Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di
abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai
Balitung.
Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari
Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan
pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak
17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini
dibangun taman indah.
Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan
masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung
Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang
meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam.
Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa
menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi
hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk
Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.
Read More...
Renungan
Translate
Showing posts with label Mitos. Show all posts
Showing posts with label Mitos. Show all posts
Kerajaan Pasudan / Padjadjaran, Sebuah Kilas Balik Sejarah.
Om Swastiastu
Apa Kabar semua Pemuda Pemudi Hindu Nusantara? Melalui Dumay yg tidak keliatan jelas menjadi jelas, Kali ini saya akan memuat tulisan karya seorang teman facebooker yg menurut saya perlu di publikasikan tentang sejarah Pasundan ato biasa di sebut Pajajaran dgn Prabu Siliwangi yg terkenal hebat. banyak versi ceritanya untuk itu mari kita Simak.
PRABU JAYADEWATA (1482 – 1521)
( PRABU SILIWANGI ) Jayadewata secara resmi diangkat sebagai raja Kerajaan Pajajaran yang bertahta di Pakuan saat berusia 81 tahun. Saat pengangkatannya, dilakukan 2 kali penobatan. Dari penobatannya pertama sebagai penguasa Galuh beliau diberi gelar Ratu Purana Prabu Guru Dewapranata. Sedangkan untuk penobatannya sebagai penguasa Sunda-Galuh, beliau diberi gelar Sri
Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata .
Read More...
Apa Kabar semua Pemuda Pemudi Hindu Nusantara? Melalui Dumay yg tidak keliatan jelas menjadi jelas, Kali ini saya akan memuat tulisan karya seorang teman facebooker yg menurut saya perlu di publikasikan tentang sejarah Pasundan ato biasa di sebut Pajajaran dgn Prabu Siliwangi yg terkenal hebat. banyak versi ceritanya untuk itu mari kita Simak.
PRABU JAYADEWATA (1482 – 1521)
( PRABU SILIWANGI ) Jayadewata secara resmi diangkat sebagai raja Kerajaan Pajajaran yang bertahta di Pakuan saat berusia 81 tahun. Saat pengangkatannya, dilakukan 2 kali penobatan. Dari penobatannya pertama sebagai penguasa Galuh beliau diberi gelar Ratu Purana Prabu Guru Dewapranata. Sedangkan untuk penobatannya sebagai penguasa Sunda-Galuh, beliau diberi gelar Sri
Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata .
Read More...
Sejarah/Babad Penaklukan Bali atas Majapahit
Mendengar
kisah duka di Lampung dan adanya wacana "Bali Merdeka",..tiba-tiba
timbul keinginan hati utk membuka lg sejarah/Babad Penaklukan Bali atas
Majapahit....Konon kabarnya selama Patih Kebo Iwa dari Bali tetap hidup,
Bali tak bisa dikalahkan.....
Ketika perang tanding terjadi,
disaat Patih Gajahmada sudah tercekik , mendadak timbul niat Kebo Iwa
untuk menunda kematian Gajahmada dengan cara ingin tahu mengapa
Gajahmada seorang Mahapatih yang begitu tersohor namanya, menghadapi
Kebo Iwa seorang diri saja masih mempergunakan tipu daya dengan cara
mengubur Kebo Iwa dalam sumur- hidup hidup.
Gajahmada dengan Isak tangisnya menyatakan bahwa : Disatu sisi dia
mengakui kedigjayaan Kebo Iwa Ksatria Bali, tapi disisi lain dia harus
konsisten dengan keinginan luhurnya mempersatukan Nusantara.
Begitu Kebo Iwa mendengarkan kesaksian Gajahmada yang jujur dan misi
yang luar biasa ini "MEMPERSATUKAN NUSANTARA" maka menangislah Kebo Iwa ,
disatu sisi dia adalah kesatria yang pantang menyerah, disisi lain Kebo
Iwa ingin mensuport perjuangan untuk mempersatukan Nusantara, akhirnya
Kebo Iwa memilih jalan Ksatria, dengan jalan membuka rahasia
kelemahannya
“Wahai Patih Gajah Mada ! Cita-citamu untuk
membuat nusantara menjadi satu dan kuat kiranya dapat aku mengerti,
namun selama ragaku tetap hidup sebagai abdi rajaku, aku akan menjadi
penghalangmu. Maka, taklukkan aku, hilangkan kesaktianku dengan
menyiramkan bubuk kapur ke tubuhku.
.............................. ....................
Akhirnya , sebelum kepergiannya, dengan sisa tenaga yang ada, Patih
Kebo Iwa mengutarakan apa yang ingin dikatakan untuk terakhir kali.
Patih Kebo Iwa :
“Kiranya kematianku tidak sia-sia …biarlah nusantara yang kuat bersatu
sebagai hasil yang pantas atas harga hidupku”. … dan pertiwi pun ikut
menangis melepas kepergian salah satu putra terbaiknya.
Patih Gajah Mada dengan raut muka sedih, memberikan jawaban atas perkataan Patih Kebo Iwa.
Gajah Mada :
“Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah… "SEJARAH
SUATU NUSANTARA YANG SATU DAN KUAT”. Semesta akan tetap mencatat bahwa
pernah dalam suatu masa hidup seorang patih tertangguh dalam sejarah
Bali
Menyimak akan tulisan diatas mengingatkan kita bagaimana para pahlawan Bali memberikan kemerdekaan itu kepada kita, maka gunakanlah kemerdekaan itu dangan sebaek-baeknya. Walau kecewa, sedih dan Emosi tingkat tinggi tapi Pikiran mesti tetap dingin dalam menanggapi segala sesuatunya karena suatu saat kebenaran akan terjawab atas Karma yang telah dilakukan...
Dalam Buku Slokantara Sloka 78 (176-182)
tentang keutamaan dan sebutan lain Kali Yuga:
Di masa besar zaman Kali ialah pemberian itu yang diutamakan dan
dihargai setinggi awan oleh masyarakat. Oleh karena inilah, di zaman
Kali ini orang-orang jahat dan gila (tetapi kaya), tegasnya yang jahat
dan rusuh itu sumber-sumber kehancuran, mereka menyakiti orang-orang
baik. Zaman ini juga dinamai Zaman Besi, terbukti di mana-mana terjadi
peperangan, kekerasan lawan kekerasan (besi lawan besi).
Dalam
Kitab Kakawin Niti Çastra Sargah IV, Kakawin Wirama Dasar:
Wirat, Kadang
Wirama: Ragakusuma, 13-14 (31-32), tentang sifat, letak hidup, umur
manusia dan panjang jaman Kali Yuga :Dan zaman sekarang ini
dimaksudkan dalam zaman Kali, saat mana ada-ada saja yang menjadi bahan
perselisihan, bahan perkelahian selalu timbul kekerasan dan dilawan
pula dengan kekerasan, tidak ada manusia berhati emas, semua berhati
besi untuk menghancurkan manusia lainnya, hidup teletak di sumsum
tulang, umur manusia tinggal 100 tahun dan akhirnya umur manusia hanya
tinggal ± 83 tahun (1.000 bulan) dan pada jaman penghabisan umur manusia
di zaman Kali 40 tahunlah batas umur manusia.
Sahabat Generasi Muda Hindu,
Mari kita merenung,...dalam
menyikapi "Tragedi Lampung",...masihkah kita ingin Bali Merdeka atau
tetap mempertahankan misi pendahulu kita, : Kebo Iwa dan Gajah Mada
...NUSANTARA YANG SATU DAN KUAT ????
Sumber : http://www.facebook.com/groups/bangkithindu/
Read More...
Gajahmada dengan Isak tangisnya menyatakan bahwa : Disatu sisi dia
mengakui kedigjayaan Kebo Iwa Ksatria Bali, tapi disisi lain dia harus
konsisten dengan keinginan luhurnya mempersatukan Nusantara.
Begitu Kebo Iwa mendengarkan kesaksian Gajahmada yang jujur dan misi yang luar biasa ini "MEMPERSATUKAN NUSANTARA" maka menangislah Kebo Iwa , disatu sisi dia adalah kesatria yang pantang menyerah, disisi lain Kebo Iwa ingin mensuport perjuangan untuk mempersatukan Nusantara, akhirnya Kebo Iwa memilih jalan Ksatria, dengan jalan membuka rahasia kelemahannya
“Wahai Patih Gajah Mada ! Cita-citamu untuk membuat nusantara menjadi satu dan kuat kiranya dapat aku mengerti, namun selama ragaku tetap hidup sebagai abdi rajaku, aku akan menjadi penghalangmu. Maka, taklukkan aku, hilangkan kesaktianku dengan menyiramkan bubuk kapur ke tubuhku.
.............................. ....................
Akhirnya , sebelum kepergiannya, dengan sisa tenaga yang ada, Patih Kebo Iwa mengutarakan apa yang ingin dikatakan untuk terakhir kali.
Patih Kebo Iwa :
“Kiranya kematianku tidak sia-sia …biarlah nusantara yang kuat bersatu sebagai hasil yang pantas atas harga hidupku”. … dan pertiwi pun ikut menangis melepas kepergian salah satu putra terbaiknya.
Patih Gajah Mada dengan raut muka sedih, memberikan jawaban atas perkataan Patih Kebo Iwa.
Gajah Mada :
“Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah… "SEJARAH SUATU NUSANTARA YANG SATU DAN KUAT”. Semesta akan tetap mencatat bahwa pernah dalam suatu masa hidup seorang patih tertangguh dalam sejarah Bali
Menyimak akan tulisan diatas mengingatkan kita bagaimana para pahlawan Bali memberikan kemerdekaan itu kepada kita, maka gunakanlah kemerdekaan itu dangan sebaek-baeknya. Walau kecewa, sedih dan Emosi tingkat tinggi tapi Pikiran mesti tetap dingin dalam menanggapi segala sesuatunya karena suatu saat kebenaran akan terjawab atas Karma yang telah dilakukan...
Sahabat Generasi Muda Hindu,
Mari kita merenung,...dalam menyikapi "Tragedi Lampung",...masihkah kita ingin Bali Merdeka atau tetap mempertahankan misi pendahulu kita, : Kebo Iwa dan Gajah Mada ...NUSANTARA YANG SATU DAN KUAT ????
Sumber : http://www.facebook.com/groups/bangkithindu/
Begitu Kebo Iwa mendengarkan kesaksian Gajahmada yang jujur dan misi yang luar biasa ini "MEMPERSATUKAN NUSANTARA" maka menangislah Kebo Iwa , disatu sisi dia adalah kesatria yang pantang menyerah, disisi lain Kebo Iwa ingin mensuport perjuangan untuk mempersatukan Nusantara, akhirnya Kebo Iwa memilih jalan Ksatria, dengan jalan membuka rahasia kelemahannya
“Wahai Patih Gajah Mada ! Cita-citamu untuk membuat nusantara menjadi satu dan kuat kiranya dapat aku mengerti, namun selama ragaku tetap hidup sebagai abdi rajaku, aku akan menjadi penghalangmu. Maka, taklukkan aku, hilangkan kesaktianku dengan menyiramkan bubuk kapur ke tubuhku.
..............................
Akhirnya , sebelum kepergiannya, dengan sisa tenaga yang ada, Patih Kebo Iwa mengutarakan apa yang ingin dikatakan untuk terakhir kali.
Patih Kebo Iwa :
“Kiranya kematianku tidak sia-sia …biarlah nusantara yang kuat bersatu sebagai hasil yang pantas atas harga hidupku”. … dan pertiwi pun ikut menangis melepas kepergian salah satu putra terbaiknya.
Patih Gajah Mada dengan raut muka sedih, memberikan jawaban atas perkataan Patih Kebo Iwa.
Gajah Mada :
“Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah… "SEJARAH SUATU NUSANTARA YANG SATU DAN KUAT”. Semesta akan tetap mencatat bahwa pernah dalam suatu masa hidup seorang patih tertangguh dalam sejarah Bali
Menyimak akan tulisan diatas mengingatkan kita bagaimana para pahlawan Bali memberikan kemerdekaan itu kepada kita, maka gunakanlah kemerdekaan itu dangan sebaek-baeknya. Walau kecewa, sedih dan Emosi tingkat tinggi tapi Pikiran mesti tetap dingin dalam menanggapi segala sesuatunya karena suatu saat kebenaran akan terjawab atas Karma yang telah dilakukan...
Dalam Buku Slokantara Sloka 78 (176-182)
tentang keutamaan dan sebutan lain Kali Yuga:
tentang keutamaan dan sebutan lain Kali Yuga:
Di masa besar zaman Kali ialah pemberian itu yang diutamakan dan
dihargai setinggi awan oleh masyarakat. Oleh karena inilah, di zaman
Kali ini orang-orang jahat dan gila (tetapi kaya), tegasnya yang jahat
dan rusuh itu sumber-sumber kehancuran, mereka menyakiti orang-orang
baik. Zaman ini juga dinamai Zaman Besi, terbukti di mana-mana terjadi
peperangan, kekerasan lawan kekerasan (besi lawan besi).
Dalam
Kitab Kakawin Niti Çastra Sargah IV, Kakawin Wirama Dasar:
Wirat, Kadang
Wirama: Ragakusuma, 13-14 (31-32), tentang sifat, letak hidup, umur
manusia dan panjang jaman Kali Yuga :Dan zaman sekarang ini
dimaksudkan dalam zaman Kali, saat mana ada-ada saja yang menjadi bahan
perselisihan, bahan perkelahian selalu timbul kekerasan dan dilawan
pula dengan kekerasan, tidak ada manusia berhati emas, semua berhati
besi untuk menghancurkan manusia lainnya, hidup teletak di sumsum
tulang, umur manusia tinggal 100 tahun dan akhirnya umur manusia hanya
tinggal ± 83 tahun (1.000 bulan) dan pada jaman penghabisan umur manusia
di zaman Kali 40 tahunlah batas umur manusia.
Sahabat Generasi Muda Hindu,
Mari kita merenung,...dalam menyikapi "Tragedi Lampung",...masihkah kita ingin Bali Merdeka atau tetap mempertahankan misi pendahulu kita, : Kebo Iwa dan Gajah Mada ...NUSANTARA YANG SATU DAN KUAT ????
Sumber : http://www.facebook.com/groups/bangkithindu/
Misteri Makna bilangan 108 dalam Sastra Veda
OM Swastyastu,
--- Ya Tuhan, semoga Engkau selalu memberikan perlindungan ---
OM Tat Sat,
'‘All that is the Truth'.
OM Shanti Shanti Shanti OM
--- Ya Tuhan, Semoga Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai untuk selamanya ---
Sumber:
http://www.hinduismnet.com/significance_of_108_hinduism.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Sri_Yantrahttp://narayanasmrti.com/2011/09/16/kedudukan-upanisad-dalam-kitab-suci-veda/
http://gusmang.blogspot.com/2010/08/japamala-atau-tasbih-menurut-ajaran.html
http://www.facebook.com/groups/bangkithindu/doc/455740427781508/
Read More...
--- Ya Tuhan, semoga Engkau selalu memberikan perlindungan ---
Kali ini saya ingin mengajak para generasi Penerus Hindu untuk membuka misteri angka 108 dalam Hindu. Untuk itu Bangkitlah Hindu ku...sadarlah karena Dari semua hal, pengetahuan adalah yang paling baik, karena tidak kena
tanggung jawab maupun tidak dapat dicuri, karena tidak dapat dibeli, dan
tidak dapat dihancurkan. (Hitopadesa).
SACRED AND POWER OF 108
Dalam
Ajaran Hindu, angka 108 adalah suci dan keramat. Nama-nama Dewa dan
Avatar juga selalu ditulis 108. Mengapa? Dari berbagai sumber di web,
berikut ini yang saya dapatkan, lalu saya kaitkan dengan sedikit
pengetahuan saya tentang Sanatana Dharma. Semoga berguna untuk menambah
pengetahuan atas keindahan (beauty), kealamiahan (naturalness), dan
keilmiahan (scientific) ajaran Veda.
1. Kekuasaan 1, 2,
dan 3. Dalam matematika, 1x1 =1; 2x2 =4, dan 3x3x3 = 27. Bila digabung,
1x1x2x2x3x3x3 = 108, atau 1x4x27 = 108. Angka 1, 2, dan 3 ini, bila
dikaitkan dengan teologi ketuhanan Hindu: Dia Yang Satu (Brahman)
dengan kedua sifat-Nya (Tuhan Yang Tiada Berwujud – Nirguna Brahman dan
Tuhan Yang Berwujud – Saguna Brahman), bila Dia Berwujud hadir dalam
dua personifikasi yaitu Tuhan dan Shakti (energi ilahi)-Nya; memiliki
tiga kuasa utama yaitu mencipta (Brahma), memelihara (Vishnu), dan
melebur (Shiva).
2. Skala Numerik. Angka 1 dari 108, dan
angka 8 dari 108; jika ditambahkan menjadi 9; yang merupakan jumlah
skala numerik yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9; dan nol (0) bukanlah
angka.
3. Alfabet Sanskerta. Terdapat 54 huruf dalam
alphabet Sanskerta, dan masing-masing memiliki maskulin dan feminin,
jiwa dan energinya; karenanya 54x2 = 108.
4. Kitab
Upanisad. Upanisad sebagai kelompok kitab Sruti yang posisinya sebagai
śākhā atau penjabaran kitab-kitab Catur Veda. Kitab Muktika Upanisad
menyebutkan bahwa terdapat 108 kitab upanisad yang masing-masing
terdiri dari 10 Upanisad yang merupakan śākhā dari Rg. Veda, 16
Upanisad yang merupakan śākhā dari Sama Veda, 51 Upanisad yang
merupakan śākhā dari Yajur Veda dan 31 Upanisad yang merupakan śākhā
dari Atharva Veda.
5. Japamala. Japamala biasa dikenal
sebagai tasbih atau rosario. Japamala berasal dari bahasa Sanskerta
yaitu “Japa” (“Japam”) yang berarti mengulang-ulang mantra suci dan
“Mala” yang berarti butiran-butiran yang dirangkai dengan benang.
“Japa” sendiri terdiri dari dua kata pokok yaitu “JA” yang artinya
menghancurkan siklus kelahiran dan kematian (punarbhawa) dan “PA” yang
artinya menghancurkan segala dosa. Jumlah butir-butir ganitri (tasbih)
adalah 108: 1 + (0) + 8 = 9. Jumlah kedudukan Tuhan dalam
manifestasi-Nya sebagai Dewa menurut arah mata angin adalah 9, yaitu:
Ishwara (timur), Mahesora (tenggara), Brahma (selatan), Rudra
(barat-daya), Mahadewa (barat), Sangkara (barat-laut), Wisnu (utara),
Sambhu (timur laut) dan Siwa-Sada Siwa-Parama Siwa (tengah-tengah).
tasbih/rosario
6.
Gopi Krishna. Gopi dalam bahasa Sanskerta berarti
‘wanita-gembala-sapi’. Gopi adalah para bhakta penyembah Tuhan dalam
kehadiran-Nya ke dunia sebagai Awatar Krishna. Dalam tradisi Vaisnava,
disebutkan jumlah Gopi Krishna adalah 108.
7. Disiplin
Spiritual. Angka 108 merupakan simbol-simbol dalam disiplin spiritual. 1
merupakan simbol Tuhan atau Kebenaran (Truth), 0 merupakan simbol
kekosongan (emptiness) yang merupakan puncak disiplin rohani
(completeness), dan 8 merupakan simbol keabadian (eternity) atau
ke-takterhingga-an (infinity).
8. Sri Yantra. Sri Chakra
atau Sri Yantra adalah yantra yang dibentuk oleh tiga baris segitiga
atau sembilan segitiga yang saling berhubungan dan berpotongan. Yantra
adalah energi yang disebut cakra. Dalam perpotongan tersebut, terdapat
54 persimpangan antara alam semesta fisik dan sumbernya yang tiada
berwujud (unmanifest), dan setiap persimpangan memiliki maskulin dan
feminin. Sri Yantra ini merupakan dewi dalam bentuknya Shri Tripura
Sundari Lalitha atau "keindahan dari tiga dunia". Empat dari titik
segitiga ke atas mewakili Siwa atau maskulin, lima dari titik bawah
segitiga mewakili feminin. Jadi Sri Yantra merupakan persatuan Ilahi
Maskulin dan Feminin, karenanya, 54x 2 = 108. Karena terdiri dari
sembilan segitiga, Sri Yantra dikenal sebagai Chakra Navayoni, terwujud
dalam alam semesta, juga dalam tubuh manusia.
9.
Spiritualitas 12x9. Dalam banyak tradisi angka 12 dan angka 9 dikatakan
memiliki makna spiritual. Hasil perkalian kedua angka ini, yaitu 12x9
adalah 108.
10. Chakra Jantung. Chakra berasal dari kata
Sansekerta, berarti "roda" (wheel) atau "memutar" (turning). Chakra ada
pada lapisan tubuh halus manusia, dalam formasi berbentuk kipas yang
semakin meningkat. Chakra adalah pusat dan garis energi. Chakra Jantung
(Anahata, Heart Chakra, di daerah jantung) adalah persimpangan dari
garis energi. Terdapat total 108 garis energi konvergen untuk membentuk
Chakra Jantung. Salah satunya, sushumna mengarah ke Chakra Mahkota
(Sahasrara, Crown Chakra, di bagian atas kepala; 'soft spot' bayi yang
baru lahir), jalan menuju realisasi Diri.
11. Astrologi.
Dalam astrologi Chandra Kala India, disebutkan ada 12 Rasi bintang
(Chandra) dan 9 segmen busur yang disebut namshas atau chandrakalas.
12x9 = 108.
12. Waktu dan Perasaan. Beberapa ahli
mengatakan ada 108 perasaan, dan perasaan-perasaan ini terkait dengan
waktu; 36 perasaan terkait dengan masa lalu, 36 perasaan berkaitan
dengan masa kini, dan 36 perasaan yang berkaitan dengan masa depan.
OM Tat Sat,
'‘All that is the Truth'.
OM Shanti Shanti Shanti OM
--- Ya Tuhan, Semoga Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai untuk selamanya ---
Sumber:
http://www.hinduismnet.com/significance_of_108_hinduism.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Sri_Yantrahttp://narayanasmrti.com/2011/09/16/kedudukan-upanisad-dalam-kitab-suci-veda/
http://gusmang.blogspot.com/2010/08/japamala-atau-tasbih-menurut-ajaran.html
http://www.facebook.com/groups/bangkithindu/doc/455740427781508/
Mitos tentang Kisah Berguncangnya Naga Anantaboga dan Naga Basuki
Om Swastiastu...Salam Sejahtera
sumber : [http://pojok-bali.blogspot.com/2009/12/kisah-berguncangnya-naga-anantaboga-dan.html]
Read More...
Dalam tradisi Bali jika terjadi Gempa Bumi indentik dengan Naga Anantaboga dan Naga Basuki. Hal ini pun sering menjadi pertanyaan saya sejak kecil, apa hubunganya Gempa Bumi dengan Naga? tapi selalu saja orang tua akan memberi jawaban yang biasa menurut saya yaitu "Nak Mule Keto". Berdasrkan hal tsb saya mendapatkan sumber Kisah ini yang sangat menarik saya paparkan secara logika untuk generasi penerus Hindu sekarang ini.
TEORI terjadinya gempa bumi dan tsunami ternyata jauh sebelumnya sudah
digambarkan tetua-tetua Bali. Yang lazim dikenal manusia Bali tentu saja
kisah soal gerakan bedawangnala yang membuat berguncangnya Naga
Anantaboga dan Naga Basuki. Sepintas terkesan sebagai dongeng. Padahal,
jika dikupas lebih jauh, gambaran itu begitu logis dan seseuai deng…an
teori yang diungkapkan para ilmuwan soal terjadinya gempa bumi.
Teror yang kini tengah menghantui masyarakat di Bali, termasuk di
daerah-daerah lain di belahan bumi Nusantara yakni gempa bumi dan
gelombang tsunami yang tiada henti berbiak. Setelah gempa bumi
ditingkahi tsunami dahsyat yang meratakan Aceh akhir tahun 2004 silam,
bencana alam terus saja bermunculan. Tahun 2011 lalu kawasan Negara Jepang ditikam gempa bumi diikuti tsunami yang mengakibatkan reaktor nuklirnya mengalami Kebocoran dan sekitarnya amblas serta ratusan nyawa melayang.
Bali pun tiada luput dari amukan gempa bumi juga di tahun 2011 lalu dgn skala ricter 6,8 tapi Tak ada korban jiwa, memang, tetapi cukup membuat gundah masyarakat di Pulau Dewata.
Bali pun tiada luput dari amukan gempa bumi juga di tahun 2011 lalu dgn skala ricter 6,8 tapi Tak ada korban jiwa, memang, tetapi cukup membuat gundah masyarakat di Pulau Dewata.
Gempa bumi sejatinya merupakan fenomena alam yang normal. Menurut Badan
Meteorologi dan Geofisika (BMG), gempa bumi merupakan bagian dari
dinamika bumi yang senantiasa akan muncul sepanjang zaman.
Tradisi lokal Bali pun menyuratkan gempa bumi sebagai suatu proses alami. Manusia Bali sangat mengenal mitologi bedawangnala yang menjadi dasar Gunung Mahameru. Badawangnala itu diikat oleh dua naga yakni Naga Gombang dan Naga Gini. Dalam teks-teks sastra, naga Gombang itu disebut Ananatabhoga dan naga Gini itu disebut Basuki. Ada lagi naga Taksaka yang berada di angkasa.
Tradisi lokal Bali pun menyuratkan gempa bumi sebagai suatu proses alami. Manusia Bali sangat mengenal mitologi bedawangnala yang menjadi dasar Gunung Mahameru. Badawangnala itu diikat oleh dua naga yakni Naga Gombang dan Naga Gini. Dalam teks-teks sastra, naga Gombang itu disebut Ananatabhoga dan naga Gini itu disebut Basuki. Ada lagi naga Taksaka yang berada di angkasa.
“Bila Bedawangnala itu bergerak, Anantabhoga pun bergerak. Gerakan
itulah yang disebut lindu atau gempa khususnya gempa tektonik. Bila
gerakan bedawangnala demikian hebat, naga Basuki pun ikut bergerak
sehingga timbul tsunami,” beber Ida Pedanda Putra Yoga dari Gria Tunjuk,
Marga, Tabanan.
Sepintas kisah ini terkesan sebagai dongeng semata. Padahal jika dikupas lebih dalam, paparan itu sangat logis dan ilmiah. Bedawangnala, merupakan simbol dari agni (api) yang ada di dasar bumi yakni magma. Dapat juga disejajarkan sebagai lempeng bumi. Naga Anantaboga merupakan simbol tanah. Ananta berarti tidak habis-habis, sedangkan bhoga berrati makanan. Anantabhoga berarti yang tidak habis-habis memberikan makanan. Yang tidak habis-habis menyediakan makanan bagi manusia tiada lain tanah atau Ibu Pertiwi yang melahirkan berbagai pala gantung, pala wija. Sementara Naga Basuki merupakan simbol air. Basuki berarti keselamatan atau kehidupan. Yang bisa melahirkan kehidupan adalah air. Di mana ada air, maka di sana ada sumber kehidupan.
Sepintas kisah ini terkesan sebagai dongeng semata. Padahal jika dikupas lebih dalam, paparan itu sangat logis dan ilmiah. Bedawangnala, merupakan simbol dari agni (api) yang ada di dasar bumi yakni magma. Dapat juga disejajarkan sebagai lempeng bumi. Naga Anantaboga merupakan simbol tanah. Ananta berarti tidak habis-habis, sedangkan bhoga berrati makanan. Anantabhoga berarti yang tidak habis-habis memberikan makanan. Yang tidak habis-habis menyediakan makanan bagi manusia tiada lain tanah atau Ibu Pertiwi yang melahirkan berbagai pala gantung, pala wija. Sementara Naga Basuki merupakan simbol air. Basuki berarti keselamatan atau kehidupan. Yang bisa melahirkan kehidupan adalah air. Di mana ada air, maka di sana ada sumber kehidupan.
Para ilmuwan modern sendiri secara sederhana membahasakan terjadinya
gempa bumi akibat adanya tumbukan antarlempeng bumi, patahan aktif
aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Saat lempeng bumi
bertumbukan, tanah pun ikut berguncang. Bila tumbukan terjadi di dasar
laut dengan kekuatan di atas 6 SR dan kedalaman yang dangkal, air laut
pun naik yang dikenal dengan nama tsunami. Bukankah tidak jauh berbeda
dengan gambaran kisah bedawangnala itu?
Kisah soal bedawangnala diikat Anantabhoga dan Basuki ini kemudian
divisualisasikan dalam wujud pelinggih padmasana. Selain itu, dalam
sejumlah ritual penting di Bali, visualisasi itu pun dapat dilihat dari
sarana upacara yang dihaturkan.
“Pelinggih dan upacara yang kita laksanakan itu merupakan miniatur dari lapisan-lapisan bumi serta menggambarkan proses yang terjadi di alam ini,” ujar Ida Pedanda.
Hindu sendiri mengenal bumi mempunyai tujuh lapisan yang dinamai sapta patala. Sapta patala itu yakni patala, atala, witala, nitala, talatala, mahatala dan sutala. Ilmuwan modern pun menyebut bumi ini terdiri dari sejumlah lapisan bumi seperti litosfer, astenosfer serta mesosfer. Lapisan-lapisan ini senantiasa bergerak mencapai titik keseimbangannya. Dalam upaya mencapai titik keseimbangan itu tentu saja ada perubahan, pergeseran atau ada lapisan yang lepas.
“Pelinggih dan upacara yang kita laksanakan itu merupakan miniatur dari lapisan-lapisan bumi serta menggambarkan proses yang terjadi di alam ini,” ujar Ida Pedanda.
Hindu sendiri mengenal bumi mempunyai tujuh lapisan yang dinamai sapta patala. Sapta patala itu yakni patala, atala, witala, nitala, talatala, mahatala dan sutala. Ilmuwan modern pun menyebut bumi ini terdiri dari sejumlah lapisan bumi seperti litosfer, astenosfer serta mesosfer. Lapisan-lapisan ini senantiasa bergerak mencapai titik keseimbangannya. Dalam upaya mencapai titik keseimbangan itu tentu saja ada perubahan, pergeseran atau ada lapisan yang lepas.
Karenanya, budayawan Ketut Sumarta menyatakan dalam kamus alam tidak ada
istilah bencana. Tak pula ada cerita soal alam yang marah. Alam tak
pernah marah, malah sangat pemurah. Alam hanya berusaha mencapai
keseimbangan sesuai hukum yang dimilikinya.
“Bila alam tidak seimbang, maka alam sendirilah yang akan menyeimbangkannya,” ujar Sumarta.
“Bila alam tidak seimbang, maka alam sendirilah yang akan menyeimbangkannya,” ujar Sumarta.
Karena itulah, tradisi beragama masyarakat bali tidak pernah lepas dari
spirit untuk menjaga keseimbangan alam. Manusia sebagai bagian dari alam
tidak bisa luput dari hukum keseimbangan alam itu. Untuk itu, jalan
satu-satunya yang harus dipilih manusia adalah menyesuaikan diri dengan
alam. Alam mestilah diakrabi, disayangi, dirawat sehingga manusia pun
turut dirawat dan dijaga. Jika manusia angkuh menentang alam, maka alam
akan menagihnya kembali dengan caranya sendiri.
Dalam bahasa Ida Pedanda Putra Yoga, manusia jangan hanya ingat dan bisa mengambil dari alam, tetapi juga bisa memberi. Ida Pedanda lalu mengibaratkan dengan pelinggih yang senantiasa berisi pedagingan. Jika manusia hanya mengambil terus pedagingan itu tanpa memupuk, maka dunia pun jadi guncang. Semoga bermanfaat.
Dalam bahasa Ida Pedanda Putra Yoga, manusia jangan hanya ingat dan bisa mengambil dari alam, tetapi juga bisa memberi. Ida Pedanda lalu mengibaratkan dengan pelinggih yang senantiasa berisi pedagingan. Jika manusia hanya mengambil terus pedagingan itu tanpa memupuk, maka dunia pun jadi guncang. Semoga bermanfaat.
Om Shanti Shanti Shanti om...
sumber : [http://pojok-bali.blogspot.com/2009/12/kisah-berguncangnya-naga-anantaboga-dan.html]
Kutemukan Cinta (Sebuah Perjalanan, Proses Pencarian Jati Diri: Islam, Kristen, Hindu)
Aku lahir dalam keluarga muslim dengan nama Maisah, orang tua dan
masyarakat sekitar (di Lombok) sering memanggilku Aisah. Dapat dikatakan
aku di didik dengan cukup taat khususnya dalam bidang agama, karena
orang tua merupakan seorang Haji dan Hajah yg berarti mereka sudah
pernah hijrah ke tanah suci. Selain itu bapak juga sangat menjaga
citranya di masyarakat sehingga sering terkesan memaksa aku untuk
belajar ngaji, dan mendirikan wajib sholat lima kali sehari. Yg paling
sering membuatku kesal adalah, saat dimana aku sedang tidur dengan lelap
tetapi harus bangun untuk menjalankan sholat subuh pukul 05:00 pagi.
Keadaan ini sangat berbeda dengan bapak, beliau merupakan panutan yg
baik, walau dalam keadaan sakit sekalipun tetap berusaha untuk
menunaikan sholat. Karena hal tersebut aku sering merasa malu dan
berusaha untuk patuh, minimal pada orang tua. Maka kulakukan semua
kewajiban sebagai anak dan beragama Islam sebagaimana mestinya.
Ketika SD aku tidak seperti anak-anak pada umumnya yg sangat rajin, selalu
riang jika tiba saatnya belajar ngaji. Bahkan, pada saat aku duduk
dibangku kelas 5, aku tidak diberikan rapot karena tidak begitu fasih
dalam membaca Al'quran disebabkan aku jarang kepesantren seperti
teman-teman yg lainnya. Guru agamaku sangatlah tegas sehingga akupun
sering kena hukum seperti berdiri di depan kelas dan lari mengelilingi
lapangan atau dijewer. Alhasil bapak menjadi malu karena mendengar
prestasiku yg sangat buruk khususnya dalam bidang agama. Beliau akhirnya
tidak tahan mendengar laporan dari guru agamaku tersebut yg kebetulan
kediamannya tidak terlalu jauh dengan rumah kami dan memutuskan untuk
mengobatiku dengan mengunjungi seorang uztad, darinya aku diberikan air
yg sebelumnya telah didoakan ayat-ayat suci. Tidak hanya itu, bapak juga
membawaku pada seorang dukun. Tetapi dari kesekian usaha yg dilakukan
tidak ada satupun yg membuahkan hasil, aku sama sekali tidak menunjukkan
perubahan.
Gambaran masa kecilku khususnya dalam hal
agama, kubawa hingga beranjak dewasa. Walau merupakan anak pesantren yg
sehari-hari mendapat pendidikan berbasis agama, tetapi aku tidak pernah
begitu benar-benar beriman pada Allah. Jika ada yg bertanya, aku pun
tidak tau mengapa. Mungkin aku memang tidak pantas disebut sebagai
muslimat (seseorang yg tunduk kepada Allah), karena ketidak patuhanku
memang mencerminkan diriku yg sesungguhnya.
Atas
kesadaranku sendiri, aku mulai menganalisa fenomena dalam diri.
Kesulitanku untuk dapat mengatakan (minimal pada diri sendiri) bahwa aku
seorang muslim adalah, bagaimana aku dapat memvisualisasikan Allah
dalam pikiran? Konon, "Allah tidak serupa dengan apapun", sebagai
gantinya Dia dapat dikenali melalui 99 nama/julukan Allah (asma'ul
husna) yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya, ketika itu aku berpikir
bahwa jika ada sifat maka terlebih dahulu harus ada sosok-Nya.
Lantas
mengapa Dia sangat berat hati untuk dapat dikenali melalui
gambar/wujud? Karena tindakan tersebut dapat berujung pada pemujaan
berhala yg justru merupakan penghinaan bagi-Nya? Perbuatan bid'ah dan
mengantarkan kepada kesyirikan? Hingga akhirnya aku berkesimpulan, bahwa
aku memang tidak dapat menerima definisi abstrak sebagaimana konsep
ketuhanan yg terkandung dalam agama Islam.
Mungkin aku
masih terlalu belia untuk memikirkan hal semacam ini, tetapi sebuah
media untuk memusatkan pikiran agar dapat focus juga merupakan kebutuhan
yg signifikan dan tidak memandang usia jika berbicara tentang
ketuhanan. Bagiku, mengosongkan pikiran merupakan sebuah kondisi yg
teramat sangat sulit, bagaimana mungkin manusia dengan segala
keterbatasannya mampu menjangkau Dia yg tidak terbatas? Walau aku
bersikukuh dan mempunyai pendirian yg kuat namun sebagai manusia yg
merasa kecil dihadapan-Nya sudah tentu aku memiliki rasa takut akan
siksa kubur ataupun azab Allah. Konon, Rasulullah bersabda: "Manusia
yang paling pedih siksanya di hari kiamat ialah yang meniru ciptaan
Allah".
Pada tahun 2008 aku memutuskan untuk ke Bali,
inilah yg menjadi awal perjalananku memeluk agama Kristen. Singkat
cerita, aku bekerja sebagai karyawati di Jalan Padma - Kuta, sebuah Art
Shop yg menjual pernak-pernik dari bahan perak. Bosku keturunan Chinese,
beliau berusia 33 tahun, memiliki seorang istri namun belum dikaruniai
seorang anak pun. Kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Injil Philadelphia yg
dapat dikatakan cukup agresif dalam menyebarkan agama Kristen, walau
tidak tergabung dalam suatu organisasi tertentu tetapi keinginan untuk
mengkonversi non-kristen begitu terasa di lingkungan pegawai. Seperti
memberikan Alkitab secara cuma-cuma, menganjurkan untuk kegereja,
berkotbah dan lain sebagainya.
Suatu ketika beliau
memberikanku sebuah alkitab (yg hingga kini masih kusimpan), berawal
dari sana beliau pun mulai memperkenalkan agama Kristen.
Ah,
walaupun aku hanya Islam KTP, namun tak pernah sekalipun terlintas
keinginan dalam benakku untuk pindah agama, aku masih ingin terus
menggali dan mencari hal-hal yg belum kuketahui dalam agama Islam.
Kujalani semuanya bagai air, yg tanpa kusadari ternyata aku telah
membuat sebuah keputusan.
Perlahan tapi pasti, beliau
semakin intensif dalam usahanya untuk mengkonversi aku. Beliau
memperkenalkanku pada orang-orang yg bersaksi atas nama Yesus Kristus,
Sang Juru Selamat. Pada umumnya mereka bercerita tentang mukjizat Yesus
dan kedamaian yg telah mereka temukan. Mereka terlihat seperti
orang-orang yg menaruh rasa kasih yg sangat besar padaku dalam usahanya
untuk meyakinkanku bahwa Yesus Kristus merupakan juru selamat
manusia-manusia yg bergelimang dosa. Dan yg paling mengesankan, mereka
juga berceritakan tentang figur Yesus yg baik dan sabar, cinta kasih-Nya
yg teramat besar, melalui kematian-Nya di kayu salib telah menebus
seluruh dosa umat manusia. Wow...
Dalam kesempatan
berikutnya, bos memperkenalkanku pada pak Joko, orang islam yg telah
murtad dan memeluk agama kristen. Beliau adalah orang Solo yg hijrah ke
tanah Bali karena diperlakukan diskriminatif oleh keluarga serta
lingkungannya. Kemudian pak Joko menikah dengan orang Hindu Bali dan
telah dikaruniai dua orang anak. Atas anjuran dari bos, pada hari minggu
pak Joko mengajakku ke gereja dekat bandara Ngrurah Rai, setibanya
disana kami duduk sambil menunggu jemaat yang belum datang. Karena ini
merupakan pertama kalinya aku menghadiri kebhaktian aku tidak tau harus
berbuat apa. Beliau lantas memberikan aku buku panduan dan sempat
mengajariku beberapa doa, salah satu diantaranya adalah doa yg dikenal
cukup ampuh diantara doa-doa yg lainnya. "Bapa kami di surga,
dikuduskanlah nama-Mu; datanglah kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap
hari makanan kami yg secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab
kamipun mengampuni tiap orang yg bersalah kepada kami; dan janganlah
membawa kami kedalam pencobaan. Sebab Engkau yg empunya kerajaan di bumi
dan di surga. Di dalam nama Yesus kami berdoa amin." Adalah sebait doa
dalam kekristenan yg pertama kali kudengar dan kulafalkan.
Satu persatu Jemaat berdatangan dan duduk dalam barisan kursi yg mengahadap
ke altar, semuanya menyanyikan Lagu Pujian dilanjutkan dengan
mendengarkan kotbah prihal Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa. Khotbah
adalah suatu kegiatan dalam mewartakan alkitab secara bertahap dan
berkesinambungan yang dipimpin oleh seorang Pendeta didepan para jemaat.
Dan sebelum doa penutupan, kulihat ada beberapa orang yg membawa
Kantong Persembahan bertugas untuk memungut sedekah dari Jemaat yg hadir
untuk digunakan dalam merenovasi gereja atau membantu orang-orang
miskin. Setiap minggu pertama mereka (jemaat) juga diminta untuk
membayar Persepuluhan. Menurut Alkitab, persepuluh adalah persepuluh
dari hasil pekerjaan yang kita berikan pada Tuhan. Ketika kutanyakan
pada pak Joko, beliau lantas menunjukkan dalilnya yg berbunyi: " Bawalah
seluruh persembahan persepuluhan itu kedalam rumah perbendaharaan,
supaya ada persediaan makanan dirumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan
semesta alam, apakah Aku tidak membuka tingkap-tingkap langit
mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan (Maleakhi 3 :10)"
Melalui pak Joko, aku berkenalan dengan mbak Atik sepupunya. Hampir setiap hari
minggu mbak Atik mengajakku ke gereja Baithani di jalan Teuku Umar.
Berbeda dengan pak Joko, mbak Atik tidak tergabung dalam organisasi
gereja, jadi dia tidak hanya mengajakku ke satu gereja saja. Kami juga
menghadiri kebhaktian disebuah gereja yg terletak di pertokoan Clandy's
Jalan Buluh Indah, Gatzu dan dibeberapa tempat lainnya. Lambat laun,
akupun mulai terbiasa dengan suasana gereja, beradaptasi, dan mengenali
tokoh-tokoh dalam agama kristen. Suatu hari pak Joko berkunjung ke
tempatku untuk memperkenalkanku pada seorang temannya. Sebut saja
namanya pak Andre, beliau mempunyai teman seorang pendeta (pak Erick) yg
kelak membabtis aku.
Dalam beberapa kesempatan aku sering
di undang oleh bos kerumahnya untuk mendiskusikan atau memperlihatkan
kesaksian dari orang-orang yg telah menerima mukjizat Yesus Kristus
melalui vidio rekaman yg sudah dipersiapkan. Beliau juga memperlihatkan
vidio kekerasan yg di lakukan oleh orang-orang Islam. Karena menurutku
tayangan tersebut dapat dikatakan cukup kejam, spontan saja mulutku
berucap "Masya Allah". Akupun langsung dimarahi, dan sekali lagi beliau
menunjukkan sebuah rekaman di dalam Ka'bah yg ternyata terdapat
sejumblah patung-patung yg tidak diketahui oleh orang islam pada
umumnya. Selain itu dalam salah satu rekaman terdapat orang Islam yg
sedang sholat memohon agar Allah Swt menunjukkan wujud-Nya. Dalam
seketika dan sekejap mata muncul cahaya terang dengan wujud Nabi Isa yg
tiada lain adalah Yesus Kristus, semenjak saat itulah orang tersebut
menjadi murtad. Terlepas dari kebenaran mengenai vidio tersebut, akupun
semakin yakin untuk memeluk agama kristen.
Pada tanggal
25/12/2008 aku diajak ke Gereja (katolik) di Kuta bersama bos juga
istrinya dan beberapa teman mereka untuk merayakan Natal. Seperti biasa,
aku mengkuti semua orang yg hadir untuk berdoa bersama-sama. Tidak
lupa, bos juga memperkenalkanku pada pada orang-orang gereja, mereka
terlihat antusias apalagi setelah diceritakan secara singkat tentang
jati diriku yg sebenarnya sebagai seseorang yg sebelumnya beragama
islam. Disela-sela waktu yg ada bos mempertanyakan prihal kemantapanku
dalam meyakini Yesus Kristus, beliau berkata jika memang aku ingin
diselamatkan maka aku harus bersedia untuk di babtis. Namun istri bos
manasehati agar aku tidak gegabah dalam mengambil sebuah keputusan dan
memikirkan akibatnya bila kelak diketahui oleh orang tua di Lombok,
sebagaimana yg dialami pak Joko, tidak diterima oleh keluarga dan
dikucilkan masyarakat sekitar yg mayoritas beragama islam. Walaupun
demikian, beliau meyakinkanku dengan mengutip (Mazmur 27:10) yg
berbunyi: "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan
menyambut aku", yg berarti aman dalam perlindungan Allah atau Bapa di
Sorga.
Akhirnya, pada tanggal 12/04/2009 yg bertepatan
dengan hari Paskah aku di babtis dengan nama Mayshia Ruth di Gereja
Lembah Pujian jalan Gatsu Timur oleh pak Erick yg memang sering
membabtis para jemaat, baik yg lahir dalam keluarga Kristen maupun yg
pindah agama. Semua orang mendoakan, aku sangat senang atas segala
penyambutan dan keramahan dari wajah setiap orang yg hadir, selain itu
dengan kelahiranku yg baru, aku telah diselamatkan oleh Yesus Kristus
Sang Juru Selamat, seluruh dosa telah di tebus dengan darah-Nya yg kudus
melalui kematian-Nya di kayu salib. Inilah yg menjadi motif mengapa aku
sampai memutuskan memeluk agama Kristen.
Hingga suatu
hari aku merenungi semuanya, aku di babtis tanpa ijin dan tanpa
sepengetahuan orang tua juga keluarga dikampung. Takut dan bingung itu
pasti.
Tidaklah ketakutanku dikarenakan telah mengkhianati agamaku
yg sebelumnya, tetapi apa yg akan terjadi jika keluarga di Lombok
sampai tahu? Membayangkannya pun aku tidak mampu. Tetapi syukurlah,
semua kekhawatiran lenyap untuk sementara waktu karena bosku sangat
sayang dan begitu memperhatikanku. Bahkan, karena beliau belum mempunyai
keturunan aku di adopsinya, walau tidak secara hukum. Aku tinggal
bersama keluarga papa (bos yg kini menjadi orang tua angkatku), mama,
oma dan seorang PRT sebut saja namanya mbak Cantika). Tidak hanya itu,
beliau juga memenuhi semua kebutuhan hidupku, mulai dari privat bahasa
inggris, les komputer, dan beberapa fasilitas lain yg sebelumnya belum
pernah aku miliki dan rasakan. Dalam sekejap mata kehidupan rohaniku
hingga hal-hal yg menyangkut materi mengalami perubahan.
Seiring berjalannya waktu, keimananku semakin bertambah kuat bahkan melebihi
agama sebelumnya yg masih tertulis dalam KTP. Atas dukungan dari papa,
setiap minggu aku begitu semangat dan rajin ke gereja, aktif dalam
setiap kegiatan yg di selenggarakan oleh gereja. Seperti Natal di tahun
berikutnya, aku menyambut jemaat dengan tari Tamborin. Ketika Hari
Sabat, aku sebagai salah satu dari organisasi Jemaat Remaja mengadakan
pementasaan yg mengisahkan saat dimana Yesus Kristus di siksa dan
kemudian disalibkan.
Saat itu aku merasa sangat bahagia,
hidupku damai, walau terkadang perasaan itu berujung kekhawatiran bila
pikiranku tertuju ke kampung halaman, pada orang tua dan adik-adikku.
Terlebih setelah aku tahu, kalau papa tidak mencintaiku sebagai individu
yg utuh, aku dilarang berbahasa indonesia dengan logat Lombok, dilarang
mengatakan ke orang lain tentang identitasku yg sebenarnya. Kutanyakan
mengapa, papa menjawab, bahwa pandangan masyarakat pada umumnya sangat
buruk terhadap orang Lombok, kehidupannya sangat dekat dengan hal-hal yg
berbau klenik. Dalam hatiku berkata, apa yg dikatakan papa memang tidak
salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Ketika itu aku hanya diam saja,
karena merasa tidak mampu, tidak mempunyai keberanian untuk sedikit
meluruskan pandangan buruk tersebut, minimal kepada papa, karena papa
orangnya tidak suka di tentang. Lebih dari itu, beliau berusaha keras
agar dapat memisahkan aku dengan orang tua kandung dengan meyakinkanku
bahwa kasih sayang papa melebihi bapak di Lombok. Secara materi papa
juga lebih mampu memenuhi apa saja yg aku inginkan, tidak sebagaimana
bapak. Yg pada akhirnya aku sadar, bahwa papa ingin membuatku lupa diri
dengan bergelimang materi.
Mbak Cantika adalah orang yg
dengan setia menemani hari-hariku, darinya aku tau bahwa ada ketidak
sepakatan antara papa dan mama juga oma prihal mengadopsi aku. Sejak
awal, mereka (mama, oma dan keluarga besarnya) memang tidak begitu suka
padaku, terlebih ketika menyadari setelah kehadiranku di dalam keluarga
itu, kasih sayang papa, perhatian dan lain sebagainya menjadi terbagi.
Seiring bertumbuh besarnya kasih sayang papa, begitu juga dengan
kebencian mama. Tanpa sepengetahuan papa, mama sering menghinaku dengan
sebutan anak kampung yg tidak tau diri, ia juga pernah berkata akan
membayarku berapa saja asal aku pergi dari rumah itu. Bahkan oma tidak
segan-segan menunjukkan sikapnya yg tidak manusiawi, walau dalam keadaan
lumpuh ia berusaha meraih rambutku dan menjambak-jambaknya. Namun
berbeda ceritanya jika papa ada di rumah, semuanya bersikap sangat baik,
lemah lembut, aku di perlakukan bak seorang putri raja. Walau papa
sangat menyayangiku namun terkadang ia bersikap tempramental dengan
memukul jika aku melakukan kesalahan yg harusnya dapat dimaklumi dan
disikapi dngan bijak. Kadang aku juga di hukum berlutut hingga dua jam
lamanya, yg terjadi karena fitnah mama maupun oma. Aku ingin mengatakan
yg sebenarnya tapi tidak berani, karna setelah aku pikir-pikir terlalu
beresiko. Jika aku mengadu prihal yg sesungguhnya, perseteruan atau
bahkan perpecahan diantara kedua belah pihak tidak terelakkan. Maka
kuputuskan untuk membungkam mulutku, sambil menahan hinaan dan semua
perlakuan mereka. Aku berkomitmen, sebagaimana keharmonisan dalam
keluarga yg aku rasakan sejak pertama kali menginjakkan kaki dirumah
ini, seperti itu pula aku akan berusaha sekuat mungkin untuk menjaganya.
Aku begitu mengilhami apa yg dikatakan orang-orang gereja, atas segala
perlakuan dan ketidak adilan aku larut dalam kesedihan dan semakin
khusuk dalam doa. Aku berhasrat, bahwasanya Yesus Kristus akan
menyelamatkanku dari semua permasalahan hidup. Minimal Ia akan
menampakkan wujud-Nya, agar aku merasa tidak sendiri hadapi cobaan hidup
ini. Kadang aku merasa tidak tahan lagi dan terlintas dalam pikiran
untuk pergi, tapi kemana? Bila harus kembali ke Lombok, bagaimana aku
dapat menjalankan agama Kristen?
30 Maret 20011, tanpa sepengetahuan siapapun, diam-diam aku menjalin hubungan sebagai sepasangkekasih dengan orang Bali, sebut saja namanya krisna. Ia bukanlah sosok yg di dambakan papa, dengan syarat mutlak beragama Kristen. Maka,
kamipun sepakat untuk menjalani hubungan ini dengan backstreet, karena
jika diketahui, terlebih oleh papa, hubungan kami pasti akan ditentang.
Terlebih pandangan papa terhadap orang Bali maupun agamanya tidak
terlalu baik, seperti pemujaan berhala yg dalam kekristenan merupakan
suatu tindakan untuk menyekutukan, atau menduakan-Nya. Orang Bali yg
gila judi dan juga mabuk-mabukan.
Sudah menjadi rutinitasku bila hari minggu selalu menghadiri kebhaktian di Gereja,
kemudian pulang lebih awal untuk bertemu kekasih hati walau hanya
sesaat. Tapi ada yg tidak biasa, berbekal kotbah yg disampaikan Pendeta,
aku menemui pacarku dengan sebuah pertanyaan dikepala. Apakah benar,
karmaphala sebagai salah satu dasar keimanan dalam agama Hindu merupakan
hukum yg tidak menganal cinta kasih, hukum yg tidak mengenal ampun?
Tidak sebagaimana yg diajarkan Yesus Kristus dalam kekristenan?. Yg
ternyata, secara tidak langsung merupakan awal bagiku mempelajari agama
Hindu.
Krisna: lima dasar keimanan agama Hindu di sebut Panca Sraddha, yg meliputi: Percaya terhadap Brahman/Hyang Widdhi/Tuhan.Percaya terhadap Atman yg menghidupi setiap makhluk, termasuk binatang.Percaya terhadap hukum Karmaphala, hukum sebab akibat, dalam logika matematika dapat ditulis "jika-maka". percaya terhadap kelahiran kembali
yg disebut dg Samsara/Punarbhawa/reinkarnasi. Dan yg terakhir adalah
percaya terhadap adanya Moksa, sebagai tujuan tertinggi agama hindu,
Atman/jiwa individu mencapai pembebasan dr putaran roda kelahiran,
bersatunya Atman dengan Brahman. Ibarat air dari berbagai sumber yg pada
akhirnya kembali kesamudra luas.
Mengenai pertanyaanmu,
Karmaphala terdiri dari dua kata, yakni Karma dan Phala. Karma berarti
perbuatan, dan phala berarti hasil. Jadi Karmaphala dapat diartikan
sebagai hasil perbuatan. Karmaphala merupakan rta/hukum alam, jadi
didunia ini tidak ada satu tempat bagi seluruh makhluk untuk bersembunyi
darinya, diakui atau tidak, hukum tersebut tetap berlaku, bahkan pada
orang yg tidak percaya sekalipun. Ini bukanlah pemaksaan, tetapi
kebenaran yg hakiki, luas dan besar bahkan tak mampu dibendung oleh
tembok-tembok agama manapun. Karmaphala merupakan konsekuensi logis dr
setiap perbuatan yg dilakukan manusia, ibarat petani yg menanam padi
tidaklah mungkin jika kemudian ia memanen mutiara. Karmaphala
mendudukkan Tuhan sebagai Yang Maha Adil, kemudian melalui
Samsara/Punarbhawa/Reinkarnasi Beliau menjalankan fungsinya sebagai yang
maha pengasih dan penyayang, sekaligus "pengampun" karena senantiasa
memberikan kesempatan untuk bertobat, berbuat sesuai dengan dharma atau
kebenaran, yg meliputi hukum alam baik yg bersifat fisik, energi maupun
mental. Perlu di ingat, dalam agama Hindu tidak ada yg namanya "dosa" yg
berarti menjadi terhukum selamanya dalam kubangan api neraka.
Apa yg disampaikan Pendeta di Gereja tidak hanya salah, keliru, tetapi
sudah menjelek-jelekkan, menyesatkan. Karmaphala bereaksi melalui tiga
hal, yg di dalam Hindu disebut Tri Kaya Parisudha, meliputi Kayika -
Pikiran, Wacika - perkataan dan Manacika - perbuatan. Maka, dari sudut
pandang ini, pendeta telah membuat karmanya sendiri, yg cepat atau
lambat akan menuai phala/hasilnya.
Sempat terjadi interaksi diantara kami berdua dan akupun terus mengajukan beberapa
pertanyaan. Entah mengapa jawaban-jawaban yg aku dapat begitu mengusik
pikiran dan membuatku gelisah. Bukan hanya karena dapat diterima secara
logika tetapi selain membahas dasar keimanan hindu, dasar keimananku
pada kristen pun sedang dipertaruhkan. Namun secepat mungkin aku
menepisnya. Meski cukup memuaskan rasa ingin tauku, tidaklah kemudian
aku jadikan acuan untuk pindah agama. Berusaha "menyadarkan diri", bahwa
setiap orang pada akhirnya akan membutuhkan sosok penyelamat, atau
pengampunan dosa, seperti yg diajarkan dalam kekristenan yg menjadi
dasar keimananku pada Yesus Kristus.
Satu bulan kami mengikat diri sebagai sepasang kekasih, krisna mempertanyakan
keseriusanku dalam memperjuangkan hubungan kami. Sebagai wanita, tentu
saja aku merasa senang, tetapi menjadi berbeda ketika komitmen yg hendak
kami bangun terhalang oleh tembok pemisah yg di sebut agama. Aku merasa
sanggup untuk melakukan apa saja demi mewujudkan harapan-harapan kami
di masa depan, tetapi aku merasa tidak bisa meninggalkan agama kristen
sebab jika aku melakukan hal tersebut siapakah aku yg tahan berdiri
menghadapi geram-Nya, dan siapakah aku yg tahan tegak terhadap murka-Nya
yg bernyala-nyala? Menurut Perjanjian Lama, Tuhan itu Allah yg cemburu
dan pembalas, Tuhan itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. Tuhan itu
pembalas kepada para lawan-Nya. Dan pendendam kepada para musuh-Nya.
Dengan nada kesal lantas ia berkata: "Pernahkah km menyadari, bahwa sedari
dulu km tidak pernah di selamatkan, karena keimananmu pada-Nya di bangun
dengan kebencian. Benci yg melihat ke bawah adalah menghina (memandang
rendah), benci pada yg sederajat adalah marah dan angkuh, mengagungkan
diri. Dan terakhir, benci yg melihat keatas adalah takut. Ya... Km takut
pada Tuhan. Jika km beriman pada-Nya hanya karena rasa takut
sesungguhnya km sedang membenci-Nya! Tidaklah begitu caranya, kekudusan
Tuhan itu untuk dicintai, sehingga dengan demikian kita akan senantiasa
ingin mendekatkan diri pada-Nya dengan rasa nyaman". Saat itu aku hanya
diam dan tidak bicara apa, di satu sisi aku merasa di tampar oleh
kata-kata tersebut dan disisi lain aku juga kagum akan pemikiran yg ia
miliki.
Sebagai orang yg paling dekat dan mengerti aku,
hanya dengan krisna seorang aku berbagi dalam suka maupun duka,
menumpahkan kesedihan dan lain sebagainya. Memahamiku dalam banyak hal,
melebihi diriku sendiri. Pola pikir yg kritis, pribadinya yg baik dan
cukup bijak dalam memberikan solusi membuatku ingin selalu mendiskusikan
beberapa hal, entah yg menyangkut tentang kehidupan pribadi maupun
agama. Ketika itu, aku mengeluh psimis, bahwasanya cobaan hidupku sangat
berat, aku di belunggu oleh masalah-masalah yg sangat pelik. Konon,
Tuhan tidak akan memberikan cobaan melampaui kemampuan umatnya, tetapi
apa yg aku alami hampir membuat putus asa. Aku harus bagaimana?
Krisna: Bila aku harus membagi pemikiran denganmu, yg harus km lakukan adalah mengubah pola pikirmu. Mengapa?
Menurutku,
pernyataanmu tentang hidup adalah cobaan sungguh tidak mendasar. Apakah
Tuhan tidak punya kerjaan sehingga menguji coba ciptaan-Nya hanya untuk
memuaskan rasa ingin tau-Nya? Bukankah Tuhan sudah pasti maha tau?
Dalam kesadaran yg murni, coba km renungkan atas dasar apa Tuhan mencoba
umat-Nya?
Kenyataan hidup yg km hadapi, baik dan buruk
adalah hasil dari karma/perbuatanmu sendiri. Dari perspektif agamaku,
tidak ada kemujuran merupakan suatu kebetulan, dan tidak ada nasib buruk
sebagai takdir-Nya. Apapun yg km alami merupakan phala/hasil dari
tindakanmu semata. Dengan meyakini hukum karmaphala, berarti km telah
menjadi pribadi yg berjiwa ksatria/ksatriani, berani berbuat berani pula
untuk bertanggung jawab. Dan camkan dengan baik, seseorang yg berjiwa
ksatria/ksatriani tidak butuh pengampunan dosa, terlebih dengan
melimpahkan asubha karma/hasil perbuatan buruk pada sosok yg km sebut
sebagai penyelamat.
May: Mengapa km sangat percaya diri
dan begitu berani? Apakah km tidak pernah berpikir bahwa perbandingan
ini akan menyakiti hatiku dan mempengaruhi hubungan diantara kita?
Krisna:
Itu karena diskusi ini memaksaku untuk berkata jujur. Aku paham betul
dengan apa yg aku katakan, tapi kemudian apakah km berjalan dari hati yg
murni atau dari sikap fanatisme buta?
May: Apa hanya agamamu yg paling benar?
Krisna: Kebenaran yg hakiki harusnya tidak di belenggu oleh suatu apapun, mengapa km berpikir seperti itu?
May: Lantas apakah yg aku alami merupakan karma/perbuatanku sendiri?
Krisna: Ya... Tentu.
May: Tetapi aku merasa tidak pernah membuat kesalahan sebagaimana akibat yg telah aku terima.
Krisna:Itu hanya perasaanmu saja, menurutku dalam kehidupan ini km telah
membuat "kesalahan". Pertama, km pindah agama dengan tidak
mempelajarinya terlebih dahulu, km hanya di suguhi "pemanis" belaka.
Jika ingin mengenali suatu agama pelajarilah kitab sucinya kemudian
telaah dengan logika, juga rasa. Dan yg kedua, km dianggap sebagai anak
angkat tetapi tidak mengadakan pendekatan ke mama, dan oma serta
keluarga besar papamu.
Suatu hari aku menghadiri kebhaktian di gereja yg selama ini menjadi tempat bagiku memanjatkan doa. Semua berjalan sebagaimana biasa, usai doa pendeta berkotbah bahwa
merupakan kewajiban bagi pengikut Kristus untuk mewartakan agama
kristen. Sepulangnya dari gereja, aku menemui Krisna dengan
mendiskusikan hal tersebut. Ia berkata: "Dengan dalil bahwa di dunia
tidak ada seorangpun yg Tuhan telah pilih untuk menyelamatkan umat
manusia; keselamatan hanya ditemukan melalui Dia (Yesus), membuat agama
kristen semakin haus dan lapar serta penuh ambisi."
Saat
itu aku merasa bahwa apa yg ia katakan adalah benar, bahkan mungkin
tanpa aku sadari dahulu aku merupakan target yg papa bidik? Di dalam
gereja merupakan pemandangan yg sudah lazim kujumpai orang Hindu Bali
pindah agama. Kadang, beberapa dari mereka ada yg kerasukan,
teriak-teriak, menjerit histeris. Orang-orang gereja mengatakan bahwa
"setan" nya orang Bali sedang dikeluarkan. Dalam diskusi berikutnya
krisna mengatakan: Di dalam Hindu, tidak mengenal istilah setan atau
iblis, yg berarti eksistensi sesuatu yg "anti Tuhan", bergerak dan
bekerja melawan Tuhan. Jika Tuhan tidak ada dalam diri Setan dan Iblis
atau bahkan tempat yg dianggap maksiat sekalipun tentu Dia tidak pantas
di sebut sebagai Yang Maha Besar. Dalam mitologi hindu terdapat makhluk
kegelapan yg disebut Asura, namun merekapun tunduk pada kekuatan Tuhan
dalam manifestasinya sebagai Dewi Kali.
Pada minggu-minggu berikutnya tiba-tiba saja aku merasa malas untuk datang ke gereja dan lebih memilih untuk menghabiskan waktuku yg terbatas bersama pujaan
hati, selain dapat melampiaskan kerinduan, hubunganku dengannya telah
menumbuhkan minatku pada agama hindu untuk belajar lebih intensif. Kami
sering mendiskusikan konsep ketuhanan khususnya agama-agama yg pernah
aku imani sebelumnya dengan konsep ketuhanan didalam hindu.
Krisna: Menurut logikamu dan agama yg km imani dimanakah Tuhan berada?
May:Menurutku Tuhan ada dalam setiap hati insani, dan sejauh yg kutau Allah
bertempat di sorga. Lantas bagaimana menurutmu dan agamamu?
Krisna:Baiklah, kita akan bahas satu persatu, yg pertamana "Tuhan ada didalam
diri setiap insani" dan yg kedua "Allah bertempat di sorga". Dari
pernyataanmu itu tibul sebuah pertanyaan dalam benakku, apakah Dia hanya
ada didalam diri manusia saja? Aku meyakini bahwa Tuhan Maha Besar,
jadi keberadaan-Nya tidak dapat disangsikan. Jika Dia ada dalam dirimu,
maka sudah pasti Dia juga ada diluar dirimu, dalam diri orang lain,
setiap makhluk dan semua ciptaan-Nya. Dia ada dimana-mana.
May: Baiklah, aku paham sekarang. Lantas apakah Dia juga ada dalam bentuk sesuatu yg dianggap najis?
Krisna:Sudah tentu sayang, apa keberatannya Tuhan untuk berada dalam tubuh
anjing, babi, atau bahkan kotoran sekalipun? Tuhan didalam agama hindu
dapat dianalogikan seperti matahari. Ia tidak menjadi lebih terang
dengan menyinari tempat yg dianggap suci oleh manusia, dan kemudian
tidak menjadi lebih redup dengan menyinari kotoran, matahari tetap
meninari dengan cahaya yg sama. Matahari tidak terkontaminasi oleh benda
didunia.
May: Lantas apakah Tuhan ada dalam kotoran? Hehehe... (aku tertawa kecil).
Krisna:
Ya. Dengan tegas aku katakan Dia ada! Hanya saja kita merasa gelisah
dengan persepsi tersebut karena perasaan cinta yg senantiasa ingin
memuliakan Dia pada tempat yg istimewa.
Dan seiring berjalannya waktu, melalui bimbingannya aku juga mulai mempraktekkan
ajaran agama hindu seperti meditasi yg dalam bahasa sansekerta padanan
istilah ini adalah Dhyana, yakni memusatkan perhatian dengan terus
menerus pada sesuatu yg dijadikan objek meditasi. Ketika itu aku merasa
tertarik melihat image Dewi Kali yg kujumpai dalam folder notebooknya.
Beberapa hari kemudian, aku bermimpi di datangi oleh sosok yg sungguh
sangat menyeramkan, berpakaian serba putih dengan rambut urak-urakan,
sekilas dalam ingatanku sosoknya sedikit menyerupai Dewi Kali.
Kutanyakan pada Krisna prihal mimpiku tersebut dengan jujur dia mengatakan, "Meski
sejak lahir aku sudah memeluk agama hindu dan setelah mengalami proses
pendewasaan diri memulai praktek spiritual tapi aku tidak terlalu maju,
jadi aku tidak tau prihal mimpimu itu. Tetapi mungkin saja sosok yg
hadir dalam mimpimu itu adalah Dia, Bunda Kali, sebagai reaksi dari
Dhyana yg telah km lakukan. Km adalah bhakta-Nya, dan Beliau pasti akan
menemuimu dalam banyak cara dan juga rupa-Nya.
Kami berdua sangat jarang bertatap muka, walaupun demikian komunikasi antara kami
tidak pernah putus, entah melalui telp, sms dan facebook. Suatu hari
usai chatting aku lupa log out dan delete semua isi percakapan diantara
kami, celakanya pada saat yg sama papa memeriksa laptop dan
terbongkarlah semua rahasiaku. Papa sangat marah, dan saking emosinya ia
melempar handphoneku ke tembok hingga menjadi beberapa bagian, laptop
dan semua alat komunikasi di sita. Tidak hanya sebatas itu, papa juga
melarangku bepergian, tetapi jika harus, aku diantar papa atau sopir
pribadinya. Setelah sekian hari aku menghilang tanpa jejak dan tidak
memberi kabar pada krisna, akhirnya aku mencuri-curi waktu, saat papa
sedang tertidur aku mengambil handphonenya dan sms krisna untuk
menceritakan semuanya.
Selama masa pengasingan papa memintaku untuk melupakan krisna, terlebih setelah membaca status-statusnya yg kontroversial dalam mengkritisi agama-agama yg tidak
sesuai dengan persepsi pribadinya sehingga sering membuat gaduh. Dan ternyata papa sudah merasa ada yg berbeda dengan diriku selama beberapa bulan terakhir, karena aku mulai berani melawan (baca: membela diri) yg sering mengundang perdebatan diantara kami atau paling tidak bersikap acuh. Tidak hanya itu, papa juga berusaha menanamkan opini buruk tentang orang bali yg pada umumnya sering mabuk-mabukkan, berjudi, dan tentu saja menilai agama hindu dari perspektif agama kristen. Hampir selama
dua bulan papa berusaha keras untuk mempengaruhi aku, dan tentu saja
mempertanyakan keimananku pada agama kristen yg sesungguhnya pada saat
itu hanya mengambang, belum memudar. Karena memilih jalur aman maka aku
hanya diam saja tanpa sepatah kata.
Papa mungkin begitu sangat menyayangiku, namun ia kurang begitu paham bagaimana cara
mendidik anak. Cinta dan kasih sayangnya justru merupakan penjara
bagiku, dan ini sudah aku rasakan sekian tahun lamanya jauh sebelum
mengenal krisna. Semakin aku di kekang semakin pula aku memberontak,
terlebih jika aku memutuskan untuk pergi dari rumah aku sudah mempunyai
tujuan. Maka, atas pertimbangan tersebut, aku menghubungi krisna melalui
handphone mbak Cantika untuk membantuku kabur dari rumah papa dengan
membuat sebuah kesepakatan. Tanpa sepengetahuan siapapun, setiap subuh
aku mengemas pakaian sedikit demi sedikit untuk aku taruh di tempat
sampah depan rumah pada pukul 05:00 tepat. Selang beberapa menit, krisna
datang dan mengambil barang-barang yg telah aku letakkan.
Beberapa hari tepat sebelum meninggalkan rumah, aku mengalami konflik batin. Di
satu sisi aku merasa berat hati meninggalkan rumah tersebut, terlebih
papa yg selama beberapa tahun ini telah menjadi orang tua angkatku,
menjaga dan melindungi aku. Namun disisi lain, aku juga sudah tidak kuat
atas perlakuannya yg diktator dan semakin jauh dari arti cinta yg
sesungguhnya. Tetapi kemudian aku berkesimpulan bahwa semua yg aku cari
ada pada krisna yg menjadi tujuan hidup dan masa depanku.
Pada tanggal 07/09/2011 aku dapat meloloskan diri tanpa sepengetahuan
siapapun untuk kemudian memulai hidup baru. Senang tentu saja, tetapi
aku juga tidak dapat menafikan kesedihan bila hubunganku dengan papa
harus berakhir seperti ini. Walau bagaimanapun papa berjasa banyak hal
dalam menopang hidupku yg pada kesempatan ini tidak dapat aku sebutkan
secara mendetail. Melalui akun facebookku yg baru beliau sempat berkali
membujukku untuk kembali pulang dengan cara mengiming-imingiku cincin
berlian, Samsung Galaxi yg ketika itu sangat aku inginkan, pergi
berlibur ke Thailand, namun aku menolakknya. Mungkin kedepannya secara
finansial aku mengalami kemerosotan, merubah beberapa pola hidup mewah
dan lain sebagainya. Tetapi bagiku kebahagiaan tidak dapat di ukur
dengan materi, cinta dan kasih sayang yg tumbuh dari hati merupakan
kekayaan yg tiada terkira dan merupakan kebahagiaan sejati pada siapa
saja yg menerimanya.
Setelah terputusnya hubunganku dengan papa, aku bekerja di sebuah travel untuk menunjang kebutuhan hidup.Namun entah mengapa, dalam seminggu aku hampir dua sampai tiga kali jatuh sakit yg berlangsung hampir selama dua bulan. Selain berobat ke
dokter dan pergi ke pengobatan traditional sambil terus memotivasi diri
untuk bangkit, krisna menyarankanku untuk lebih mendekatkan diri pada
Dewi Kali, sebagai penguasa kegelapan yg mampu melenyapkan kekotoran
bathin dan menangkal pengaruh buruk dari luar. Kami juga mengunjungi
beberapa pura seperti Jagad Natha dan Uluwatu.
Tanggal 29/01/2012 yg bertepatan dengan hari Penampahan Galungan, krisna
mengajakku ikut serta pulang ke kampung halamannya di Singaraja.
Memperkenalkanku pada bapak, ibu dan adik-adik serta keluarga besarnya.
Tentu saja kehadiranku di sambut dengan hangat, terlebih ibunya yg
sangat baik, dan begitu memperhatikanku. Keesokan harinya adalah hari
suci Galungan, kami semua menghaturkan bhakti di Sanggah dan Pura Desa.
Tidak hanya itu, krisna beserta keluarganya mengajakku nangkil ke Pura
Pulaki, dan Pura Melanting. Perbedaan yg paling aku rasakan selama
prosesi persembahyangan di pura-pura tersebut dan pada saat aku masih
dalam lingkungan gereja adalah, agama merupakan urusan pribadi manusia
dan Tuhan dengan berbagai rupa dan nama-Nya. Tidak ada Tuhan eksklusif,
tidak ada kotbah maupun anjuran untuk mewartakan agama kepada yg
non-hindu, "tidak ada kitab suci" karena semuanya berbicara dengan
bahasa hati.
Libur hari raya telah usai, aku dan krisna kembali ke Denpasar untuk menjalani hari sebagaimana biasa. Dan entah mengapa sejak saat itu bahkan hingga cerita ini aku tulis, aku sama sekali tidak pernah jatuh sakit. Sekalipun tidak. Aku sendiri sangat
heran, apakah jalan ini merupakan tuntunan karma wasanaku? Dan jika
memang iya, lantas mengapa aku terpental begitu jauh ke pulau seberang?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tetap menjadi misteri hingga kini.
Melangkah di jalan dharma melalui praktek spiritual ada banyak fenomena
yg tidak logis, namun justru disana yg menjadi letak daya tariknya untuk
terus melakukan praktek dan kemudian dianalisa. Bukan hanya melafalkan
ayat-ayat dalam kitab suci hingga mulut berbusa-busa dan mengeringnya
kerongkongan.
Selama di Denpasar krisna tidak pernah
menyuruhku untuk sembahyang Tri Sandhya, menurutnya tidak ada yg wajib
selain kesadaran dari umat itu sendiri. Yg Ia tekankan sangatlah
fleksibel yakni berkarma sesuai dharma. Dan atas dasar itu juga setiap
pagi sebelum berangkat ke kantor aku selalu meluangkan waktu untuk
menyalakan dupa dan mempersembahkan sebuah canang di Pelinggih yg
terletak persis didepan kamarku.
Hingga suatu hari beberapa teman kantorku mengatakan bahwa sesungguhnya aku tidak boleh sembahyang ke pura jika belum sah memeluk agama Hindu, terlebih
bersembahyang ke Sanggahnya krisna, karena yg berstana disana bukanlah
Leluhurku, jadi sembah sujudku tidak diterima. Aku sedih sekali, dan
mengadu pada krisna, menurutnya teman-teman kantorku tersebut orang yg
masih awam akan agama jadi jangan di hiraukan. Karena tidak puas atas
jawaban yg ia berikan aku online melalui akun facebookku dan posting di
Forum Diskusi Jaringan Hindu Nusantara yg sebelumnya sudah di invite
oleh krisna, mempertanyakan prihal tersebut. Setelah banyak yg comment
yg di antaranya adalah pinisepuh group tersebut, sebut saja bapak Nengah
Sudana yg mengirim inbox padaku bahwa ia sedang mendiskusikan rencana
upacara Sudi Wadani untukku bersama bapak Kantha Adnyana.
Jika memang melangkah di jalan dharma merupakan tujuanku, tentu aku sangat
senang dengan usul yg diajukan. Lalu aku merenungi semuanya dengan penuh
tanya, apakah aku sudah benar-benar yakin? Tiba-tiba ingatanku tertuju
pada apa yg pernah di katakan krisna, bahwa di dalam tubuh Sanathana
Dharma terdapat beberapa konsep ketuhanan seperti panteisme dan
monoteisme, atau bahkan ateisme. Karena itulah seorang umat di berikan
keleluasan untuk memuja-Nya sesuai dengan keinginginan. Karena ingin
beragama dengan "benar" dan tidak mau "salah" dalam menentukan pilihan
untuk kesekian kalinya aku mulai mencari tau apa saja yg berhubungan
dengan agama hindu di google. Sambil sesekali intospeksi diri, mencari
tau, dimana letak "kenyamanan dan potensiku" yg sesungguhnya.
Akhirnya melalui studi banding yg aku lakukan sendiri dan juga
penjelasan-penjelasan yg aku dapat dari krisna seorang, aku mengambil
beberapa kesimpulan yg diantaranya adalah, untuk menjadi seorang kristen
yg menjunjung tinggi cinta kasih berarti juga menjadi hindu, tetapi
untuk diakui menjadi anak dari yg abadi/Tuhan (amritasya putrah), tidak
bisa menjadi kristen. Karena dalam kristen Yesus Kristus merupakan
satu-satunya anak Tuhan yg kemudian mengembalakan domba-domba. Menyebut
seorang manusia sebagai domba entah dalam arti yg sesungguhnya atau
kiasan di dalam hindu justru merupakan penghinaan di dalam hindu. Dan
jika kita berbicara tentang konsep monoteisme, tidaklah berarti sama
seperti konsep monoteistik lainnya, Tuhan monoteisme dalam hindu tidak
angkuh dan bersikukuh dengan sebutan sebuah nama saja, karena di dalam
hindu orang-orang bijak menyebut-Nya dengan bayak nama. Dll...
Setelah puas dengan pemahamanku sendiri, aku mengutarakan keinginanku untuk di
Sudi Wadani kepada krisna. Walau dia sangat antusias tetapi dalam
beberapa kesempatan yg berbeda ia berkali-kali mempertanyakan
keseriusanku. Krisna, dan yg lainnya atau siapapun juga boleh tidak
percaya, itu haknya dan mereka. Meminjam kalimat yg ia pernah katakan
padaku, "seekor singa walau di penggal kepalanya ia tak kan pernah mau
makan rumput, begitulah kesetiaan".
Beberapa hari kemudian krisna mendapat sms dari bapak Nyoman Suharta bahwa upacara Sudi Wadani
untukku telah di tentukan pada hari minggu 26/02/2012 di pura Besakih.
Aku senang sekali karena semua kebutuhan upakara telah di siapkan,
sehingga aku tidak di beratkan dengan biaya sepeserpun. FDJHN merupakan
sebuah organisasi yg tidak hanya bergerak dalam bidang agama, namun juga
kemanusiaan. Keberadaannya tidak hanya sekedar eksis di dunia maya
menghabiskan banyak waktu hanya untuk diskusi, tetapi juga memberi
kontribusi langsung dalam memajukan umat dari segi tattwa dan upakara
seperti memberikan buku, pelinggih, dan semua yg dibutuhkan umat.
Uniknya lagi, jika mereka mengadakan upacara Sudi Wadani bukanlah karena
merasa menjadi "tangan-tangan Tuhan" yg harus mewartakan agama yg di
wahyukan dan kemudian meng-konversi orang yg sudah beragama dalam
keadaan bingung. Tetapi umat yg berjalan dengan keyakinan yg menuntut
pengakuanlah yg menemukan mereka. Ya... Seperti diriku ini contohnya.
Pada hari yg telah di tentukan dan aku sepakati, pukul 06:00 pagi aku dan
krisna menuju kantor sekertariat untuk berkumpul dengan member yg
lainnya dan kemudian menuju pura Besakih yg kami tempuh selama satu jam
lebih. Sampainya di Besakih, sambil menunggu Ida Pandita mempersiapkan
semuanya, aku dan krisna duduk di pinggir sebuah bale, kemudian ada
seseorang yg menghampiri, beliau juga merupakan salah satu member FDJHN
yg belakangan aku ketahui namanya bapak Arjaya STP. Tiba-tiba saja
beliau berkata dengan spontan bahwa aku disenangi oleh Bathara yg
melinggih di pura Melanting. Dalam hati aku heran, kami tidak saling
kenal dan tidak pernah bertemu sebelumnya mengungkapkan sebuah
"kebenaran". Kebenarannya adalah sejak saat aku nangkil ke pura
Melanting - Pulaki aku sehat-sehat saja dan tidak sakit-sakitan lagi.
Ingin rasanya berbincang lebih banyak dan jelas, tetapi kemudian aku di
panggil untuk segera melaksanakan upacara Sudi Wadani.
Semua berlangsung sebagaimana yg telah di rencanakan, upacara Sudi Wadani
berjalan lancar. Namun ketika hendak bersembahyang bersama member
lainnya yg turut hadir, tiba-tiba hujan turun deras sekali, aku dan
krisna sama sekali tidak bergeming meski harus basak kuyup, krisna
meyakinkanku dengan berkata "hari ini km mendapat restu yg berlimpah,
langitpun memerciki km dengan tirta". Dan setelah itu, aku lantas
memohon ijin pada bapak Kantha untuk sembahyang ke Pedharman bersama
krisna.
Aku merasa senang juga bahagia, dan istimewa
karena "terlahir" di pura Besakih, merasa terhormat karena upacara Sudi
Wadaniku di pimpin oleh seorang Ida Pandita Mpu, yg setelah semuanya
selesai dengan kemurahan dan kerendahan hatinya beliau bersedia untuk
berfoto bersama denganku. Beliau juga sempat memberikanku kartu nama
sebagai sebuah isyarat untukku mengunjunginya ke Geria dikemudian hari,
tak ada petuah apapaun, beliau hanya mengatakan, "sekarang km adalah
anak angkatku". Betapa bahagianya diriku...
Setelah semuanya ini, hari-hariku berjalan seperti biasa, berkarma dan berdoa
dijalan dharma. Hubunganku dengan krisna semakin jelas, dan tidak ada
kendala yg berarti untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Kehidupan
spiritualku juga masih terus di berkahi restu seperti yg aku alami
beberapa hari yg lalu di pura Jagad Natha saat bulan purnama.
OM KRIM KALYAI NAMAH _/\_
Penulis @Mayshia Angel
Menjawab Mitos umat Hindu di Bali Dengan Posisi Tidur Kepala Tidak Boleh menghadap Selatan dan Barat
Ada suatu pertanyaan yang membuat kita kadang-kadang bingung akan Mitos tersebut terutama bagi umat Hindu yang Muda maupun anak-anak dan ketika balik mempertanyakannya kepada orang tua malah tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan alias Memang Sudah Begitu. Sepatutnya lah sebenarnya kita memberikan penjelasan yang masuk logika dan yang sesuai dgn kaidah kaidah Hindu. Maka dari itu saya berusaha menampilkannya disini sebagai tambahan wawasan bagi generasi Hindu dimana pun berada. Jadi inilah pertanyaan tersebut:
Mengapa bagi umat Hindu posisi tidur kepala tidak boleh (tdk disarankan) menghadap selatan dan Barat? Sampai saat ini saya tetap mempercayainya.
Pertanyaan diatas itu saya ambil dari suatu tread status forum Hindu yang ada di facebook yang memang merupakan tempat berkumpulnya teman teman dan sodara sodara Hindu dalam membahas suatu permasalahan selain itu sebagai wadah peningkatan wawasan umat Hindu terutama bagi generasi Mudanya.
Jawaban dari pertanyaan tersebut juga saya ambil dari salah satu Koment yang menurut saya sangat tepat dan mendekati dengan konsep Hindu di Bali. ma'af ,saya tidak sebutkan indentitas pemilik koment tsb.inilah salah satu koment tsb :
Maaf, tiang memberi masukan sedikit tentang pokok pertanyaan teman di atas. Yaitu mslh tdr kepala di timur dan di utara.
Begini, pada dasarnya, umat hindu sangat mensucikan 9 penjuru arah mata angin. DEWATA NAWA SANGA. Tapi, dalam hal ini, (arah kepala waktu tidur), ada konsep palemahan (tata ruang) yang mengatur dalam hal ini.
Dalam tata adat di bali, tiap keluarga hindu bali punya tempat pemujaan (sangah/merajan) yang di bangun di sebelah timur (tepatnya, kaje kangin) dari areal pekarangan yg di tempati.
Dan di bali juga ada konsep (me-hulu gunung). Masyarakat hindu bali menggunakan gunung sebagai arah utara. Nah, untuk lebih mensucikan tempat pemujaan, maka masyarakat hindu di bali mengatur arah kepala untuk tidur dengan sedemikian rupa. Dalam hal ini, kepala ada otaknya, otak sebagai pusat dari semua yang ada pada diri manusia.
Maka, dengan sendirinya kepala kitalah yg paling dekat dgn tmpat pemujaan. Ini untuk mengingatkan kita untuk selalu dekat, mengingat, dan melaksanakan ajaran hindu. jadi masalah posisi tidur kiat di bali ini bukan AGEM MULE KETO. Dan ada yg lucu disini, ajaran tidur hindu di bali, telah secara tdk langsung membuat penduduk bali mempersatukan diri lewat posisi tidur.
Di bali utara dan bali selatan jika tidur dgn posisi sama2 kepala di utara, maka ketemunya kepala dgn kepala. Utara di bali selatan, adalah selatan di bali utara.......
Nah...setelah melihat Koment diatas bagaimanakah menurut anda ? apakah ada tambahan dan sanggahan yang lain? Jika ada silakan berikan Koment anda disini.
Setelah ada masukkan lagi maka kami melakukan Update sebagai berikut:
#Arti posisi kepala saat tidur
Adat Bali dikenal memiliki banyak aturan, yang secara tidak langsung dan tidak sadar mengikat masyarakatnya, mulai dari pribadi perorangan, kelompok sampai aturan dalam membangun daerahnya. satu contoh kecil saja, yaitu sikap saat istirahat malam atau tidur. jangankan sikap tidur, tempat tidur bahkan bangunan yang boleh dijadikan tempat tidurpun diatur. katakan saja untuk ranjang untuk tidur, ada aturannya. secara umum, apapun yang dilakukan oleh manusia diatur, dalam hal ini; tempat istirahat. dalam sastra bali tempat istirahat ada 3, yaitu
nah, apa yang terjadi bila aturan tersebut dilanggar?
untuk yang melanggar aturan tersebut, secara adat atau hukum social tidak ada hukumannya. tetapi secara “Niskala” akan berdampak pada kehidupan pemakai tempat istirahat tersebut. mulai dari sakit hingga kematian. khusus untuk tempat tidur, memiliki aturan tambahan yaitu; apabila tempat tersebut sudah dianggap selesai dibuat dan sudah pernah digunakan selama 3 hari, maka tempat tesebut dianggap sudah hidup seperti halnya bangunan yang telah diupacarai. bila ada orang yang berani memotong / merubahnya kemudian setelah itu digunakan sebagai tempat tidur lagi, maka yang memotong / merubah serta yang menggunakannya akan mengalami gangguan dalam kehidupannya. aturan ini sudah baku, karena sudah banyak yang merasakan, sehingga Adat Bali tidak mengaturnya secara tertulis.
kembali ke Posisi Tidur, seperti halnya umat lain yang memiliki “kiblat”, orang bali juga memiliki aturan tersebut, dan ini sudah diatur melalui aturan yang ditulis dalam kidung “Nitisastra VII, 1-2”. adapun kupasan dari nitisastra tersebut :
Perhatikan tempat letak kapalamu, waktu tidur beginilah pelajaran dari buku-buku. jika kepalamu ditimur, akan panjang umurmu. jika diutara, engkau mendapatkan kejayaan. jika letak kepalamu dibarat, akan mati rasa cinta padamu, engkau akan dibenci para sahabatmu. dan jika membujur ke selatan, akan pendek umurmu, dan menyebabkan rasa dukacita. - Nitisastra VII, 1-2.
Sumber:http://cakepane.blogspot.com/2010/07/arti-posisi-kepala-saat-tidur.html
Cukup sekian semoga hal ini bisa membantu generasi kita menemukan Kebangkitan Hindu dalam dirinya, sehingga bisa menjadi seorang Hindu yang sejati.
Pertanyaan diatas itu saya ambil dari suatu tread status forum Hindu yang ada di facebook yang memang merupakan tempat berkumpulnya teman teman dan sodara sodara Hindu dalam membahas suatu permasalahan selain itu sebagai wadah peningkatan wawasan umat Hindu terutama bagi generasi Mudanya.
Jawaban dari pertanyaan tersebut juga saya ambil dari salah satu Koment yang menurut saya sangat tepat dan mendekati dengan konsep Hindu di Bali. ma'af ,saya tidak sebutkan indentitas pemilik koment tsb.inilah salah satu koment tsb :
Maaf, tiang memberi masukan sedikit tentang pokok pertanyaan teman di atas. Yaitu mslh tdr kepala di timur dan di utara.
Begini, pada dasarnya, umat hindu sangat mensucikan 9 penjuru arah mata angin. DEWATA NAWA SANGA. Tapi, dalam hal ini, (arah kepala waktu tidur), ada konsep palemahan (tata ruang) yang mengatur dalam hal ini.
Dalam tata adat di bali, tiap keluarga hindu bali punya tempat pemujaan (sangah/merajan) yang di bangun di sebelah timur (tepatnya, kaje kangin) dari areal pekarangan yg di tempati.
Dan di bali juga ada konsep (me-hulu gunung). Masyarakat hindu bali menggunakan gunung sebagai arah utara. Nah, untuk lebih mensucikan tempat pemujaan, maka masyarakat hindu di bali mengatur arah kepala untuk tidur dengan sedemikian rupa. Dalam hal ini, kepala ada otaknya, otak sebagai pusat dari semua yang ada pada diri manusia.
Maka, dengan sendirinya kepala kitalah yg paling dekat dgn tmpat pemujaan. Ini untuk mengingatkan kita untuk selalu dekat, mengingat, dan melaksanakan ajaran hindu. jadi masalah posisi tidur kiat di bali ini bukan AGEM MULE KETO. Dan ada yg lucu disini, ajaran tidur hindu di bali, telah secara tdk langsung membuat penduduk bali mempersatukan diri lewat posisi tidur.
Di bali utara dan bali selatan jika tidur dgn posisi sama2 kepala di utara, maka ketemunya kepala dgn kepala. Utara di bali selatan, adalah selatan di bali utara.......
Nah...setelah melihat Koment diatas bagaimanakah menurut anda ? apakah ada tambahan dan sanggahan yang lain? Jika ada silakan berikan Koment anda disini.
Setelah ada masukkan lagi maka kami melakukan Update sebagai berikut:
#Arti posisi kepala saat tidur
Adat Bali dikenal memiliki banyak aturan, yang secara tidak langsung dan tidak sadar mengikat masyarakatnya, mulai dari pribadi perorangan, kelompok sampai aturan dalam membangun daerahnya. satu contoh kecil saja, yaitu sikap saat istirahat malam atau tidur. jangankan sikap tidur, tempat tidur bahkan bangunan yang boleh dijadikan tempat tidurpun diatur. katakan saja untuk ranjang untuk tidur, ada aturannya. secara umum, apapun yang dilakukan oleh manusia diatur, dalam hal ini; tempat istirahat. dalam sastra bali tempat istirahat ada 3, yaitu
- Galar; istirahat untuk beberapa saat dengan tidur
- Galir; istirahat untuk beberapa menit/pelepas lelah, yaitu dengan duduk dan bersantai
- Galur; istirahat untuk perjalanan pulang, yang dalam istilah balinya “mulih ke desa gede/gumi wayah” alias MATI
nah, apa yang terjadi bila aturan tersebut dilanggar?
untuk yang melanggar aturan tersebut, secara adat atau hukum social tidak ada hukumannya. tetapi secara “Niskala” akan berdampak pada kehidupan pemakai tempat istirahat tersebut. mulai dari sakit hingga kematian. khusus untuk tempat tidur, memiliki aturan tambahan yaitu; apabila tempat tersebut sudah dianggap selesai dibuat dan sudah pernah digunakan selama 3 hari, maka tempat tesebut dianggap sudah hidup seperti halnya bangunan yang telah diupacarai. bila ada orang yang berani memotong / merubahnya kemudian setelah itu digunakan sebagai tempat tidur lagi, maka yang memotong / merubah serta yang menggunakannya akan mengalami gangguan dalam kehidupannya. aturan ini sudah baku, karena sudah banyak yang merasakan, sehingga Adat Bali tidak mengaturnya secara tertulis.
kembali ke Posisi Tidur, seperti halnya umat lain yang memiliki “kiblat”, orang bali juga memiliki aturan tersebut, dan ini sudah diatur melalui aturan yang ditulis dalam kidung “Nitisastra VII, 1-2”. adapun kupasan dari nitisastra tersebut :
Perhatikan tempat letak kapalamu, waktu tidur beginilah pelajaran dari buku-buku. jika kepalamu ditimur, akan panjang umurmu. jika diutara, engkau mendapatkan kejayaan. jika letak kepalamu dibarat, akan mati rasa cinta padamu, engkau akan dibenci para sahabatmu. dan jika membujur ke selatan, akan pendek umurmu, dan menyebabkan rasa dukacita. - Nitisastra VII, 1-2.
Sumber:http://cakepane.blogspot.com/2010/07/arti-posisi-kepala-saat-tidur.html
Cukup sekian semoga hal ini bisa membantu generasi kita menemukan Kebangkitan Hindu dalam dirinya, sehingga bisa menjadi seorang Hindu yang sejati.
RAMALAN JAYABAYA
PRABU JAYABAYA
Read More...
Prabu Jayabaya raja Kediri bertemu pendita dari Rum yang sangat sakti, Maulana Ali Samsuyen. Ia pandai meramal serta tahu akan hal yang belum terjadi. Jayabaya lalu berguru padanya, sang pendeta menerangkan berbagai ramalan yang tersebut dalam kitab Musaror dan menceritakan penanaman orang sebanyak 12.000 keluarga oleh utusan Sultan Galbah di Rum, orang itu lalu ditempatkan di pegunungan Kendenag, lalu bekerja membuka hutan tetapi banyak yang mati karena gangguan makhluk halus, jin dsb, itu pada th rum 437, lalu Sultan Rum memerintahkan lagi di Pulau Jawa dan kepulauan lainnya dgn mengambil orang dari India, Kandi, Siam. Sejak penanaman orang-orang ini sampai hari kiamat kobro terhitung 210 tahun matahari lamanya atau 2163 tahun bulan, Sang pendeta mengatakan orang di Jawa yang berguru padanya tentang isi ramalan hanyalah Hajar Subroto di G. Padang.
Beberapa hari kemudian Jayabaya menulis ramalan Pulau Jawa sejak ditanami yang kedua kalinya hingga kiamat, lamanya 2.100 th matahari. Ramalannya menjadi Tri-takali, yaitu :
I. Jaman permulaan disebut KALI-SWARA, lamanya 700 th matahari (721 th bulan). Pada waku itu di jawa banyak terdengar suara alam, gara-gara geger, halintar, petir, serta banyak kejadian-kejadian yang ajaib dikarenakan banyak manusia menjadi dewa dan dewa turun kebumi menjadi manusia.
II. Jaman pertengahan disebut KALI-YOGA, banyak perobahan pada bumi, bumi belah menyebabkan terjadinya pulau kecil-kecil, banyak makhluk yang salah jalan, karena orang yamg mati banyak menjelma (nitis).
III. Jaman akhir disebut KALI-SANGARA, 700 th. Banyak hujan salah mangsa dan banyak kali dan bengawan bergeser, bumi kurang manfaatnya, menghambat datangnya kebahagian, mengurangi rasa-terima, sebab manusia yang yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya.
Tiga jaman tersebut masing-masing dibagi menjadi Saptama-kala, artinya jaman kecil-kecil, tiap jaman rata-rata berumur 100 th. Matahari (103 th. bulan), seperti dibawah ini :
I. JAMAN KALI-SWARA dibagi menjadi :
Kala-kukila 100 th, (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada yang mengatur/memerintah.
Kala-buddha (th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha menurut syariat Hyang agadnata (Batara Guru).
Kala-brawa (th. 201 - 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya kepada Dewa, sebab banyak Dewa yang turun kebumi menyiarkan ilmu.
Kala-tirta (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, di sepanjang air itu bumi menjadi belah dua. Yang sebelah barat disebut pulau Sumatra, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul, sedang, telaga, dsb.
Kala-swabara (th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.
Kala-rebawa (th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian2-kesenian dsb.
Kala-purwa (th. 601-700): Banyak tumbuh2an keturunan orang2 besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.
II. JAMAN KALA-YOGA dibagi menjadi :
Kala-brata (th. 701-800): Orang mengalami hidup sebagai fakir.
Kala-drawa (th. 801-900): Banyak orang mendapat ilham, orang pandai menerangkan hal-hal yang gaib.
Kala-dwawara (th. 901-1.000): Banyak kejadian yang mustahil.
Kala-praniti (th. 1.001- 1.101): Banyak orang mementingkan ulah pikir.
Kala-teteka (th. 1.101 - 1.200): Banyak oran g datang dari negeri-negeri lain.
Kala-wisesa (th. 1.201 - 1.300): Banyak orang yang terhukum.
Kala-wisaya (th. 1.301 - 1.400): Banyak orang memfitnah.
III. JAMAN KALA-SANGARA dibagi menjadi :
Kala-jangga (th. 1.401 - 1.500): Banyak orang ulah kehebatan.
Kala-sakti (th. 1.501 - 1.600): Banyak orang ulah kesaktian.
Kala-jaya (th. 1.601 - 1.700): Banyak orang ulah kekuatan untuk tulang punggung kehidupannya.
Kala-bendu (th. 1.701 - 1.800): Banyak orang senang berbantahan, akhirnya bentrokkan.
Kala-suba (th. 1.801 - 1.900 ) : Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.
Kala-sumbaga (th. 1.901 - 2.000) : Banyak orang tersohor pandai dan hebat.
Kala-surasa (th. 2.001 - 2.100): Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang ulah asmara.
Ramalan yang ditulis Jayabaya itu disetujui oleh pendeta Ali Samsujen, kemudian sang pendeta pulang ke negerinya, diantar oleh Jayabaya dan putera mahkotanya Jaya-amijaya di Pagedongan, sampai di perbatasan. Jayabaya diiringi oleh puteranya pergi ke Gunung Padang, disambut oleh Ajar Subrata dan diterima di sanggar semadinya. Sang Anjar hendak menguji sang Prabu yang terkenal sebagai pejelmaan Batara Wisnu, maka ia memberi isyarat kepada endang-nya (pelayan wanita muda) agar menghidangkan suguhan yang terdiri dari :
Kunir (kunyit) satu akar
Juadah satu takir (mangkok dibuat dari daun pisang)
Geti (biji wijen bergula) satu takir
Kajar (senthe sebangsa ubi rasanya pahit memabokkan satu batang)
Bawang putih satu takir
Kembang melati satu takir
Kembang seruni (serunai; tluki) satu takir
Anjar Subrata menyerahkan hidangan itu kepada sang prabu. Seketika Prabu Jayabaya menjadi murka dan menghunus kerisnya, sang Anjar ditikamnya hingga mati, jenazahnya muksa hilang. Endangnya yang hendak laripun ditikamnya pula dan mati seketika.
Sang putera mahkota sangat heran melihat murkanya Sang Prabu yang membunuh mertuanya (Anjar Subrata) tanpa dosa. Melihat putera mahkotanya sedih, sesudah pulang Prabu Jayabaya berkata dengan lemah lembut. "Ya anakku putera mahkota, janganlah engkau sedih karena matinya mertuamu, sebab sebenarnya ia berdosa terhadap Kraton. Ia bermaksud mempercepat berakhirnya, para raja di tanah Jawa yang belum terjadi. Hidangan sang Ajar menjadi perlambang akan hal-hal yang belum terjadi. Kalau ku-sambut (hidangan itu) niscaya tidak akan ada kerajaan melainkan hanya para pendeta yang menjadi orang-orang yang dihormati oleh orang banyak, sebab menurut guruku Baginda Ali Samsujen, semua ilmu Ajar itu sama dengan semua ilmuku".
Sang prabu anom bertunduk kepala memahami, kemudian mohon penjelasan tentang hidangan-hidangan sang pendeta dalam hubungannya dengan kraton-kraton yang bersangkutan, Sabda Prabu Jayabaya, "Ketahuilah anakku, bahwa aku ini penjelmaan Wisnu Murti, berkewajiban mendatangkan kesejahteraan kepada dunia, sedang penjelmaanku itu tinggal dua kali lagi. Sesudah penjelmaan di Kediri ini, aku akan menjelma Malawapati dan yang terakhir di Jenggala, sesudah itu aku tidak akan lagi menjelma di pulau Jawa, sebab hal itu tidak menjadi kewajibanku lagi. Tata atau rusaknya jagad aku tidak ikut-ikut, serta keadaanku sudah gaib bersatu dengan keadaan di dalam kepala-tongkat guruku. Waktu itulah terjadinya hal-hal yang dilambangkan dengan hidangan Sang Ajar tadi. Terdapat pada 7 tingkat kerajaan, alamnya bergantian, berlainan peraturannya. Wasiatkanlah hal itu kepada anak cucumu di kemudian hari".
Adapun keterangan tentang 7 (tujuh) kraton itu sbb:
Jaman Anderpati dalam jaman Kalawisesa, ibukotanya Pajajaran, tanpa adil dan peraturan. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa emas. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan si Ajar berupa kunyit. Lenyapnya kerajaan karena pertengkaran di antara saudara. Yang kuat menjadi-jadi kesukaanya akan perang dalam tahun rusaknya negara.
Jaman Srikala Rajapati Dewaraja, ibukotanya Majapahit, ada peraturan negara sementara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa perak. Itulah diperlambangkan suguhan Ajar berupa juadah. Dalam 100 th. Kraton itu sirna, karena bertengkar dengan putera sendiri.
Jaman Hadiyati dalam jaman Kalawisaya. Disanalah mulai ada hukum keadilan dan peraturan negara, ibukota kerajaan di Bintara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa tenaga kerja. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan berupa geti. Kraton sirna karena bertentangan dengan yang memegang kekuasaan peradilan.
Jaman Kalajangga, bertakhtalah seorang raja bagaikan Batara, ibukotanya di Pajang. Disanalah mulai ada peraturan kerukunan dalam perkara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa segala macam hasil bumi di desa. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan Ajar berupa kajar sebatang. Sirnanya kerajaan karena bertengkar dengan putera angkat.
Jaman Kala-sakti yang bertakhta raja bintara, ibukotanya Mataram. Disanalah mulai ada peraturan agama dan peraturan negara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa uang perak. Itulah yang dilambangkan dalam suguhan Ajar berupa bawang putih.
Jaman Kala-jaya dalam pemerintahan raja yang angkara murka, semua orang kecil bertabiat sebagai kera karena sulitnya penghidupan, ibukotanya di Wanakarta. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa uang real. Itulah lambang suguhan yang berupa kembang melati. Kedudukan raja diganti oleh sesama saudara karena terjadi kutuk. Hilanglah manfaat bumi, banyak manusia menderita, ada yang bertempat tinggal di jalanan, ada yang di pasar. Sirnanya Karaton karena bertengkar dengan bangsa asing.
. Jaman Kala-bedu di jaman raja hartati, artinya yang menjadi tujuan manusia hanya harta, terjadilah Karaton kembali di Pajang-Mataram. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa macam-macam, ada yang berupa emas-perak, beras, padi dsb. Itulah yang dilambangkan Ajar dengan suguhannya yang berupa bunga serunai. Makin lama makin tinggi pajak orang kecil, berupa senjata dan hewan ternak dsb, sebab negara bertambah rusak, kacau, sebab pembesar-pembesarnya bertabiat buruk, orang kecil tidak menghormat. Rajanya tanpa paramarta, karena tidak ada lagi wahyunya, banyak wahyu setan, tabiat manusia berubah-ubah.
Perempuan hilang malunya, tiada rindu pada sanak saudara, tak ada berita benar, banyak orang melarat, sering ada peperangan, orang pandai kebijaksanaannya terbelakang, kejahatan menjadi-jadi, orang-orang yang berani kurangajar tetap menonjol, tak kena dilarang, banyak maling menghadang di jalanan, banyak gerhana matahari dan bulan, hujan abu, gempa perlambang tahun, angin puyuh, hujan salah mangsa, perang rusuh, tak ketentuan musuhnya.
Itulah semua perlambang si Ajar yang mengandung berbagai maksud yang dirahasiakan dengan endangnya ditemukan dengan Prabu Jayabaya. Saat itu sudah dekat dengan akhir jaman Kalabendu. Sirnanya raja karena bertentangan dengan saingannya (maru=madu). Lalu datanglah jaman kemuliaan raja.
Di saat inilah pulau Jawa sejahtera, hilang segala penyakit dunia, karena datangnya raja yang gaib, yaitu keturunan utama disebut Ratu Amisan karena sangat hina dan miskin, berdirinya tanpa syarat sedikitpun, bijaksanalah sang raja. Kratonnya Sunyaruri, artinya sepi tanpa sesuatu sarana tidak ada sesuatu halangan. Waktu masih dirahasiakan Tuhan membikin kebalikan keadaan, ia menjadi raja bagaikan pendeta, adil paramarta, menjauhi harta, disebut Sultan Herucakra.
Datangnya ratu itu tanpa asal, tidak mengadu bala manusia, prajuritnya hanya Sirullah, keagungannya berzikir, namun musuhnya takut. Yang memusuhinya jatuh, tumpes ludes menyingkir, sebab raja menghendaki kesejahteraan negara dan keselamatan dunia seluruhnya.
Setahun bukannya dibatasi hanya 7.000 real tak boleh lebih. Bumi satu jung (ukuran lebar. kl. 4 bahu) pajaknya setahun hanya satu dinar, sawah seribu (jung?) hasilnya (pajaknya) hanya satu uwang sehari, bebas tidak ada kewajiban yang lain. Oleh karena semuanya sudah tobat, takut kena kutuk (kuwalat) ratu adil yang berkerajaan di bumi Pethikat dengan kali Katangga, di dalam hutan Punhak. Kecepit di Karangbaya. Sampai kepada puteranya ia sirna, karena bertentangan dengan nafsunya sendiri.
Lalu ada Ratu (raja) Asmarakingkin, sangat cantik rupanya, menjadi buah tutur pujian wadya punggawa, beribukota di Kediri. Keturunan ketiganya pindah ke tanah Madura. Tak lama kemudian Raja sirna karena bertentangan dengan kekasihnya.
Lalu ada 3 orang raja disatu jaman, yaitu :
Ber-ibukota di bumi Kapanasan
Ber-ibukota di bumi Gegelang
Ber-ibukota di bumi Tembalang. Sesudah 30 th. mereka saling bertengkar, akhirnya ketiganya sirna semua. Pada waktu itu tidak ada raja, para bupati di Mancapraja berdiri sendiri-sendiri, karena tidak ada yang dianggap (disegani).
Beberapa tahun kemudian ada seorang raja yang berasal dari sabrang (lain negeri). Nusa Srenggi menjadi raja di Pulau Jawa ber-ibukotadi sebelah timur Gunung Indrakila, di kaki gunung candramuka. Beberapa tahun kemudian datang prajurit dari Rum memerangi raja dari Nusa Srenggi, raja dari Nusa Srenggi kalah, sirna dengan bala tentaranya. Para prajurit Rum mengangkat raja keturunan Herucakra, ber-ibukota di sebelah timur kali opak, negaranya menjadi lebih sejahtera, disebut Ngamartalaya. Sampai pada keturunanya yang ke tiga, sampailah umur Pulau jawa genap 210 matahari. Ramalan di atas disambung dengan "Lambang Praja" yang dengan kata-kata indah terbungkus melukiskan sifat keadaan kerajaan kerajaan di bawah ini
JANGGALA
PAJAJARAN
MAJAPAHIT
DEMAK
PAJANG
MATARAM KARTASURA
SURAKARTA
JOGJAKARTA.
Yang terakhir mengenai hal yang belum terjadi ialah :
Negara Ketangga Pethik tanah madiun
Negara Ketangga kajepit Karangboyo
Kediri
Bumi Kepanasan, Gegelang (Jipang), Tembilang (Dekat Tembayat)
Ngamartalaya
Perlu diterangkan bahwa tidak semua naskah Ramalan Jayabaya memuat "Lambang Praja". Maka hal ini banyak menimbulkan dugaan, bahwa ini sebuah tambahan belaka. Demikianlah pokok inti ramalan Jayabaya.
II. Jaman pertengahan disebut KALI-YOGA, banyak perobahan pada bumi, bumi belah menyebabkan terjadinya pulau kecil-kecil, banyak makhluk yang salah jalan, karena orang yamg mati banyak menjelma (nitis).
III. Jaman akhir disebut KALI-SANGARA, 700 th. Banyak hujan salah mangsa dan banyak kali dan bengawan bergeser, bumi kurang manfaatnya, menghambat datangnya kebahagian, mengurangi rasa-terima, sebab manusia yang yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya.
Tiga jaman tersebut masing-masing dibagi menjadi Saptama-kala, artinya jaman kecil-kecil, tiap jaman rata-rata berumur 100 th. Matahari (103 th. bulan), seperti dibawah ini :
I. JAMAN KALI-SWARA dibagi menjadi :
Kala-kukila 100 th, (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada yang mengatur/memerintah.
Kala-buddha (th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha menurut syariat Hyang agadnata (Batara Guru).
Kala-brawa (th. 201 - 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya kepada Dewa, sebab banyak Dewa yang turun kebumi menyiarkan ilmu.
Kala-tirta (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, di sepanjang air itu bumi menjadi belah dua. Yang sebelah barat disebut pulau Sumatra, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul, sedang, telaga, dsb.
Kala-swabara (th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.
Kala-rebawa (th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian2-kesenian dsb.
Kala-purwa (th. 601-700): Banyak tumbuh2an keturunan orang2 besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.
II. JAMAN KALA-YOGA dibagi menjadi :
Kala-brata (th. 701-800): Orang mengalami hidup sebagai fakir.
Kala-drawa (th. 801-900): Banyak orang mendapat ilham, orang pandai menerangkan hal-hal yang gaib.
Kala-dwawara (th. 901-1.000): Banyak kejadian yang mustahil.
Kala-praniti (th. 1.001- 1.101): Banyak orang mementingkan ulah pikir.
Kala-teteka (th. 1.101 - 1.200): Banyak oran g datang dari negeri-negeri lain.
Kala-wisesa (th. 1.201 - 1.300): Banyak orang yang terhukum.
Kala-wisaya (th. 1.301 - 1.400): Banyak orang memfitnah.
III. JAMAN KALA-SANGARA dibagi menjadi :
Kala-jangga (th. 1.401 - 1.500): Banyak orang ulah kehebatan.
Kala-sakti (th. 1.501 - 1.600): Banyak orang ulah kesaktian.
Kala-jaya (th. 1.601 - 1.700): Banyak orang ulah kekuatan untuk tulang punggung kehidupannya.
Kala-bendu (th. 1.701 - 1.800): Banyak orang senang berbantahan, akhirnya bentrokkan.
Kala-suba (th. 1.801 - 1.900 ) : Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.
Kala-sumbaga (th. 1.901 - 2.000) : Banyak orang tersohor pandai dan hebat.
Kala-surasa (th. 2.001 - 2.100): Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang ulah asmara.
Ramalan yang ditulis Jayabaya itu disetujui oleh pendeta Ali Samsujen, kemudian sang pendeta pulang ke negerinya, diantar oleh Jayabaya dan putera mahkotanya Jaya-amijaya di Pagedongan, sampai di perbatasan. Jayabaya diiringi oleh puteranya pergi ke Gunung Padang, disambut oleh Ajar Subrata dan diterima di sanggar semadinya. Sang Anjar hendak menguji sang Prabu yang terkenal sebagai pejelmaan Batara Wisnu, maka ia memberi isyarat kepada endang-nya (pelayan wanita muda) agar menghidangkan suguhan yang terdiri dari :
Kunir (kunyit) satu akar
Juadah satu takir (mangkok dibuat dari daun pisang)
Geti (biji wijen bergula) satu takir
Kajar (senthe sebangsa ubi rasanya pahit memabokkan satu batang)
Bawang putih satu takir
Kembang melati satu takir
Kembang seruni (serunai; tluki) satu takir
Anjar Subrata menyerahkan hidangan itu kepada sang prabu. Seketika Prabu Jayabaya menjadi murka dan menghunus kerisnya, sang Anjar ditikamnya hingga mati, jenazahnya muksa hilang. Endangnya yang hendak laripun ditikamnya pula dan mati seketika.
Sang putera mahkota sangat heran melihat murkanya Sang Prabu yang membunuh mertuanya (Anjar Subrata) tanpa dosa. Melihat putera mahkotanya sedih, sesudah pulang Prabu Jayabaya berkata dengan lemah lembut. "Ya anakku putera mahkota, janganlah engkau sedih karena matinya mertuamu, sebab sebenarnya ia berdosa terhadap Kraton. Ia bermaksud mempercepat berakhirnya, para raja di tanah Jawa yang belum terjadi. Hidangan sang Ajar menjadi perlambang akan hal-hal yang belum terjadi. Kalau ku-sambut (hidangan itu) niscaya tidak akan ada kerajaan melainkan hanya para pendeta yang menjadi orang-orang yang dihormati oleh orang banyak, sebab menurut guruku Baginda Ali Samsujen, semua ilmu Ajar itu sama dengan semua ilmuku".
Sang prabu anom bertunduk kepala memahami, kemudian mohon penjelasan tentang hidangan-hidangan sang pendeta dalam hubungannya dengan kraton-kraton yang bersangkutan, Sabda Prabu Jayabaya, "Ketahuilah anakku, bahwa aku ini penjelmaan Wisnu Murti, berkewajiban mendatangkan kesejahteraan kepada dunia, sedang penjelmaanku itu tinggal dua kali lagi. Sesudah penjelmaan di Kediri ini, aku akan menjelma Malawapati dan yang terakhir di Jenggala, sesudah itu aku tidak akan lagi menjelma di pulau Jawa, sebab hal itu tidak menjadi kewajibanku lagi. Tata atau rusaknya jagad aku tidak ikut-ikut, serta keadaanku sudah gaib bersatu dengan keadaan di dalam kepala-tongkat guruku. Waktu itulah terjadinya hal-hal yang dilambangkan dengan hidangan Sang Ajar tadi. Terdapat pada 7 tingkat kerajaan, alamnya bergantian, berlainan peraturannya. Wasiatkanlah hal itu kepada anak cucumu di kemudian hari".
Adapun keterangan tentang 7 (tujuh) kraton itu sbb:
Jaman Anderpati dalam jaman Kalawisesa, ibukotanya Pajajaran, tanpa adil dan peraturan. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa emas. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan si Ajar berupa kunyit. Lenyapnya kerajaan karena pertengkaran di antara saudara. Yang kuat menjadi-jadi kesukaanya akan perang dalam tahun rusaknya negara.
Jaman Srikala Rajapati Dewaraja, ibukotanya Majapahit, ada peraturan negara sementara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa perak. Itulah diperlambangkan suguhan Ajar berupa juadah. Dalam 100 th. Kraton itu sirna, karena bertengkar dengan putera sendiri.
Jaman Hadiyati dalam jaman Kalawisaya. Disanalah mulai ada hukum keadilan dan peraturan negara, ibukota kerajaan di Bintara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa tenaga kerja. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan berupa geti. Kraton sirna karena bertentangan dengan yang memegang kekuasaan peradilan.
Jaman Kalajangga, bertakhtalah seorang raja bagaikan Batara, ibukotanya di Pajang. Disanalah mulai ada peraturan kerukunan dalam perkara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa segala macam hasil bumi di desa. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan Ajar berupa kajar sebatang. Sirnanya kerajaan karena bertengkar dengan putera angkat.
Jaman Kala-sakti yang bertakhta raja bintara, ibukotanya Mataram. Disanalah mulai ada peraturan agama dan peraturan negara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa uang perak. Itulah yang dilambangkan dalam suguhan Ajar berupa bawang putih.
Jaman Kala-jaya dalam pemerintahan raja yang angkara murka, semua orang kecil bertabiat sebagai kera karena sulitnya penghidupan, ibukotanya di Wanakarta. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa uang real. Itulah lambang suguhan yang berupa kembang melati. Kedudukan raja diganti oleh sesama saudara karena terjadi kutuk. Hilanglah manfaat bumi, banyak manusia menderita, ada yang bertempat tinggal di jalanan, ada yang di pasar. Sirnanya Karaton karena bertengkar dengan bangsa asing.
. Jaman Kala-bedu di jaman raja hartati, artinya yang menjadi tujuan manusia hanya harta, terjadilah Karaton kembali di Pajang-Mataram. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa macam-macam, ada yang berupa emas-perak, beras, padi dsb. Itulah yang dilambangkan Ajar dengan suguhannya yang berupa bunga serunai. Makin lama makin tinggi pajak orang kecil, berupa senjata dan hewan ternak dsb, sebab negara bertambah rusak, kacau, sebab pembesar-pembesarnya bertabiat buruk, orang kecil tidak menghormat. Rajanya tanpa paramarta, karena tidak ada lagi wahyunya, banyak wahyu setan, tabiat manusia berubah-ubah.
Perempuan hilang malunya, tiada rindu pada sanak saudara, tak ada berita benar, banyak orang melarat, sering ada peperangan, orang pandai kebijaksanaannya terbelakang, kejahatan menjadi-jadi, orang-orang yang berani kurangajar tetap menonjol, tak kena dilarang, banyak maling menghadang di jalanan, banyak gerhana matahari dan bulan, hujan abu, gempa perlambang tahun, angin puyuh, hujan salah mangsa, perang rusuh, tak ketentuan musuhnya.
Itulah semua perlambang si Ajar yang mengandung berbagai maksud yang dirahasiakan dengan endangnya ditemukan dengan Prabu Jayabaya. Saat itu sudah dekat dengan akhir jaman Kalabendu. Sirnanya raja karena bertentangan dengan saingannya (maru=madu). Lalu datanglah jaman kemuliaan raja.
Di saat inilah pulau Jawa sejahtera, hilang segala penyakit dunia, karena datangnya raja yang gaib, yaitu keturunan utama disebut Ratu Amisan karena sangat hina dan miskin, berdirinya tanpa syarat sedikitpun, bijaksanalah sang raja. Kratonnya Sunyaruri, artinya sepi tanpa sesuatu sarana tidak ada sesuatu halangan. Waktu masih dirahasiakan Tuhan membikin kebalikan keadaan, ia menjadi raja bagaikan pendeta, adil paramarta, menjauhi harta, disebut Sultan Herucakra.
Datangnya ratu itu tanpa asal, tidak mengadu bala manusia, prajuritnya hanya Sirullah, keagungannya berzikir, namun musuhnya takut. Yang memusuhinya jatuh, tumpes ludes menyingkir, sebab raja menghendaki kesejahteraan negara dan keselamatan dunia seluruhnya.
Setahun bukannya dibatasi hanya 7.000 real tak boleh lebih. Bumi satu jung (ukuran lebar. kl. 4 bahu) pajaknya setahun hanya satu dinar, sawah seribu (jung?) hasilnya (pajaknya) hanya satu uwang sehari, bebas tidak ada kewajiban yang lain. Oleh karena semuanya sudah tobat, takut kena kutuk (kuwalat) ratu adil yang berkerajaan di bumi Pethikat dengan kali Katangga, di dalam hutan Punhak. Kecepit di Karangbaya. Sampai kepada puteranya ia sirna, karena bertentangan dengan nafsunya sendiri.
Lalu ada Ratu (raja) Asmarakingkin, sangat cantik rupanya, menjadi buah tutur pujian wadya punggawa, beribukota di Kediri. Keturunan ketiganya pindah ke tanah Madura. Tak lama kemudian Raja sirna karena bertentangan dengan kekasihnya.
Lalu ada 3 orang raja disatu jaman, yaitu :
Ber-ibukota di bumi Kapanasan
Ber-ibukota di bumi Gegelang
Ber-ibukota di bumi Tembalang. Sesudah 30 th. mereka saling bertengkar, akhirnya ketiganya sirna semua. Pada waktu itu tidak ada raja, para bupati di Mancapraja berdiri sendiri-sendiri, karena tidak ada yang dianggap (disegani).
Beberapa tahun kemudian ada seorang raja yang berasal dari sabrang (lain negeri). Nusa Srenggi menjadi raja di Pulau Jawa ber-ibukotadi sebelah timur Gunung Indrakila, di kaki gunung candramuka. Beberapa tahun kemudian datang prajurit dari Rum memerangi raja dari Nusa Srenggi, raja dari Nusa Srenggi kalah, sirna dengan bala tentaranya. Para prajurit Rum mengangkat raja keturunan Herucakra, ber-ibukota di sebelah timur kali opak, negaranya menjadi lebih sejahtera, disebut Ngamartalaya. Sampai pada keturunanya yang ke tiga, sampailah umur Pulau jawa genap 210 matahari. Ramalan di atas disambung dengan "Lambang Praja" yang dengan kata-kata indah terbungkus melukiskan sifat keadaan kerajaan kerajaan di bawah ini
JANGGALA
PAJAJARAN
MAJAPAHIT
DEMAK
PAJANG
MATARAM KARTASURA
SURAKARTA
JOGJAKARTA.
Yang terakhir mengenai hal yang belum terjadi ialah :
Negara Ketangga Pethik tanah madiun
Negara Ketangga kajepit Karangboyo
Kediri
Bumi Kepanasan, Gegelang (Jipang), Tembilang (Dekat Tembayat)
Ngamartalaya
Perlu diterangkan bahwa tidak semua naskah Ramalan Jayabaya memuat "Lambang Praja". Maka hal ini banyak menimbulkan dugaan, bahwa ini sebuah tambahan belaka. Demikianlah pokok inti ramalan Jayabaya.
Sumber : Wonosari.com
Subscribe to:
Posts (Atom)







