Maka saya sebagai penulis juga ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa " Anak Putri lah yang mempunyai peranan penting diakhir suatu kehidupan orang tua dan leluhur kita, untuk itu jangan abaikan anak seorang Putri di kemudian hari jadi jagalah sodara dan teman Putri kita agar merasa tidak diabaikan di kehidupan ini. Karena begitu banyak saya lihat Putri / Wanita Hindu merasa diabaikan melarikan diri menuju dauh tukad atau diambil oleh tetangga sebelah kita yang selalu memanfaatkan hal tersebut, maka dengan mudahnya mereka mengambil Putri kita tanpa ada halangan yang berarti jika sebaliknya mereka akan berbuat militan dan berjuang mempertahakannya bagaimanapun caranya, generasi Hindu yang saya banggakan marilah mulai sekarang kita jangan terlalu meremehkan seorang Anak Putri maupun Ibu dalam keluarga Hindu-Bali karena akhir sebuah cerita Do'a anak Putri lah yang mengantarkan leluhur kita menuju Brahman, termasuk pentingnya juga kita sebagai umat Hindu mempunyai keturunan ( anak ) kehidupan ini.
Wanita berasal dari Bahasa Sanskrit,
yaitu Svanittha, di mana kata Sva artinya “sendiri” dan Nittha artinya
“suci”. Jadi Svanittha artinya “mensucikan sendiri” kemudian berkembang
menjadi pengertian tentang manusia yang berperan luas dalam Dharma atau
“pengamal Dharma”.
Dari sini juga berkembang perkataan
Sukla Svanittha yang artinya “bibit” atau janin yang dikandung oleh
manusia, dalam hal ini, peranan perempuan. Wanita sangat diperhatikan
sebagai penerus keturunan dan sekaligus “sarana” terwujudnya Punarbhava
atau re-inkarnasi, sebagai salah satu srada (kepercayaan/ keyakinan)
Hindu.
Lihatlah kisah Mahabharata ketika
Drupadi, istri Pandawa yang menjadi korban taruhan
kekalahan berjudi Dharmawangsa dari Pandawa melawan Sakuni di pihak
Korawa. Ia diseret keluar dan coba ditelanjangi oleh Dursasana di depan
sidang. Dewa Dharma melindungi Drupadi sehingga
kain penutup badan Drupadi tidak pernah habis, tetap melindungi tubuh
walau bermeter-meter telah ditarik darinya.
Sejak awal Drupadi sudah mengingatkan
Dursasana, bahwa ia wanita, tidak boleh diperlakukan kasar dan
dipaksa demikian. Akhirnya dalam perang Bharatayuda, Dursasana
dibinasakan Bima, dan Drupadi menebus kaul dengan mencuci rambutnya
dengan darah Dursasana.
Dapat dilihat juga bersama dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat memberikan penghargaan yang besar terhadap perempuan.
Masyarakat melakukan pemujaan kepada Dewi yang dapat membantu kehidupan
manusia di dunia ini, seperti Dewi Sri (Dewi padi) yang merupakan sumber
kehidupan manusia, pemujaan sebagai tanda bakti dan terima kasih juga
ditujukan kepada Dewi Saraswati (Dewi Pengetahuan) yang dilambangkan
sebagai seorang perempuan yang bertangan empat, berdiri di atas bunga
teratai. Ia merupakan simbol perempuan yang harus di teladani karena
dengan tasbih di tangan pertama, ia menyembah Hyang Widhi Wasa, dengan
daun lontar di tangan kedua ia mendalami ilmu pengetahuan, dengan alat
musik di tangan ketiga ia menikmati dan mengumandangkan keindahan dan
seni,dan dengan sekuntum bunga di tangan keempat ia menyabarkan
keharuman dan kelembutan.
Dewi Saraswati berdiri di atas bunga
teratai melambangkan ia sebagai perempuan mampu berdiri dalam situasi
apa pun. Dewi Durga mempunyai kekuatan magis yang luar biasa, yang dapat
memberi kekuatan dan menghancurkan kehidupan ini. Dewi Sri Sedana,
merupakan Dewi uang yang mempengaruhi perekonomian seseorang. Tugas yang
di lakukan para Dewi itu adalah sama dengan Dewa sesuai manifestasinya.
Di dalam kitab suci Weda juga terdapat sloka sloka tentang peranan Wanita di dunia ini sangatlah penting sebagai berikut :
“Istri hendaknya taat melaksanakan upacara-upacara keagamaan” (Yajurveda XIX.94)
“Wanita adalah pengawas keluarga, dia cemerlang, dia mengatur yang lain-lain dan dia sendiri yang taat kepada aturan-aturan, dia adalah aset keluarga sekaligus yang menopang (kesejahteraan) keluarga” (Yajurveda XIV.22)
“Wahai mempelai wanita, jadilah nyonya rumah dan bimbinglah ayah mertua, ibu mertua, saudara dan saudari ipar” (Ṛgveda X.85.46).
Ucapan “sorga ada ditangan wanita” bukanlah suatu slogan kosong, karena ditulis dalam MD.III.56:
YATRA NARYASTU PUJYANTE, RAMANTE TATRA DEVATAH, YATRAITASTU NA PUJYANTE, SARVASTATRAPHALAH KRIYAH
artinya :
Di mana wanita dihormati, di sanalah pada Dewa-Dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.
Lebih tegas lagi dalam pasal berikutnya: 57:
SOCANTI JAMAYO YATRA, VINASYATYACU TATKULAM, NA SOCANTI TU YATRAITA, VARDHATE TADDHI SARVADA
artinya :
Di mana wanita hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi di mana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.
Dan pasal 58:
JAMAYO YANI GEHANI, CAPANTYA PATRI PUJITAH, TANI KRTYAHATANEVA, VINASYANTI SAMANTARAH
artinya :
Rumah di mana wanitanya tidak dihormati sewajarnya, mengucapkan kata-kata kutukan, keluarga itu akan hancur seluruhnya seolah-olah dihancurkan oleh kekuatan gaib.
Tapi dalam kehidupan Hindu di Bali hal ini sangatlah berbeda dengan banyak istilah " nak mule keto " belum lagi banyak orang dauh tukad menganggap Peranan wanita dalam Hindu sangat rendah , Hal tersebut sangatlah SALAH karena dalam kitab Weda sudah jelas dikatakan bahwa Wanita mempunyai Peranan penting.
Dalam adat Bali pun yang menganut patriarki
perbedaan perlakuan terhadap perempuan sungguh sangat kentara. Adat
Bali menempatkan perempuan sebagai subordinasi karena ada pengertian
yang keliru terhadap konsep purusa dan pradana. Sejatinya purusa dan
pradana ada pada setiap laki-laki termasuk pula pada diri perempuan.
Purusa adalah jiwa dan pradana adalah raga. Akan tetapi dalam realisasi
purusa memang tetap dimaknai sebagai jiwa, hanya pradana diartikan
sebagai benda. Kalau jiwa tidak pernah mati alias akan hidup terus
sedangkan benda itu adalah barang mati sehingga tidak perlu diperlakukan
secara manusiawi. Pendapat keliru inilah yang terus berlangsung dalam
kehidupan keseharian perempuan Hindu di Bali. Adanya laki-laki dan
perempuan adalah bukan untuk dipertentangkan, tetapi adalah saling
melengkapi demi terlaksananya dampati dalam kehidupan.
Oleh
karena laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Tuhan melalui yadnya,
maka sudah sewajarnyalah manusia saling beryadnya dalam menggerakkan
cakra yadnya Kalau hal tersebut dapat terlaksana, itu menandakan bahwa
Hindu sangat berpihak pada gender bahkan kesetaraan karena perempuan
tidak dilahirkan dari tulang rusuk kanan adam. Dalam Padma Purana
disebutkan bahwa Dewa Brahma membagi setengah dirinya dalam menciptakan
Dewi Saraswati. Bukan hanya setengah badan tetapi juga adalah setengah
jiwanya. Hal inilah yang dimaksud dengan konsep Ardanariswari dalam
Hindu.
Wanita dalam theologi Hindu bukanlah merupakan serbitan
kecil dari personifikasi lelaki, tetapi merupakan suatu bagian yang sama
besar, sama kuat, sama menentukan dalam perwujudan kehidupan yang utuh.
Istilah theologisnya ialah “Ardhanareswari”. Ardha artinya setengah,
belahan yang sama. Nara artinya (manusia) laki-laki. Iswari artinya
(manusia) wanita. Tanpa unsur kewanitaan, suatu penjelmaan tidak akan
terjadi secara utuh dan dalam agama Hindu unsur ini mendapatkan porsi
yang sama sebagaiman belahan kanan dan kiri pada manusia. Sebagaimana
belahan bumi atas yaitu langit dengan belahan bumi bawah yaitu bumi yang
kedua-duanya mempunyai tugas, kekuatan yang seimbang guna tercapainya
keharmonisan dalam alam dan kehidupan manusia di alam ini.
Dalam
Siwatattwa dikenal konsep Ardhanareswari yaitu simbol Tuhan dalam
manifestasi sebagai setengah purusa dan pradana. Kedudukan dan peranan
purusa disimbolkan dengan Siwa sedangkan Pradana disimbolkan dengan
Dewi Uma. Di dalam proses penciptaan, Siwa memerankan fungsi maskulin
sedangkan Dewi Uma memerankan fungsi feminim. Tiada suatu apa pun akan
tercipta jika kekuatan purusa dan pradana tidak menyatu. Penyatuan
kedua unsur itu diyakini tetap memberikan bayu bagi terciptanya
berbagai mahluk dan tumbuhan yang ada.
Makna simbolis dari
konsep Ardhanareswari, kedudukan dan peranan perempuan setara dan
saling melengkapi dengan laki-laki bahkan sangat dimuliakan. Tidak ada
alasan serta dan argumentasi teologis yang menyatakan bahwa kedudukan
perempuan berada di bawah laki-laki. Itulah sebabnya di dalam berbagai
sloka Hindu dapat ditemukan aspek yang menguatkan kedudukan perempuan
di antara laki-laki.
Dalam Manawa Dharmasastra I.32 disebutkan
Dwidha kartwatmanodeham
Ardhena purusa bhawat
Ardhena nari tasyam sa
Wirayama smrjat prabhuh
Terjemahannya:
Tuhan membagi dirinya menjadi sebagian laki-laki dan sebagian menjadi perempuan (ardha nari). Darinya terciptalah viraja.
Sloka
di atas menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan
oleh Tuhan. Laki-laki dan perempuan menurut pandangan Hindu memiliki
kesetaraan karena keduanya tercipta dari Tuhan. Dengan demikian, maka
perempuan dalam Hindu bukan merupakan subordinasi dari laki-laki.
Demikian pula sebaliknya. Kedua makhluk yang berbeda jenis kelamin ini
memang tidak sama. Perbedaan tersebut adalah untuk saling melengkapi.
Mengapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan? Manawa Dharmasastra
IX.96 menyebutkan sebagai berikut.
Prajanartha striyah srtah
Samtanartam ca manawah
Tasmat saharano dharmah
Srutao patnya sahaditah
Terjemahannya:
Tujuan
Tuhan menciptakan wanita, untuk menjadi ibu. Laki-laki diciptakan
untuk menjadi ayah. Tujuan diciptakan suami istri sebagai keluarga
untuk melangsungkan upacara keagamaan sebagaimana ditetapkan menurut
Veda.
Dari konsep Ardhanariswari tersebut mengisyaratkan bahwa
perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki. Perempuan
dalam teologi Hindu bukanlah tanpa arti. Malahan dia dianggap sangat
berarti dan mulia sebagai dasar kebahagiaan rumah tangga. Di dalam
Yayurveda (XIV.21) dijelaskan bahwa perempuan adalah perintis, orang
yang senantiasa menganjurkan tentang pentingnya aturan dan dia sendiri
melaksanakan aturan itu. Perempuan adalah pembawa kemakmuran, kesuburan,
dan kesejahteraan, sebagaimana tertera pada Yajurveda, XIV. 21
berikut.
Murdha asi rad dhuva asi
Daruna dhartri asi dharani
Ayusa twa varcase tva krsyai tva ksemaya twa
Terjemahannya
Oh
perempuan engkau adalah perintis, cemerlang, pendukung yang memberi
makan dan menjalankan aturan-aturan seperti bumi. Kami memiliki engkau
di dalam keluarga untuk usia panjang, kecemerlangan, kemakmuran,
kesuburan pertanian, dan kesejahteraan.
Perempuan adalah ciptaan
Tuhan dalam fungsinya sebagai pradana. Ia juga disimbolkan dengan yoni,
sumber kesuburan dan kearifan. Laki-laki ciptaan Tuhan dalam fungsi
sebagai purusa yang disimbolkan dengan lingga. Oleh karena perempuan
juga, maka berbagai bentuk persembahan akan terlaksana, karena perempuan
pula ketenangan dan ketentraman akan terwujud. Oleh karena itu orang
yang ingin sejahtera seyogyanya menghormati perempuan, terlebih dalam
hari raya dengan memberinya hadiah berupa perhiasan, pakaian, dan
makanan sebagaimana tersurat dalam kutipan Manawa Dharmasastra III.59
berikut.
Tasmadetah sada pujya
Busanaccha dana sanaih
Buthi kamair narair mityam
Satkaresutsa vesu ca
Terjemahan :
Hal
yang dapat dimaknai dari uraian di atas adalah perempuan adalah mahluk
Tuhan yang memiliki kompleksitas peran dan kemuliaannya sendiri (
religius, estetis, ekonomi, maupun sosial). Sebagai makhluk religius,
dia menjadi sempurna di hadapan Tuhan, dia juga sekaligus pengatur
detail aspek-aspek kerumahtanggaan, sekaligus sebagai kasir yang jujur
untuk keluarga mereka.
Dalam konsep purusa-pradana ini, maka
pertemuan unsur Purusa dengan Pradhana menimbulkan terciptanya
kesuburan. Memuja Tuhan dalam aspeknya sebagai Purusa untuk memohon
kekuatan untuk dapat mengembangkan hidup yang bahagia secara rohaniah,
sedangkan memuja Tuhan sebagai Pradhana adalah untuk mendapatkan
kekuatan rokhani dalam membangun kehidupan jasmani yang sehat dan
makmur.
Itulah kilasan mengapa saya katakan peranan wanita sangat penting dalam kehidupan seorang umat hindu baik dia sebagai ibu maupun anak putri, karena sistem adatlah yang memberikan porsi lain bukan Hindu jadi selayaknya generasi kita sekarang lebih baik menjaga dan memberikan bimbingan tentang Hindu kepada putri dan wanita hindu termasuk kita sebagai kaum lelaki yang tidak semestinya mengabaikan kewajiban mereka terhadap leluhur. Namaste...
Om shanti shanti shanti om
Sumber referensi :
http://stitidharma.org/wanita-dalam-pandangan-hindu/
http://majalahhinduraditya.blogspot.com/2012/04/ardanareswari-dalam-hindu.html
http://stahdnj.ac.id/?p=209
http://www.scribd.com/doc/96275318/Peranan-Wanita-Dalam-Agama-Hindu