buku-buku tentang Hindu dan Weda yang bertebaran di perpustakaan dunia saat ini, yang berbahasa Inggris, adalah hasil terjemahan dan tulisan para indologist tersebut dan mengharap orang beralih menjadi Kristen. Karena itulah, tidak mengherankan kalau orang-orang mengenal. kitab Weda sebagai mitologi dan dongeng, karena mereka membaca buku-buku yang memang ditulis untuk misi-misi khusus pada masa itu.
 
WEDA BUKAN MITOLOGI!
Dari uraian di atas, jelas menjadi sebuah tantangan bagi kita untuk paling tidak meyakinkan diri kita sendiri, sebelum meyakinkan orang lain, bahwa Weda khususnya Itihasa dan Purana, bukan sekedar mitologi. Bagaimana caranya?
Pertama, berhubungan dengan bukti-bukti ilmiah yang sering dianggap tidak memadai untuk mendukung kebenaran sejarah Weda. Dalam Weda, disebutkan bahwa ada berbagai metode atau cara yang dapat kita tempuh untuk mernperoleh pengetahuan. Salah satunya adalah pratyaksa, yang berarti persepsi langsung dengan mengandalkan indera kita sebagai alat utamanya. Metode kedua adalah anumana, yaitu pengambilan kesimpulan (inferensi). Metode yang lain disebut sabdha, atau mendengar dari sumber yang dibenarkan.

Dari ketiga metode itu, ilmu pengetahuan modern lebih didasarkan pada dua metode yang pertama, yaitu pratyaksa dan anumana. Sebaliknya, Weda lebih mendasarkan pada metode sabdha, mendengarkan dari penguasa atau sumber rohani. Yang dimaksud penguasa disini bukanlah sebuah rezim yang diktator atau pun seorang raja atau pemimpin yang memiliki kekuasaan mutlak. Ambillah contoh sebuah buku, orang yang paling paham dengan maksud yang ada dalam buku itu, adalah sang penulis buku itu sendiri. Dalam hal. ini penulis itu disebut sebagai penguasa (author) bagi buku itu.

Untuk mendapatkan pengetahuan rohani atau spiritual, Weda menolak penggunaan metode pratyaksa dan anumana, Mengapa? Karena pratyaksa pramana mengandalkan pada kemampuan indera kita dalam menangkap atau memahami sesuatu. Sedangkan indera-indera kita jelas-jelas memiliki banyak kelemahan. Kita tidak bisa melihat benda yang terlalu dekat, atau benda yang terlalu jauh. Dalam ilmu fisika, banyak sekali dipelajari tentang kelemahan mata, telinga, dan kulit kita. Meskipun kemudian kita menciptakan alat-alat untuk membantu penglihatan dan pendengaran kita, akan tetapi jangan lupa bahwa alat-alat itupun kita buat dengan menggunakan indera yang tidak sempurna. Alat-alat itu digunakan oleh manusia yang inderanya tidak sempurna, dan dianalisa oleh orang yang inderanya tidak sempurna.

Setelah menyadari bahwa pratyaksa memiliki banyak kelemahan, para ilmuwan sekarang mengandalkan metode anumana, yang kadang mengarah pada spekulasi, interpolasi dan interpretasi untuk mengambil kesimpulan mengenai hal-hal yang tidak dapat diamati secara langsung oleh panca indera manusia.
Contoh nyata spekulasi itu adalah teori tentang penciptaan alam semesta. Manusia adalah makhluk yang serba terbatas, dan hidup hanya di satu planet bumi ini. Ada jutaan planet di alam semesta ini, dan mungkin jutaan galaxy, yang kita tidak pernah mengetahuinya. Umur manusia pendek, hanya ratusan tahun, dan ilmu pengetahuan modern juga baru berkembang beberapa ratus tahun terakhir ini. Namun demikian, para ilmuwan itu telah berani dengan lantang menyatakan kepada kita, apa yang telah terjadi jutaan tahun yang lalu. Mereka menyimpulkan bahwa, alam semesta tercipta karena adanya sebuah ledakan atau dentuman besar yang disebut dengan Big Bang Theory. Bukankah tidak seorang ilmuwanpun yang hadir dan menyaksikan pada saat alam semesta tercipta? Kalau ada pihak-pihak yang meragukan atau mempertanyakan kebenaran teori itu, maka akan dilabeli dengan sebutan dogmatis, tidak ilmiah dan rasional, penganut agama yang fanatik, sentimentalis, dan sebagainya.
 
TEORI BIG BANG (DENTUMAN BESAR) TELAH DIURAIKAN DALAM WEDA.
Sekarang marilah kita coba bandingkan, apa yang diuraikan dalam Weda yang sering dianggap sebagai takhayul atau mitologi, dengan hasil temuan terakhir para ilmuwan mengenai terciptanya alam semesta. Anehnya, apa yang akhir-akhir ini ditemukan oleh para ilmuwan itu, semuanya telah dijelaskan dalam Weda beribu-ribu tahun sebelum para ilmuwan menyadarinya.


Tahun-tahun terakhir ini ilmuwan fisika dan astronomi mengusulkan teori terbaru terciptanya alam semesta. Mereka menyebut teori itu Big Bang Theory. Teori ini muncul bermula dari pengamatan ahli astronomi Edwin Hubble pada tahun 1920-an (Cremo, 2003) yang menemukan fakta bahwa alam semesta ini tampak mengembang. Ada penjelasan teknis yang cukup rumit mengenai hal ini, yang menyangkut panjang gelombang dan spektrum cahaya. Secara sederhana, terbukti bahwa cahaya yang terpancar dari berbagai galaxy yang ditangkap oleh bumi kita ini makin lama makin besar panjang gelombangnya. Ini menunjukkan bahwa, jarak antara bumi dan galaxy-galaxy itu semakin jauh. Jarak yang bertambah itu menunjukkan bahwa alam semesta ini mengembang! Untuk memudahkan memahaminya, galaxy-galaxy itu dapat diibaratkan sebagai bintik-bintik warna yang terdapat pada kulit balon mainan anak-anak. Bila balon ditiup, lama-kelamaan bintik-bintik warna, pada kulit balon itu akan memiliki jarak yang makin besar satu sama lain.

Berdasarkan temuan ini, para ahli astronomi dan ahli fisika mengemukakan sebuah teori, bahwa alam semesta ini mulai muncul sebagai sebuah fluktuasi quantum mechanical vacuum, atau mekanika kuantum kosong, yang secara mudah digambarkan sebagai lautan energi yang tak terdefinisikan. Menurut teori itu, pada tahap awal, alam semesta ini dalam bentuk benih alam semesta (seedlike universes) yang sangat-sangat kecil, padat, dan panas. Lalu dalam waktu singkat ia menggelembung dengan pesat, kemudian seiring dengan proses mengembang itu, benih alam semesta tersebut dipenuhi dengan plasma yang bersuhu sangat tinggi (super hot plasma).

Setelah mengembang dalam kurun waktu sangat lama, dan sekaligus mengalami pendinginan, plasma-plasma bersuhu tinggi tersebut memadat menjadi sub partikel unsur-unsur hidrogen, helium, dan deuterium. Proses-proses selanjutnya, yang memakan waktu jutaan tahun, membuat bahan-bahan itu menjadi planet, bintang, dan galaxy, lalu terbentuklah alam semesta yang kita huni saat ini. Soal kapan persisnya hal itu terjadi, para ahli itu tak mampu menjelaskannya. Dalam teori itu, para ilmuwan juga mengusulkan bahwa alam semesta memancar dan mengembang dari sebuah lubang putih (white hole), kemudian akan mengalami penyusutan dan masuk ke dalam lubang hitam (black hole). Jadi, white hole memunculkan alam semesta, lalu black hole menelan alam semesta itu.

Bagaimana dengan uraian asal-usul alam semesta menurut Weda? Dalam Bhagavata Purana dan Brahma Samhita dijelaskan sebagai berikut : Diluar konsep ruang dan waktu seperti yang kita pahami saat ini, Maha-Vishnu berbaring di lautan Karana (Lautan Penyebab atau Causal Ocean. Dari pori-pori Maha-Vishnu ini bermunculanlah “benih-benih alam semesta” yang jumlahnya tak terhingga. Ketika Maha-Vishnu memandang benih-benih itu, memberikan energi kepada elemen tersebut dengan energi Beliau, maka mereka mulai mengembang dalam kecepatan yang sangat tinggi. Dalam masing-masing alam semesta, perlahan-lahan terbentuklah unsur-unsur alam, mulai dari yang paling ringan hingga yang lebih berat. Dan alam semesta terus menerus mengembang. Alam semesta-alam semesta tersebut eksis dalam kurun waktu satu kali nafas Maha-Vishnu. Saat Maha-Vishnu mengeluarkan nafas alam semesta diciptakan, dan pada saat Beliau menarik nafas, alam semesta dileburkan (Cremo, 2004: 465).

Perhatikan bahwa baik Teori Big Bang maupun uraian Weda mengenai asal usul alam semesta memiliki banyak persamaan. Teori Big Bang mengusulkan adanya lautan energi yang tidak dapat dipahami sebagai sumber munculnya alam semesta. Kitab Weda juga menyatakan hal yang sama. Beberapa ahli kosmologi mengusulkan bahwa ada white hole yang “memuntahkan” alam semesta, dan ada black hole yang menelan alam semesta pada suatu masa. Weda juga menyebutkan bahwa alam semesta muncul dan terserap ke dalam lubang, dalam hal ini adalah pori-pori kulit Maha-Wishnu. Keduanya juga menyebutkan bahwa pada tahap awal terjadi proses mengembang yang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat cepat.
Teori BigBang dan uraian Weda sama-sama menyatakan bahwa pada saat terjadinya proses mengembang, alam semesta memancarkan cahaya radiasi, keduanya menyatakan bahwa alam semesta terus menerus mengembang, dan sama-sama menyebutkan bahwa proses itu melibatkan alam semesta yang jumlahnya tidak terhingga.

Tentu saja, perbedaan keduanya juga tampak jelas. Uraian Weda menyatakan bahwa penciptaan alam semesta itu terjadi melalui campur tangan Tuhan dalam wujudnya sebagai Maha-Vishnu, sedangkan teori Big Bang menyatakan alam semesta “dimuntahkan” dari lautan energi, yang kalau ditanya lebih jauh, apa dan bagaimana asal mula energi itu, para ahli yang mengusulkan teori itu juga akan bungkam. Mereka akan menjawab bahwa energi itu ada begitu saja …. tanpa ada kecerdasan ilahi (divine intelligent) yang mengatur dibalik semua proses tersebut.

Disinilah letak tidak adilnya Para ilmuwan modern yang mengkritik Weda. Ketika kita jelaskan bahwa alam semesta ada karena diciptakan oleh Tuhan, maka mereka akan bertanya : “Lalu, siapa yang menciptakan Tuhan?”. Kalau kita jawab “Tuhan itu ada begitu saja tanpa ada yang menciptakan, dan tak-terdefinisikan, sebab dari segala sebab, sumber segala sesuatu”, Para ilmuwan itu akan menyebut kita dogmatis, fanatik, tidak ilmiah dan tidak rasional. Tapi lihatlah, bukankah mereka juga berbuat dogmatis ketika mereka mengusulkan teori Big Bang, dan teori teori lainnya? Ambillah contoh, ketika kita tanyakan darimana asalnya “lautan energi”, yang mereka sebut sebagai sumber pelontar ”benih-benih” alam semesta itu? Dari mana asalnya white hole dan black hole… yang menjadi “pelontar” dan “penelan” alam semesta itu? Mereka juga akan menjawab “lautan energi itu ada begitu saja, terjadi secara kebetulan, tanpa ada yang menyebabkan….” Nah, bukankah itu tidak menyelesaikan masalah??? Bukankah mereka mulai dari tengah-tengah, bukan dari asal usul alam semesta itu sendiri? Bukankah seharusnya, kalau mereka menyebut “asal-usul” alam semesta, mereka harus bisa menjelaskan asal-usul lautan energi yang menjadi sumber munculnya alam semesta itu? Ilmuwan itu juga menyebut bahwa “benih” alam semesta yang belum mengembang itu bersifat “immeasurably smaIl, dense, and hot” yang artinya baik ukuran, sifat padat, maupun panasnya tidak dapat dijelaskan secara ilmiah dan secara matematis. Dan karena mereka scientist, kita dipaksa percaya begitu saja dengan penjelasan mereka, yang sebenarnya juga sama dengan jawaban kita saat mereka bertanya siapa yang mengadakan Tuhan … Bukankah itu juga dogmatis? Bukankah itu juga mitologi??

Suatu ketika Mr. Carl Sagan, seorang ahli kosmologi melakukan show di sebuah TV di Amerika. Dengan bantuan animasi dan simulasi komputer, Mr. Sagan mempresentasikan semua teori yang dikemukakan oleh Para ahli fisika astronomi saat ini. Dijelaskannya tentang panjang gelombang cahaya galaxy yang terus bertambah, alam semesta mengembang, teori Big Bang, efek Dopler, dan sebagainya. Para pemirsa terkejut, ketika menjelang akhir acaranya Mr. Sagan terlihat berada di India, berdiri di depan sebuah temple Krishna yang telah berusia ribuan tahun. Mr. Sagan berkata “Para ilmuwan menemukan semua teori yang telah saya paparkan tadi tahun-tahun akhir ini saja, sedangkan di sini, di India, orang sudah mengetahui informasi itu sejak ribuan tahun yang lalu, dari kitab-kitab Weda…” (Danavir Gosvarni, 2002).
Ada alasan lain lagi, mengapa orang menganggap Weda hanya dongeng atau mitologi. Menurut Stephen Knapp, dalam kitab-kitab agama Abrahamis (Yahudi, Islam, Kristen) disebutkan bahwa dunia ini baru berusia enam ribuan tahun. Max Muller, misalnya, tokoh yang menciptakan teori penyerangan bangsa Arya ke India itu, adalah seorang Kristen yang taat, dan ia percaya pada kronologi penciptaan dunia beserta isinya menurut uraian kitab Injil. Menurut Injil, dunia ini diciptakan pada tanggal 23 Oktober tahun 4004 Sebelum Masehi, pukul 9 pagi.

Karena itulah, kalau Weda menguraikan adanya jaman Satya Yuga, Treta Yuga, dan Dvapara Yuga yang berlangsung sejak jutaan tahun yang lalu, dari kacamata kitab suci agama-agama lain, Weda hanya mendongeng. Apalagi, yang dipaparkan dalam Weda, tidak sebatas hanya peristiwa atau sejarah yang pernah terjadi di bumi ini saja, melainkan diseluruh alam semesta. Padahal dalam perjalanan sejarah kita tahu bahwa banyak paparan dalam kitab suci itu yang tidak selalu akurat. Bahwa bentuk bumi bulat, bumi bukan pusat tata surya, dan umur bumi yang jauh lebih tua dibandingkan teori penciptaan dalam Injil, hanyalah beberapa contoh yang nyata bahwa belum menjamin kitab suci lain pun bisa bebas dari tuduhan sekedar sebagai dongeng semata.
Jadi, masihkah orang menganggap Weda dan Purana sekedar mengajarkan mitologi, bila dari hari ke hari semakin banyak penemuan ilmiah yang membuktikan kebenaran apa yang telah diuraikan dalam Weda???
 
 Om Shanti Shanti Shanti om...
 
Sumber buku : Hindu dibalik tuduhan dan prasangka, Narayana Smrti Press, 2006.
http://vantheyologi.wordpress.com/2012/02/28/mengapa-weda-dan-kitab-hindu-lainnya-dianggap-mitologi/
Read More...

Konflik Timur Tengah Berawal dari Jaman Mahabharata ?

Om Swastiastu..

Just Opini

Berita Mahabharata. Oleh : Ngarayana. 
Timur Tengah adalah sebuah wilayah yang secara politis dan budaya merupakan bagian dari benua Asia, atau Afrika-Eurasia. Pusat dari wilayah ini adalah daratan di antara Laut Mediterania dan Teluk Persia serta wilayah yang memanjang dari Anatolia, Jazirah Arab dan Semenanjung Sinai. Wilayah tersebut mencakup beberapa kelompok suku dan budaya termasuk suku Iran, suku Arab, suku Yunani, suku Yahudi, suku Berber, suku Assyria, suku Kurdi dan suku Turki.

Yang unik dari daerah timur tengah yang kaya akan minyak bumi ini adalah adanya konflik berdarah yang tiada berkesudahan sejak jaman dahulu kala. Peperangan demi peperangan terus terjadi dan masih berlangsung sampai saat ini antara suku bangsa dan antara agama-agama serumpun yang berkiblat pada moyang yang sama, yaitu nabi Abraham/Ibrahim.

Dalam kitab suci Yahudi, yaitu Taurat atau sering juga disebut Torah terdapat ayat yang menjelaskan adanya perjanjian antara Tuhan dengan tiga patriark Yahudi mengenai suatu daerah suci yang dijanjikan untuk kaum Yahudi. Tanah suci yang dijanjikan Tuhan tersebut selanjutnya dikenal sebagai Eretz Yisrael (tanah Israel), Zion, atau Judea. Setelah itu diperkirakan pada abad ke-11 SM sudah berdiri beberapa kerajaan bangsa Yahudi di tanah suci yang dijanjikan tersebut. Hanya saja setelah kegagalan dalam perang Bar Kokhba melawan Kekaisaran Romawi pada tahun 132 Masehi, kerajaan-kerajaan Yahudi ini mengalami kehancuran. Sampai abad ke-7 terjadi peperangan dan penguasaan silih berganti atas wilayah tersebut. Secara berurutan wilayah tersebut sempat dikuasai oleh pemerintahan Asiria, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Sassania dan Bizantium. Pada masa pemerintahan Bizantium, Kaisar Heraklius memerintahkan pembantaian besar-besaran atas orang-orang Yahudi sehingga menyebabkan mobilitas pengungsian besar-besaran orang Yahudi meninggalkan tanah kelahirannya. Pada tahun 636 Masehi pemerintahan Bizantium berhasil ditaklukkan oleh para tentara muslim. Mereka berhasil menguasai daerah itu selama hampir sekitar 6 abad dibawah kontrol Umayyah dan Abbasiyah sebelum akhirnya jatuh lagi ke tangan Tentara Salib di bawah Kesulatanan Mameluk pada tahun 1260. Pada tahun 1516, Tanah Israel ini kembali jatuh dan menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah yang memerintah wilayah tersebut sampai awal abad ke-20.

Orang-orang keturunan Yahudi yang telah berdiaspora di berbagai belahan dunia masih menyimpan cita-cita yang kuat untuk dapat kembali ke tanah yang dijanjikan sebagaimana yang tertulisan dalam kitab suci agama mereka. Uniknya, harapan dan kerinduan untuk kembali ke tanah Zion yang dijanjikan itu juga tertulis dalam Alkitab, kitab suci Kristiani. Akibat adanya penindasan orang-orang Yahudi oleh katolik pada abad ke-12 mendorong perpindahan orang-orang Yahudi Eropa kembali ke tanah suci yang dijanjikan. Sehingga secara bertahap jumlah mereka di tanah leluhurnya tersebut semakin meningkat. Sampai pada abad ke-16, komunitas-komunitas besar Yahudi kebanyakan berpusat pada Empat Kota Suci Yahudi, yaitu Yerusalem, Hebron, Tiberias, dan Safed. Pada pertengahan kedua abad ke-18, keseluruhan komunitas Hasidut yang berasal dari Eropa Timur telah berpindah ke Tanah Suci. Periode imigrasi besar-besaran mulai terjadi lagi pada 1881 yakni pada saat orang-orang Yahudi melarikan diri dari pogrom di Eropa Timur dan dikenal dengan sebutan Aliyah pertama.

Theodor Herzl adalah orang Yahudi pertama yang mendirikan gerakan Zionisme yang mendorong terbentuknya Negara Yahudi dari sisi politik. Pada tahun 1896, Herzl menerbitkan buku Der Judenstaat (Negara Yahudi). Ia memaparkan visinya tentang negara masa depan Yahudi. Dan pada tahun berikutnya ia kemudian mengetuai Kongres Zionis Dunia pertama.

Kesuksesan gerakan politik Zionisme ini mendorong terjadinya migrasi besar-besaran selanjutnya ke wilayah tanah penjanjian yang saat itu sudah diduduki oleh pemerintahan Arab-Palestina. Dan berkat politik balas budi pemerintahan Britania Raya/Inggris terhadap jasa Dr. Chaim Weizmann, kimiawan Yahudi yang bekerja untuk Inggris yang berhasil mensintesiskan aseton melalui fermentasi yang sangat penting dalam teknologi persenjataan membuat Inggris melalui mentri luar negerinya, Arthur James Balfour mengeluarkan pernyataan yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour, yaitu deklarasi yang mendukung pendirian negara Yahudi di tanah Palestina. Legiun Yahudi, sekelompok batalion yang terdiri dari sukarelawan-sukarelawan Zionis, kemudian membantu Britania menaklukkan Palestina. Oposisi Arab terhadap rencana ini berujung pada Kerusuhan Palestina 1920 dan pembentukan organisasi Yahudi yang dikenal sebagai Haganah (dalam Bahasa Ibrani yang artinya “Pertahanan”). Setelah itu dan didorong oleh adanya gerakan Nazi mendorong terjadinya kembali imigrasi besar-besaran Yahudi ke daerah Palestina tersebut sehingga otomatis populasi Yahudi yang awalnya hanya 11% meningkat menjadi 33%.

Melalui Resolusi Majelis Umum PBB nomor 18 pada 29 November 1947 menetapkan daerah Palestina dibagi menjadi 2 bagian, yaitu sebagian untuk orang-orang Yahudi dan sebagian lagi menjadi bagian dari Negara Arab. Sedangkan kota Yerusalem yang merupakan kota suci yang diyakini oleh ketiga agama serumpun dijadikan daerah Internasional. Komunitas Yahudi menerima rencana tersebut, tetapi Liga Arab dan Komite Tinggi Arab menolaknya atas alasan kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah itu. Pada tanggal 1 Desember 1947, Komite Tinggi Arab mendeklarasikan pemogokan selama 3 hari, dan kelompok-kelompok Arab mulai menyerang target-target Yahudi. Perang saudara dimulai ketika kaum Yahudi yang mula-mulanya bersifat defensif perlahan-lahan menjadi ofensif. Ekonomi warga Arab-Palestina runtuh dan sekitar 250.000 warga Arab-Palestina diusir ataupun melarikan diri.
Pada tanggal 14 Mei 1948, sehari sebelum akhir Mandat Britania, Agensi Yahudi memproklamasikan kemerdekaan dan menamakan negara yang didirikan tersebut sebagai “Israel”. Sehari kemudian, gabungan lima negara Arab – Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon dan Irak –menyerang Israel, menimbulkan Perang Arab-Israel 1948. Maroko, Sudan, Yemen dan Arab Saudi juga membantu mengirimkan pasukan. Setelah satu tahun pertempuran, genjatan senjata dideklarasikan dan batas wilayah sementara yang dikenal sebagai Garis Hijau ditentukan. Yordania kemudian menganeksasi wilayah yang dikenal sebagai Tepi Barat dan Yerusalem Timur, sedangkan Mesir mengontrol Jalur Gaza. Selama konflik ini, diperkirakan sekitar 711.000 orang Arab Palestina (80% populasi Arab) mengungsi keluar Palestina.

Pada masa-masa awal kemerdekannya, gerakan Zionisme buruh yang dipimpin oleh Perdana Menteri David Ben-Gurion mendominasi politik Israel. Tahun-tahun ini ditandai dengan imigrasi masal para korban yang selamat dari Holocaust dan orang-orang Yahudi yang diusir dari tanah Arab menyebabkan populasi Israel meningkat dari 800.000 menjadi 2.000.000 dalam jangka waktu sepuluh tahun antara 1948 sampai dengan 1958.

Mulai sekitar tahun 1950-an, Israel terus menerus diserang oleh militan Palestina yang kebanyakan berasal dari Jalur Gaza yang diduduki oleh Mesir. Meski berbagai macam perjanjian dan mediasi damai sudah dilakukan, namun peperangan ini masih tetap berlanjut sampai saat ini dan telah merenggut ribuan korban jiwa dari kedua belah pihak. Terdapat motif-motif politis, kekuasaan dan keagamaan yang saling bercampur aduk dalam konflik ini yang menyebabkannya bagaikan benang kusut yang sangat susah diurai.

Kitab taurat mengklaim orang-orang Yahudi berhak atas tanah yang dijanjikan tersebut. Mereka juga mengklaim bahwa mereka adalah “anak emas” Tuhan di bumi ini. Umat Kristiani menganggap bahwa hanya melalui Yesus satu-satunya jalan keselamatan dan Yesus datang untuk menggenapi Taurat sehingga otomatis orang Kristiani mengklaim dirinya lebih benar dari orang Yahudi. Demikian juga Al-Qur’an menyatakan bahwa Islam adalah penyempurna agama-agama sebelumnya. Islam menyempurnakan agama Yahudi dan juga Kristen sehingga mereka mengklaim Islam adalah agama yang paling di ridhoi Allah. Dengan sikap egoisme beragama ini dan didorong oleh perebutan daerah yang sama-sama mereka klaim sebagai daerah suci mereka memperkeruh suasana yang juga tidak lepas dari kepentingan politik dan kekuasaan di Timur Tengah.

Kebanyakan penganut Islam, Kristen maupun Yahudi meyakini bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah adalah konflik yang tidak akan pernah ada habisnya sampai akhir jaman nanti. Mereka yakin jika sampai terjadi perdamaian antara pihak-pihak yang bertikai, maka itu artinya dunia ini sudah mendekati hari kiamat. Sebuah keyakinan unik dan menyedihkan, tetapi sudah sangat mendarah daging.


Konflik yang tidak berujung di daerah Timur Tengah ini ternyata memiliki korelasi yang erat dengan apa yang disampaikan dalam kitab suci Itihasa dalam Veda, yaitu dalam kitab Mahabharata. Pada bagian Sauptika Parva yang merupakan kitab ke-10 dari 18 bagian Mahabharata (Asta Dasa Parva) menceritakan tiga kesatria dari pihak Korawa yang melakukan serangan membabi buta pada malam harinya saat para tentara pihak Pandawa tertidur pulas. Mereka adalah Aswatama, Kripacharya dan Kritawarma. Mereka membantai kelima orang putra pandawa (pancawala, anak pancali/drupadi dengan pandawa), membunuh seluruh pasukan Panchala, Drestadyumna dan juga Srikandi di dalam kemahnya. Padahal pada saat itu peperangan dapat dikatakan sudah usai karena putra mahkota korawa, Duryodana telah tewas di tangan Bhima. Namun setelah kejadian itu Aswatama menyadari perbuatannya yang sangat jauh menyimpang dari Dharma dan memaksanya pergi ke tengah hutan dan mencoba berlindung di pertapaan Rsi Vyasa.

Drupadi yang sangat sedih dengan kejadian tersebut duduk bersimpuh di depan kelima putra-putranya tersebut dan berjanji tidak akan pergi sampai mayat Aswatama dibawa dibawa ke hadapannya. Sri Krishna yang maha mengetahui menjelaskan kepada Drupadi bahwa Aswatama telah mendapatkan anugrah berupa kehidupan yang kekal sampai akhir jaman dan tidak mungkin dibunuh sebelum waktunya tiba. Sehingga satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah menghukum Aswatama, bukan membunuhnya.

Pandawa yang marah dengan perbuatan bejat Aswatama tersebut dengan ditemani oleh Sri Krishna berusaha mengejarnya. Di depan pertapaan Rsi Vyasa, Arjuna terlibat pertarungan dengan Aswatama. Aswatama mengeluarkan senjata Brahmastra yang memiliki kesaktian luar biasa dan dengan daya ledak sangat tinggi yang mungkin saat ini hanya bisa ditandingi oleh senjata nuklir. Melihat kejadian tersebut Arjuna juga mengeluarkan senjata yang sama. Rsi Vyasa mengetahui kehebatan dari senjata tersebut, dia takut jika kedua senjata tersebut beradu akan mengakibatkan malapetaka hebat di atas bumi ini. Karena itulah ia menyuruh kedua kesatria tersebut menarik kembali senjata Brahmastranya masing-masing. Arjuna mampu menarik kembali senjata tersebut, tetapi Aswatama tidak memiliki kemampu menariknya dan memaksa Rsi Vyasa memerintahkan Aswatama yang haus darah untuk mengarahkan senjatanya tersebut ke dirinya sendiri. Dengan rasa dendam, Aswatama mengatakan bahwa meskipun dia tidak mampu membunuh para Pandawa, tetapi setidaknya dia akan memusnahkan keturunan para Pandawa. Dan setelah itu dia mengarahkan senjata Brahmastra tersebut menuju rahim Dewi Utari/Utara, menantu Arjuna dari anaknya Abimayu yang sedang mengandung satu-satunya keturunan terakhir Pandawa.

Senjata itu berhasil membakar janin Utari. Sri Krishna yang mengetahui kelakuan bejat Aswatama tersebut langsung berteriak pada Aswatama. Sri Krishna mengingatkan bahwa Aswatama yang bertabiat buruk dan berperilaku ceroboh tidak akan berhasil memutus keturunan Pandawa. Sri Krishna yang merupakan Tuhan Yang Maha Esa sendiri akan menghidupkan janin yang telah terbakar oleh senjata Brahmastra tersebut. Aswatama dikutuk untuk tetap mengembara dan merana dalam kepedihan, tanpa rasa cinta, kekerasan yang tiada habisnya sebagai akibat dari kejahatannya sampai akhir Kali Yuga ke daerah Barat dimana di daerah tersebut terdapat banyak kuda. Sri Krishna juga memerintahkan permata berharga yang bersinar terang di kening Aswatama yang membuatnya tidak memiliki rasa takut terhadap segala jenis senjata, penyakit, para dewa, asura dan juga manusia dilepaskan dan digantikan dengan sebuah luka yang akan membuat Aswatama menjadi sangat menderita. Dengan kesadaran sendiri akhirnya Aswatama mencongkel permata berharga tersebut, menyerahkannya seraya memohon kepada Sri Krishna agar mencabut kutukan tersebut. Sri Krishna kembali menjelaskan bahwa hal tersebut bukanlah kutukan, tetapi akibat dari penyalahgunaan kesaktian, perbuatan jahat, bejat dan kecerobohan dari Aswatama sendiri. Aswatamapun akhirnya harus mengembara ke Barat, yaitu ke daerah Timur Tengah guna menjalani hukumannya.

Beberapa kalangan memperkirakan bahwa Aswatama yang merupakan seorang Kesatria Brahmana yang kehilangan kebrahmanaannya akibat kutukan tersebut mendapat panggilan baru sebagai seorang yang bukan Brahmana. Dalam bahasa Sansekerta kata bukan atau tidak disebut sebagai “A” sehingga otomatis panggilannya menjadi “Abrahmana”. Apakah kata “Abrahmana” ini akhirnya mengalami perubahan ejaan menjadi “Abraham” yang merupakan asal muasal ketiga agama rumpun Semitik? Apakah itu artinya ada kaitan yang sangat erat antara kutukan Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna dengan kekerasan, kepedihan dan penderitaan berkepanjangan yang terjadi di daerah Timur Tangah? Bukankah sebagian penganut agama Abrahamik juga meyakini bahwa kekerasan yang berlangsung di sana hanya akan berakhir pada akhir jaman?

Om shanti shanti shanti om..

Sumber acuan:
http://mahabharata-adiparwa.blogspot.com/2010/07/konflik-timur-tengah-berawal-dari-jaman.html
www.wikipedia.org
www.ladangtuhan.com
www.wikimu.com
Read More...

Bagaimanakah Kedudukan Lontar dalam Sastra Weda ?

Om Swastiastu...

Dalam blog banyak terdapat kumpulan kumpulan artikel-artikel yang bermanfaat bagi kita semua terutama untuk Generasi Hindu ke depannya, silakan untuk di pelajari dalam menambah wawasan sebagai seorang Hindu di era-zaman ini. Kritikan dan Saran merupakan hal positif sebagai untuk berbenah diri dan memperbaiki diri dalam kehidupan ini, dengan begitu banyak DISKUSI yang saya lihat baik dalam forum maupun jejaring sosial saat ini yang sangat terbuka dan blak blakkan mengupas hal-hal yang menyentuh prinsip kehidupan manusia, bagaikan suatu Promosi dan Iklan yang saling menggungulkan produknya tanpa melihat efek samping dari kebenaran dan realita akan produk tersebut yang akhirnya saling menghujat dan menghina satu dengan yang lainnya. Marilah generasi Hindu yang saya banggakan bukalah mata dan bukalah hati perluas wawasan diri untuk memperkuat rasa militan kita terhadap ajaran leluhur yang telah membumi  di nusantara ini, jalankan Dharma Hindu dan lakukan apa yang mesti kita lakukan untuk mencapai Generasi Hindu yang mumpuni. Mari kita memulai membahas Bagaimanakah Kedudukan Lontar dalam Sastra Weda ?
dari versi Buku Vaisnava Dharma.

Istilah lontar mungkin berawal dari penggunaan daun “ntal” atau “ental” (sejenis pohon palem) yang dalam bahasa Sansekerta-nya pohon ini disebut sebagai pohon “tala”, dan dalam bahasa kawi disebut “tal” sebagai media dalam menggoreskan tulisan-tulisan.
Leluhur bangsa Indonesia pada jaman dahulu disamping terbiasa menuliskan suatu catatan penting dalam batu yang selanjutnya disebut prasasti dan media-media berbahan dasar logam, mereka juga telah terbiasa menulis karya-karya sastra dan catatan penting di atas sebuah daun ental. Hampir semua gubahan kitab-kitab terpenting peninggalan bangsa Indonesia ditemukan dalam gulungan lontar yang tersimpan dalam suatu peti yang di Bali disebut sebagai kropak. Kekawin Ramayana, Bharata Yuddha, Bhomantaka, Arjuna Vivaha dan berbagai mantra-mantra pemujaan yang bersifat rahasia adalah sebagian kecil contoh manuskrip kuno yang tersurat dalam lontar dan diwarisi sampai saat ini terutama sekali oleh penerus terah Majapahit di Bali. Lontar inilah sebenarnya dapat dikatakan sebagai harta karun yang tidak ternilai harganya yang kita warisi dan harus dipelihara dengan baik. Karena lewat lontar-lontar inilah sebagain besar sejarah masa lampau leluhur kita dapat diungkap dengan baik.

Di Bali, lontar mendapat tempat terpenting dalam menjelaskan masa lalu dan perkembangan sosial budaya dan dasar kepercayaan masyarakatnya. Berbagai wisatawan mancanegara yang datang ke Bali ternyata tidak semuanya semata-mata tertarik akan keindahan alam dan eloknya seni budaya yang berkembang di pulau dewata ini, melainkan sangat banyak wisatawan yang terpesona dengan misteri yang tersimpan di dalam lontar-lontar. Lontar menyimpan segudang kearifan, cerita-cerita bernilai spiritualitas tinggi, hal-hal yang mendasari budaya yang berkembang dan juga berbagai macam ilmu-ilmu magic yang bersifat rahasia. Menyadari keberadaan lontar adalah asset yang tidak ternilai, banyak wisatawan asing dengan susah payah berburu lontar dan membelinya dengan harga sangat tinggi. Namun sayang sekali, orang Bali sebagai pewaris lontar yang sah malahan sering kali terlena dan melupakan pentingnya warisan leluhur yang satu itu.

Meskipun lontar menduduki peranan yang sangat penting dalam berbagai aspek, namun ternyata lontar memiliki suatu kelemahan dalam hal keotentikan. Prof. Dr. P. J. Zoetmulder, seorang sarjana yang ahli di bidang bahasa dan sastra Jawa Kuno secara terbuka mengakui bahwa teks yang sampai ke tangan beliau adalah salinan yang telah mengalami riwayat sangat panjang dengan berbagai macam perubahan dan penggubahan yang menyertainya. Perubahan dan pengubahan ini bisa terjadi akibat penyalin lontar yang asli belum menguasai betul bahasa lontar yang sedang disalin, salah membaca, baris-baris yang tidak tersalin karena dilewati tanpa sadar, penyalinan lontar yang sebagian sudah rusak dan sebagainya. Tentunya validasi keotentikan suatu lontar tidaklah mudah, karena sebagian besar lontar merupakan dokumen rahasia dan hanya diwariskan secara turun-temurun oleh satu generasi. Jadi bukan merupakan pengetahuan publik yang copy-annya dapat dimiliki oleh siapapun. Jika dirawat dengan baik, lontar bisa bertahan sekitar 100 – 150 tahun. Tentunya waktu 150 tahun adalah waktu yang relatif singkat jika dibandingkan dengan dokumen-dokumen yang tertulis dalam lempengan batu, emas, tembaga, perak atau logam-logam lainnya. Karena itu jugalah para arkeolog dan ahli sejarah akan lebih mengedepankan bukti yang tersirat dalam batu atau lempengan logam dari pada pada sebuah lontar.


Untuk mendapatkan lontar dengan isi yang otentik, penyeleksian terhadap lontar dan isi-isinya sangatlah penting. Kita tidak bisa menerima isi lontar begitu saja agar kita tidak terseret dan tersesat dalam kebingungan mengingat kelemahan lontar sebagaimana sudah dikemukakan pada paragraf di atas. Hal ini juga dibenarkan oleh Drs. Wayan Jendra dalam bukunya “Pengantar Ringkasan Kesusastraan Jawa Kuno dan Linguistik Sebagai Ilmu Bantu” yang mengatakan bahwa sikap kritis, selektif dan kreatif terhadap unsur budaya lama, termasuk kesusastraan Jawa Kuno dan kebudayaan asing sangat diperlukan untuk tidak menjadikan diri goyah dan mabuk”. Oleh Karena itu terdapat tiga jenis standar yang harus diikuti dalam memastikan keotentikan sebuah lontar, yaitu Guru, Sastra dan Sadhu.

Yang pertama, ajaran lontar yang kita terima harus sesuai dengan petunjuk guru spiritual. Di Bali sendiri aguron-guron (proses belajar mengajar dari seorang guru dan murid) sebenarnya sudah terpatri dalam sistem banjar dimana sebuah banjar pasti memiliki sebuah “Surya” atau junjungan orang suci yang bertempat di sebuah “Griya”. Pada Griya tersebut harus terdapat orang suci yang khusus menekuni spiritual, sastra Veda dan lontar yang selanjutnya dijadikan pegangan dalam pelaksanaan dan penyampaian tattva, susila dan upakara kepada para warganya yang disebut “Sisya”. Sistem pembelajaran yang baik dalam memahami kesusastraan lontar di suatu Griya harus melalui pengawasan setidaknya satu orang guru Nabe. Guru Nabe disini haruslah “jnaninas tattva darsinah (Bhagavad Gita 4.34). Jnani bearti ahli Veda, dan tattva darsinah berarti sudah melihat kebenaran. Dan pada waktu yang sama Guru Nabe haruslah seorang Acharya, yaitu beliau melaksanakan apa yang dijarkan dengan sempurna. Sayangnya pada jaman sekarang, posisi sentral Griya yang begitu stategis ini sering kali tidak mampu memerankan fungsinya. Griya yang harusnya memberikan pelajaran tattva dan susila kepada Sisya-nya sudah kehilangan pamor dan hanya tinggal sebagai media dalam muput upacara saja. Kedepannya seharusnya para orang suci dan penerusnya yang ada di Griya bisa melaksanakan kembali proses aguron-guron kepada Sisya-nya yang sudah lama terkubur sehingga Griya bisa kembali menjadi media penyebaran dan pembelajaran spiritual Veda yang efektif dan tempat menjaga keotentikan ajaran leluhur yang adi luhur.

Kedua, isi lontar harus sesuai dengan ajaran para sadhu (orang-orang suci) seperti ajaran Catur Kumara, Rsi Narada, Rsi Kapila, Manu, Bali Maharaj dan lain sebagainya. Salinan lontar tidak boleh menyimpang dari dasar-dasar ajaran yang mereka sampaikan. Jika terdapat penambahan-penambahan tafsir/ulasan yang tidak jelas asal-usulnya, maka lontar tersebut dapat kita tolak.

Dan yang terpenting, lontar harus sesuai dengan Sastra, yaitu Veda. Lontar pada dasarnya disarikan dari sastra Veda, jadi apapun yang merupakan penjabaran, ulasan atau perangkuman Veda yang tertuang dalam lontar haruslah memiliki sifat mampu telusur (traceable) ke sumber aslinya. Keberadaan sastra Veda sendiri sangat berbeda dibandingkan lontar. Sastra Veda lebih terbuka dan copy-annya tersebar ke banyak orang dalam berbagai garis perguruan, sehingga untuk memvalidasi suatu kitab suci Veda, dapat dilakukan dengan membandingkan Veda yang terdapat dalam suatu perguruan dengan perguruan lainnya. Sampai saat ini meskipun ada banyak usaha menyimpangkan isi Veda terutama sekali setelah masuknya kaum Indologis, namun Veda yang otentik tetap masih terpelihara pada setiap garis perguruan Veda yang bona fide. Veda sendiri menyatakan bahwa Veda diturunkan bersamaan dengan diciptakannya alam material ini. Bagaikan tercipta dan dipublikasikannya suatu produk baru, maka idealnya produk tersebut harus memiliki buku panduan yang memuat petunjuk-petunjuk pengoperasian, cara kerja produk dan bagaimana perawatannya agar dalam penggunaan produk bersangkutan tepat guna. Demikian juga keberadaan Veda dengan alam semesta ini. Alam semesta yang diciptakan sebagai sarana bagi sang atman/jiva melakukan pengembaraannya menikmati kehidupan yang terpisah dari Tuhan Yang Maha Esa dilengkapi dengan panduan berupa kitab suci Veda. Veda akan memberikan tuntunan bagi Jiva-Jiva tersebut menikmati dunia materil ini dan/atau keluar dari siklus kelahiran dan kematian (samsara) dan kembali ke dunia rohani. Untuk memudahkan mempelajari Veda oleh orang awam yang tidak pengerti bahasa sansekerta, pada jaman dahulu leluhur kita berusaha menjabarkan ajaran-ajaran Veda kedalam bahasa yang lebih membumi ke dalam sebuah lontar.

Wejangan tentang keberadaan lontar yang mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dan kritis menerima keberadaannya telah tertuang dengan sangat baik dalam pupuh sinom dalam lontar itu sendiri yang liriknya adalah sebagai berikut:
Luih ortane ring lontar
Miwah maring buku sami
Tan puput jag mamarcaya
Tan jeg ngetelebang di hati
Reh bisa ortane sami
Nu madewek dadua pemuput
Bisa linyok lan pesaja
Sada lia
Cakepan gawen sang lobha
Artinya:
Indah berbunga nasehat-nasehat di lontar atau buku-buku, bukanlah orang yang menggunakan buddhi/kecerdasan jika langsung mempercayai, langsung memasukkan ke dalam hati. Oleh karena segala nasehat-nasehat itu bisa benar atau tidak benar/menipu, karena masih berbadan (bermuka) dua, dan lebih-lebih karena Kali Yuga (jaman penuh pertengkaran), terlalu banyak cakepan/lontar buatan orang loba
Bak segelas susu yang sangat menyehatkan, tetapi jika susu tersebut telah tersentuh oleh mulut ular, maka susu itupun akan menjadi berbahaya. Demikian juga karya-karya yang digubah dari sastra suci Veda, jika gubahan/penyalinan lontar tersebut dilakukan oleh orang yang diselimuti oleh sifat kama, lobha dan krodha, maka ia akan mengacaukan isi lontar tersebut. Jangan lupa bahwasanya orang gilapun bisa mengeluarkan tutur-tutur/nasehat indah dan masuk akal, namun belum tentu nasehat tersebut benar adanya.

Jadi dari penjabaran di atas, dapat kita lihat bahwasanya lontar merupakan peninggalan leluhur kita yang sangat penting dan merupakan penjabaran yang membumi dari ajaran Veda. Lontar dapat memudahkan kita dalam mengerti esensi Veda, tetapi karena beberapa kelemahannya, kita juga harus selektif dalam mempelajari lontar. Oleh karena itu dalam menekuni spiritual dan agama Hindu, sudah seharusnyalah kita meletakkan lontar sebagai penunjang, bukan sebaliknya, yaitu lebih mengedepankan apa yang disampaikan lontar secara membabi buta tanpa mau memandang dan memvalidasi hal-hal yang mungkin bertentangan dengan sumbernya, Veda.

Om Shanti Shanti Shanti om

Sumber: Buku Vaisnava Dharma
http://narayanasmrti.com/2010/08/18/kedudukan-lontar-dalam-sastra-veda/
Read More...

Menjawab Agama Bumi dan Agama Langit

Om Awighnam astu namah sidham,
Om Swastyastu,,..

Generasi Hindu yang saya banggakan. Disini saya memaparkan tentang bagaimana Agama Langit dan Agama Bumi dilihat dari segi logika kita. Untuk itu gunakanlah hal ini sebagai wawasan dalam menempuh suatu kehidupan yang kian hari semakin diluar akal logika kita sebagai Hindu, dimana banyak pernyataan dan artikel artikel yang saling menyudutkan satu dengan yang lainnya. Lihatlah salah satu artikel ini Perbedaan Agama Samawi dan Ardhy
Jadi saya disini berusaha memberikan penjelasan dan bukan pembandingan mana yang bagus dan yang tidak bagus, kepada genarasi Hindu bahwa sesungguhnya kebangkitan dalam diri merupakan jalan kesadaran untuk bisa memahami dan mengerti Hindu yang sesungguhnya, jangan takut, jangan ragu, untuk menjalani kehidupan ini.

Dr. H.M . Rasjidi, dalam bab ketiga bukunya; “Empat Kuliah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah atau agama Bumi adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha.


Agama samawi atau agama Langit adalah agama yang berasal dari Tuhan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

Tulisan ini mencoba menampilkan beberapa Ayat-ayat/surat-surat/mantra-mantra/seloka-seloka sebagai pelengkap kategori Agama Bumi dan Agama Langit. Tulisan ini hanya menyajikan fakta tertulis didalam kitab suci Agama Langit dan Agama Bumi, selain kriteria yang sudah banyak dibahas oleh para “penemu” kriteria agama langit dan Bumi. Tulisan ini bukan pula dimaksudkan untuk menyinggung keyakinan seseorang. Hanya menyajikan Fakta seperti apa yang termuat dalam kitab suci masing-masing Agama Bumi dan agama Langit.

Beberapa kriteria tambahan untuk Agama Langit/agama Samawi adalah :
  1. Kitab Suci Agama langit mengatakan;  Matahari beredar menurut garis edarnya/orbitnya.(Al Qur’an Surat Yassin, An Abiya,Al Faathir, maupun  Injil Yosua 10/13)
  2. Kitab Suci Agama langit mengatakan: Bumi dihaparkan, langit dibentangkan, gunung ditancapkan sehingga Bumi tidak bergerak untuk selamanya (Al Quran dan Injil).
  3. Kitab Suci Agama Langit mengatakan : Bumi mempunyai tiang-tiang (I Samuel 2/8)
  4. Kitab Suci Agama langit mengatakan : Bumi mempunyai empat sudut (Wahyu 7/1)
  5. Kitab suci Agama langit mengatakan : Bumi tidak pernah bergoyang untuk selamanya (Mazmur 104/5)
  6. Tuhan Injil membawa kekacauan diatas Bumi, Tuhan Injil ( Agama Langit) dalam Matius 10/34  berkata : Jangan kamu menyangka bahwaAku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
  7. Tuhan Agama langit tidak mengijinkan menyembah Tuhan-Tuhan yang lain. Masing-masing Agama langit punya Tuhannya sendiri-sendiri yang tidak Boleh disembah oleh yang lainnya, Sehingga di NegaraTimur Tengah paling tidak ada 3 pribadi Tuhan yang masing-masing mempunyai karakter yang berbeda yaitu: Yehovah, Allah Yesus, dan Allah Swt). Masing-masing Tuhan ini akan murka, kalau umatnya menyembah Tuhan yang lain.
  8. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, kamu bukan menyembah Tuhan yang Aku sembah. Agamaku agamaku, Agamamu agamamu. (Al Kafiru)
Dari bukti-bukti  no 1-5  diatas, kita mengetahui bahwa penulis kitab Agama Samawi/Agama Langit  adalah penglihatan mahluk yang tinggal di Bumi. Agama Samawi/Agama Langit melihat segala sesuatunya di langit  dan di Bumi dari Bumi. Penulis Kitab Agama Samawi/agama Langit tinggal di Bumi dan tidak pernah ke Langit untuk melihat Bumi dari langit.

Beberapa kriteria untuk Agama Bumi/Agama Ardhi adalah :
  1. Kitab Suci Agama Bumi mengatakan : Bumi berbintik bintik dan bertempat tinggal dilangit. Bumi berputar mengitari Matahari yang bagaikan Ayah (YayurVeda III.6)
  2. Kitab suci agama Bumi mengatakan : Langit dan Bumi bertumpu pada porosnya dan berputar pada porosnya seperti sebuah roda ( RgVeda X.89.4)
  3. Kitab Suci Agama Bumi mengatakan : Bumi bergerak dan bergetar, Bumi bergerak karena api dibagian dalam perut Bumi (AtharvaVeda XII.I.37)
  4. Tuhan Agama Bumi tidak pernah cemburu, maupun iri hati kepada umat Manusia seperti kata dalam Bhagawadgita IX.29 sebagai berikut : Aku tidak pernah iri dan selalu adil terhadap semua mahluk. BagiKu tidak ada yang paling Aku benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi. Tetapi yang selalu berbakti kepadaKu, dia akan berada padaKu dan Aku selalu bersamanya.
  5. Tuhan Agama Bumi sangat toleran dan membebaskan umat manusia untuk memilih jalan menuju kepadaNya seperti kata Bhagawadgita IV.11 berikut : Apapun jalan yang ditempuh manusia menuju kearahKu, akan Aku terima sama. Manusia menuju kearahKu dengan berbagai jalan.
  6. Tuhan Agama Bumi hanya Satu, Manusia yang menyebut Banyak seperti mantra RgVeda  I.64.46 berikut : Ekam sadvipra bahuda vadanti artinya Hanya satu Tuhan,orang pintar menyebut dengan banyak nama
  7. Tuhan yang hanya satu juga dipertegas dalam kitab sutasoma Bineka Tunggal Ika tan Hana Dharma mangrua artinya Mekipun berbeda-beda, tetap satu, tidak ada kebenaran (Tuhan) dua.
Dari bukti-bukti no 1-3 maka dapat dipastikan; penulis kitab suci  Agama Bumi tinggal di Langit dan melihat bumi beserta penghuninya dari langit, sehingga Bumi kelihatan Bundar, Bumi berputar mengelilingi Matahari.

Jadi silakan anda menyimpulkannya sendiri...semoga bermanfaat,"Satyam Eva Jayate", "Pada saatnya Kebenaran lah yang akan Menang". Rahayu...

Om, A no badrah kratavo yanthu visvatah, Om ksama sampurna ya namah svaha.
Om Santih, Santih, Santih, Om...

Sumber : http://dharmagupta.blogspot.com/2012/02/agama-bumi-dan-agama-langit.html
Read More...

Bagaimanakah Penciptaan Manusia dan Isi Bumi Menurut Weda?

Om Swastiastu...

Hari ini saya menulis tentang "Bagaimanakah Proses penciptaan Manusia dan isi bumi menurut Weda" yang orang-orang dauh tukad bilang manusia pertama adalah adam dan hawa. Tidak sedikit orang yang meragukan bahwa Weda tidak mempunyai konsep penciptaan manusia dan isi Bumi, seperti Agama Langit dan Agama Bumi dimana Hindu dikatagorikan sebagai Agama Bumi, tapi nanti pada tulisan berikutnya saya akan membahas tentang Siapakah Agama Langit dan Agama Bumi sesungguhnya yang akan saya paparkan secara logika berdasarkan kitabnya masing masing.

Generasi Muda Hindu yang saya banggakan, bangkitkanlah kesadaran diri kalian akan Hindu dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai umat Hindu dalam menghadapi zaman ini, zaman yang penuh akan tantangan hidup dimana sistem konversi terhadap agama semakin kritis terutama untuk HINDU , mungkin kalian sudah tahu bagaimana sistem-sistem mereka melakukannya yang tidak perlu kita mesti persalahkan atau permasalahkan ! Lebih baik tingkatkan Sradha Dharma, benahi dan perbaiki serta perkuat Hindu dalam diri anda sebagai generasi penerus Hindu yang akan datang. Saya teringat akan kata kata seorang tokoh dunia Hitopadesa yang mengatakan :
"Dari semua hal, pengetahuan adalah yang paling baik, karena tidak kena tanggung jawab maupun tidak dapat dicuri, karena tidak dapat dibeli, dan tidak dapat dihancurkan."

Maka teruslah semangat dan bangkit serta gali wawasan diri untuk menjadi yang lebih baik. Saya akan mulai membahas tentang Penciptaan Manusia dan Isi Bumi. Semoga bisa menjadi renungan diri dan bukan untuk di banding-bandingkan.

Teori penciptaan menurut Veda mengenai isi bumi dapat dilihat dalam kitab Veda Smriti yaitu Manawa Dharma sastra. disana disebutkan Brahman menciptakan mahkluk hidup dan isi alam ini melalui tapa-Nya;


“kemudian Aku ingin menciptakan mahluk2 hidup, menjalankan tapa dengan maksud menciptakan sepuluh maharsi pemimpin dari mahluk hidup” 
 - Manawa Dharmasastra 1.34

mereka menjelmakan Tujuh Manu lagi yang memiliki cahaya cemerlang, para dewa dengan tingkat2annya dan maharsi yang memiliki kekuatan batin yang tinggi” 
- Manawa Dharmasastra 1.36

“diciptakan pula para yaksa, raksasa dan banyak tingkatan roh, kilat, guruh, mendung, pelangi, hujan, suara2 gaib, bintang2 yang bergerak serta sinar2 langit yang beraneka ragam. para kinnara, tumbuhan, berbagai jenis ikan, kura2, burung2, binatang, manusia dan segala macam benda2 tak bergerak. demikian semua ciptaan yang bergerak maupun tak bergerak, diciptakan oleh MahaAtma dengan kekuatan tapanya, semuanya atas perintahKu dan menurut hasil daripada perbuatannya” 
- Manawa Dharmasastra 1.37-41.


“ada Enam Manu lagi yang berjiwa suci dan berpikiran sangat tinggi, yang menjadi warga manu keturunan dari Swayambhu Manu yang telah menjadikan semua mahluk hidup di dunia ini” 
- Manawa Dharmasastra 1.61

“ketujuh Manu yang gemilang ini yang pertama adalah Swayambhu Manu, mengadakan dan melindungi semua mahluk hidup dan benda mati di dunia ini sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan baginya” 
 - Manawa Dharmasastra 1.63

 
Dalam agama Hindu, Manu adalah pemimpin setiap Manwantara, yaitu suatu kurun zaman dalam satu kalpa. Ada empat belas Manwantara, sehingga ada empat belas Manu.
Daftar para Manu dipaparkan di bawah ini dari manu pertama sampai manu ke empat belas;

 1.Swayambu,
 2.Swarocisa,
 3.Utama,
 4.Tamasa,
 5.Raiwata,
 6.Caksusa,
 7.Waiwaswata,
 8.Sawarni,
 9.Daksasawarni,
10.Brahmasawarni,
11.Darmasawarni,
12.Rudrasawarni,
13.Rocya atau Dewasarni dan
14.Botya atau Indrasawarni.

Zaman sekarang adalah Manwantara ketujuh dan oleh Manu ketujuh yang bergelar Waiwaswata Manu. Jadi, tujuh Manwantara lainnya akan terjadi di masa depan, dan dipimpin oleh seorang Manu yang baru. Menurut Hindu, keberadaan alam semesta tak lepas dari siklus kalpa. Satu kalpa berlangsung selama jutaan tahun, dan satu kalpa terdiri dari empat belas Manwantara (siklus Manu).

Manu yang pertama adalah Swayambu Manu, sebagai kakek moyang manusia. Swayambu Manu menikah dengan Satarupa dan memiliki keturunan. Anak cucu dari Manu disebut Manawa (secara harfiah berarti keturunan Manu), merujuk kepada manusia zaman sekarang. Menurut agama Hindu, Swayambu Manu dan Satarupa merupakan pria dan wanita pertama di dunia .

Waiwaswata Manu, atau Manu yang sekarang, dikatakan merupakan putra dari Surya (Wiwaswan), yaitu dewa matahari menurut mitologi Hindu. Waiwaswata Manu terlahir pada zaman Satyayuga dan mendirikan kerajaan bernama Kosala, dengan pusat pemerintahan di Ayodhya. Ia memiliki sepuluh anak: Wena, Dresnu (Dresta), Narisyan (Narisyanta), Nabaga, Ikswaku, Karusa, Saryati, Ila, Persadru (Persadra), dan Nabagarista. Dalam kitab Matsyapurana, ia muncul sebagai raja yang menyelamatkan umat manusia dari bencana air bah setelah mendapat pesan dari Wisnu yang berwujud ikan (Matsya Awatara). Cerita penyelamatan raja dan mahluk hidup ini sangat mirip dengan riwayat Nabi Nuh (kisah perahu Noah/Nuh dalam torah) yang menyelamatkan mahluk hidup dari bencana air bah.

Manwantara (Sanskerta: मन्वन्तर ) adalah satuan waktu dalam agama Hindu yang terdiri dari 71 Mahayuga. Menurut mitologi Hindu, bila 14 Manwantara telah berlalu, maka seluruh dunia akan dihancurkan. Saat ini, sudah enam manwantara berlalu dan zaman sekarang adalah manwantara ketujuh. Jadi, masih ada tujuh manwantara lagi sebelum dunia dihancurkan.

Menurut kitab Purana, dunia terbagi menjadi empat zaman, diawali oleh Satyayuga (zaman kebenaran), dan diakhiri oleh Kaliyuga (zaman kegelapan). Setelah Kaliyuga berakhir, dimulailah Satyayuga yang baru. Demikian seterusnya dan siklus dari zaman Satyayuga menuju Kaliyuga disebut Mahayuga. Menurut kitab Brahmapurana, satu Mahayuga berlangsung selama 12.000 tahun para dewa atau 4.320.000 tahun manusia.

Secara singkat diuraikan sebagai berikut:
Satyayuga (1.728.000 tahun), Tretayuga (1.296.000 tahun), Dwaparayuga (864.000 tahun), Kaliyuga (432.000 tahun), Sehinga lama Mahayuga (4.320.000 tahun)

71 Mahayuga membentuk satu manwantara. Dengan demikian, lama berlangsungnya 1 manwantara dapat dihitung sebagai berikut:
• 1 Mahayuga = 4.320.000 tahun
• 71 Mahayuga = 1 Manwantara
• 1 Manwantara = 71 × 4.320.000 tahun = 306.720.000 tahun
Maka, satu manwantara berlangsung selama 306.720.000 tahun. Setelah 14 manwantara berlangsung, maka tercapailah periode satu Kalpa. Alam semesta dihancurkan setiap periode satu Kalpa. Menurut berbagai kitab Purana, zaman sekarang adalah manwantara ketujuh, berarti enam manwantara telah berlalu dan masih ada tujuh manwantara lagi sebelum dunia dihancurkan.

mengenai kiamat juga sudah dijelaskan dalam Veda, bahwa kiamat itu sendiri sudah biasa dan sudah pernah terjadi berulang-ulang kalinya,
dengan begitu :

“Siapakah ras bangsa manusia sebelum Adam?” pertanyaan ini dulunya sangat mengganjal di benak saya. namun setelah membaca artikel dari penulis buku favorit saya mas Dhamar Sasangka, sedikit banyak saya menjadi paham. Jika orang bilang kitab suci orang Islam (Alquran) itu paling lengkap saya tidak setuju. Cobalah baca dan pahami kitab-kitab Hindu Kuno lebih dahulu. Islam itu orang bilang agama paling sempurna, tapi Hindu agama paling universal.
Bisa di baca disini juga untuk melengkapi Siapakah Ras Manusia Sebelum Adam?

Setelah dari Penjelasan diatas mudah mudahan Generasi Penerus Hindu bisa menjadi Seorang Hindu yang sejati untuk yang akan datang...

Om Shanti Shanti Shanti om...

Sumber :   Wayansutame, By ngarayana, dan wikipedia.org

Read More...

Dapatkah Dosa Ditebus Dengan Siwaratri?

OM Swastyastu,
--- Ya Tuhan, semoga Engkau selalu memberikan perlindungan ---

Siwaratri Suatu hal yang kadang kadang banyak yang salah menanggapi terutama bagi generasi penerus Hindu pada saat ini. Karena menganggap Malam Siwaratri adalah Penebusan Dosa seperti umat lainnya yang kalian ketahui maka timbul suatu pertanyaan dalam diri saya Apakah Siwa Ratri: Malam Peleburan Dosa atau Penyadaran Dosa?.....
Sehingga ini merupakan hal yang menarik buat saya untuk paparkan disini, sebagai penyadaran diri dan renungan diri terhadap generasi kita yang semakin rapuh dan menjauh dari rasa HINDU dalam hatinya. Semoga dari penjelasan yang saya berikan disini dapat memberikan Kebangkitan HINDU bagi generasi penerus Hindu yang akan datang serta bisa menjelaskan hal yang sebenarnya terhadap Hari Siwaratri yang sesungguhnya.
Pertanyan diatas membuat menggelitik di kalangan warga Hindu bila mereka membandingkan dengan inti kepercayaan agama-agama lain.
Manusia religius ketika sadar telah melakukan hal-hal yang dilarang agamanya (berdosa) ingin bertobat dan mencari upaya menenangkan batin dengan berbuat sesuatu yang dianggapnya dapat menebus dosa dalam pengertian “menghapus dosa”.
Adakah Hindu membuka peluang bagi mereka?
Karmaphala adalah hasil subha karma atau perbuatan baik dan asubha karma, yaitu perbuatan tidak baik, dipandang sebagai srada yang ampuh mengendalikan perbuatan manusia.


Karmaphala ada tiga jenis jika dilihat dari saat berbuat dan saat menerima hasil perbuatan.
1. Sancita karmaphala adalah hasil perbuatan di masa lampau (sebelum reinkarnasi) yang belum habis dijalani di masa itu sehingga menentukan kehidupan sekarang.
2. Prarabda karmaphala adalah hasil perbuatan di masa hidup sekarang yang habis dijalani sebelum manusia meninggal dunia.
3. Kriyamana karmaphala adalah hasil perbuatan di masa lalu dan di masa kini yang belum habis dijalani sehingga menentukan kehidupan di masa datang (reinkarnasi yang akan datang).
Paham karmaphala ini menegaskan bahwa dosa tidak dapat ditebus atau dihapus. Oleh karena itu Hindu mengajarkan agar manusia waspada dan mencegah perbuatan-perbuatan dosa.
Rambu-rambu untuk menghindarkan manusia berbuat dosa sangat banyak, sangat luas, dan dapat dilakukan oleh siapa saja.

Sumber sastra yang dapat dikumpulkan antara lain:
1. Catur Asrama. Kehidupan manusia dibagi dalam empat tahap, yaitu:
  1. Brahmacari (masa belajar)
  2. Grahasta (masa berumah tangga)
  3. Wanaprasta (masa mensucikan diri)
  4. Saniyasin (masa menjadi rohaniawan)
2. Pancasrada. Lima keyakinan Hindu:
  1. Widhi tattwa (percaya pada Ida Sanghyang Widhi Wasa)
  2. Atma tattwa (percaya pada adanya roh leluhur)
  3. Karmaphala (percaya pada hukum tentang sebab akibat perbuatan)
  4. Samsara (percaya pada reinkarnasi/ kelahiran berulang-ulang)
  5. Moksa (bebas dari ikatan keduniawian)
3. Trikayaparisudha. Tiga kelompok besar yang patut dijaga, yaitu:
  1. Kayika (perbuatan yang benar: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina)
  2. Wacika (perkataan yang benar: tidak mencaci, tidak berkata keras, tidak memfitnah, tidak ingkar janji)
  3. Manacika (pikiran yang benar: tidak menginginkan sesuatu yang adharma, tidak berpikir buruk pada orang/ mahluk lain, percaya adanya karmaphala)
4. Caturpurusartha. Empat tujuan hidup:
  1. Dharma (kebaikan di jalan Ida sanghyang Widhi Wasa)
  2. Artha (pemenuhan kebutuhan benda-benda duniawi)
  3. Kama (kenikmatan hidup)
  4. Moksa (kebebasan abadi)
5. Caturmarga. Empat jalan manusia bersujud ke Ida Sanghyang Widhi Wasa:
  1. Bhaktimarga (pasrah)
  2. Karmamarga (kerja)
  3. Jnanamarga (belajar agar mengetahui kebesaran-Nya)
  4. Rajamarga (menggelar tapa-brata-yoga-samadi)
6. Yamabrata: Usaha-usaha mengendalikan diri, yaitu:
  1. Anrsamsa (tidak egois)
  2. Ksama (memaafkan)
  3. Satya (jujur)
  4. Ahimsa (tidak menyakiti)
  5. Dama (sabar)
  6. Arjawa (tulus)
  7. Pritih (welas asih)
  8. Prasada ( berpikiran suci)
  9. Madhurya (bermuka manis)
  10. Mardawa (lemah lembut)
7. Niyamabrata: Janji pada diri sendiri untuk berlaku dharma, yaitu:
  1. Dana (dermawan)
  2. Ijya (bersembahyang)
  3. Tapa (mengekang nafsu jasmani)
  4. Dhyana (sadar pada kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa)
  5. Swadhyaya (belajar)
  6. Upasthanigraha (mengendalikan nafsu sex)
  7. Brata (mengekang indria)
  8. Upawasa (mengendalikan makan/ minum)
  9. Mona (mengendalikan kata-kata)
  10. Snana (menjaga kesucian lahir bathin)
8. Sadripu: mengendalikan enam musuh yang ada di diri sendiri:
  1. Kama (nafsu)
  2. Lobha (tamak)
  3. Kroda (marah)
  4. Mada (mabuk)
  5. Moha (angkuh)
  6. Matsarya (dengki irihati)
9. Sadatatayi: menghindari enam kekejaman:
  1. Agnida (membakar)
  2. Wisuda (meracun)
  3. Atharwa (menenung)
  4. Sastragna (merampok)
  5. Dratikrama (memperkosa)
  6. Rajapisuna (memfitnah)
10. Saptatimira: menghindari kemabukan-kemabukan karena
  1. Surupa (cantik/ tampan)
  2. Dana (kaya)
  3. Guna (pandai)
  4. Kulina (wangsa)
  5. Yowana (remaja)
  6. Kasuran (kemenangan)
  7. Sura (minuman keras)
Bila manusia terlanjur berbuat dosa, petunjuk-petunjuk yang ada pada beberapa kitab-kitab/ lontar di bawah ini dapat digunakan sebagai pegangan:
Kitab Parasara Dharmasastra yang dianggap cocok untuk zaman kaliyuga sekarang ini, memuat beberapa ketentuan bila seseorang terlanjur berbuat dosa yang disebabkan antara lain karena:
  1. Kelahiran dan kematian yang tidak wajar
  2. Berzina
  3. Digigit binatang tertentu
  4. Membunuh
  5. Mencederai sapi
  6. Makan makanan terlarang
Ketentuan yang diatur dalam kitab itu hanyalah proses pensucian diri, bukan penebusan dosa.
Lontar Wrhaspati Tattwa menyatakan tiga kegiatan pokok yang perlu dilakukan bila seseorang ingin mencapai kelepasan:
  1. Jnanabhyudreka: mengetahui semua tattwa Agama.
  2. Indriyayogamarga: tidak tenggelam dalam kesukaan hawa nafsu.
  3. Trsnadosaksaya: menghilangkan pahala dari perbuatan baik dan buruk.
Kitab Upanisad Utama, Brahmana ke-15 bagi manusia yang akan meninggal dunia, ucapkan mantram-mantram ini di telinganya:

HIRANMAYENA PATRENA SATYASYAPIHITAM MUKHAM
TAT TVAM, PUSAN, APARNU, SATYA DHARMAYA DRSTAYE
Artinya: wajah kebenaran ditutup oleh piring emas; bukalah ini o Pusan sehingga aku yang mencintai kebenaran bisa melihat.

PUSANN, EKARSE, YAMA, SURYA, PRAJA-PATYA
VYUHA RASMIN SAMUHA TEJAH
YAT TE RUPAM KALYANATAMAM
TAT TE PASYAMI YO SAV ASAU PURUSAS, SO HAM ASMI
Artinya: Pusan yang tunggal melihat, pengendali, o matahari putra dari prajapati sebarkanlah sinarmu dan kumpulkanlah sinarmu yang gemerlapan sehingga aku melihat di-Kau dalam bentukmu yang paling indah.

VAYUR ANILAM AMRTAM ATHEDAM BHASMANTAM SARIRAM
AUM KRTO SMARA, KRTAM SMARA, KRATO SMARA, KRTAM SMARA
Artinya: semoga hidup ini memasuki nafas yang abadi kemudian semoga tubuh ini berakhir menjadi abu, o buddhi ingatlah, ingatlah apa yang telah diperbuat.
AGNE NAYA SUPATHA, RAYE ASMAN, VISVANI, DEVA, VAYUNANI VIDVAN, YUYODHY ASMAJ JUHARANAM ENO, BHUYISTHAM TE NAMAUKTIM VIDHEMA
Artinya: agni tuntunlah kami pada jalan yang baik kearah kekekalan, o Tuhan yang mengerti semua perbuatan-perbuatanku, ambilah semua dosa dariku, kami akan menghadap-Mu.
Lontar Siwaratrikalpa karangan Mpu Tanakung yang diilhami oleh Purana-purana sanskerta: Padma, Siwa, Skanda, dan Garuda, menokohkan Lubdhaka sebagai orang yang sadar pada dosa-dosanya di masa lalu.
Kemudian di hari Siwaratri (panglong ping 14 tileming kapitu) tanpa sengaja ia membangun tapa-brata-yoga-samadi, dianggap sebagai langkah kesadaran dharma karena membangun tapa-brata-yoga-samadi bersamaan dengan waktu Bethara Siwa beryoga samadi untuk kesejahteraan jagat raya beserta isinya.
Setelah Siwaratri, Lubdhaka tidak pernah lagi melakukan perbuatan-perbuatan adharma. Ketika Lubdhaka meninggal dunia, kesadaran dharmanya dinilai positif oleh Bethara Yama sehingga Lubdhaka masuk sorga. Manusia Hindu diharap meniru apa yang dilakukan Lubdhaka.

KESIMPULAN
Dosa tidak dapat ditebus atau dihapus, namun dosa atau perbuatan adharma dapat diimbangi dengan perbuatan dharma sehingga diharapkan terjadi keseimbangan yang relatif lebih mengunggulkan dharma.
Diibaratkan dosa itu bagai sinar matahari yang terik, bila berhembus angin rasa panasnya akan berkurang. Angin itu ibarat perbuatan-perbuatan dharma.
Sarasamuscaya sloka ke-16:
YATHADITYAH SAMUDYAN WAI TAMAH, SARWWAM WYAPOHATI, EWAM KALYANAMATISTAM SARWWA, PAPAM WYAPOHATI
Laksana sifat surya, begitu terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikianlah orang yang mengusahakan dharma akan menghilangkan segala macam penderitaan.
JAUHKAN PERBUATAN-PERBUATAN ADHARMA DAN BERBUATLAH DHARMA SEBANYAK-BANYAKNYA!


Semoga paparan penjelasan diatas dapat membuka hati dan pikiran kita sebagai generasi Hindu yang akan datang...Semoga bermanfaat.

Om Shanti Shanti Shanti Om...

Sumber : http://stitidharma.org/dapatkah-dosa-ditebus-dengan-siwaratri/


Read More...