PTC yang Terpacaya membayar Dengan HARGA Termahal "Mari Bergabung"



Author

Diharapkan bagi umat yang ingin menyumbangkan tulisan-tulisannya untuk dipublikasikan di blog ini, yang bersifat membangun dan mencerdaskan umat, silahkan kirim ke; kebangkitan.hindu@gmail.com Terimakasih

Manusia 1/2 Dewa - Iwan Fals

Translate

Menjawab Mitos umat Hindu di Bali Dengan Posisi Tidur Kepala Tidak Boleh menghadap Selatan dan Barat

Ada suatu pertanyaan yang membuat kita kadang-kadang bingung akan Mitos tersebut terutama bagi umat Hindu yang Muda maupun anak-anak dan ketika balik mempertanyakannya kepada orang tua malah tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan alias Memang Sudah Begitu. Sepatutnya lah sebenarnya kita memberikan penjelasan yang masuk logika dan yang sesuai dgn kaidah kaidah Hindu. Maka dari itu saya berusaha menampilkannya disini sebagai tambahan wawasan bagi generasi Hindu dimana pun berada. Jadi inilah pertanyaan tersebut: 

Mengapa bagi umat Hindu posisi tidur kepala tidak boleh (tdk disarankan) menghadap selatan dan Barat? Sampai saat ini saya tetap mempercayainya.

Pertanyaan diatas itu saya ambil dari suatu tread status forum Hindu yang ada di facebook yang memang merupakan tempat berkumpulnya teman teman dan sodara sodara Hindu dalam membahas suatu permasalahan selain itu sebagai wadah peningkatan wawasan umat Hindu terutama bagi generasi Mudanya.

Jawaban dari pertanyaan tersebut juga saya ambil dari salah satu Koment yang menurut saya sangat tepat dan mendekati dengan konsep Hindu di Bali. ma'af ,saya tidak sebutkan indentitas pemilik koment tsb.inilah salah satu koment tsb :  

Maaf, tiang memberi masukan sedikit tentang pokok pertanyaan teman di atas. Yaitu mslh tdr kepala di timur dan di utara. 
Begini, pada dasarnya, umat hindu sangat mensucikan 9 penjuru arah mata angin. DEWATA NAWA SANGA. Tapi, dalam hal ini, (arah kepala waktu tidur), ada konsep palemahan (tata ruang) yang mengatur dalam hal ini. 
Dalam tata adat di bali, tiap keluarga hindu bali punya tempat pemujaan (sangah/merajan) yang di bangun di sebelah timur (tepatnya, kaje kangin) dari areal pekarangan yg di tempati. 
Dan di bali juga ada konsep (me-hulu gunung). Masyarakat hindu bali menggunakan gunung sebagai arah utara. Nah, untuk lebih mensucikan tempat pemujaan, maka masyarakat hindu di bali mengatur arah kepala untuk tidur dengan sedemikian rupa. Dalam hal ini, kepala ada otaknya, otak sebagai pusat dari semua yang ada pada diri manusia. 
Maka, dengan sendirinya kepala kitalah yg paling dekat dgn tmpat pemujaan. Ini untuk mengingatkan kita untuk selalu dekat, mengingat, dan melaksanakan ajaran hindu. jadi masalah posisi tidur kiat di bali ini bukan AGEM MULE KETO. Dan ada yg lucu disini, ajaran tidur hindu di bali, telah secara tdk langsung membuat penduduk bali mempersatukan diri lewat posisi tidur. 
Di bali utara dan bali selatan jika tidur dgn posisi sama2 kepala di utara, maka ketemunya kepala dgn kepala. Utara di bali selatan, adalah selatan di bali utara....... 

Nah...setelah melihat Koment diatas bagaimanakah menurut anda ? apakah ada tambahan dan sanggahan yang lain? Jika ada silakan berikan Koment anda disini.
Setelah ada masukkan lagi maka kami melakukan Update sebagai berikut:

#Arti posisi kepala saat tidur


Adat Bali dikenal memiliki banyak aturan, yang secara tidak langsung dan tidak sadar mengikat masyarakatnya, mulai dari pribadi perorangan, kelompok sampai aturan dalam membangun daerahnya. satu contoh kecil saja, yaitu sikap saat istirahat malam atau tidur. jangankan sikap tidur, tempat tidur bahkan bangunan yang boleh dijadikan tempat tidurpun diatur. katakan saja untuk ranjang untuk tidur, ada aturannya. secara umum, apapun yang dilakukan oleh manusia diatur, dalam hal ini; tempat istirahat. dalam sastra bali tempat istirahat ada 3, yaitu
  1. Galar; istirahat untuk beberapa saat dengan tidur
  2. Galir; istirahat untuk beberapa menit/pelepas lelah, yaitu dengan duduk dan bersantai
  3. Galur; istirahat untuk perjalanan pulang, yang dalam istilah balinya “mulih ke desa gede/gumi wayah” alias MATI
tempat istirahat tersebut biasanya dibuat dari batang bamboo yang dibagi kecil-kecil memanjang(dalam istilah bali dsb di-recah) sehingga nyama untuk digunakan. perhitunganya tetap dimulai dari “Galar” kemudian “Galir” dan di ikuti dengan “Galur”. dan apabila tempat istirahat tersebut dianggap kurang lebar maka hitungannya dilanjutkan sampai ditemukan posisi yang cocok dengan keinginan.

nah, apa yang terjadi bila aturan tersebut dilanggar?

untuk yang melanggar aturan tersebut, secara adat atau hukum social tidak ada hukumannya. tetapi secara “Niskala” akan berdampak pada kehidupan pemakai tempat istirahat tersebut. mulai dari sakit hingga kematian. khusus untuk tempat tidur, memiliki aturan tambahan yaitu; apabila tempat tersebut sudah dianggap selesai dibuat dan sudah pernah digunakan selama 3 hari, maka tempat tesebut dianggap sudah hidup seperti halnya bangunan yang telah diupacarai. bila ada orang yang berani memotong / merubahnya kemudian setelah itu digunakan sebagai tempat tidur lagi, maka yang memotong / merubah serta yang menggunakannya akan mengalami gangguan dalam kehidupannya. aturan ini sudah baku, karena sudah banyak yang merasakan, sehingga Adat Bali tidak mengaturnya secara tertulis.

kembali ke Posisi Tidur, seperti halnya umat lain yang memiliki “kiblat”, orang bali juga memiliki aturan tersebut, dan ini sudah diatur melalui aturan yang ditulis dalam kidung “Nitisastra VII, 1-2”. adapun kupasan dari nitisastra tersebut :
Perhatikan tempat letak kapalamu, waktu tidur beginilah pelajaran dari buku-buku. jika kepalamu ditimur, akan panjang umurmu. jika diutara, engkau mendapatkan kejayaan. jika letak kepalamu dibarat, akan mati rasa cinta padamu, engkau akan dibenci para sahabatmu. dan jika membujur ke selatan, akan pendek umurmu, dan menyebabkan rasa dukacita. - Nitisastra VII, 1-2.
Sumber:http://cakepane.blogspot.com/2010/07/arti-posisi-kepala-saat-tidur.html


Cukup sekian semoga hal ini bisa membantu generasi kita menemukan Kebangkitan Hindu dalam dirinya, sehingga bisa menjadi seorang Hindu yang sejati.

Artikel Terkait

4 comments:

  1. Om Swastiastu,

    Inggih becik pisan niki artikelnyane, dumogi mawiguna ring iraga sinareng sami, ngiring sareng-sareng Ajegang Agama Hindu ne - Ajegang Gumi Baline .... suksma

    ReplyDelete
  2. Sangat Bagus sekali,,,, Baru sekarang saya menemukan hal ini,,,, saya sangat Cinta,,, :D
    #TrunaBali

    ReplyDelete
  3. OM SWATIASTU.
    saya mau nanya ni, kalo seandainya orang dah terlanjur mengubah tempat tdur itu, gimana caranya dia bisa terlepas dari pendritaan? tolong di jawab secptnya karena ni bener2 dah terjdi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali kepada diri anda sendiri dalam melakukan semua perbuatan ( KARMA ) , karena karma tidak bisa di rubah seperti waktu yang terus berjalan.
      untuk lebih baeknya ketika anda sadari akan hal itu lakukanlah Tri KayaParisuda dan Tri Hitakarana dalam kehidupan ini dan perbanyak sembahyang mensukuri kehidupan terhadap Tuhan.

      Delete

Boleh berkomentar panjang lebar, silahkan!Tulisan ini mungkin sinis tapi mudah-mudahan bisa memberi pengertian dan kesadaran untuk lebih mencintai Agama,Tanah Air, Bangsa dan Nusantara. Mencintai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa, budaya serta peninggalan-peninggalan leluhur seperti Candi-candi, Pura, Puri, Purana ataupun yang lainnya.