Renungan


Translate

Peranan Wanita didalam Hindu dan Weda

Om Swastiastu....

Ada suatu pertanyaan yang kadang kadang membuat kita sebagai umat Hindu keturunan Bali, Kenapa lebih mengutamakan seorang anak keturunan Putra ( Laki ) dari pada anak seorang Putri ( Wanita ). karena hal ini lah yang membuat generasi Hindu terutama yang keturunan Bali maupun tetangga sebelah kita juga sering mempertanyakannya, sehingga anak Putri sering kali merasa diabaikan atau tidak diutamakan bukan berarti tidak menyetarakannya terhadap anak Putra tapi ada hal lain yang membuat orang tua Hindu-Bali lebih mengutamakan seorang anak Putra daripada Putri walau sebenarnya akhir dari kehidupan kita doa seorang anak Putri lah yang mengantarkan sang atman dalam perjalanannya menuju Brahman. untuk itu sebelumnya saya akan membahas sedikit tentang anak Putri atau Wanita untuk pendahuluannya sebelum membahas tentang anak Putra yang akan saya angkat dalam topik berikutnya. 


Maka saya sebagai penulis juga  ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa " Anak Putri lah yang mempunyai peranan penting diakhir suatu kehidupan orang tua dan leluhur kita, untuk itu jangan abaikan anak seorang Putri di kemudian hari jadi jagalah sodara dan teman Putri kita agar merasa tidak diabaikan di kehidupan ini. Karena begitu banyak saya lihat Putri / Wanita Hindu merasa diabaikan melarikan diri menuju dauh tukad atau diambil oleh tetangga sebelah kita yang selalu memanfaatkan hal tersebut, maka dengan mudahnya mereka mengambil Putri kita tanpa ada halangan yang berarti jika sebaliknya mereka akan berbuat militan dan berjuang mempertahakannya bagaimanapun caranya, generasi Hindu yang saya banggakan marilah mulai sekarang kita jangan terlalu meremehkan seorang Anak Putri maupun Ibu dalam keluarga Hindu-Bali karena akhir sebuah cerita Do'a anak  Putri lah yang mengantarkan leluhur kita menuju Brahman, termasuk pentingnya juga kita sebagai umat Hindu mempunyai keturunan ( anak ) kehidupan ini.




Wanita berasal dari Bahasa Sanskrit, yaitu Svanittha, di mana kata Sva artinya “sendiri” dan Nittha artinya “suci”. Jadi Svanittha artinya “mensucikan sendiri” kemudian berkembang menjadi pengertian tentang manusia yang berperan luas dalam Dharma atau “pengamal Dharma”.
Dari sini juga berkembang perkataan Sukla Svanittha yang artinya “bibit” atau janin yang dikandung oleh manusia, dalam hal ini, peranan perempuan. Wanita sangat diperhatikan sebagai penerus keturunan dan sekaligus “sarana” terwujudnya Punarbhava atau re-inkarnasi, sebagai salah satu srada (kepercayaan/ keyakinan) Hindu.

Lihatlah kisah Mahabharata ketika Drupadi, istri Pandawa yang  menjadi korban taruhan kekalahan berjudi Dharmawangsa dari Pandawa melawan Sakuni di pihak Korawa. Ia diseret keluar dan coba ditelanjangi oleh Dursasana di depan sidang. Dewa Dharma melindungi Drupadi sehingga kain penutup badan Drupadi tidak pernah habis, tetap melindungi tubuh walau bermeter-meter telah ditarik darinya.
Sejak awal Drupadi sudah mengingatkan Dursasana, bahwa ia wanita, tidak boleh diperlakukan kasar dan dipaksa demikian. Akhirnya dalam perang Bharatayuda, Dursasana dibinasakan Bima, dan Drupadi menebus kaul dengan mencuci rambutnya dengan darah Dursasana.

Dapat dilihat juga bersama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat memberikan penghargaan yang besar terhadap perempuan. Masyarakat melakukan pemujaan kepada Dewi yang dapat membantu kehidupan manusia di dunia ini, seperti Dewi Sri (Dewi padi) yang merupakan sumber kehidupan manusia, pemujaan sebagai tanda bakti dan terima kasih juga ditujukan kepada Dewi Saraswati (Dewi Pengetahuan) yang dilambangkan sebagai seorang perempuan yang bertangan empat, berdiri di atas bunga teratai. Ia merupakan simbol perempuan yang harus di teladani karena dengan tasbih di tangan pertama, ia menyembah Hyang Widhi Wasa, dengan daun lontar di tangan kedua ia mendalami ilmu pengetahuan, dengan alat musik di tangan ketiga ia menikmati dan mengumandangkan keindahan dan seni,dan dengan sekuntum bunga di tangan keempat ia menyabarkan keharuman dan kelembutan.

Dewi Saraswati berdiri di atas bunga teratai melambangkan ia sebagai perempuan mampu berdiri dalam situasi apa pun. Dewi Durga mempunyai kekuatan magis yang luar biasa, yang dapat memberi kekuatan dan menghancurkan kehidupan ini. Dewi Sri Sedana, merupakan Dewi uang yang mempengaruhi perekonomian seseorang. Tugas yang di lakukan para Dewi itu adalah sama dengan Dewa sesuai manifestasinya. 

Di dalam kitab suci Weda juga terdapat sloka sloka  tentang peranan Wanita di dunia ini sangatlah penting sebagai berikut :

“Istri hendaknya taat melaksanakan upacara-upacara keagamaan” (Yajurveda XIX.94)

“Wanita adalah pengawas keluarga, dia cemerlang, dia mengatur yang lain-lain dan dia sendiri yang taat kepada aturan-aturan, dia adalah aset keluarga sekaligus yang menopang (kesejahteraan) keluarga” (Yajurveda XIV.22)

“Wahai mempelai wanita, jadilah nyonya rumah dan bimbinglah ayah mertua, ibu mertua, saudara dan saudari ipar” (į¹šgveda X.85.46).

Ucapan “sorga ada ditangan wanita” bukanlah suatu slogan kosong, karena ditulis dalam MD.III.56:

    YATRA NARYASTU PUJYANTE, RAMANTE TATRA DEVATAH, YATRAITASTU NA PUJYANTE, SARVASTATRAPHALAH KRIYAH
artinya :
Di mana wanita dihormati, di sanalah pada Dewa-Dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.

Lebih tegas lagi dalam pasal berikutnya: 57:

    SOCANTI JAMAYO YATRA, VINASYATYACU TATKULAM, NA SOCANTI TU YATRAITA, VARDHATE TADDHI SARVADA
artinya :
Di mana wanita hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi di mana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.

Dan pasal 58:

    JAMAYO YANI GEHANI, CAPANTYA PATRI PUJITAH, TANI KRTYAHATANEVA, VINASYANTI SAMANTARAH
artinya :
Rumah di mana wanitanya tidak dihormati sewajarnya, mengucapkan kata-kata kutukan, keluarga itu akan hancur seluruhnya seolah-olah dihancurkan oleh kekuatan gaib.

Tapi dalam kehidupan Hindu di Bali hal ini sangatlah berbeda dengan banyak istilah " nak mule keto " belum lagi banyak orang dauh tukad menganggap Peranan wanita dalam Hindu sangat rendah , Hal tersebut sangatlah SALAH karena dalam kitab Weda sudah jelas dikatakan bahwa Wanita mempunyai Peranan penting.

Dalam adat Bali pun yang menganut patriarki perbedaan perlakuan terhadap perempuan sungguh sangat kentara. Adat Bali menempatkan perempuan sebagai subordinasi karena ada pengertian yang keliru terhadap konsep purusa dan pradana. Sejatinya purusa dan pradana ada pada setiap laki-laki termasuk pula pada diri perempuan. Purusa adalah jiwa dan pradana adalah raga. Akan tetapi dalam realisasi purusa memang tetap dimaknai sebagai jiwa, hanya pradana diartikan sebagai benda. Kalau jiwa tidak pernah mati alias akan hidup terus sedangkan benda itu adalah barang mati sehingga tidak perlu diperlakukan secara manusiawi. Pendapat keliru inilah yang terus berlangsung dalam kehidupan keseharian perempuan Hindu di Bali. Adanya laki-laki dan perempuan adalah bukan untuk dipertentangkan, tetapi adalah saling melengkapi demi terlaksananya dampati dalam kehidupan.

Oleh karena laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Tuhan melalui yadnya, maka sudah sewajarnyalah manusia saling beryadnya dalam menggerakkan cakra yadnya Kalau hal tersebut dapat terlaksana, itu menandakan bahwa Hindu sangat berpihak pada gender bahkan kesetaraan karena perempuan tidak dilahirkan dari tulang rusuk kanan adam. Dalam Padma Purana disebutkan bahwa Dewa Brahma membagi setengah dirinya dalam menciptakan Dewi Saraswati. Bukan hanya setengah badan tetapi juga adalah setengah jiwanya. Hal inilah yang dimaksud dengan konsep Ardanariswari dalam Hindu.

Wanita dalam theologi Hindu bukanlah merupakan serbitan kecil dari personifikasi lelaki, tetapi merupakan suatu bagian yang sama besar, sama kuat, sama menentukan dalam perwujudan kehidupan yang utuh. Istilah theologisnya ialah “Ardhanareswari”. Ardha artinya setengah, belahan yang sama. Nara artinya (manusia) laki-laki. Iswari artinya (manusia) wanita. Tanpa unsur kewanitaan, suatu penjelmaan tidak akan terjadi secara utuh dan dalam agama Hindu unsur ini mendapatkan porsi yang sama sebagaiman belahan kanan dan kiri pada manusia. Sebagaimana belahan bumi atas yaitu langit dengan belahan bumi bawah yaitu bumi yang kedua-duanya mempunyai tugas, kekuatan yang seimbang guna tercapainya keharmonisan dalam alam dan kehidupan manusia di alam ini.

Dalam Siwatattwa dikenal konsep Ardhanareswari yaitu simbol Tuhan dalam manifestasi sebagai setengah purusa dan pradana. Kedudukan dan peranan purusa disimbolkan dengan Siwa sedangkan Pradana disimbolkan dengan Dewi Uma. Di dalam proses penciptaan, Siwa memerankan fungsi maskulin sedangkan Dewi Uma memerankan fungsi feminim. Tiada suatu apa pun akan tercipta jika kekuatan purusa dan pradana tidak menyatu. Penyatuan kedua unsur itu diyakini tetap memberikan bayu bagi terciptanya berbagai mahluk dan tumbuhan yang ada.

Makna simbolis dari konsep Ardhanareswari, kedudukan dan peranan perempuan setara dan saling melengkapi dengan laki-laki bahkan sangat dimuliakan. Tidak ada alasan serta dan argumentasi teologis yang menyatakan bahwa kedudukan perempuan berada di bawah laki-laki. Itulah sebabnya di dalam berbagai sloka Hindu dapat ditemukan aspek yang menguatkan kedudukan perempuan di antara laki-laki.
Dalam Manawa Dharmasastra I.32 disebutkan

Dwidha kartwatmanodeham
Ardhena purusa bhawat
Ardhena nari tasyam sa
Wirayama smrjat prabhuh


Terjemahannya:

Tuhan membagi dirinya menjadi sebagian laki-laki dan sebagian menjadi perempuan (ardha nari). Darinya terciptalah viraja.

Sloka di atas menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Laki-laki dan perempuan menurut pandangan Hindu memiliki kesetaraan karena keduanya tercipta dari Tuhan. Dengan demikian, maka perempuan dalam Hindu bukan merupakan subordinasi dari laki-laki. Demikian pula sebaliknya. Kedua makhluk yang berbeda jenis kelamin ini memang tidak sama. Perbedaan tersebut adalah untuk saling melengkapi. Mengapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan? Manawa Dharmasastra IX.96 menyebutkan sebagai berikut.

Prajanartha striyah srtah
Samtanartam ca manawah
Tasmat saharano dharmah
Srutao patnya sahaditah


Terjemahannya:
Tujuan Tuhan menciptakan wanita, untuk menjadi ibu. Laki-laki diciptakan untuk menjadi ayah. Tujuan diciptakan suami istri sebagai keluarga untuk melangsungkan upacara keagamaan sebagaimana ditetapkan menurut Veda.

Dari konsep Ardhanariswari tersebut mengisyaratkan bahwa perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki. Perempuan dalam teologi Hindu bukanlah tanpa arti. Malahan dia dianggap sangat berarti dan mulia sebagai dasar kebahagiaan rumah tangga. Di dalam Yayurveda (XIV.21) dijelaskan bahwa perempuan adalah perintis, orang yang senantiasa menganjurkan tentang pentingnya aturan dan dia sendiri melaksanakan aturan itu. Perempuan adalah pembawa kemakmuran, kesuburan, dan kesejahteraan, sebagaimana tertera pada Yajurveda, XIV. 21 berikut.

Murdha asi rad dhuva asi
Daruna dhartri asi dharani
Ayusa twa varcase tva krsyai tva ksemaya twa

Terjemahannya
Oh perempuan engkau adalah perintis, cemerlang, pendukung yang memberi makan dan menjalankan aturan-aturan seperti bumi. Kami memiliki engkau di dalam keluarga untuk usia panjang, kecemerlangan, kemakmuran, kesuburan pertanian, dan kesejahteraan.

Perempuan adalah ciptaan Tuhan dalam fungsinya sebagai pradana. Ia juga disimbolkan dengan yoni, sumber kesuburan dan kearifan. Laki-laki ciptaan Tuhan dalam fungsi sebagai purusa yang disimbolkan dengan lingga. Oleh karena perempuan juga, maka berbagai bentuk persembahan akan terlaksana, karena perempuan pula ketenangan dan ketentraman akan terwujud. Oleh karena itu orang yang ingin sejahtera seyogyanya menghormati perempuan, terlebih dalam hari raya dengan memberinya hadiah berupa perhiasan, pakaian, dan makanan sebagaimana tersurat dalam kutipan Manawa Dharmasastra III.59 berikut.
 
Tasmadetah sada pujya
Busanaccha dana sanaih
Buthi kamair narair mityam
Satkaresutsa vesu ca

 

Terjemahan :
Hal yang dapat dimaknai dari uraian di atas adalah perempuan adalah mahluk Tuhan yang memiliki kompleksitas peran dan kemuliaannya sendiri ( religius, estetis, ekonomi, maupun sosial). Sebagai makhluk religius, dia menjadi sempurna di hadapan Tuhan, dia juga sekaligus pengatur detail aspek-aspek kerumahtanggaan, sekaligus sebagai kasir yang jujur untuk keluarga mereka.

Dalam konsep purusa-pradana ini, maka pertemuan unsur Purusa dengan Pradhana menimbulkan terciptanya kesuburan. Memuja Tuhan dalam aspeknya sebagai Purusa untuk memohon kekuatan untuk dapat mengembangkan hidup yang bahagia secara rohaniah, sedangkan memuja Tuhan sebagai Pradhana adalah untuk mendapatkan kekuatan rokhani dalam membangun kehidupan jasmani yang sehat dan makmur.

Itulah kilasan mengapa saya katakan peranan wanita sangat penting dalam kehidupan seorang umat hindu baik dia sebagai ibu maupun anak putri, karena sistem adatlah yang memberikan porsi lain bukan Hindu jadi selayaknya generasi kita sekarang lebih baik menjaga dan memberikan bimbingan tentang Hindu kepada putri dan wanita hindu termasuk kita sebagai kaum lelaki yang tidak semestinya mengabaikan kewajiban mereka terhadap leluhur. Namaste...


Om shanti shanti shanti om

Sumber referensi :
http://stitidharma.org/wanita-dalam-pandangan-hindu/
http://majalahhinduraditya.blogspot.com/2012/04/ardanareswari-dalam-hindu.html
http://stahdnj.ac.id/?p=209
http://www.scribd.com/doc/96275318/Peranan-Wanita-Dalam-Agama-Hindu

Artikel Terkait

2 comments:

  1. Cerita bagaimana doa anak wanita yang mengantarkan sang atma ke brahman itu gimana bli? tiang tertarik dengan ceritanya.. setelah tiang baca isi tulisannya gak ada cerita tentang doa sang anak perempuan yang mengantarkan atman ke brahmannya... mohon share... suksma. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang tidak ada ceritanya, kenapa saya katakan Doa sang anak perempuan yang akhirnya bisa mengantarkan Atman menuju Brahman, ini saya dapatkan referensi dari seorang Jeromangku yang mengatakan demikian thdp saya, ketika waktu itu dalam proses upacara yadnya dimana dalam semua proses upacara yadnya pembuatan sarana ritual terhdap leluhur dilakukan oleh seorang wanita terutama keturunan Bali mulai dari pembuatan proses berbagai sarana itulah seorang wanita yang merupakan anak dari keturunan leluhurnya melakukannya dgn tulus Iklas dan dilanjutkan akhir upacara dengan doanya terhdap atman. Ini memang saya akui blm bisa mendapatkan referensi dari sastranya tapi melihat kenyataan di Bali ( daerah Bali Timur ) , dimana suatu upcara yang menjadi pemegang karye adalah seorang laki laki yang kesibukannya kadang kadang melupakan suatu acara penting dalam melakukan Doa terhdap atman atau leluhur tapi yang selalu ingat akan hal itu hanyalah perempuan baik itu anak dan nenek sera cucu perempuan yg lebih banyak mengingat akan leluhurnya dibandingkan seorang anak lelaki. Secara fakta anak lelaki hanya mementingkan Hak waris daripada berdoa thdp leluhurnya dgn apa yang telah diberikannya di dunia ini. Itulah kesimpulan saya yg bisa berikan. mengenai ceritanya sesuai sastra nanti saya tambahkan. suksme

      Delete

Boleh berkomentar panjang lebar, silahkan!Tulisan ini mungkin sinis tapi mudah-mudahan bisa memberi pengertian dan kesadaran untuk lebih mencintai Agama,Tanah Air, Bangsa dan Nusantara. Mencintai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa, budaya serta peninggalan-peninggalan leluhur seperti Candi-candi, Pura, Puri, Purana ataupun yang lainnya.