Sungguh Ironis sekali...keadaan sekarang ini terutama terutama sodara-sodara kita yang ada Di Pulau Dewata. Begitu Kompleks permasalahan yang dihadapi...hingga melakukan Upacara saja mesti harus ribut dan belum lagi Kejadian baru-baru ini Di Bangli yang membuat saya sendiri tercengang dan tertegun dan Permasalahan adat lainnya...Apakah begini sekarang ini Hindu-Bali sama sodara sendiri saling Sikat?? Hidup ini sudah sangat sulit kenapa di tambah sulit " Dalam blog ini saya pernah menulis tentang ADA APA DENGAN ADAT dan HINDU ? Mungkin dalam tulisan itu anda bisa menyimak dengan apa yang terjadi sekarang ini...dan apa yang saya khawatirkan itu benar-benar terjadi dimana anda bisa baca Aspek Kelemahan Hindu-BALI . Sebenarnya Kita sebagai generasi penerus Hindu harus bisa berpacu dengan waktu menghadapi pertentangan adat ini...marilah kita melakukan perubahan dan bangkit untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dan kuat. Jangan hanya bisa DIAM...dan berani dengan Sodara kita sendiri Permasalahan yang serius sebenarnya udah didepan mata kita..
1. Serbuan Pendatang yang semakin membludak, dan tanpa ada penyelesain sehingga sodara dan nyame beraye kita jadi hengkang contoh : Denpasar mungkin kalian sudah liat..denpasar sekarang ini. Semua berubah bisa anda liat saat Galungan tidak ada sama sekali Namanya PENJOR yang dulunya begitu indah dan berderet banyak dijalan-jalan. silakan anda buktikan dan melihatnya sendiri nanti...
2. Banyak sekali Pelecehan terhadap Hindu-Bali...mungkin bisa anda liat lewat Facebook dimana itu dilakukan tanpa ada penyelesaian.
3. Di Jembrana sekarang ini Orang Hindu-Bali dilarang menjual Babi. WOw...ada apa dengan Jembrana??? apa terjadi disana sodaraku..kemana orang-orang kita. silakan anda pikirkan...Mengenai larangan ini saya tau melalui BALI TV.
Dan masih banyak sekali permasalahan lainnya..tapi kenapa kita saling hantam sendiri dengan sodara...Lihatlah kenyataaan Hindu-Bali ini bagaimana kedepannya jika terus begini. Bangkit lah..segera lakukan perubahan dan reformasi adat dan awig-awig yang tidak sesuai dengan keadaan sekarang ini..Belum lagi sodara-sodara kita yang ada di luar...begitu banyak tekanan hingga konflik lainnya...Kita ini akan menjadi apa?
Coba lihat umat lainnya yang diluar kita..begitu hebatnya mereka berpacu dengan keyakinannya...Kita ( Hindu-Bali ) hanya DIAM..
Bagaimanakah Hindu-Bali akan datang?...silakan anda renungkan dan pikrikan....
terima kasih
Read More...
RAMALAN dan KEBANGKITAN HINDU
Kekuatan Ramalan Zaman Dulu dan Pastu merupakan awal dari Kebangkitan Hindu di Nusantara ini
Jumat, 12 Agustus 2011
Selasa, 05 Oktober 2010
Fatwa Mengikis Kasta
AKHIRNYA apa yang disebut-sebut sebagai noda besar dalam ajaran Hindu, yakni penerapan sistem kasta, dijernihkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), majelis tertinggi umat Hindu. Lewat Pesamuhan Agung (rapat kerja nasional) yang dibuka oleh Menteri Agama Prof. Dr. Said Agil di Mataram, NTB, dua pekan lalu, Sabha Pandita PHDI mengeluarkan bhisama (fatwa) mengenai "pemahaman caturwarna" yang intinya adalah umat Hindu wajib menerapkan ajaran "caturwarna", dan bukan sistem kasta. Sabha Pandita adalahlembaga yang berhak menetapkan fatwa.
Caturwarna adalah ajaran yang menetapkan tentang fungsi seseorang dalam masyarakat Hindu. Golongan brahmana adalah pemimpin ritual keagamaan. Golongan kesatria adalah mereka yang berprofesi di bidang pemerintahan, wesya yang bergerak di bidang ekonomi, dan sudra adalah mereka yang bekerja di bidang pertanian atau perburuhan yang mengandalkan otot. Ini adalah pilihan profesi, bukan karena keturunan.
Di masa-masa akhir Kerajaan Bali, terjadi pemberian gelar kepada golongan-golongan itu. Misalnya, yang bekerja di kerajaan disebut Tjokorde, Gusti Ngurah, dan sebagainya. Yang menjabat raja-raja kecil disebut Anak Agung dan sebagainya, dan yang menjadi pendeta disebut Ida Bagus. Ketika penjajah masuk, gelar itu diwariskan kepada anak-anak mereka, padahal sang anak tidak menjalankan profesi sebagaimana gelar itu. Penjajah Belanda bahkan meresmikan sistem pembagian kelas itu di Bali untuk mengadu domba, dan nama kasta ini menggunakan nama yang ada dalam ajaran caturwarna, yakni brahmana, kesatria, wesya, dan sudra. Penyimpangan menjadi semakin jauh karena gelar itu diwariskan turun-temurun sehingga ada kesimpulan yang salah bahwa yang berhak menjadi pendeta hanyalah keturunan brahmana versi kasta itu. Dan ini merembet ke masalah ritual, perkawinan antar-keturunan, juga sorsinggih (kasar halusnya) berbahasa.
Pemurnian sudah lama dilakukan. Menurut Kepala Museum Gedong Kirtya, I Gusti Bagus Sudiasta, pada 1920 sudah muncul polemik lewat penerbitan Bali Adnyana dan Surya Kanta. Bali Adnyana adalah corong yang pro-kasta, sedangkan Surya Kanta adalah kelompok yang anti-kasta.
Ketut Wiana, Wakil Ketua Sabha Walaka (kelompok pemikir) PHDI, mengatakan bahwa pemurnian ajaran caturwarna sebenarnya sudah tersirat dalam Piagam Campuhan tahun 1959, yang menjadi hari lahirnya PHDI. "Ketika itu sudah dinyatakan bahwa kesetaraan pendeta di Bali bukan berdasarkan keturunan, melainkan keahlian, dan semua penyimpangan yang dikarenakan sistem kasta dihapuskan," kata Wiana.
Ekses kasta sebenarnya sudah mencair seirama dengan meningkatnya pendidikan dan banyaknya buku Hindu yang terbit. Bagi yang tetap mewariskan nama karena keturunan, diakui itu hanya sebatas nama, tidak lagi menentukan dalam ritual keagamaan. Belakangan ini nama-nama tersebut sudah kacau-balau, siapa pun berhak memakai nama yang dulu disebut gelar itu. Pendeta pun sudah banyak yang muncul dari keturunan yang "tidak bergelar". Belum lagi faktor ekonomi dan jabatan di pemerintahan. Yang berada "di puri" belum tentu lebih kaya dari mereka yang "di luar puri", dan ini membuat "yang bergelar" bisa saja kini jadi bawahan dari "yang tak bergelar". Ekses kasta pada umat Hindu di luar Bali bahkan sudah tidak tampak. "Karena itu, sebenarnya saya tidak setuju ada fatwa penghapusan kasta ini. Biarkan hilang dengan sendirinya," kata Putu Setia, yang gencar menerbitkan buku kesalahpahaman kasta sejak tahun 1980-an.
Tapi, kenapa akhirnya muncul fatwa itu? "Masih ada eksesnya di Bali, meskipun kecil. Masih ada anggapan hanya pendeta yang berasal dari keturunan tertentu saja yang punya otoritas tertinggi dalam memimpin upacara," kata Dharma Adhyaksa (pemimpin tertinggi kelompok pendeta) PHDI, Ida Pedanda Sebali Tianyar. Menurut pendeta yang baru diundang ke Amerika Serikat untuk memimpin doa mengenang tragedi WTC ini, fatwa mengenai kasta ini ditambah dengan fatwa tentang sarwa sadhaka, yang mempertegas kesetaraan pendeta Hindu di Indonesia.
Menurut Ketua Umum PHDI, Nyoman Suwandha, fatwa ini adalah mandat dari Mahasabha PHDI tahun lalu. Ketika itu muncul pendapat supaya penyimpangan kasta ini dibuatkan keputusan formalnya. "Bukan untuk umat Hindu saja, tetapi juga untuk umat non-Hindu yang selama ini selalu menuduh umat Hindu menerapkan sistem kasta," kata mantan Wakil Jaksa Agung ini.
Alasan terakhir ini membuat Putu Setia, mantan Ketua Forum Cendekiawan Hindu yang kini memimpin LSM Hindu, berbalik setuju adanya fatwa tentang kasta. Masih banyak beredar buku pelajaran sejarah dan kebudayaan yang menyebutkan Hindu menerapkan kasta. "Beberapa ormas pemuda dan mahasiswa Hindu menginginkan ada fatwa formal soal itu supaya punya keberanian yang lebih besar untuk melakukan protes. Karena itu, saya setuju fatwa ini dan ikut terbang ke Lombok untuk merumuskannya," kata Putu Setia.
Jadi, hanya untuk formal saja?
Made Mustika (Mataram)
Sumber: TEMPO
Read More...
Caturwarna adalah ajaran yang menetapkan tentang fungsi seseorang dalam masyarakat Hindu. Golongan brahmana adalah pemimpin ritual keagamaan. Golongan kesatria adalah mereka yang berprofesi di bidang pemerintahan, wesya yang bergerak di bidang ekonomi, dan sudra adalah mereka yang bekerja di bidang pertanian atau perburuhan yang mengandalkan otot. Ini adalah pilihan profesi, bukan karena keturunan.
Di masa-masa akhir Kerajaan Bali, terjadi pemberian gelar kepada golongan-golongan itu. Misalnya, yang bekerja di kerajaan disebut Tjokorde, Gusti Ngurah, dan sebagainya. Yang menjabat raja-raja kecil disebut Anak Agung dan sebagainya, dan yang menjadi pendeta disebut Ida Bagus. Ketika penjajah masuk, gelar itu diwariskan kepada anak-anak mereka, padahal sang anak tidak menjalankan profesi sebagaimana gelar itu. Penjajah Belanda bahkan meresmikan sistem pembagian kelas itu di Bali untuk mengadu domba, dan nama kasta ini menggunakan nama yang ada dalam ajaran caturwarna, yakni brahmana, kesatria, wesya, dan sudra. Penyimpangan menjadi semakin jauh karena gelar itu diwariskan turun-temurun sehingga ada kesimpulan yang salah bahwa yang berhak menjadi pendeta hanyalah keturunan brahmana versi kasta itu. Dan ini merembet ke masalah ritual, perkawinan antar-keturunan, juga sorsinggih (kasar halusnya) berbahasa.
Pemurnian sudah lama dilakukan. Menurut Kepala Museum Gedong Kirtya, I Gusti Bagus Sudiasta, pada 1920 sudah muncul polemik lewat penerbitan Bali Adnyana dan Surya Kanta. Bali Adnyana adalah corong yang pro-kasta, sedangkan Surya Kanta adalah kelompok yang anti-kasta.
Ketut Wiana, Wakil Ketua Sabha Walaka (kelompok pemikir) PHDI, mengatakan bahwa pemurnian ajaran caturwarna sebenarnya sudah tersirat dalam Piagam Campuhan tahun 1959, yang menjadi hari lahirnya PHDI. "Ketika itu sudah dinyatakan bahwa kesetaraan pendeta di Bali bukan berdasarkan keturunan, melainkan keahlian, dan semua penyimpangan yang dikarenakan sistem kasta dihapuskan," kata Wiana.
Ekses kasta sebenarnya sudah mencair seirama dengan meningkatnya pendidikan dan banyaknya buku Hindu yang terbit. Bagi yang tetap mewariskan nama karena keturunan, diakui itu hanya sebatas nama, tidak lagi menentukan dalam ritual keagamaan. Belakangan ini nama-nama tersebut sudah kacau-balau, siapa pun berhak memakai nama yang dulu disebut gelar itu. Pendeta pun sudah banyak yang muncul dari keturunan yang "tidak bergelar". Belum lagi faktor ekonomi dan jabatan di pemerintahan. Yang berada "di puri" belum tentu lebih kaya dari mereka yang "di luar puri", dan ini membuat "yang bergelar" bisa saja kini jadi bawahan dari "yang tak bergelar". Ekses kasta pada umat Hindu di luar Bali bahkan sudah tidak tampak. "Karena itu, sebenarnya saya tidak setuju ada fatwa penghapusan kasta ini. Biarkan hilang dengan sendirinya," kata Putu Setia, yang gencar menerbitkan buku kesalahpahaman kasta sejak tahun 1980-an.
Tapi, kenapa akhirnya muncul fatwa itu? "Masih ada eksesnya di Bali, meskipun kecil. Masih ada anggapan hanya pendeta yang berasal dari keturunan tertentu saja yang punya otoritas tertinggi dalam memimpin upacara," kata Dharma Adhyaksa (pemimpin tertinggi kelompok pendeta) PHDI, Ida Pedanda Sebali Tianyar. Menurut pendeta yang baru diundang ke Amerika Serikat untuk memimpin doa mengenang tragedi WTC ini, fatwa mengenai kasta ini ditambah dengan fatwa tentang sarwa sadhaka, yang mempertegas kesetaraan pendeta Hindu di Indonesia.
Menurut Ketua Umum PHDI, Nyoman Suwandha, fatwa ini adalah mandat dari Mahasabha PHDI tahun lalu. Ketika itu muncul pendapat supaya penyimpangan kasta ini dibuatkan keputusan formalnya. "Bukan untuk umat Hindu saja, tetapi juga untuk umat non-Hindu yang selama ini selalu menuduh umat Hindu menerapkan sistem kasta," kata mantan Wakil Jaksa Agung ini.
Alasan terakhir ini membuat Putu Setia, mantan Ketua Forum Cendekiawan Hindu yang kini memimpin LSM Hindu, berbalik setuju adanya fatwa tentang kasta. Masih banyak beredar buku pelajaran sejarah dan kebudayaan yang menyebutkan Hindu menerapkan kasta. "Beberapa ormas pemuda dan mahasiswa Hindu menginginkan ada fatwa formal soal itu supaya punya keberanian yang lebih besar untuk melakukan protes. Karena itu, saya setuju fatwa ini dan ikut terbang ke Lombok untuk merumuskannya," kata Putu Setia.
Jadi, hanya untuk formal saja?
Made Mustika (Mataram)
Sumber: TEMPO
Senin, 02 Agustus 2010
ADA APA DENGAN ADAT dan HINDU ?
Disini saya mengatakan ADA APA DENGAN HINDU???? Saya lihat banyak sekali kejadian-kejadian yang bisa membuat warga Hindu dan genarasi penerus kita menjadi tercengang dan terheran-heran dengan ADAT dan BANJAR,,,sampai segitukah silakan anda baca ini
Bentrokan Saat Penguburan Mayat di Bali
itu merupakan salah satu penerapan awig-awig yang tidak disesuaikan dengan zaman sekarang ini. tapi alangkah tragisnya hal itu. Bagaimanakah Kita nanti jika ini terus diterapkan!!?? Salah satu pemicu kenapa itu bisa terjadi berdasarkan awig-awig silakan anda baca ini
Tidak Boleh Kuburkan Jenazah Sanksi yang sangat Berat
Jika anda sudah membaca kedua hal tersebut mari kita renungkan bersama-sama....,, Marilah sodara-sodaraku Sedharma Bangkitlah...ini zaman sudah beda dengan yang dulu, kasian Generasi penerus kita nantinya...mereka hanya tau Nak Mule Keto...!! Kapan kita bisa belajar untuk Maju jika terus begini..maka Abis lahh generasi kita akan hengkang menuju yang lain,, dengan prinsip "mati aja kita susah apalagi hidup". Ini merupakan suatu Realita yang terjadi Di BALI yang merupakan salah satu Kelemahan dasar kita yang sudah pernah saya bahas disini
ASPEK KELEMAHAN HINDU-BALI
Mudah-mudahan...ini menjadi salah satu pembelajaran Bagi kita semua terutama pemuda-pemudi hindu dengan ini kita bisa bersikap untuk bisa menjadi HINDU yang Sejati. Read More...
Bentrokan Saat Penguburan Mayat di Bali
itu merupakan salah satu penerapan awig-awig yang tidak disesuaikan dengan zaman sekarang ini. tapi alangkah tragisnya hal itu. Bagaimanakah Kita nanti jika ini terus diterapkan!!?? Salah satu pemicu kenapa itu bisa terjadi berdasarkan awig-awig silakan anda baca ini
Tidak Boleh Kuburkan Jenazah Sanksi yang sangat Berat
Jika anda sudah membaca kedua hal tersebut mari kita renungkan bersama-sama....,, Marilah sodara-sodaraku Sedharma Bangkitlah...ini zaman sudah beda dengan yang dulu, kasian Generasi penerus kita nantinya...mereka hanya tau Nak Mule Keto...!! Kapan kita bisa belajar untuk Maju jika terus begini..maka Abis lahh generasi kita akan hengkang menuju yang lain,, dengan prinsip "mati aja kita susah apalagi hidup". Ini merupakan suatu Realita yang terjadi Di BALI yang merupakan salah satu Kelemahan dasar kita yang sudah pernah saya bahas disini
ASPEK KELEMAHAN HINDU-BALI
Mudah-mudahan...ini menjadi salah satu pembelajaran Bagi kita semua terutama pemuda-pemudi hindu dengan ini kita bisa bersikap untuk bisa menjadi HINDU yang Sejati. Read More...
Senin, 30 November 2009
KETIDAK PAHAMAN TENTANG HINDU
Kenapa kali ini saya memberikan tentang Ketidak Pahaman Tentang Hindu, dimana banyak sekali orang maupun umat lain memberikan komentar negatif tentang HINDU selama ini.
Dari kecil karena saya dulu SD berada di luar daerah sering sekali saya di olok-olok oleh temen-temen muslim bahwa saya di bilang menyembah patung, waktu saya hanya diam saja tapi berkali-kali sudah akhirnya saya nggak tahan dan berantem dengan mereka. itulah salah satu kisah saya sebagai HINDU yang berada di luar Bali. Masih banyak sekali hal-hal lainnya,,,hingga akhirnya ini menjadi salah satu topik media FaceBOOK HINDU-BALI.
Sungguh Ironis sekali HINDU sekarang ini dimana banyak muda-mudi kita belum menyadarinya bagaimana sesungguhnya yang terjadi, begitu banyak tekanan pihak-pihak luar yang menginginkan umat kita berpindah dari H ke I atau K. Jadi Pahamilah dan perdalam terus serta tingkatkan rasa bersodara dan persatuan kita dalam HINDU.
Dari kecil karena saya dulu SD berada di luar daerah sering sekali saya di olok-olok oleh temen-temen muslim bahwa saya di bilang menyembah patung, waktu saya hanya diam saja tapi berkali-kali sudah akhirnya saya nggak tahan dan berantem dengan mereka. itulah salah satu kisah saya sebagai HINDU yang berada di luar Bali. Masih banyak sekali hal-hal lainnya,,,hingga akhirnya ini menjadi salah satu topik media FaceBOOK HINDU-BALI.
Sungguh Ironis sekali HINDU sekarang ini dimana banyak muda-mudi kita belum menyadarinya bagaimana sesungguhnya yang terjadi, begitu banyak tekanan pihak-pihak luar yang menginginkan umat kita berpindah dari H ke I atau K. Jadi Pahamilah dan perdalam terus serta tingkatkan rasa bersodara dan persatuan kita dalam HINDU.
Jangan biarkan mereka selalu menganggap kita sepele ataupun minoritas buktikan kita mampu untuk itu...Jadi Bangkit dan Bangkit HINDU-KU. Banyak hal yang semestinya kita perlu reformasi baik Hindu dan ADAT nya. Dengan begitu Kenyamanan dan rasa ikatan bersodara kita menjadi lebih kuat, karena itu kita saat ini sedang menunggu dan diam ...untuk BANGKIT...
Ada suatu pertanyaan yang mungkin sodara-sodara tahu terutama yang berada di luar bali mungkin pertanyaan ini sudah menjadi sarapan pagi mereka. untuk itu maka saya berusaha untuk bisa memberikan tanggapan.
INILAH PERTANYAAN YANG SANGAT SEDERHANA TAPI MENDALAM...
1. Hindu dikatakan produsen sampah terbesar
2. Hindu dikatakan menghambur-hamburkan uang dalam upacara agama...
3. Hindu dikatakan menyembah patung atau batu.
4. Kenapa kita harus bangga sebagai orang hindu
Menurut anda bagaimana???
Dari pertanyaan tersebut bukan jawaban yang sebenarnya kita cari tapi solusi untuk bisa menjadi lebih baik untuk di masa yang akan datang bagi penerus generasi HINDU.
1.JAWABANNYA HANYA PADA DIRI ANDA..KENAPA? SAMPAH YANG BIKIN MANUSIA BUKAN AGAMA JADI BERETIKALAH KARENA MELAKUKAN YADNYA BUKANLAH UNTUK PERSEMBAHAN SAJA TAPI KEBERSIHAN DIRI DAN LINGKUNGAN...JADI ABIS SEMBAHYANG ATAU MELAKUKAN UPACARA YADNYA KITA MESTINYA MENJAGA KEBERSIHAN JGN DI TELANTARKAN BEGITU SAJA..WALAUPUN DI PURA-PURA ADA SAYE ATAU YANG NGAYAH MELAKUKAN KEBERSIHAN TAPI KITA SENDIRI MESTI SADAR AKAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN.
2. MEMANG BENAR MENGHAMBURKAN UANG SAMPAI-SAMPAI MESTI MENJUAL WARISAN UNTUK MELAKUKAN UPACARA-UPACARA YADNYA...INI KENYATAAN KOK, TAPI SEKARANG ADA SOLUSI YADNYA YANG TELAH BERJALAN SANGAT BAIK CONTOH: ADANYA NGABEN MASAL YANG BIAYANYA SANGAT MURAH..
JADI NGGA PERLU HARUS BIAYA BANYAK UNTUK BANTEN DAN SEGALANYA...KARENA YANG PALING BANYAK MENGHABISKAN BIAYA ADALAH MANUSIANYA BUKAN HINDU, KARENA APA? LIAT AJA KALO ADA UPCARA PASTI MISI NGELAWAR, NGULING DAN LAIN-LAIN INI YANG BANYAK MAKAN BIAYA.
3. iNI DULU SAMPAI SEKARANG UMAT LAIN MENGANGGAP KITA SEPERTI ITU, KARENA MEREKA TIDAK MEMAHAMINYA!
ITU SALAH SEKALI MENGATAKAN BAHWA HINDU MENYEMBAH PATUNG TAPI MANUSIANNYA..., JADI MESTINYA KITA SENDIRI YANG MESTINYA LEBIH BELAJAR DAN MEMAHAMI HINDU.
4.BANGGA...ADALAH SUATU ARTI KESOMBONGAN DALAM HINDU KITA MENGENAL SADRIPU YANG MERUPAKAN MUSUH YANG ADA DALAM DIRI MANUSIA...
HINDU TIDAK PERNAH MERASA BANGGA WALAUPUN MERUPAKAN AGAMA YANG BUDI LUHUR TAPI MANUSIANYA LAH YANG MESTINYA BISA MENEMPATKAN DIRI SEBAGAI SEORANG HINDU YANG SEJATI...
Mudah-mudahan dari ini kita bisa menjadi lebih sadar dan memahami Hindu yang sesungguhnya...
Read More...
Selasa, 10 November 2009
Arti Filosofi Dewa Ganesha

Sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?p=36087382
Ganesha merupakan Dewa Ilmu Pengetahuan yang mempunyai tangan empat.
Ganesha memiliki banyak gelar, termasuk Ganapati dan Wigneswara. Setiap nama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek karakter dari Ganesha.
Nama Ganesha adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta, terdiri dari kata Gana, berarti kelompok, orang banyak, atau sistem pengelompokan, dan Isha, berarti penguasa atau pemimpin.
Ganesha digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. Ganesha memiliki empat lengan, yang merupakan penggambaran utama tentangnya. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa cawan berisi manisan, yang ia hisap dengan belalainya, pada tangan kiri bawah.
Dua tangan berikutnya, Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak pada tangan sebelah atas dan sebuah tasbih pada tangan atas lainnya.
Berikut arti perlambang yang ada pada Ganesha:
Tasbih : Lambang Pengetahuan yang tiada putusnya; Lambang Kebijaksanaan & Pengetahuan Spiritual
Kapak : Lambang Penghancur Rintangan dan Halangan; Lambang Sifat Ksatria
Gading (yang dipatahkan) : Lambang pengorbanan diri untuk menyelesaikan masalah yang merintangi kemajuan
Selendang Ular yang merambat ke atas : Lambang Kekuatan yang luar biasa
Cawan berisi memanisan yang dihisap oleh belalai : Lambang Manis/Kesenangan yang diperoleh setelah menghalau halangan dan rintangan; Lambang Sumber Ilmu Pengetahuan yang tiada habisnya
Bunga Teratai/Buku : Lambang Ilmu Pengetahuan
Ganesha, sosok Dewa berbadan gemuk dan berkepala gajah ini sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ganesha menjadi ikon/simbol lembaga-lembaga penting, sekolah-sekolah, atau pusat studi sebagai simbol ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Ganesha telah menjadi begitu populer, dan kepopulerannya tidak hanya pada kalangan Hindu, tetapi telah merambah dunia secara keseluruhan. Seluruh umat, dari Hindu, Islam, Kristen, hingga Budha melihat Ganesha sebagai sosok mahluk lucu dan unik.
Ganesha memiliki kepala yang besar dengan dua telinga besar dan mata yang sipit. Kepala besar melambangkan kita sebagai manusia seharusnya lebih banyak menggunakan akal daripada fisik dalam memecahkan masalah.
Sedangkan mata yang sipit berarti konsentrasi. Pikiran harus diarahkan ke hal-hal positif untuk memperbaiki daya nalar dan pengetahuan.
Ganesha juga memiliki dua telinga besar yang mengajarkan supaya kita mendengarkan orang lain lebih banyak. Kita selalu mendengar, tetapi jarang sekali kita mendengarkan orang lain dengan baik: "Dengarkan ucapan-ucapan yang membersihkan jiwa dan seraplah pengetahuan dengan telingamu."
Ganesha mematahkan satu gadingnya untuk menggurat Kitab Suci di atas daun tal. Satu gading berarti kesatuan. Simbol ini menyarankan manusia hendaknya bersatu untuk satu tujuan mulia & suci.
Lantas, Ganesha juga memiliki mulut yang kecil dan hampir tidak kelihatan karena tertutup belalainya yang dengan rakus ”menghirup rasa” manisan susu ilmu di tangannya.
Mulut yang kecil itu mengajarkan agar kita mengontrol gerak mulut dan lidah. Maksudnya adalah bahwa kita harus mengurangi pembicaraan yang tidak-tidak. Sementara belalai yang menjulur melambangkan efisiensi dan adaptasi yang tinggi.
Beralih ke badan Ganesha yang besar:
Hal pertama yang kita lihat pastilah perutnya, karena perut itu memang buncit. Ganesha memang selalu dimanja oleh ibu Parvati, istri Siva sebagai anak kesayangan. Perut buncit melambangkan keseimbangan dalam menerima baik-buruknya gejolak dunia. Dunia diliputi oleh sesuatu yang berpasangan, yakni pasangan dua hal yang bertolak belakang. Ada senang, ada pula sedih. Ada siang, ada pula malam.
Ada wajah suram kesedihan di balik tawa riang kita. Dan sebaliknya, ada keriangan dan semangat dibalik kesenduan kita. Itulah hidup, dan kita harus menyadarinya.
Simbol Ganesha memegang sebilah kapak. Kapak berarti menumpas segala halangan dalam karya. Sementara itu, di tangan kiri Ganesha terdapat semangkuk manisan susu.
Terakhir, ada seekor tikus yang selalu berada di dekat Ganesha. Tikus, seperti sifat hewan aslinya, adalah hewan yang penuh nafsu mengigit. Ia memakan apa saja untuk memenuhi hasrat perutnya. Demikianlah tikus dijadikan lambang nafsu dalam figur Ganesha. Lalu mengapa tikus itu menjadi tunggangan Ganesha yang berbadan berat & tinggi ini?
Tikus, atau nafsu harus ditundukkan. Kita harus bisa menjadikan nafsu sebagai kendaraan sehingga kita dapat mengendalikannya, namun banyak manusia kini menjadi kendaraan dari nafsunya sendiri.
Analisa
Bentuk kepala gajah : bentuk kepala gajah mewakili dari sebuah pemikiran yang cerdas atau otak yang besar dalam terjemahan gampangan nya, sebab dalam penggambarannya sesuatu yang besar digambarkannya biasanya sangat berlebihan.
Telinga gajah : telinga gajah berarti peka terhadap semua informasi artinya dapat menyerap semua informasi terlepas benar atau salah nya informasi tersebut, telinga yang lebar menggambarkan penyerapan informasi dari khalayak umum (dari semua sisi).
Mata gajah : mata gajah yang terlihat sempit atau menyipit melambangkan penuh perhatian pada segala hal.
Hidung gajah : melambangkan kemampuan memprediksi jauh kedepan sebab kan kalo punya belalai panjang kalo mencium bau sesuatu kan ga perlu sampai jongkok atau mengerakkan bandan.
Berbadan gemuk : artinya memilki data yang cukup buaaaanyak sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Kemudian kebanyakan yang digunakan sebagai lambang kecerdasan yang lebih umum seperti bentuk patung yang berada di candi prambanan
Nah digambar tersebut belalai/hidung arca ganesha menjuntai kearah mangkok disebelah kiri yang berisi kosong (versi Indonesia)….. dapat di artikan sebagai berikut, memprediksikan sesuatu hal dengan pertimbangan logika yang matang dan terperinci secara jelas, sehingga ketika sebuah alasan atau sebuah prediksi disampaikan dapat diterima dengan gamblang oleh semua pihak…. Hlo artinya koq bisa gitu? dari mana itu koq langsung keluar arti seperti itu? Hidung gajah kan udah diterangkan di atas, kemudian menjulur ke sebalah kiri artinya mendulukan pemikiran sebelah kiri (otak kiri) mangkok kosong mengartikan memperediksikan sebuah hal yang merupakan kewajibannya (soalnya kan di genggam ama tangan arca ganesha)
Bertangan empat, yang atu kan pegang mangkok…. Jadi tinggal tiga yang pegang tiga macam barang…. yaitu :
Tasbih : menyiratkan mempelajari segala hal harus berurutan.
Kapak : mengartikan sebuah senjata multi fungsi disamping bisa digunakan untuk membela diri, bisa diartikan menjadi pimpinan (kan jaman dulu kapak dianggap sebagai simbul dari senjata tetua kelompok), atau berfungsi dapat memprediksikan atau meramalkan keadaan alam sehingga dapat menyelaraskan diri dengan alam ( fungsi kapak juga dapat diartikan sebagai alat pembelah kayu, hla kayu kan produk alam)
Gading : senjata alami yang berasal dari tubuh gajah, artinya dapat menguasai aspek aspek terpenting dari tubuh manusia sehingga bisa digunakan untuk mempersenjatai diri nya secara alamiah/ tanpa bantuan dari alat diluar tubuhnya.
Berwahana/berkendaraan tikus
Badan gede naik tikus ga penyet tuh? Ya jangan diliat simbul gambar dengan analogi seperti itu dong ya jelas ga nyambung , di berbagai site banyak menerangkan tentang wahana tikus tunggangan dari Ganesha, tetapi kalo saya pikir pikir kadang buaaaanyak yang lepas dari konteks menerangkan arca Ganesha sebagai lambang kecerdasan, sebab kalo saya liat tikus dan kelakuan tikus yang sering berseliweran disekitar rumah, konteks arti tikus lebih merujuk kepada sifat tikus tersebut, apa to sifat tikus itu? Pertama dia bisa masuk pada setiap celah rumah, kemudian dia pandai bersembunyi, trus kalo diburu kalo ga dipukul/ditembak dikepala nya tikus mah lama matinya, mempunyai kecepatan dalam mengembangkan diri (beranak pinak gitu) trus berpenciuman tajam (abis kalo dirumah kadang kalo makanan nya dikasih racun yang berbau si tukus ga mau makan) trus suka mengintai di tempat yang tersembunyi…… nah kalo diliat dari kelakuan nya seperti itu aja (sebab sifat nya yang njengkelin masih teramuat buanyauuuak) maka tikus bisa diasumsikan sebagai mata mata ulung nan cerdik, nah jadi yambungkan kan ?
Jadi jelaslah bahwa sebuah kecerdasan multi harus lah selalu mempunyai mata mata yang ulung dan cerdik…. Seperti gambaran arca ganesha berwahanakan tikus.
Ya mungkin pengartian saya tentang arca Ganesha kelewat ngawur dan serampangan, tapi bila diartikan demikian lebih jelas maknanya ketika sebuah lambang kecerdasan dilambangkan sebagai arca Ganesha…. Dan mungkin hal itu yang diwariskan para leluhur ketika mengatakan “lihatlah arca Ganesha, itu adalah lambang dari kecerdasan….”
Read More...
Langganan:
Entri (Atom)