<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628</id><updated>2011-09-28T10:52:24.520-07:00</updated><title type='text'>RAMALAN dan KEBANGKITAN HINDU</title><subtitle type='html'>Kekuatan Ramalan Zaman Dulu dan Pastu merupakan awal dari Kebangkitan Hindu di Nusantara ini</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-2662358597733754942</id><published>2011-08-12T05:08:00.000-07:00</published><updated>2011-08-12T05:47:13.396-07:00</updated><title type='text'>Bagaimanakah Hindu-Bali Akan Datang</title><content type='html'>Sungguh Ironis sekali...keadaan sekarang ini terutama terutama sodara-sodara kita yang ada Di Pulau Dewata. Begitu Kompleks permasalahan yang dihadapi...hingga melakukan Upacara saja mesti harus ribut dan belum lagi Kejadian baru-baru ini Di Bangli yang membuat saya sendiri tercengang dan tertegun dan Permasalahan adat lainnya...Apakah begini sekarang ini Hindu-Bali sama sodara sendiri saling Sikat?? Hidup ini sudah sangat sulit kenapa di tambah sulit " Dalam blog ini saya pernah menulis tentang &lt;a href="http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2010/08/ada-apa-dengan-adat-dan-hindu.html"&gt;ADA APA DENGAN ADAT dan HINDU&lt;/a&gt; ? Mungkin dalam tulisan itu anda bisa menyimak dengan apa yang terjadi sekarang ini...dan apa yang saya khawatirkan itu benar-benar terjadi dimana anda bisa baca &lt;a href="http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/aspek-kelemahan-hindu-bali.html"&gt;Aspek Kelemahan Hindu-BALI&lt;/a&gt; . Sebenarnya Kita sebagai generasi penerus Hindu harus bisa berpacu dengan waktu menghadapi pertentangan adat ini...marilah kita melakukan perubahan dan bangkit untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dan kuat. Jangan hanya bisa DIAM...dan berani dengan Sodara kita sendiri Permasalahan yang serius sebenarnya udah didepan mata kita..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Serbuan Pendatang yang semakin membludak, dan tanpa ada penyelesain sehingga sodara dan nyame beraye kita jadi hengkang contoh : Denpasar mungkin kalian sudah liat..denpasar sekarang ini. Semua berubah bisa anda liat saat Galungan tidak ada sama sekali Namanya PENJOR yang dulunya begitu indah dan berderet banyak dijalan-jalan. silakan anda buktikan dan melihatnya sendiri nanti...&lt;br /&gt;2. Banyak sekali Pelecehan terhadap Hindu-Bali...mungkin bisa anda liat lewat Facebook dimana itu dilakukan tanpa ada penyelesaian.&lt;br /&gt;3. Di Jembrana sekarang ini Orang Hindu-Bali dilarang menjual Babi. WOw...ada apa dengan Jembrana??? apa terjadi disana sodaraku..kemana orang-orang kita. silakan anda pikirkan...Mengenai larangan ini saya tau melalui BALI TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak sekali permasalahan lainnya..tapi kenapa kita saling hantam sendiri dengan sodara...Lihatlah kenyataaan Hindu-Bali ini bagaimana kedepannya jika terus begini. Bangkit lah..segera lakukan perubahan dan reformasi adat dan awig-awig yang tidak sesuai dengan keadaan sekarang ini..Belum lagi sodara-sodara kita yang ada di luar...begitu banyak tekanan hingga konflik lainnya...Kita ini akan menjadi apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat umat lainnya yang diluar kita..begitu hebatnya mereka berpacu dengan keyakinannya...Kita ( Hindu-Bali ) hanya DIAM..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah Hindu-Bali akan datang?...silakan anda renungkan dan pikrikan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-2662358597733754942?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/2662358597733754942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2011/08/bagaimanakah-hindu-bali-akan-datang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2662358597733754942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2662358597733754942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2011/08/bagaimanakah-hindu-bali-akan-datang.html' title='Bagaimanakah Hindu-Bali Akan Datang'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-6847603301695786546</id><published>2010-10-05T00:17:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T00:20:55.638-07:00</updated><title type='text'>Fatwa Mengikis Kasta</title><content type='html'>AKHIRNYA apa yang disebut-sebut sebagai noda besar dalam ajaran Hindu, yakni penerapan sistem kasta, dijernihkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), majelis tertinggi umat Hindu. Lewat Pesamuhan Agung (rapat kerja nasional) yang dibuka oleh Menteri Agama Prof. Dr. Said Agil di Mataram, NTB, dua pekan lalu, Sabha Pandita PHDI mengeluarkan bhisama (fatwa) mengenai "pemahaman caturwarna" yang intinya adalah umat Hindu wajib menerapkan ajaran "caturwarna", dan bukan sistem kasta. Sabha Pandita adalahlembaga yang berhak menetapkan fatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caturwarna adalah ajaran yang menetapkan tentang fungsi seseorang dalam masyarakat Hindu. Golongan brahmana adalah pemimpin ritual keagamaan. Golongan kesatria adalah mereka yang berprofesi di bidang pemerintahan, wesya yang bergerak di bidang ekonomi, dan sudra adalah mereka yang bekerja di bidang pertanian atau perburuhan yang mengandalkan otot. Ini adalah pilihan profesi, bukan karena keturunan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di masa-masa akhir Kerajaan Bali, terjadi pemberian gelar kepada golongan-golongan itu. Misalnya, yang bekerja di kerajaan disebut Tjokorde, Gusti Ngurah, dan sebagainya. Yang menjabat raja-raja kecil disebut Anak Agung dan sebagainya, dan yang menjadi pendeta disebut Ida Bagus. Ketika penjajah masuk, gelar itu diwariskan kepada anak-anak mereka, padahal sang anak tidak menjalankan profesi sebagaimana gelar itu. Penjajah Belanda bahkan meresmikan sistem pembagian kelas itu di Bali untuk mengadu domba, dan nama kasta ini menggunakan nama yang ada dalam ajaran caturwarna, yakni brahmana, kesatria, wesya, dan sudra. Penyimpangan menjadi semakin jauh karena gelar itu diwariskan turun-temurun sehingga ada kesimpulan yang salah bahwa yang berhak menjadi pendeta hanyalah keturunan brahmana versi kasta itu. Dan ini merembet ke masalah ritual, perkawinan antar-keturunan, juga sorsinggih (kasar halusnya) berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemurnian sudah lama dilakukan. Menurut Kepala Museum Gedong Kirtya, I Gusti Bagus Sudiasta, pada 1920 sudah muncul polemik lewat penerbitan Bali Adnyana dan Surya Kanta. Bali Adnyana adalah corong yang pro-kasta, sedangkan Surya Kanta adalah kelompok yang anti-kasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketut Wiana, Wakil Ketua Sabha Walaka (kelompok pemikir) PHDI, mengatakan bahwa pemurnian ajaran caturwarna sebenarnya sudah tersirat dalam Piagam Campuhan tahun 1959, yang menjadi hari lahirnya PHDI. "Ketika itu sudah dinyatakan bahwa kesetaraan pendeta di Bali bukan berdasarkan keturunan, melainkan keahlian, dan semua penyimpangan yang dikarenakan sistem kasta dihapuskan," kata Wiana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekses kasta sebenarnya sudah mencair seirama dengan meningkatnya pendidikan dan banyaknya buku Hindu yang terbit. Bagi yang tetap mewariskan nama karena keturunan, diakui itu hanya sebatas nama, tidak lagi menentukan dalam ritual keagamaan. Belakangan ini nama-nama tersebut sudah kacau-balau, siapa pun berhak memakai nama yang dulu disebut gelar itu. Pendeta pun sudah banyak yang muncul dari keturunan yang "tidak bergelar". Belum lagi faktor ekonomi dan jabatan di pemerintahan. Yang berada "di puri" belum tentu lebih kaya dari mereka yang "di luar puri", dan ini membuat "yang bergelar" bisa saja kini jadi bawahan dari "yang tak bergelar". Ekses kasta pada umat Hindu di luar Bali bahkan sudah tidak tampak. "Karena itu, sebenarnya saya tidak setuju ada fatwa penghapusan kasta ini. Biarkan hilang dengan sendirinya," kata Putu Setia, yang gencar menerbitkan buku kesalahpahaman kasta sejak tahun 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kenapa akhirnya muncul fatwa itu? "Masih ada eksesnya di Bali, meskipun kecil. Masih ada anggapan hanya pendeta yang berasal dari keturunan tertentu saja yang punya otoritas tertinggi dalam memimpin upacara," kata Dharma Adhyaksa (pemimpin tertinggi kelompok pendeta) PHDI, Ida Pedanda Sebali Tianyar. Menurut pendeta yang baru diundang ke Amerika Serikat untuk memimpin doa mengenang tragedi WTC ini, fatwa mengenai kasta ini ditambah dengan fatwa tentang sarwa sadhaka, yang mempertegas kesetaraan pendeta Hindu di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Umum PHDI, Nyoman Suwandha, fatwa ini adalah mandat dari Mahasabha PHDI tahun lalu. Ketika itu muncul pendapat supaya penyimpangan kasta ini dibuatkan keputusan formalnya. "Bukan untuk umat Hindu saja, tetapi juga untuk umat non-Hindu yang selama ini selalu menuduh umat Hindu menerapkan sistem kasta," kata mantan Wakil Jaksa Agung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan terakhir ini membuat Putu Setia, mantan Ketua Forum Cendekiawan Hindu yang kini memimpin LSM Hindu, berbalik setuju adanya fatwa tentang kasta. Masih banyak beredar buku pelajaran sejarah dan kebudayaan yang menyebutkan Hindu menerapkan kasta. "Beberapa ormas pemuda dan mahasiswa Hindu menginginkan ada fatwa formal soal itu supaya punya keberanian yang lebih besar untuk melakukan protes. Karena itu, saya setuju fatwa ini dan ikut terbang ke Lombok untuk merumuskannya," kata Putu Setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hanya untuk formal saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Made Mustika (Mataram) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2002/11/11/AG/mbm.20021111.AG82353.id.html"&gt;TEMPO&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-6847603301695786546?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/6847603301695786546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2010/10/fatwa-mengikis-kasta_05.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/6847603301695786546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/6847603301695786546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2010/10/fatwa-mengikis-kasta_05.html' title='Fatwa Mengikis Kasta'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-2970517549764594732</id><published>2010-08-02T23:07:00.001-07:00</published><updated>2010-10-05T00:26:38.287-07:00</updated><title type='text'>ADA APA DENGAN ADAT dan HINDU ?</title><content type='html'>Disini saya  mengatakan ADA APA DENGAN HINDU???? Saya lihat banyak sekali kejadian-kejadian yang bisa membuat warga Hindu dan genarasi penerus kita menjadi tercengang dan terheran-heran dengan ADAT dan BANJAR,,,sampai segitukah silakan anda baca ini&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.indosiar.com/fokus/49024/bentrokan-saat-penguburan-mayat-di-bali"&gt;Bentrokan Saat Penguburan Mayat di Bali &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;itu merupakan salah satu penerapan awig-awig yang tidak disesuaikan dengan zaman sekarang ini. tapi alangkah tragisnya hal itu. Bagaimanakah Kita nanti jika ini terus diterapkan!!?? Salah satu pemicu kenapa itu bisa terjadi berdasarkan awig-awig silakan anda baca  ini&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.cybertokoh.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=570&amp;amp;Itemid=95"&gt;Tidak Boleh Kuburkan Jenazah Sanksi yang sangat Berat &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika anda sudah membaca kedua hal tersebut mari kita renungkan bersama-sama....,, Marilah sodara-sodaraku Sedharma Bangkitlah...ini zaman sudah beda dengan yang dulu, kasian Generasi penerus kita nantinya...mereka hanya tau Nak Mule Keto...!! Kapan kita bisa belajar untuk Maju jika terus begini..maka Abis lahh generasi kita akan hengkang menuju yang lain,, dengan prinsip "mati aja kita susah apalagi hidup". Ini merupakan suatu Realita yang terjadi Di BALI yang merupakan salah satu Kelemahan dasar kita yang sudah pernah saya bahas disini&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/aspek-kelemahan-hindu-bali.html"&gt;ASPEK KELEMAHAN HINDU-BALI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan...ini menjadi salah satu pembelajaran Bagi kita semua terutama pemuda-pemudi hindu dengan ini kita bisa bersikap untuk bisa menjadi HINDU yang Sejati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-2970517549764594732?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/2970517549764594732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2010/08/ada-apa-dengan-adat-dan-hindu.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2970517549764594732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2970517549764594732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2010/08/ada-apa-dengan-adat-dan-hindu.html' title='ADA APA DENGAN ADAT dan HINDU ?'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-5394149366924197549</id><published>2009-11-30T21:47:00.000-08:00</published><updated>2010-09-08T23:02:20.197-07:00</updated><title type='text'>KETIDAK PAHAMAN TENTANG HINDU</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenapa kali ini saya memberikan tentang Ketidak Pahaman Tentang Hindu, dimana banyak sekali orang maupun umat lain memberikan komentar negatif tentang HINDU selama ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kecil karena saya dulu SD berada di luar daerah sering sekali saya di olok-olok oleh temen-temen muslim bahwa saya di bilang menyembah patung, waktu saya hanya diam saja tapi berkali-kali sudah akhirnya saya nggak tahan dan berantem dengan mereka. itulah salah satu kisah saya sebagai HINDU yang berada di luar Bali. Masih banyak sekali hal-hal lainnya,,,hingga akhirnya ini menjadi salah satu topik media &lt;a href="http://www.facebook.com/pages/DenpasarBali/HINDU-BALI/99393884544"&gt;FaceBOOK HINDU-BALI&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Sungguh Ironis sekali HINDU sekarang ini dimana banyak muda-mudi kita belum menyadarinya bagaimana sesungguhnya yang terjadi, begitu banyak tekanan pihak-pihak luar yang menginginkan umat kita berpindah dari H ke I atau K. Jadi Pahamilah dan perdalam terus serta tingkatkan rasa bersodara dan persatuan kita dalam HINDU. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;/code&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan mereka selalu menganggap kita sepele ataupun minoritas buktikan kita mampu untuk itu...Jadi Bangkit dan Bangkit HINDU-KU. Banyak hal yang semestinya kita perlu reformasi baik Hindu dan ADAT nya. Dengan begitu Kenyamanan dan rasa ikatan bersodara kita menjadi lebih kuat, karena itu kita saat ini sedang menunggu dan diam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;...untuk BANGKIT...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu pertanyaan yang mungkin sodara-sodara tahu terutama yang berada di luar bali mungkin pertanyaan ini sudah menjadi sarapan pagi mereka. untuk itu maka saya berusaha untuk bisa memberikan tanggapan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;INILAH PERTANYAAN YANG SANGAT SEDERHANA TAPI MENDALAM...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hindu dikatakan produsen sampah terbesar&lt;br /&gt;2. Hindu dikatakan menghambur-hamburkan uang dalam upacara agama...&lt;br /&gt;3. Hindu dikatakan menyembah patung atau batu.&lt;br /&gt;4. Kenapa kita harus bangga sebagai orang hindu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anda bagaimana???&lt;br /&gt;Dari pertanyaan tersebut bukan jawaban yang sebenarnya kita cari tapi solusi untuk bisa menjadi lebih baik untuk di masa yang akan datang bagi penerus generasi HINDU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.JAWABANNYA HANYA PADA DIRI ANDA..KENAPA? SAMPAH YANG BIKIN MANUSIA BUKAN AGAMA JADI BERETIKALAH KARENA MELAKUKAN YADNYA BUKANLAH UNTUK PERSEMBAHAN SAJA TAPI KEBERSIHAN DIRI DAN LINGKUNGAN...JADI ABIS SEMBAHYANG ATAU MELAKUKAN UPACARA YADNYA KITA MESTINYA MENJAGA KEBERSIHAN JGN DI TELANTARKAN BEGITU SAJA..WALAUPUN DI PURA-PURA ADA SAYE ATAU YANG NGAYAH MELAKUKAN KEBERSIHAN TAPI KITA SENDIRI MESTI SADAR AKAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. MEMANG BENAR MENGHAMBURKAN UANG SAMPAI-SAMPAI MESTI MENJUAL WARISAN UNTUK MELAKUKAN UPACARA-UPACARA YADNYA...INI KENYATAAN KOK, TAPI SEKARANG ADA SOLUSI YADNYA YANG TELAH BERJALAN SANGAT BAIK CONTOH: ADANYA NGABEN MASAL YANG BIAYANYA SANGAT MURAH..&lt;br /&gt;JADI NGGA PERLU HARUS BIAYA BANYAK UNTUK BANTEN DAN SEGALANYA...KARENA YANG PALING BANYAK MENGHABISKAN BIAYA ADALAH MANUSIANYA BUKAN HINDU, KARENA APA? LIAT AJA KALO ADA UPCARA PASTI MISI NGELAWAR, NGULING DAN LAIN-LAIN INI YANG BANYAK MAKAN BIAYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. iNI DULU SAMPAI SEKARANG UMAT LAIN MENGANGGAP KITA SEPERTI ITU, KARENA MEREKA TIDAK MEMAHAMINYA!&lt;br /&gt;ITU SALAH SEKALI MENGATAKAN BAHWA HINDU MENYEMBAH PATUNG TAPI MANUSIANNYA..., JADI MESTINYA KITA SENDIRI YANG MESTINYA LEBIH BELAJAR DAN MEMAHAMI HINDU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.BANGGA...ADALAH SUATU ARTI KESOMBONGAN DALAM HINDU KITA MENGENAL SADRIPU YANG MERUPAKAN MUSUH YANG ADA DALAM DIRI MANUSIA...&lt;br /&gt;HINDU TIDAK PERNAH MERASA BANGGA WALAUPUN MERUPAKAN AGAMA YANG BUDI LUHUR TAPI MANUSIANYA LAH YANG MESTINYA BISA MENEMPATKAN DIRI SEBAGAI SEORANG HINDU YANG SEJATI...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan dari ini kita bisa menjadi lebih sadar dan memahami Hindu yang sesungguhnya...  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;/div&gt; &lt;/code&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-5394149366924197549?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/5394149366924197549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/11/ketidak-pahaman-tentang-hindu.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/5394149366924197549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/5394149366924197549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/11/ketidak-pahaman-tentang-hindu.html' title='KETIDAK PAHAMAN TENTANG HINDU'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-377269634695823728</id><published>2009-11-10T21:16:00.000-08:00</published><updated>2010-09-08T23:00:34.062-07:00</updated><title type='text'>Arti Filosofi Dewa Ganesha</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SvpJibth0lI/AAAAAAAAAJI/zVhtaleGIp0/s1600-h/ganesha_symbolism.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 268px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SvpJibth0lI/AAAAAAAAAJI/zVhtaleGIp0/s320/ganesha_symbolism.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402711558887428690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?p=36087382&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganesha merupakan Dewa Ilmu Pengetahuan yang mempunyai tangan empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganesha memiliki banyak gelar, termasuk Ganapati dan Wigneswara. Setiap nama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek karakter dari Ganesha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Ganesha adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta, terdiri dari kata Gana, berarti kelompok, orang banyak, atau sistem pengelompokan, dan Isha, berarti penguasa atau pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;/code&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ganesha digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. Ganesha memiliki empat lengan, yang merupakan penggambaran utama tentangnya. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa cawan berisi manisan, yang ia hisap dengan belalainya, pada tangan kiri bawah.&lt;br /&gt;Dua tangan berikutnya, Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak pada tangan sebelah atas dan sebuah tasbih pada tangan atas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut arti perlambang yang ada pada Ganesha:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasbih : Lambang Pengetahuan yang tiada putusnya; Lambang Kebijaksanaan &amp;amp; Pengetahuan Spiritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapak : Lambang Penghancur Rintangan dan Halangan; Lambang Sifat Ksatria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gading (yang dipatahkan) : Lambang pengorbanan diri untuk menyelesaikan masalah yang merintangi kemajuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selendang Ular yang merambat ke atas : Lambang Kekuatan yang luar biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cawan berisi memanisan yang dihisap oleh belalai : Lambang Manis/Kesenangan yang diperoleh setelah menghalau halangan dan rintangan; Lambang Sumber Ilmu Pengetahuan yang tiada habisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga Teratai/Buku : Lambang Ilmu Pengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganesha, sosok Dewa berbadan gemuk dan berkepala gajah ini sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ganesha menjadi ikon/simbol lembaga-lembaga penting, sekolah-sekolah, atau pusat studi sebagai simbol ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;Ganesha telah menjadi begitu populer, dan kepopulerannya tidak hanya pada kalangan Hindu, tetapi telah merambah dunia secara keseluruhan. Seluruh umat, dari Hindu, Islam, Kristen, hingga Budha melihat Ganesha sebagai sosok mahluk lucu dan unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganesha memiliki kepala yang besar dengan dua telinga besar dan mata yang sipit. Kepala besar melambangkan kita sebagai manusia seharusnya lebih banyak menggunakan akal daripada fisik dalam memecahkan masalah.&lt;br /&gt;Sedangkan mata yang sipit berarti konsentrasi. Pikiran harus diarahkan ke hal-hal positif untuk memperbaiki daya nalar dan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganesha juga memiliki dua telinga besar yang mengajarkan supaya kita mendengarkan orang lain lebih banyak. Kita selalu mendengar, tetapi jarang sekali kita mendengarkan orang lain dengan baik: "Dengarkan ucapan-ucapan yang membersihkan jiwa dan seraplah pengetahuan dengan telingamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganesha mematahkan satu gadingnya untuk menggurat Kitab Suci di atas daun tal. Satu gading berarti kesatuan. Simbol ini menyarankan manusia hendaknya bersatu untuk satu tujuan mulia &amp;amp; suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, Ganesha juga memiliki mulut yang kecil dan hampir tidak kelihatan karena tertutup belalainya yang dengan rakus ”menghirup rasa” manisan susu ilmu di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut yang kecil itu mengajarkan agar kita mengontrol gerak mulut dan lidah. Maksudnya adalah bahwa kita harus mengurangi pembicaraan yang tidak-tidak. Sementara belalai yang menjulur melambangkan efisiensi dan adaptasi yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih ke badan Ganesha yang besar:&lt;br /&gt;Hal pertama yang kita lihat pastilah perutnya, karena perut itu memang buncit. Ganesha memang selalu dimanja oleh ibu Parvati, istri Siva sebagai anak kesayangan. Perut buncit melambangkan keseimbangan dalam menerima baik-buruknya gejolak dunia. Dunia diliputi oleh sesuatu yang berpasangan, yakni pasangan dua hal yang bertolak belakang. Ada senang, ada pula sedih. Ada siang, ada pula malam.&lt;br /&gt;Ada wajah suram kesedihan di balik tawa riang kita. Dan sebaliknya, ada keriangan dan semangat dibalik kesenduan kita. Itulah hidup, dan kita harus menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol Ganesha memegang sebilah kapak. Kapak berarti menumpas segala halangan dalam karya. Sementara itu, di tangan kiri Ganesha terdapat semangkuk manisan susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, ada seekor tikus yang selalu berada di dekat Ganesha. Tikus, seperti sifat hewan aslinya, adalah hewan yang penuh nafsu mengigit. Ia memakan apa saja untuk memenuhi hasrat perutnya. Demikianlah tikus dijadikan lambang nafsu dalam figur Ganesha. Lalu mengapa tikus itu menjadi tunggangan Ganesha yang berbadan berat &amp;amp; tinggi ini?&lt;br /&gt;Tikus, atau nafsu harus ditundukkan. Kita harus bisa menjadikan nafsu sebagai kendaraan sehingga kita dapat mengendalikannya, namun banyak manusia kini menjadi kendaraan dari nafsunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Analisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kepala gajah : bentuk kepala gajah mewakili dari sebuah pemikiran yang cerdas atau otak yang besar dalam terjemahan gampangan nya, sebab dalam penggambarannya sesuatu yang besar digambarkannya biasanya sangat berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telinga gajah : telinga gajah berarti peka terhadap semua informasi artinya dapat menyerap semua informasi terlepas benar atau salah nya informasi tersebut, telinga yang lebar menggambarkan penyerapan informasi dari khalayak umum (dari semua sisi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata gajah : mata gajah yang terlihat sempit atau menyipit melambangkan penuh perhatian pada segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidung gajah : melambangkan kemampuan memprediksi jauh kedepan sebab kan kalo punya belalai panjang kalo mencium bau sesuatu kan ga perlu sampai jongkok atau mengerakkan bandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbadan gemuk : artinya memilki data yang cukup buaaaanyak sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kebanyakan yang digunakan sebagai lambang kecerdasan yang lebih umum seperti bentuk patung yang berada di candi prambanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah digambar tersebut belalai/hidung arca ganesha menjuntai kearah mangkok disebelah kiri yang berisi kosong (versi Indonesia)….. dapat di artikan sebagai berikut, memprediksikan sesuatu hal dengan pertimbangan logika yang matang dan terperinci secara jelas, sehingga ketika sebuah alasan atau sebuah prediksi disampaikan dapat diterima dengan gamblang oleh semua pihak…. Hlo artinya koq bisa gitu? dari mana itu koq langsung keluar arti seperti itu? Hidung gajah kan udah diterangkan di atas, kemudian menjulur ke sebalah kiri artinya mendulukan pemikiran sebelah kiri (otak kiri) mangkok kosong mengartikan memperediksikan sebuah hal yang merupakan kewajibannya (soalnya kan di genggam ama tangan arca ganesha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertangan empat, yang atu kan pegang mangkok…. Jadi tinggal tiga yang pegang tiga macam barang…. yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasbih : menyiratkan mempelajari segala hal harus berurutan.&lt;br /&gt;Kapak : mengartikan sebuah senjata multi fungsi disamping bisa digunakan untuk membela diri, bisa diartikan menjadi pimpinan (kan jaman dulu kapak dianggap sebagai simbul dari senjata tetua kelompok), atau berfungsi dapat memprediksikan atau meramalkan keadaan alam sehingga dapat menyelaraskan diri dengan alam ( fungsi kapak juga dapat diartikan sebagai alat pembelah kayu, hla kayu kan produk alam)&lt;br /&gt;Gading : senjata alami yang berasal dari tubuh gajah, artinya dapat menguasai aspek aspek terpenting dari tubuh manusia sehingga bisa digunakan untuk mempersenjatai diri nya secara alamiah/ tanpa bantuan dari alat diluar tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berwahana/berkendaraan tikus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan gede naik tikus ga penyet tuh? Ya jangan diliat simbul gambar dengan analogi seperti itu dong ya jelas ga nyambung , di berbagai site banyak menerangkan tentang wahana tikus tunggangan dari Ganesha, tetapi kalo saya pikir pikir kadang buaaaanyak yang lepas dari konteks menerangkan arca Ganesha sebagai lambang kecerdasan, sebab kalo saya liat tikus dan kelakuan tikus yang sering berseliweran disekitar rumah, konteks arti tikus lebih merujuk kepada sifat tikus tersebut, apa to sifat tikus itu? Pertama dia bisa masuk pada setiap celah rumah, kemudian dia pandai bersembunyi, trus kalo diburu kalo ga dipukul/ditembak dikepala nya tikus mah lama matinya, mempunyai kecepatan dalam mengembangkan diri (beranak pinak gitu) trus berpenciuman tajam (abis kalo dirumah kadang kalo makanan nya dikasih racun yang berbau si tukus ga mau makan) trus suka mengintai di tempat yang tersembunyi…… nah kalo diliat dari kelakuan nya seperti itu aja (sebab sifat nya yang njengkelin masih teramuat buanyauuuak) maka tikus bisa diasumsikan sebagai mata mata ulung nan cerdik, nah jadi yambungkan kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelaslah bahwa sebuah kecerdasan multi harus lah selalu mempunyai mata mata yang ulung dan cerdik…. Seperti gambaran arca ganesha berwahanakan tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya mungkin pengartian saya tentang arca Ganesha kelewat ngawur dan serampangan, tapi bila diartikan demikian lebih jelas maknanya ketika sebuah lambang kecerdasan dilambangkan sebagai arca Ganesha…. Dan mungkin hal itu yang diwariskan para leluhur ketika mengatakan “lihatlah arca Ganesha, itu adalah lambang dari kecerdasan….”  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;/div&gt; &lt;/code&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-377269634695823728?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/377269634695823728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/11/arti-filosofi-dewa-ganesha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/377269634695823728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/377269634695823728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/11/arti-filosofi-dewa-ganesha.html' title='Arti Filosofi Dewa Ganesha'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SvpJibth0lI/AAAAAAAAAJI/zVhtaleGIp0/s72-c/ganesha_symbolism.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-8023692359107680536</id><published>2009-11-07T23:53:00.000-08:00</published><updated>2010-09-08T22:59:17.804-07:00</updated><title type='text'>HINDU MENJAWAB</title><content type='html'>Om swastiastu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda menonton salah satu tayangan media elektronik yang acaranya sangat membuat kita sebagai umat HINDU merasa geram...&lt;br /&gt;jika belum silahkan anda baca disini &lt;a href="http://www.cyberdharma.net/v2/index.php/component/content/article/19-milis-hot/403-pelecehan-hindu-di-trans-tv.html"&gt;Pelecahan Hindu Di Trans TV&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pendapat anda tentang itu sebagai generasi penerus Hindu yang akan datang??&lt;br /&gt;akan terus begini kah kita (HINDU)?&lt;br /&gt;Sungguh suatu tayangan yang amat saya sesalkan sekali...karena hal itu bisa membuat kita kecewa dan sakit..&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;/code&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam grup &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1744313024&amp;amp;ref=profile#/pages/DenpasarBali/HINDU-BALI/99393884544?ref=mf"&gt;Facebook Hindu-BAli&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; hal ini menjadi salah satu topik hangat...,&lt;br /&gt;Begitu ada kasus KPK VS POLRI  semua orang termasuk Hindu-BALI jek uyut dan memberanikan diri untuk maju serta memberikan dukungannya..,KENAPA diwaktu HINDU dilecehkan Semua bungkam dan diam, sing ade ma'ang komentar ataupun merasa keberatan..weeeeeee....dimana rasa cinta dan bakti kita terhadap Agama Hindu..!!! bukan bermaksud untuk memanasi tapi ini kenyataan kita sebagai generasi penerus untuk membela HINDU...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai dan Kasih merupakan ajaran HINDU yang sangat saya kagumi...tapi membela Dharma adalah suatu yang sangat penting...&lt;br /&gt;MAHABRATA hingga BRATAYUDHA terjadi karena Pandawa selalu di hina dan di lecehkan, hingga akhirnya bangkit untuk melawan ADHARMA, walaupun ada keraguan untuk itu!! tapi SRI KRESNA memberikan wejangan-wejangan yang sekarang menjadi KITAB Bhegawadgita,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita Bangkit bukan untuk melakukan Anarkisme tapi kita lakukan dengan Cinta Damai dan katakan bahwa Hindu itu ada..Jangan Hanya Diam...seperti sekarang!! Dimana hanya Ribut untuk kepentingan diri sendiri..Sengketa tanah, tajen, dan lain-lain. Mana rasa Persatuan dan bersaudara kita sebagai generasi HINDU....&lt;br /&gt;BANGKIT ....BANGKIT....BANGKIT.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana PHDI ? Mana BArisan Muda HINDU ? Paling tidak memberikan suatu arti untuk hindu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah salah satu comment Sodara kita melalu FB Hindu-Bali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nyoman Sukadana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Om Swastyastu,&lt;br /&gt;Belajarlah mengambil hal "Positif" dari setiap kejadian, seperti : Claim malaysia terhadap Batik, dll mengakibatkan kita terjaga dan menjaga harta kita itu. Dalam kasus ini kita juga lakukan hal yang sama :&lt;br /&gt;1. Kedalam : Jangan sampai dugaan orang benar bahwa kita seperti yang mereka kira, jadi kuatkan "Jatidiri ke-Hinduan kita".&lt;br /&gt;2. Keluar : Dengan kasus ini kita jadi ada alasan (ada media) untuk menjelaskan disebabkan orang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti , jadi yang harus bergerak adalah PHDI Pusat. Lakukan klarifikasi dulu kemudian dijelaskan dengan cara yang santun, biarkan orang lain seperti itu kita jangan meniru hal yang negatif... Baca Selengkapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sekedar tambahan, percayalah : Hindu tidak akan bisa dilecehkan karena agama itu Suci, tetapi manusia bisa dilecehkan maka agar tetap tenang dan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Santih Santih Santhi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yasa Ajjah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sudahlah qt tdk usah memperdulikn org yg tdk mengerti agama qt...mrk toe idup dibwh kemunafikn semua...biarkn ida bethara yg melinggih disana yg akan memberikn karma yg setimpal...ssh idup dinegara yg mayoritas tdk menghargai yg minoritas...qt tdk usah iktn sikaf jelek kyk mrk,krn qt bkn mrk qt hindu yg sllu bersikaf damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aris Godel Umbara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;saya rasa mereka kurang memahami Hindu, apa tujuan hindu menggunakan,kembang,sesaji,dupa..bahwa itu hanyalah ungkapan terima kasih &amp;amp; cinta bakti kita pada Tuhan lewat jalan Bhakti Yoga...sudah semstinya PHDI &amp;amp; lembaga komponen hindu yg lain,mengambil tindakan yang di anggap perlu kepada pihak TRANS TV, supaya nantinya di harapkan kejadian seperti ini tdk terulang lagi..karena dpt merusak serta memicu SARA antar umat beragama...Satyam Eva Jayate...kebenaran pasti akan menang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah dan Baca serta renungi kejadian demi kejadian dimana HINDU terus disudutkan..Bangkitlah demi Generasi HINDU kita untuk memulai awal dari Kebangkitan HINDU dimasa datang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om shanti shanti shanti om... &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/code&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-8023692359107680536?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/8023692359107680536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/11/hindu-menjawab.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/8023692359107680536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/8023692359107680536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/11/hindu-menjawab.html' title='HINDU MENJAWAB'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-1061110954383817235</id><published>2009-10-13T21:28:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T22:58:25.395-07:00</updated><title type='text'>SABDO PALON NOYO GENGGONG</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sabdo berarti kata-kata, palon kayu pengancing kandang, noyo pandangan, genggong langgeng tidak berubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman Hidup Abadi di Tanah Jawa&lt;br /&gt;Dari Blog : &lt;a href="http://natashapratimaasti.blogspot.com/2008/12/sabdo-palon-noyo-genggong-sabdo-berarti.html?showComment=1255494423568#c1511930074754763183"&gt;NatashaPratimaAsti&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini di ceritakan Bagaimana Prabu Brawijaya , Sunan Kalijaga dan SABDO PALON...&lt;br /&gt;Sebuah awal...akan di mulainya Kehancuran Jawa yang akan datang...yang sekarang sudah mulai terbukti kebenarannya...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;/code&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prabu Brawijaya melarikan diri ke Bali(Klungkung) setelah Majapahit jatuh di tangan Raden Patah anaknya sendiri yang sudah masuk Islam sekarang sudah sampai di Blambangan. Akhirnya Sunan Kalijaga berhasil menemui beliau dan terjadilah percakapan ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sunan Kalijaga:&lt;/span&gt; kini putra paduka ingat bahwa paduka lolos dari istana dan tidak keruan tinggal dimana. Paduka dimohon kembali ke Majapahit, tetaplah menjadi raja, dijunjung para punggawa, menjadi pusaka dan pedoman yang dijunjung tinggi anak cucu dan para sanak saudara, dihormati dan dimintai restu keselamatan semua di bumi. Apabila paduka berkenan memegang tahta lagi, paduka ingin tinggal di gunung mana paduka tinggal, putra paduka memberi busana dan makanan untuk paduka, tetapi mohon pusaka kraton di tanah Jawa, diminta dengan tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya berkata:&lt;/span&gt; aku muak bicara dengan santri mereka bicara dengan mata tujuh, lamis semua, maka blero matanya. Menunduk dimuka tetapi memukul dibelakang. Kata-katanya hanya manis dibibir, batinnya meraup pasir ditaburkan ke mata , agar buta mataku ini. Dulu-dulu aku beri hati, tapi balasannya seperti kenyung buntut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sunan Kalijaga:&lt;/span&gt; apabila prabu tidak bersedia mengikuti saranku lebih baik bunuh saja hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; Sahid duduklah dulu kupikir baik-baik kupertimbangkan saranmu, benar dan salahnya, baik dan buruknya, karena aku khawatir omongmu itu bohong saja. Seumpama aku ke Majapahit Si Patah bencinya tidak sembuh punya ayah Buda kawak kafir kufur, kemudian aku ditangkap, dikebiri, disuruh menunggu pintu belakang, pagi sore dibokongi sembahyang, apabila tidak tahu kemudian dicuci di kolam digosok dengan ilalang kering. Coba pikirlah Sahid alangkah sedih hatiku orang sudah tua renta,lemah tak berdaya kok akan direndam dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sunan Kalijaga:&lt;/span&gt; mustahil jika demikian besok hamba yang tanggung, tidak mungkin putra paduka berlaku demikian. Akan halnya masalah agama hanya terserah sekehendak paduka, namum lebih baik paduka berkenan berganti syarat Rasul dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu tetap kafir namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi percakapan Teologi dan Sunan Kalijaga berbicara banyak-banyak agar Prabu Brawijaya berkenan pindah agama, jika paduka memeluk Islam, manusia Jawa tentu kemudian Islam semua, setelah itu prabu Brawijaya mengucapkan kalimat syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu minta potong rambut, tetapi belum lahir bathin rambut paduka belum bisa terpotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah potong rambut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya&lt;/span&gt;: kamu berdua kuberi tahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buda dan memeluk agama Islam. Kalau kalian mau, kalian akan kuajak pindah agama Rasul dan meninggalkan agama Buda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabdo Palon:&lt;/span&gt; hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai darileluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun-temurun sampai sekarang. Hamba mengasuh penurun raja-raja Jawa. Hamba tidak tidur sampai 200 tahun. Selama tidur hamba selalu ada perang saudara, manusia yang nakal membunuh bangsanya sendiri, sampai sekarang umur hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama menepati agama Buda. Baru paduka berani meninggalkan pedoman leluhur Jawa. Jawa artinya tahu. Mau menerima berarti Jawan. Kalu hanya ikut-ikutan akan membuat celaka muksa paduka kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halilintar bersahutan menyambut perkataan Wikutama (Sabdo Palon). Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata karena mau masuk agama Islam, yaitu dengan perwujudan keadaan dunia ditambah tiga hal: (1). rumput jawan (2) padi Randanunut dan (3) padi Mriyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; bagaimana niatmu, mau apa tidak meninggalkan agama Buda masuk agama Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabda Palon:&lt;/span&gt; paduka masuklah sendiri. Hamba tidak tega melihat watak sia-sia, seperti manusia Arab itu. Menginjak-injak hukum, menginjak-injak tatanan. Jika hamba pindah agama pasti akan celaka muksa hamba kelak. Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam semua memuji diri sendiri. Mati yang utama itu sewu satus telung puluh . Artinya satus itu putus, telu itu tilas, puluh itu pulih, wujud kembali, wujudnya rusak, tetapi yang rusak berasal dari ruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; ”ciptaku menempel pada orang-orang yang lebih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabdo Palon:&lt;/span&gt; itu manusia tersesat, seperti kemladeyan menempel di pohon besar, tidakpunya kemuliaan sendiri hanya numpang. Itu bukan mati yang utama. Tapi matinya manusia nista, sukanya menempel, ikut-ikutan, tidak memiliki sendiri, jika diusir gentayangan menjadi kuntilanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; aku akan kembali kepada suwung, kekosongan, ketika aku belum maujud apa-apa, demikianlah tujuan matiku kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabda Palon:&lt;/span&gt; itu matinya manusia tidak berguna, ketika hidupnya seperti hewan, hanya makan, minum dan tidur. Demikian hidupbisa gemuk kaya daging. Penting minum dan kencing saja, hilang hidup dalam mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; aku menunggui tempat kubur, apabila sudah hancur luluh menjadi abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabdo Palon: &lt;/span&gt;itulah matinya orang bodoh, menjadisetan kuburan, menunggui daging di kuburan, daging sudah luluh menjadi tanah, tidak mengerti ruh baru. Itu manusia bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; aku akan muksah dengan ragaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabdo Palon:&lt;/span&gt; kalau orang Islam terang tidak bisa muksa, tidak mampu meringkas makan badannya, gemuk kebanyakan daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya&lt;/span&gt;: aku tidak punya kehendak apa-apa, tidak bisa memilih, terserah Yang Maha Kuasa. Dimanakah Tuhan Yang Sejati ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabdo Palon:&lt;/span&gt; tidak jauh tidak dekat, paduka bayangannya sendiri. Paduka wujud sifat sukma. Sejatinya tinggal budi, hawa, dan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; apa kamu tidak mau masuk agama Islam ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabdo Palon:&lt;/span&gt; ikut agama lama, kepada agama baru tidak !. kenapa paduka berganti agama tidak bertanya kepada hamba ? Apakah paduka lupa nama hamba Sabdo Palon ?. Sabdo atinya kata-kata, Palon kayu pengancing kandang. Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi bicara hamba itu bisa untuk pedoman orang tanah Jawa, langgeng selamanya. Sungguh jika sudah berganti agama Islam,meninggalkan agama Buda, keturunan paduka akan celaka, Jawa tinggal jawan, artinya hilang, suka ikut bangsa lain. Paduka besok saksikan banyak manusia sua menipu, berani bertindak nista, dan suka bersumpah. Besok setelah bertaubat ingat kepada agama Buda lagi dan kemudian mau makan buah pengetahuan, Dewa kemudian memaafkan, hujan kembali seperti jaman Buda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; aku menyesal masuk Islam dan meninggalkan agama Buda. Ia masuk agama Islam karena istrinya putri Cempa yang mengatakan orang agama Islam itu kelak apabila mati akan masuk surga yang melebihi surganya orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabdo Palon:&lt;/span&gt; sejak jaman kuna, bila laki-laki menurut perempuan, pasti sengsara, karena perempuan itu utamanya untuk wadah, tidak berwenang mulai kehendak. Aku akan memisahkan diri dengan paduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; kamu cela tanpa guna, karena sudah terlanjur, sekarang hanya kamu yang kutanya,masih tetapkah tekadmu? Aku masuk agama Islam disaksikan oleh Si Sahid, sudah tidak bisa kembali lagi ke agama Buda. Kamu mau pergi kemana ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabdo Palon:&lt;/span&gt; tidak pergi, tetapi tidak berada di situ, hanya menepati yang namanya Semar, artinya melingkupi sekalian wujud, anglela kalingan padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prabu Brawijaya:&lt;/span&gt; ”Aku bersumpah besok apabila ada orang Jawa tua, berpengetahuan, yaitulah yang akan diasuh Sabdo Palon. Orang tua itu akan diajari benar salah”. Besok gantilah Negara Blambangan dengan nama Negara Banyuwangi agar menjadi pertanda kembalinya Sabdo Palon ke tanah Jawa membawa asuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meninggal Prabu Brawijaya, Raden Patah datang ke kubur ayahnya sendiri terdengar suara yang memekikkan telinga ”Habis cinta kasihku kepada anak enakanlah makan dan tidur. Ada gajah digertak seperti kucing, walaupun mati wujudku, tetapi ingatlah besok, apabila sudah agama Kawruh, besok akan ku balas. Kuajari tahu benar dan salah, cara memangku kerajaan, makan babi seperti jaman Majapahit”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Kalijaga diampuni oleh Allah, dengan pasemon adanya orang-orang yang punggungnya sampai ke punuk disisipi tatal kayu jati. Maksudnya punukmu panakna, ilmu sejati itu tidak usah berguru kepada orang Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat SEJARAH diatas yang merupakan kupasan dari SABDA PALON..kita sebagai generasi penerus Hindu harus mempunyai keyakinan teguh dalam berpikir, berkata dan berbuat..., kita mesti lebih baik dan berbudi serta berani dalam segala tindakan kita yang benar...untuk itu Bangkitlah teman-teman, sodara-sodara - ku....jangan biarkan kita larut dalam kebisuan..mesti bangkit sebagai generasi HINDU dan Berani melawan ke tidak adilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Merupakan awal proses Kita di masa depan untuk menghadapi kenyataan yang akan datang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dikutif dari  Buku Ramalan Ghaib Sabdo Palon Noyo Genggong&lt;br /&gt;Dimuat di Media Hindu Nopember 2008 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;/div&gt; &lt;/code&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-1061110954383817235?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/1061110954383817235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/10/sabdo-palon-noyo-genggong.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/1061110954383817235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/1061110954383817235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/10/sabdo-palon-noyo-genggong.html' title='SABDO PALON NOYO GENGGONG'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-5788925828668957835</id><published>2009-10-02T22:49:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T22:56:55.285-07:00</updated><title type='text'>PENYEBARAN AGAMA LANGIT DI NUSANTARA</title><content type='html'>Sumber : &lt;a href="http://www.indonesi%20a.faithfreedom.%20org/forum/%20viewtopic.%20php?t=4737%20"&gt;www.indonesi a.faithfreedom. org/forum/ viewtopic. php?t=4737 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tuanku Rao: Teror Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak&lt;br /&gt;oleh: Batara R. Hutagalung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kah anda mendengar AJARAN LANGIT dan AJARAN BUMI...???&lt;br /&gt;jika sudah tau kami tidak memberikan penjelasan lagi tapi kalo yang belum silakan baca ini &lt;a href="http://www.kikil.org/forum/Thread-agama-langit-dan-agama-bumi-sebuah-dikotomi"&gt;Agama Langit dan Agama Bumi: Sebuah Dikotomi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsbvZWDpQrI/AAAAAAAAAHg/MSdxrJ4p8v4/s1600-h/index.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 141px; height: 94px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsbvZWDpQrI/AAAAAAAAAHg/MSdxrJ4p8v4/s320/index.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388257222892012210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;/code&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ini lah Sejarahnya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di&lt;br /&gt;Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari&lt;br /&gt;kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini&lt;br /&gt;adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara&lt;br /&gt;kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia&lt;br /&gt;Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut&lt;br /&gt;masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa&lt;br /&gt;budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis ibu),&lt;br /&gt;yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya&lt;br /&gt;agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh&lt;br /&gt;pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang&lt;br /&gt;ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan&lt;br /&gt;antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik&lt;br /&gt;bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum adat&lt;br /&gt;meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka&lt;br /&gt;pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 1833.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan hanya&lt;br /&gt;berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang&lt;br /&gt;Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 - 1820 dan kemudian&lt;br /&gt;mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan di&lt;br /&gt;beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain agama&lt;br /&gt;asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk setempat&lt;br /&gt;sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang&lt;br /&gt;dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat&lt;br /&gt;yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat&lt;br /&gt;agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri&lt;br /&gt;sampai Malaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan marga&lt;br /&gt;Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil&lt;br /&gt;incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga&lt;br /&gt;Singamangaraja X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar sering&lt;br /&gt;melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain,&lt;br /&gt;sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba&lt;br /&gt;Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan&lt;br /&gt;terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan&lt;br /&gt;penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan&lt;br /&gt;keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja&lt;br /&gt;Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan satu-&lt;br /&gt;sesuai tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat&lt;br /&gt;yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut,&lt;br /&gt;harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya&lt;br /&gt;serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di&lt;br /&gt;tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak&lt;br /&gt;diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh&lt;br /&gt;anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke&lt;br /&gt;tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga&lt;br /&gt;dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang.&lt;br /&gt;Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan&lt;br /&gt;sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk&lt;br /&gt;semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja&lt;br /&gt;Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819,&lt;br /&gt;ketika Jatengger Siregar –yang datang bersama pasukan Paderi, di&lt;br /&gt;bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- memenggal kepala&lt;br /&gt;Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan&lt;br /&gt;ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari&lt;br /&gt;Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang&lt;br /&gt;Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan Singamangaraja&lt;br /&gt;IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian,&lt;br /&gt;Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana&lt;br /&gt;Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.&lt;br /&gt;Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun&lt;br /&gt;terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi&lt;br /&gt;dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak&lt;br /&gt;mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela.&lt;br /&gt;Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga&lt;br /&gt;Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela,&lt;br /&gt;yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam&lt;br /&gt;suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan "dijual"&lt;br /&gt;kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga&lt;br /&gt;Simorangkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu&lt;br /&gt;(tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka&lt;br /&gt;meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh&lt;br /&gt;pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus&lt;br /&gt;dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati&lt;br /&gt;atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa&lt;br /&gt;Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan&lt;br /&gt;ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan&lt;br /&gt;badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan&lt;br /&gt;terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia&lt;br /&gt;melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan&lt;br /&gt;satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian&lt;br /&gt;Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu,&lt;br /&gt;karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana&lt;br /&gt;Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya.&lt;br /&gt;Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke&lt;br /&gt;tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil melepaskan&lt;br /&gt;batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu&lt;br /&gt;Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana kemudian&lt;br /&gt;di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong&lt;br /&gt;Marpaung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok,&lt;br /&gt;Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena&lt;br /&gt;selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah&lt;br /&gt;dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo&lt;br /&gt;sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab&lt;br /&gt;Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali&lt;br /&gt;dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di&lt;br /&gt;Minangkabau, yang menganut aliran Syi'ah. Haji Piobang dan Haji&lt;br /&gt;Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki.&lt;br /&gt;Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang&lt;br /&gt;mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali,&lt;br /&gt;termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo,&lt;br /&gt;mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia&lt;br /&gt;memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan&lt;br /&gt;Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari&lt;br /&gt;Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana&lt;br /&gt;merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta&lt;br /&gt;kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan&lt;br /&gt;kepadanya untuk dididik olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 9 Rabiu'ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat&lt;br /&gt;Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama&lt;br /&gt;Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama&lt;br /&gt;seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga asal&lt;br /&gt;usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca:&lt;br /&gt;Batak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan&lt;br /&gt;keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru&lt;br /&gt;tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal&lt;br /&gt;kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama&lt;br /&gt;asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat&lt;br /&gt;menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning&lt;br /&gt;Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan&lt;br /&gt;Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada&lt;br /&gt;tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan&lt;br /&gt;Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran&lt;br /&gt;pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia&lt;br /&gt;diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao.&lt;br /&gt;Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera&lt;br /&gt;seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah&lt;br /&gt;Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H&lt;br /&gt;(tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi yang&lt;br /&gt;dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda&lt;br /&gt;ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, dan&lt;br /&gt;seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. Kekejaman&lt;br /&gt;ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan&lt;br /&gt;rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu&lt;br /&gt;wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin&lt;br /&gt;oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak&lt;br /&gt;sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah&lt;br /&gt;masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku&lt;br /&gt;Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku&lt;br /&gt;Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku&lt;br /&gt;Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku&lt;br /&gt;Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung) , Tuanku Ali&lt;br /&gt;Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan Tuanku&lt;br /&gt;Marajo (Harahap).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan&lt;br /&gt;tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh&lt;br /&gt;Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah&lt;br /&gt;Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan&lt;br /&gt;Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang&lt;br /&gt;Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia&lt;br /&gt;lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan&lt;br /&gt;Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan&lt;br /&gt;pedang di atas kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan&lt;br /&gt;kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah&lt;br /&gt;dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X&lt;br /&gt;ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang&lt;br /&gt;marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra&lt;br /&gt;Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra&lt;br /&gt;Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 – 4 untuk&lt;br /&gt;kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, penyerbuan&lt;br /&gt;terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di&lt;br /&gt;tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara,&lt;br /&gt;termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya&lt;br /&gt;penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara&lt;br /&gt;Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar&lt;br /&gt;30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di&lt;br /&gt;medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud&lt;br /&gt;menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga&lt;br /&gt;rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Namun&lt;br /&gt;Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya&lt;br /&gt;tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda.&lt;br /&gt;Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan&lt;br /&gt;pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan&lt;br /&gt;sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing,&lt;br /&gt;Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan&lt;br /&gt;Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing&lt;br /&gt;dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang&lt;br /&gt;sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang&lt;br /&gt;gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku&lt;br /&gt;pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah&lt;br /&gt;ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada&lt;br /&gt;Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya&lt;br /&gt;sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X.&lt;br /&gt;Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku&lt;br /&gt;Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada&lt;br /&gt;Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan&lt;br /&gt;kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan&lt;br /&gt;dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan&lt;br /&gt;Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September&lt;br /&gt;1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal&lt;br /&gt;kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti,&lt;br /&gt;salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan cerita di atas kita mulai berpikir kedepannya sperti apa? Tapi lihat lah sekarang Indonesia dari SUMATERA DAN JAWA...bencana Tiada Akhir&lt;br /&gt;ini jelas merupakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ramalan DAN Pastu&lt;/span&gt; dari orang-orang zaman dulu..yang sedikit menjadi kenyataan, kenapa saya bilang sedikit karena ini baru awal...!!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KARMA&lt;/span&gt; adalah buah perbuatan yang akan dipetiknya sendiri, dimana ajaran langit merasa selalu di atas tanpa melihat Ajaran BUMI...yang kenyataannya Bumi sendiri berguncang menjadi PRALAYe...bagi mereka sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Blog: http://semeton.blogspot.com/2007/04/penyebaran-agama-langit.html &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;/code&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-5788925828668957835?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/5788925828668957835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/10/penyebaran-agama-langit-di-nusantara.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/5788925828668957835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/5788925828668957835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/10/penyebaran-agama-langit-di-nusantara.html' title='PENYEBARAN AGAMA LANGIT DI NUSANTARA'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsbvZWDpQrI/AAAAAAAAAHg/MSdxrJ4p8v4/s72-c/index.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-2597443168588975905</id><published>2009-09-19T08:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-19T08:57:51.077-07:00</updated><title type='text'>Percayakah Anda Akan ini ? DESKRIMINASI ?</title><content type='html'>OSSA...&lt;br /&gt;SAlam Sejahtera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama saya membuka ini ( Silahkan Anda Baca Sendiri )                                &lt;a href="http://efrialdy.wordpress.com/2009/06/27/ramalan-kitab-suci-hindu-dan-budha-tentang-nabi-muhamad/#comment-84"&gt;Ramalan Kitab Suci Hindu Dan Budha Tentang Nabi Muhamad&lt;/a&gt;     membuat saya tertegun dengan sangat dalam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya membaca dgn tuntas bacaan tersebut...mulailah semestinya kita berpikir dengan damai..KENAPA ? dan MENGAPA ? sampai sebegitunya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBANGKITAN HINDU adalah jawabannya...!! Kenapa saya bilang begitu!! Lihatlah kita hanya diam bro..kenapa kita tidak bangkit melakukan perubahan untuk dan demi masa depan penerus HINDU yang akan datang...&lt;br /&gt;Apa yang kita mesti perbuat dengan cara memperkuat hati dan pikiran serta perbuatan kita untuk menuju kebangkitan itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek-aspek kelemahan Hindu digunakan untuk mengurangi kita bro...selanjutnya kita mesti berbenah diri...bro!! &lt;br /&gt;Belajar dan Memahami WEDA yang Sebenarnya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-2597443168588975905?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/2597443168588975905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/percayakah-anda-akan-ini-deskriminasi.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2597443168588975905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2597443168588975905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/percayakah-anda-akan-ini-deskriminasi.html' title='Percayakah Anda Akan ini ? DESKRIMINASI ?'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-2381520814087191286</id><published>2009-09-17T00:05:00.000-07:00</published><updated>2009-09-17T00:16:24.985-07:00</updated><title type='text'>Analogi Sumur dan Rakit.</title><content type='html'>Pernahkan anda mendengar pepatah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"kalo ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba anda renungkan Kata-kata di bawah ini, yang saya dapatkan di salah satu media HINDU !! dan saya sangat salut sekali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Analogi Sumur dan Rakit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seorang penganjur bahwa semua agama adalah sama, pernah menulis di Media Hindu, justru karena semua agama sama maka orang tidak perlu pindah-pindah agama. Secara logika pernyataan ini tepat. Kalau semua agama sama buat apa pindah agama? Tetapi ia memberikan argumen yang menarik. Ibarat orang menggali sumur; baru menggali lima meter tidak menemukan air, lalu pindah ke tempat lain, di tempat baru ini ia menggali lima meter, tidak juga bertemu air. Bila terus demikian, maka penggali sumur itu akan sia-sia saja. Oleh karena itu setiap orang seharusnya terus menggali sedalam mungkin, sampai ia menemukan air yang dicarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam praktek tidaklah demikian. Kalau setelah menggali sedalam 10 meter, lalu yang ditemukan batu karang, untuk apa diteruskan? Atau bertemu air, tetapi baunya busuk, tentu orang akan pindah mencari lokasi lain untuk digali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi secara analogi ini juga tidak tepat. .Seorang teman saya, orang Protestan, dengan gelar master dobel, satu dari AS, satu dari Australia, berkata kepada saya. "Bapak akan puas, bila dapat menundukkan diri sendiri. Karena agama bapak meminta bapak melihat ke dalam. Kalau saya lain lagi. Saya baru akan puas, ketika saya dapat menundukkan bapak agar ikut agama saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah orang awam sama seperti saya. Tetapi pendapatnya itu ada dasarnya dalam Injil, yaitu perintah bagi setiap orang Kristen untuk pergi ke segala penjuru bumi, dan menjadikan bangsa-bangsa murid Yesus. Islam jug demikian. Nabi mereka, sampai akhir hayatnya meminta para pengikutnya untuk terus berjihad menjadikan Islam satu-satunya agama bagi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila semua agama memerintahkan pengikutnya untuk "menggali sumur" atau melihat ke dalam sampai berjumpa dengan "dirinya sendiri" dunia ini pasti akan aman dan damai. Tetapi nyatanya tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si Hindu sibuk menggali sumur semakin dalam, si Kristen dan si Islam sibuk berebut wilayah sekitar sumur. Ketika si Hindu kembali dari kedalaman bumi membawa air murni sambil meproklamirkan "semua air sama saja" ia menemukan air itu hanya berguna bagi dirinya sendiri, karena wilayahnya sudah dimiliki si Kristen atau / bersama si Islam. Si Kristen dan si Islam tidak membutuhkan air yang diambil dari inti bumi. Bagi mereka air sungai atau pancuran sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah si Hindu harus memasang pagar atau menyewa centeng untuk menjaga wilayahnya? Ini bertentangan dengan prinsip yang diyakininya. Bila ia melakukan itu, artinya ia melaksanakan apa yang ditolaknya, bahwa agama mengkotak-kotakkan dan bahwa agama tidak perlu dibela. Jadi ia dapat lepas dari dilemma ini, hanya bila ia melepaskan identitas Hindunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogi rakit, agama hanya sekedar rakit, agak berbeda tetapi menghadapi dilemma yang sama. Analogi ini ada benarnya. Tetapi siapapun yang membuat analogi ini hanya melihatnya dari agama Hindu saja. Bagi Hindu dan juga Buddha, benar, agama hanyalah sarana untuk menyeberangkan manusia dari wilayah kehidupan sampai di batas wilayah kematian (atau kehidupan yang lain). Di dunia kehidupan yang lain itu agama memang tidak disebut-sebut lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagi keyakinan Kristen atau Islam tidak demikian. Agama tidak berhenti sampai di tepi kehidupan dunia lain itu, yang mereka sebut dunia akhirat. Agama terus masuk sampai ke inti kehidupan akhirat. Bagi keyakinan orang Kristen, keyakinan mereka akan kebenaran Yesus sebagai Tuhan, atau Putra Allah, yang menyelamatkan mereka. Bagi orang Islam keyakinan mereka kepada Islam dan Muhammad sebagai Nabi akan menyelamakan atau menjamin sorga bagi mereka. Menurut Islam, ketika ia mati dan sampai di pintu alam kubur, dua orang malaikat akan menanyai apa agama dan siapa nabinya. Bila agamanya bukan Islam dan nabinya bukan Muhammad maka jiwa orang itu akan mendapat siksaan kejam. Dan di dalam persidangan pada hari Pengadilan Akhir, Muhammad akan memberi rekomendasi siapa yang masuk sorga atau neraka secara abadi. Allah akan memerima rekomendasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kedua agama ini keyakinan, bukan perbuatan yang menentukan status seseorang di dunia akhirat. Apakah keyakinan semacam ini absurd atau tidak, itulah keyakinan yang dipercayai oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi di sini analogi rakit menghadapi kesulitannya sendiri. Dan ia hanya melepaskan diri dari kesulitan ini, dengan melepaskan indentitas Hindunya. Tapi apa perdulinya dengan Hindu? Toh hanya rakit. Yang penting ia bebas. Sebuah solusi, yang sayangnya, bersifat mementingkan diri sendiri. Ego.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SrHiJMnHyhI/AAAAAAAAAHQ/m8Q4_QGtvPM/s1600-h/God+Of+Hindu+007.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SrHiJMnHyhI/AAAAAAAAAHQ/m8Q4_QGtvPM/s320/God+Of+Hindu+007.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382331677316467218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-2381520814087191286?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/2381520814087191286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/analogi-sumur-dan-rakit.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2381520814087191286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2381520814087191286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/analogi-sumur-dan-rakit.html' title='Analogi Sumur dan Rakit.'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SrHiJMnHyhI/AAAAAAAAAHQ/m8Q4_QGtvPM/s72-c/God+Of+Hindu+007.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-4533927354089738137</id><published>2009-09-16T22:29:00.000-07:00</published><updated>2009-09-17T00:01:26.700-07:00</updated><title type='text'>Aspek Kelemahan Hindu-BALI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SrHehFybGyI/AAAAAAAAAHI/I4gL-v6ofQI/s1600-h/4476_89525861444_89502021444_1768239_2104412_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SrHehFybGyI/AAAAAAAAAHI/I4gL-v6ofQI/s320/4476_89525861444_89502021444_1768239_2104412_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382327689755171618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengungkapkan banyak sekali kejadian di bali yang membuat saya merasa sedih dan kecewa dimana saya adalah generasi penerus hindu-bali.Maka itu saya menuangkannya dalam tulisan ini agar sodara,temen, dan nyame kita yang muda-muda bangkit memperbaiki diri dan bersatu dalam menahan gelombang era ini...dimana semua bebas. Maukah kita terus begini sebagai Hindu-Bali ?? kita mesti bangkit temen-temen...perjuangkan!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jgn hanya diem dan mendengar istilah MULE KETO... &lt;/span&gt;, Mudah-mudahan kesadaran kita sebagai pemuda hindu lebih terbuka dan berani menentang ADHARMA...dan berani meluruskan dan memperbaikinya untuk masa yang akan datang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengenai orang mu dikubur atau di aben &lt;/span&gt;pada suatu desa karena alasan yang di aben udah tidak lagi berbanjaran atau ikut adat disana di sebabkan sudah pergi merantau lama padahal jelas itu sodara/nyame braye kita..ini salah satu aspek yang nyebabkan umat kita menjadi hengkang meninggalkan kita. Coba pikirkan baik-baik temen2!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Awig-awig adat&lt;/span&gt; terutama contoh: badung lihat sekarang pendatang banyak sekali kenapa mereka tidak kita masukkan dalam peraturan awig2!!Kenapa mesti Braye kita yang di beratkan terus...sedangkan mereka hidup dan makan di tanah kita didiemkan saja. banyak sekali awig adat yang mesti di renopasi disesuaikan dengan keadaan sekarang ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelemahan kita yang paling mendasar adalah pernikahan beda agama, kenapa? &lt;/span&gt;Contoh: Si A adalah wanita hindu dan Si B adalah Pria Agama lain, Kalo mereka mengambil wanita hindu dengan mudahnya sekali kita melepasnya, kenapa? ini yang membuat saya sampai sekarang berpikir kok bisa?? coba kebalikkannya mereka akan mati-matian mempertahankannya dengan segala cara!!!hingga mereka menterror dan lain-lainya. satu lagi herannya jika ada salah satu umat kita nikah dgn beda agama kenapa mesti di permasalahkan?? Beh kurnen ne anak uling jawe pang gen!! Mestinya kita mengajarkannya dan memberikan  Apa HINDU sebenarnya? bukan di jauhi dan di cemoh!!&lt;br /&gt;Lihat Si B adalah Pria Agama lain itu pasti seluruh keluarganya akan mendukung dan temen-temennya akan membelanya dan mengajarkan serta memberikan yang terbaik.&lt;br /&gt;Kenapa kita nggak bisa begitu????Persatuan dan Rasa sodara kita mana???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Banten...&lt;/span&gt;!! dulu waktu saya SMA di luar BALI ada salah satu guru sejarah saya berkata " Coba lihat orang Hindu-Bali kalo mereka sembahyang pasti pake sesuatu dan mengeluarkan biaya untuk itu". waktu itu hati-ku panas mendengarnnya hingga saya berkata " ma'af pak, maksud bapak berkata begitu kenapa? Si guru akhirnya hanya diem dan berganti topik. Nah....kita mesti Berani untuk itu dan memberikan pelajaran kepada generasi penerus kita nanti!! dan BAnyak lagi cerita-cerita yang meremekan kita jika anda-anda berada di luar BALI. Banten ini kita kaji ulang ?!!ini juga salah satu aspek kenapa banyak orang yang ngga mau ikut dgn kita!! dan membuat orang BALI terpaksa menjual tanah dan warisannya untuk itu. Sekarang Liat BALI???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kasta&lt;/span&gt;!!! Bagaimana menurut kalian tentang KASTA ? Udah jelaskan!! Kasta di buat pada zaman kerajaan dulu untuk membedakan berdasarkan pekerjaannya , Dalam WEDA ada CATUR WARNA,,bukan KASTA...ini adalah salah satu aspek kelemahan kita yang di manfaatkan oleh lainnya!! Perbedaan ini hanya menguntungkan orang-orang yang berkasta tinggi dan orang memanfaatkannya? &lt;br /&gt;Makanya sekarang banyak MPU dan RESI yang muncul di bali dimana itu pun banyak pertentangan!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kemiskinan&lt;/span&gt;!!! ini faktor besar juga, dgn kemiskinan orang-orang kita akan di iming-imingi kesejahteraan, pendidikan di tanggung mereka dan sebagainya...Ini berdasarkan penuturan teman saya kuliah dulu kenapa dia bisa sampai kuliah karena di biayai mereka...!! Kita apa? Liat nyame sing ngelah sube sing peduli!! Yang perlu kita laksanakan secepatnya adalah Pasraman untuk anak-anak generasi penerus...dan PANTI ASUHAN HINDU_BALI...dan yang paling &lt;br /&gt;saya herankan adalah PACEKLIK GURU AGAMA HINDU kok bisa yah? apa Gunanya PHDI dan Lainnya , GILA...BAli bisa kurangan Guru Agama Hindu apalagi yang diluar BALI ?? ini Mesti kita BANGKIT...BAgaimanapun caranya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi aspek-aspek lainnya!! Kenapa kita tidak bangkit sekarang ?? Kelemahan-kelemahan itu di gunakan oleh mereka untuk mengurangi kita..!! Kita mesti BERANI BANGKIT???!!!JGN menunggu dan DIAM saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terimakasih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SrHcGY2xBWI/AAAAAAAAAHA/P4JC2rH0pLg/s1600-h/ArjunKrisna.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 249px; height: 291px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SrHcGY2xBWI/AAAAAAAAAHA/P4JC2rH0pLg/s320/ArjunKrisna.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382325031993935202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-4533927354089738137?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/4533927354089738137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/aspek-kelemahan-hindu-bali.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/4533927354089738137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/4533927354089738137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/aspek-kelemahan-hindu-bali.html' title='Aspek Kelemahan Hindu-BALI'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SrHehFybGyI/AAAAAAAAAHI/I4gL-v6ofQI/s72-c/4476_89525861444_89502021444_1768239_2104412_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-2993493737281023653</id><published>2009-09-16T22:16:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T22:21:59.833-07:00</updated><title type='text'>Kebangkitan Gerakan Agama Hindu di Jawa, Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Thomas Reuter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama 1000 tahun, kerajaan2 Hindu subur di Jawa, sampai datangnya Islam di abad ke 15. Tetapi, di tahun 1970-an, bangkit kembali sebuah gerakan Hindu yg menyebar ke seluruh kepulauan Indonesia. Agama Hindu bahkan mendapat lebih banyak pengikut di saat negara sedang menghadapi berbagai krisis, terutama di Jawa, pusat politik di Indonesia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan riset etnografis atas lima kelompok masyarakat pada candi2 Hindu besar, tulisan ini menelaah sejarah politik dan dinamika sosial bangkitnya kembali agama Hindu di Jawa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tertarik pada Jawa setelah melakukan penelitian selama 10 tahun di Bali. Kebanyakan masyarakat Bali menganggap diri mereka sebagai keturunan kaum ningrat kerajaan Hindu Jawa Majapahit yang menaklukkan Bali di abad ke 14. Jumlah orang Bali yang berziarah ke kuil2 Hindu di Jawa semakin bertambah. Malah mereka sering terlibat dalam pembangunan kuil2 dan pelaksanaan ibadah Hindu baru di Jawa. Mereka juga mendominasi perwakilan kaum Hindu di taraf nasional. Dan banyak pendeta2 Hindu Jawa yang dilatih di Bali. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal yang paling mempengaruhi gerakan ini :&lt;br /&gt;… &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1) Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sejarah dan Politik &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a)&lt;br /&gt;Banyak orang Jawa masih mempertahankan kepercayaan warisan tradisi Hindu selama berabad-abad sambil juga memeluk Islam. Kepercayaan ini dikenal sebagai agama Jawa (kejawen) atau Islam Jawa (Islam abangan, nama yg dipakai Geertz 1960). Beberapa kelompok masyarakat terpencil masih tetap memeluk Hindu secara terbuka. Salah satu kelompok ini adalah masyarakat Hindu yang tinggal di dataran tinggi Tengger (Hefner 1985, 1990) di Jawa Timur. Orang2 ‘Hindu’ Jawa yang ditulis di laporan ini adalah mereka yang tadinya Muslim dan kemudian murtad untuk memeluk agama Hindu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Laporan tahun 1999 yang tidak pernah diumumkan oleh Kantor Statistik Nasional Indonesia memperkirakan terdapat 100.000 orang Jawa yang secara resmi murtad atau ‘kembali lagi’ pindah dari Islam ke Hindu dalam waktu 20 tahun terakhir. Pada saat yang bersamaan, cabang organisasi Hindu (PHDI) Jawa Timur mengatakan bahwa umatnya bertambah sampai berjumlah 76.000 di tahun ini saja. Angka ini tidak sepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak dapat pula menggambarkan besarnya kebangkitan agama Hindu di Jawa karena ini hanya berdasarkan nama agama yang tercantum di KTP dan hanya berdasarkan laporan agama resmi. Menurut pengamatan saya, banyak yang pindah agama tapi tidak melaporkan diri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun demikian, perhitungan jumlah orang Hindu di Jawa ternyata lebih banyak daripada orang Hindu di Bali. Data yang dikumpulkan secara independen selama penelitian saya di Jawa Timur menunjukkan bahwa tingkat cepatnya proses pindah agama melesat secara dramatis selama dan setelah jatuhnya Pemerintahan Rezim Suharto di tahun 1998. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum tahun 1962, agama Hindu tidak diakui secara nasional sehingga orang2 beragama Hindu tidak bisa mencantumkan agama mereka secara resmi. [2] Permohonan pengakuan Hindu sebagai agama resmi diajukan oleh organisasi agama dari Bali dan dikabulkan di tahun 1962 demi kepentingan masyarakat Bali yang mayoritas adalah Hindu. Organisasi yang terbesar yakni Parisada Hindu Dharma Bali yang kemudian diubah menjadi PHD Indonesia (PHDI) di tahun 1964, berupaya untuk memperkenalkan Hindu secara nasional dan bukan hanya milik Bali saja (Ramstedt 1998). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di awal tahun 70-an, orang2 Toraja Sulawesi mengambil kesempatan ini dengan memeluk agama nenek moyang mereka yang banyak dipengaruhi oleh Hindu. Masyarakat Batak Karo dari Sumatra di tahun 1977 dan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan di tahun 1980 juga melakukan hal yang sama (Bakker 1995). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b)&lt;br /&gt;Identitas agama menjadi masalah hidup-mati saat agama Hindu memperoleh status resminya, yakni di saat terjadinya kerusuhan anti komunis di tahun 1965-66 (Beatty 1999). Orang2 yang tidak dapat menyebutkan agamanya digolongkan sebagai orang atheis dan dituduh komunis. Terlepas alasan politis ini, kebanyakan orang menganut Hindu karena juga ingin mempertahankan agama nenek moyang dan bagi masyarakat di luar Jawa, Hindu merupakan pilihan terbaik dibandingkan Islam. Sebaliknya, kebanyakan orang Jawa tidaklah melihat Hindu sebagai agama pilihan di saat itu karena kurang adanya organisasi Hindu dan juga karena takut pembalasan organisasi2 Islam besar seperti Nahdatul Ulama (NU). Anggota2 muda NU tidak hanya aktif membunuhi orang2 komunis tapi juga unsur2 Jawa Kejawen atau anti Islam yang banyak dianut Partai Nasionalis Islam milik Sukarno selama tahap pertama pembunuhan masal di jaman itu (Hefner 1987). Demi keslamatan nyawa, para pengikut Kejawen terpaksa mengumumkan diri mereka sebagai Muslim. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada awal Orde Baru, Presiden Suharto tidak mengikuti paham agama apapun. Baru di tahun 1990-an, Suharto mulai mendekati organisasi2 Islam. Awalnya Suharto adalah pembela aliran Kejawen yang gigih, tapi ia lalu mengajukan tawaran2 kepada kelompok Islam di masa itu karena berkurangnya dukungan masyarakat dan militer terhadap rezimnya. Tindakannya yang paling jelas tampak pada dukungannya atas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), yang anggotanya secara terbuka menginginkan negara dan masyarakat Islam Indonesia (Hefner 1997). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kekuatiran mulai tumbuh tatkala ICMI menjadi organisasi yang mendominasi birokrasi nasional dan melaksanakan program2 pendidikan Islam besar2an dan pembangunan mesjid2 melalui Departemen Agama dan sekali lagi menyerang aliran dan penganut Kejawen. Pada waktu yang sama, terjadi pembunuhan2 oleh ekstrimis Muslim atas orang2 yang dituduh sebagai dukun yang melakukan pengobatan tradisional Kejawen. (Ingat serentetan kasus pembunuhan dukun santet oleh ‘ninja’ yang terjadi di desa2 terpencil di Jawa?) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengalaman2 pahit dan penindasan2 membuat para penganut Kejawen takut dan juga benci. Dalam wawancara yang dilakukan di tahun 1999, orang2 yang baru saja murtad dan memeluk Hindu di Jawa Tengah dan Timur mengaku bahwa mereka sebenarnya tidak keberatan dengan identitas Islam. Tapi mereka sakit hati saat harus meninggalkan tradisi Hindu Jawa dengan tidak lagi melakukan upacara2 tertentu yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Untuk menyalurkan hasrat politik, banyak penganut Kejawen dan pemeluk baru agama Hindu yang menjadi anggota partai politik Megawati Sukarnoputri. Sumber2 keterangan dari kelompok ini menyatakan bahwa kembalinya mereka kepada agama Majapahit (Hindu) merupakan kebanggaan nasional dan ini diwujudkan melalui pandangan politik baru yang penuh rasa percaya diri.. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sosial dan Ekonomi &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ciri2 umum yang tampak di masyarakat baru Hindu di Jawa adalah kecenderungan untuk berkumpul di pura2 yang baru saja dibangun atau candi2 kuno yang dinyatakan kembali sebagai tempat ibadah masyarakat Hindu. Satu dari pura2 Hindu yang baru dibangun di Jawa Timur adalah &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Contoh, Candi Mandaragiri Semeru Agung, di bukit dekat Gunung Semeru. Ketika candi ini selesai dibangun pd bulan Juli 1992 dengan bantuan keuangan Bali, hanya segelintir keluarga setempat secara resmi memeluk agama Hindu. Penelitian di bulan Desember 1999 menunjukkan masyarakat Hindu lokal berkembang menjadi lebih dari 5.000 keluarga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perpindahan agama besar2an yang sama juga terjadi di daerah sekitar Candi Agung Blambangan yang merupakan candi baru yang dibangun di daerah sisa2 kerajaan Blambangan, pusat kekuatan politis Hindu terakhir di Jawa. Yang tidak kalah pentingnya adalah Candi Loka Moksa Jayabaya (di desa Menang dekat Kediri), di mana raja dan petinggi Hindu, Jayabaya, dipercaya mencapai moksa (kemerdekaan spiritual). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gerakan Hindu lain yang juga mulai tampak terjadi di daerah sekitar Candi Pucak Raung (di Jawa TImur) yang baru saja dibangun. Daerah ini disebut dalam sastra Bali sebagai tempat di mana begawan Hindu, Maharishi Markandeya, mengumpulkan pengikutnya untuk melakukan perjalanan ke Bali dan dengan itu membawa agama Hindu ke Bali di abad 5 M. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kebangkitan agama Hindu juga tampak di daerah Candi Hindukuno di Trowulan dekat Mojokerto. Daerah ini dikenal sebagai ibukota kerajaan Hindu Majapahit. Gerakan Hindu setempat berusaha untuk mendapatkan ijin menggunakan candi yang baru saja digali sebagai tempat ibadah agama Hindu. Candi ini akan dipersembahkan bagi Gajah Mada, perdana menteri Majapahit yang berhasil mengembangkan kerajaan Hindu kecil itu sampai meliput wilayah dari Sabang sampai Merauke. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun terdapat lebih banyak pertentangan dari kelompok Islam di Jawa Tengah daripada di Jawa Timur, masyarakat Hindu ternyata juga berkembang di Jawa Tengah (Lyon 1980). Contohnya adalah di Klaten di dekat Candi Prambanan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Prambanan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain itu candi2 besar Hindu juga dapat mendatangkan kemakmuran baru bagi masyarakat setempat. Selain mengundang biaya bagi pekerja2, pelebaran dan perbaikan candi itu sendiri, mengalirnya peziarah Bali yang terus menerus ke candi2 nasional itu menciptakan suatu industri baru bagi penduduk setempat. Di sepanjang jalan utama menuju Candi Semeru terdapat sederetan hotel dan toko2 yang menawarkan sesajen siap pakai, angkutan, dan makanan bagi para pendatang. Pada hari2 raya besar, puluhan ribu peziarah akan datang setiap hari. Peziarah yang memberi sumbangan dana besar bagi candi besar itu juga ternyata menarik perhatian penduduk setempat. Kemakmuran ekonomi orang2 Bali juga membuat penduduk setempat berpendapat bahwa ‘budaya Hindu ternyata lebih banyak mendatangkan keberhasilan pariwisata internasional dibandingkan budaya Islam’. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3) Kebangkitan Hindu sebagai Pemenuhan Ramalan Utopia (negara impian) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pihak pendukung dan penentang agama Hindu biasanya menghubungkan bangkitnya agama Hindu secara tiba2 di Jawa dengan ramalan terkenal Sabdapalon dan Jayabaya. Dalam ramalan itu dinyatakan beberapa utopia dan bencana alam dahsyat, meskipun pengertian akan ramalan ini berbeda antara kedua pihak.&lt;br /&gt;Harapan terpenuhinya ramalan itu merupakan cermin ketidakpuasan yang semakin membesar atas Pemerintahan Suharto yang korup dan tangan besi di tahun 1990-an sampai berakhir di tahun 1998, yang diikuti dengan demonstrasi mahasiswa di berbagai kota di Jawa sejalan dengan krisis ekonomi Asia. Krisis politik dan ekonomi yang lebih besar yang terus berlangsung di Indonesia saat ini juga semakin menumbuhkan harapan itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Presiden Abdurahman Wahid, presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demokratis, ternyata mengundang banyak kritik karena pada masanya terjadi pertentangan agama, pemberontakan di Aceh dan Papua Barat dan skandal korupsi di Pemerintahan. [3] Masyarakat luas menduga ketidakstabilan politik di bawah Pemerintahan Megawati Sukarnoputri (sejak tanggal 23 Juli 2001) akan terus berlangsung. Selain itu dikhawatirkan penindasan seperti yang terjadi di jaman Suharto akan terulang lagi. Menurut penentang dan pendukung gerakan baru agama Hindu, keadaan politik yang tak menentu saat ini sesuai dengan ramalan Sabdapalon dan Jayabaya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut legenda, Sabdapalon adalah pendeta dan penasehat Brawijaya V, raja terakhir kerajaan Hindu Majapahit. Dikisahkan pula bahwa Sabdapalon mengutuk rajanya yang meninggalkan agama Hindu untuk memeluk agama Islam di tahun 1478. Sabdapalon lalu berjanji untuk kembali setelah waktu 500 tahun berlalu di masa merajalelanya korupsi politik dan bencana2 alam besar, untuk mengenyahkan Islam dari pulau Jawa dan membangkitkan kembali agama dan masyarakat Hindu Jawa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa candi Hindu baru yang pertama dibangun di Jawa memang selesai dibangun sekitar tahun 1978, misalnya Candi Blambangan di daerah Banyuwangi. Sesuai dengan ramalan, Gunung Semeru meledak di waktu itu pula. Semua ini dianggap sebagai bukti tepatnya ramalan Sabdapalon. Pihak penentang Hindu dari agama Islam menerima prinsip ramalan itu, meskipun menafsirkannya secara berbeda. Beberapa kalangan Islam menganggap murtadin yang memeluk Hindu disebabkan karena kelemahan sesaat dalam masyarakat Islam itu sendiri, dengan menyalahkan sifat materialisme di dunia modern dan turunnya nilai2 Islami atau karena penerapan Islam yang tak murni melalui tatacara ibadat Kejawen (Soewarno 1981). Menurut pendapat mereka, ‘kembalinya Sabdapalon’ berarti ujian bagi Islam dan perlunya memurnikan dan membangkitkan kembali iman Islam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ramalan yang lain yang juga terkenal di seluruh Jawa dan Indonesia adalah ramalan Jayabaya. Buku tentang ramalan ini yang ditulis oleh Soesetro &amp; Arief (1999) telah jadi best seller nasional. Ramalan Jayabaya juga seringkali didiskusikan di koran2. Ramalan2 kuno ini memang bagian dari percakapan dan diskusi sehari-hari dalam masyarakat Indonesia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tokoh legendaris Sri Mapanji Jayabaya berkuasa di kerajaan Kediri di Jawa Timur dari tahun 1135 sampai 1157 M (Buchari 1968:19). Dia terkenal atas usahanya menyatukan kembali Jawa setelah pecah karena kematian raja sebelumnya, Airlangga. Jayabaya juga terkenal karena keadilan dan kemakmuran kerajaannya dan karena pengabdiannya bagi kesejahteraan rakyatnya. Jayabaya dikenal sebagai titisan dewa Wishnu dan dianggap sebagai ‘ratu adil’ yakni raja yang bijaksana yang muncul di jaman edan di akhir putaran tatasurya untuk menegakkan kembali keadilan sosial, keteraturan dan keseimbangan di dunia. Banyak yang percaya waktu datangnya sang ratu adil yang baru telah dekat (seperti yang disebutkan dalam ramalan itu, “jika kendaraan2 besi bergerak sendiri tanpa kuda2 dan kapal2 berlayar menembus langit“), dan ia akan datang untuk menyelamatkan dan menyatukan Indonesia kembali setelah krisis hebat yang mengantarkan kepada awal jaman keemasan yang baru. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dugaan terjadinya bencana besar dan utopia ini mengingatkan akan berakhirnya putaran tatasurya di masa kejayaan yang lampau untuk masuk ke jaman sekarang yang penuh kebobrokan moral, dan perlu diperbaiki kembali di masa depan dengan mengulangi kembali kejayaan di masa lampau. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang2 Hindu Jawa mengenang Sabdapalon dan Jayabaya dgn penuh kebanggaan karena mewakili jaman keemasan sebelum Islam. Kalangan Islam sendiri sebaliknya percaya bahwa Jayabaya itu sebetulnya adalah seorang Muslim dan Sabdapalon tidak mau masuk Islam karena saat itu dia berhadapan dengan bentuk Islam yang salah dan tidak murni lagi (Soewarno 1981). Meskipun begitu, para penelaah ramalan dari pihak Muslim dan Hindu setuju bahwa sekaranglah masa terjadinya bencana hebat. Mungkin dalam bentuk reformasi politik besar2an dan mungkin pula sebuah revolusi. Kedua belah pihak juga setuju bahwa sistem pemerintahan demokrasi yang murni hanya dapat terlaksana dengan adanya pemimpin yang bermoral sangat tinggi yang mencampurkan kesadaran demokrasi modern dengan karisma kepemimpinan tradisional. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengaruh ramalan Jayabaya tampak nyata pada diri masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan dan ini tampak pula dengan kunjungan2 rahasia yang dilakukan Presiden Abdurahman Wahid (sekali sebelum dia dicalonkan untuk jadi presiden dan sekali lagi sebelum dia terpilih) sewaktu menjabat ketua NU ke candi keramat Raja Jayabaya di Bali, Pura Pucak Penulisan. [4] Setelah kunjungan pribadi malam hari di pura Hindu kuno ini, demikian menurut pengakuan pendeta2 Hindu setempat, Gus Dur berbicara dengan mereka untuk waktu lama tentang ramalan2 Jayabaya dan kedatangan kembali ratu adil. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukit Penulisan&lt;br /&gt;———————————————————————- — &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnotes &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[1] Islam, for example, incorporated elements from the tribal traditions of Arab peoples and from Jewish and Christian texts such as the 'Old Testament'. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[2] The other four state-recognized religions (agama) are Islam, Catholicism, Protestantism, and Buddhism (mainly Indonesians of Chinese ethnicity). Unrecognized religions are categorized by the state as minor&lt;br /&gt;'streams of belief' (aliran kepercayaan) or are simply treated as a part of different local 'customs and traditions' (adat). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[3] As I am writing this, parliamentary procedures have been set into motion so as to impeach President Abdurahman Wahid on allegations of his involvement in corruption scandals. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[4] Pura Pucak Penulisan is still an important regional temple, and was a state temple of Balinese kings from the eighth century AD (Reuter 1998). Many statues of Balinese kings are still found in its inner sanctum, including one depicting Airlangga's younger brother Anak Wungsu. Literary sources suggest that intimate ties of kinship connected the royal families of Bali with the dynasties of Eastern Javanese kingdoms, including Kediri. Jayabaya's predecessor Airlannga, for example, was a Balinese prince. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[5] Sometimes apocalyptic expectations can reach such a pitch that members of the movement concerned may feel a need to bring about the very cataclysm the have been predicting. The poison gas attack in Tokyo launched by Japan's AUM Shinokio sect is a recent example. It is still uncertain whether the recent bomb attacks on Javanese Christian churches over the christmas period of 2000 were the responsibility of radical religious groups, or were instigated by other political interest groups wishing to destabilize the country by inciting simmering inter-religious conflicts in Java to the same level of violence as in the troubled Molukka Province. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;References &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adorno, T. W. 1978. 'Freudian Theory and the Pattern of Fascist Propaganda'. In A. Arato &amp; E. Gebhardt (eds), The Essential Frankfurt School Reader. Oxford: Basil Blackwell. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bakker, F. 1995. Bali in the Indonesian State in the 1990s: The religious aspect. Paper presented at the Third International Bali Studies Workshop, 3-7 July 1995. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beatty, A. 1999. Varieties of Javanese Religion. Cambridge: Cambridge University Press. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buchari 1968. 'Sri Maharaja Mapanji Garasakan'. Madjalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, 1968(4):1-26. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ellingsen, P. 1999. 'Silence on Campus: How academics are being gagged as universities toe the corporate line'. Melbourne: The Age Magazine, 11.12.1999:26-32. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fox, J. &amp; Sathers, C. (eds) 1996. Origins, Ancestry and Alliance: Explorations in Austronesian Ethnography. Canberra: Department of Anthropology, Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Geertz, C. 1960. The Religion of Java. Chicago: The University of Chicago Press. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hefner, R. 1985. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Princeton: Princeton University Press. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hefner, R. 1987. 'The Political Economy of Islamic Conversion in Modern East Java'. In W. Roff (ed.), Islam and the Political Economy of Meaning. London: Croom Helm. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hefner, R. 1990. The Political Economy of Mountain Java. Berkeley: University of California Press. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hefner, R. 1997. 'Islamization and Democratization in Indonesia'. In R. Hefner &amp; P. Horvatich (eds), Islam in an Era of Nation States: Politics and Religious Renewal in Muslim Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kaplan, M. 1995. Neither Cargo nor Cult: Ritual Politics and the Colonial Imagination in Fiji. Durham (NC): Duke University Press. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lee, K. 1999. A Fragile Nation: The Indonesian Crisis. River Edge (N.J.): World Scientific. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lindstrom, L. 1993. Cargo Cult: Strange Stories of Desire from Melanesia and Beyond. Honolulu: University of Hawaii Press. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lyon, M. 1980. 'The Hindu Revival in Java". In J. Fox (ed.), Indonesia: The making of a Culture. Canberra: Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ramstedt, M. 1998. 'Negotiating Identity: 'Hinduism' in Modern Indonesia'. Leiden: IIAS Newsletter, 17:50. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reuter, T. 1998. 'The Banua of CandiPucak Penulisan: A Ritual Domain in the Highlands of Bali'. Review of Indonesian and Malaysian Affairs, 32 (1):55-109. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Schwartz, H. 1987. 'Millenarianism: An overview'. In M. Eliade (ed.), The Encyclopedia of Religion, Vol. 9:521-532. New York: MacMillan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Smelser, J. 1962. Theory of Collective Behavior. London: Routledge and Kegan Paul. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Soesetro, D. &amp; Arief, Z. 1999. Ramalan Jayabaya di Era Reformasi. Yogyakarta: Media Pressindo. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Soewarna, M. 1981. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. Jakarta: P.T Yudha Gama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Stewart, K. &amp; Harding, S. 1999. 'Bad Endings: American Apocalypsis'. Annual Review of Anthropology 28:285-310. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Stewart, P.J. 2000. 'Introduction: Latencies and realizations in millennial practices'. Ethnohistory 47(1):3-27. [Special Issue on Millenarian Movements.] &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Timmer, J. 2000. 'The return of the kingdom: Agama and the millennium among the Imyan of Irian Jaya, Indonesia'. . Ethnohistory 47(1):29-65. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Note&lt;/span&gt;: D&lt;span style="font-style:italic;"&gt;r Thomas Reuter is Queen Elizabeth II Research Fellow at the University of Melbourne's School of Anthropology, Geography &amp; Environmental Studies. This paper was published in The Australian Journal of Anthropology and is being reproduced with their permission.&lt;br /&gt;http://www.swaveda.com/articles.php?action=show&amp;id=49 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://adhiwus.wordpress.com/2006/04/22/kebangkitan-gerakan-agama-hindu-di-jawa-indonesia/"&gt;http://adhiwus.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-2993493737281023653?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/2993493737281023653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/kebangkitan-gerakan-agama-hindu-di-jawa.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2993493737281023653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/2993493737281023653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/kebangkitan-gerakan-agama-hindu-di-jawa.html' title='Kebangkitan Gerakan Agama Hindu di Jawa, Indonesia'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-340940370210729628.post-6235686442962274360</id><published>2009-09-16T22:13:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T22:53:45.617-07:00</updated><title type='text'>RAMALAN JAYABAYA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PRABU JAYABAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Jayabaya raja Kediri bertemu pendita dari Rum yang sangat sakti, Maulana Ali Samsuyen. Ia pandai meramal serta tahu akan hal yang belum terjadi. Jayabaya lalu berguru padanya, sang pendeta menerangkan berbagai ramalan yang tersebut dalam kitab Musaror dan menceritakan penanaman orang sebanyak 12.000 keluarga oleh utusan Sultan Galbah di Rum, orang itu lalu ditempatkan di pegunungan Kendenag, lalu bekerja membuka hutan tetapi banyak yang mati karena gangguan makhluk halus, jin dsb, itu pada th rum 437, lalu Sultan Rum memerintahkan lagi di Pulau Jawa dan kepulauan lainnya dgn mengambil orang dari India, Kandi, Siam. Sejak penanaman orang-orang ini sampai hari kiamat kobro terhitung 210 tahun matahari lamanya atau 2163 tahun bulan, Sang pendeta mengatakan orang di Jawa yang berguru padanya tentang isi ramalan hanyalah Hajar Subroto di G. Padang. Beberapa hari kemudian Jayabaya menulis ramalan Pulau Jawa &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;/code&gt;&lt;/span&gt;sejak ditanami yang keduakalinya hingga kiamat, lamanya 2.100 th matahari. Ramalannya menjadi Tri-takali, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Jaman permulaan disebut KALI-SWARA, lamanya 700 th matahari (721 th bulan). Pada waku itu di jawa banyak terdengar suara alam, gara-gara geger, halintar, petir, serta banyak kejadian-kejadian yang ajaib dikarenakan banyak manusia menjadi dewa dan dewa turun kebumi menjadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Jaman pertengahan disebut KALI-YOGA, banyak perobahan pada bumi, bumi belah menyebabkan terjadinya pulau kecil-kecil, banyak makhluk yang salah jalan, karena orang yamg mati banyak menjelma (nitis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Jaman akhir disebut KALI-SANGARA, 700 th. Banyak hujan salah mangsa dan banyak kali dan bengawan bergeser, bumi kurang manfaatnya, menghambat datangnya kebahagian, mengurangi rasa-terima, sebab manusia yang yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jaman tsb. Masing-masing dibagi menjadi Saptama-kala, artinya jaman kecil-kecil, tiap jaman rata-rata berumur 100 th. Matahari (103 th. bulan), seperti dibawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. JAMAN KALI-SWARA dibagi menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-kukila 100 th, (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada yang mengatur/memerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-buddha (th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha menurut syariat Hyang agadnata (Batara Guru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-brawa (th. 201 - 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya kepada Dewa, sebab banyak Dewa yang turun kebumi menyiarkan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-tirta (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, di sepanjang air itu bumi menjadi belah dua. Yang sebelah barat disebut pulau Sumatra, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul, sedang, telaga, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-swabara (th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-rebawa (th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian2-kesenian dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-purwa (th. 601-700): Banyak tumbuh2an keturunan orang2 besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. JAMAN KALA-YOGA dibagi menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-brata (th. 701-800): Orang mengalami hidup sebagai fakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-drawa (th. 801-900): Banyak orang mendapat ilham, orang pandai menerangkan hal-hal yang gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-dwawara (th. 901-1.000): Banyak kejadian yang mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-praniti (th. 1.001- 1.101): Banyak orang mementingkan ulah pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-teteka (th. 1.101 - 1.200): Banyak oran g datang dari negeri-negeri lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-wisesa (th. 1.201 - 1.300): Banyak orang yang terhukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-wisaya (th. 1.301 - 1.400): Banyak orang memfitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. JAMAN KALA-SANGARA dibagi menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-jangga (th. 1.401 - 1.500): Banyak orang ulah kehebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-sakti (th. 1.501 - 1.600): Banyak orang ulah kesaktian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-jaya (th. 1.601 - 1.700): Banyak orang ulah kekuatan untuk tulang punggung kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-bendu (th. 1.701 - 1.800): Banyak orang senang berbantahan, akhirnya bentrokkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-suba (th. 1.801 - 1.900 ) : Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-sumbaga (th. 1.901 - 2.000) : Banyak orang tersohor pandai dan hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala-surasa (th. 2.001 - 2.100): Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang ulah asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan yang ditulis Jayabaya itu disetujui oleh pendeta Ali Samsujen, kemudian sang pendeta pulang ke negerinya, diantar oleh Jayabaya dan putera mahkotanya Jaya-amijaya di Pagedongan, sampai di perbatasan. Jayabaya diiringi oleh puteranya pergi ke Gunung Padang, disambut oleh Ajar Subrata dan diterima di sanggar semadinya. Sang Anjar hendak menguji sang Prabu yang terkenal sebagai pejelmaan Batara Wisnu, maka ia memberi isyarat kepada endang-nya (pelayan wanita muda) agar menghidangkan suguhan yang terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunir (kunyit) satu akar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juadah satu takir (mangkok dibuat dari daun pisang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geti (biji wijen bergula) satu takir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajar (senthe sebangsa ubi rasanya pahit memabokkan satu batang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bawang putih satu takir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembang melati satu takir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembang seruni (serunai; tluki) satu takir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjar Subrata menyerahkan hidangan itu kepada sang prabu. Seketika Prabu Jayabaya menjadi murka dan menghunus kerisnya, sang Anjar ditikamnya hingga mati, jenazahnya muksa hilang. Endangnya yang hendak laripun ditikamnya pula dan mati seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang putera mahkota sangat heran melihat murkanya Sang Prabu yang membunuh mertuanya (Anjar Subrata) tanpa dosa. Melihat putera mahkotanya sedih, sesudah pulang Prabu Jayabaya berkata dengan lemah lembut. "Ya anakku putera mahkota, janganlah engkau sedih karena matinya mertuamu, sebab sebenarnya ia berdosa terhadap Kraton. Ia bermaksud mempercepat berakhirnya, para raja di tanah Jawa yang belum terjadi. Hidangan sang Ajar menjadi perlambang akan hal-hal yang belum terjadi. Kalau ku-sambut (hidangan itu) niscaya tidak akan ada kerajaan melainkan hanya para pendeta yang menjadi orang-orang yang dihormati oleh orang banyak, sebab menurut guruku Baginda Ali Samsujen, semua ilmu Ajar itu sama dengan semua ilmuku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang prabu anom bertunduk kepala memahami, kemudian mohon penjelasan tentang hidangan-hidangan sang pendeta dalam hubungannya dengan kraton-kraton yang bersangkutan, Sabda Prabu Jayabaya, "Ketahuilah anakku, bahwa aku ini penjelmaan Wisnu Murti, berkewajiban mendatangkan kesejahteraan kepada dunia, sedang penjelmaanku itu tinggal dua kali lagi. Sesudah penjelmaan di Kediri ini, aku akan menjelma Malawapati dan yang terakhir di Jenggala, sesudah itu aku tidak akan lagi menjelma di pulau Jawa, sebab hal itu tidak menjadi kewajibanku lagi. Tata atau rusaknya jagad aku tidak ikut-ikut, serta keadaanku sudah gaib bersatu dengan keadaan di dalam kepala-tongkat guruku. Waktu itulah terjadinya hal-hal yang dilambangkan dengan hidangan Sang Ajar tadi. Terdapat pada 7 tingkat kerajaan, alamnya bergantian, berlainan peraturannya. Wasiatkanlah hal itu kepada anak cucumu di kemudian hari".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun keterangan tentang 7 (tujuh) kraton itu sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman Anderpati dalam jaman Kalawisesa, ibukotanya Pajajaran, tanpa adil dan peraturan. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa emas. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan si Ajar berupa kunyit. Lenyapnya kerajaan karena pertengkaran di antara saudara. Yang kuat menjadi-jadi kesukaanya akan perang dalam tahun rusaknya negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman Srikala Rajapati Dewaraja, ibukotanya Majapahit, ada peraturan negara sementara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa perak. Itulah diperlambangkan suguhan Ajar berupa juadah. Dalam 100 th. Kraton itu sirna, karena bertengkar dengan putera sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman Hadiyati dalam jaman Kalawisaya. Disanalah mulai ada hukum keadilan dan peraturan negara, ibukota kerajaan di Bintara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa tenaga kerja. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan berupa geti. Kraton sirna karena bertentangan dengan yang memegang kekuasaan peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman Kalajangga, bertakhtalah seorang raja bagaikan Batara, ibukotanya di Pajang. Disanalah mulai ada peraturan kerukunan dalam perkara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa segala macam hasil bumi di desa. Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan Ajar berupa kajar sebatang. Sirnanya kerajaan karena bertengkar dengan putera angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman Kala-sakti yang bertakhta raja bintara, ibukotanya Mataram. Disanalah mulai ada peraturan agama dan peraturan negara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa uang perak. Itulah yang dilambangkan dalam suguhan Ajar berupa bawang putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman Kala-jaya dalam pemerintahan raja yang angkara murka, semua orang kecil bertabiat sebagai kera karena sulitnya penghidupan, ibukotanya di Wanakarta. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa uang real. Itulah lambang suguhan yang berupa kembang melati. Kedudukan raja diganti oleh sesama saudara karena terjadi kutuk. Hilanglah manfaat bumi, banyak manusia menderita, ada yang bertempat tinggal di jalanan, ada yang di pasar. Sirnanya Karaton karena bertengkar dengan bangsa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Jaman Kala-bedu di jaman raja hartati, artinya yang menjadi tujuan manusia hanya harta, terjadilah Karaton kembali di Pajang-Mataram. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa macam-macam, ada yang berupa emas-perak, beras, padi dsb. Itulah yang dilambangkan Ajar dengan suguhannya yang berupa bunga serunai. Makin lama makin tinggi pajak orang kecil, berupa senjata dan hewan ternak dsb, sebab negara bertambah rusak, kacau, sebab pembesar-pembesarnya bertabiat buruk, orang kecil tidak menghormat. Rajanya tanpa paramarta, karena tidak ada lagi wahyunya, banyak wahyu setan, tabiat manusia berubah-ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan hilang malunya, tiada rindu pada sanak saudara, tak ada berita benar, banyak orang melarat, sering ada peperangan, orang pandai kebijaksanaannya terbelakang, kejahatan menjadi-jadi, orang-orang yang berani kurangajar tetap menonjol, tak kena dilarang, banyak maling menghadang di jalanan, banyak gerhana matahari dan bulan, hujan abu, gempa perlambang tahun, angin puyuh, hujan salah mangsa, perang rusuh, tak ketentuan musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah semua perlambang si Ajar yang mengandung berbagai maksud yang dirahasiakan dengan endangnya ditemukan dengan Prabu Jayabaya. Saat itu sudah dekat dengan akhir jaman Kalabendu. Sirnanya raja karena bertentangan dengan saingannya (maru=madu). Lalu datanglah jaman kemuliaan raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat inilah pulau Jawa sejahtera, hilang segala penyakit dunia, karena datangnya raja yang gaib, yaitu keturunan utama disebut Ratu Amisan karena sangat hina dan miskin, berdirinya tanpa syarat sedikitpun, bijaksanalah sang raja. Kratonnya Sunyaruri, artinya sepi tanpa sesuatu sarana tidak ada sesuatu halangan. Waktu masih dirahasiakan Tuhan membikin kebalikan keadaan, ia menjadi raja bagaikan pendeta, adil paramarta, menjauhi harta, disebut Sultan Herucakra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datangnya ratu itu tanpa asal, tidak mengadu bala manusia, prajuritnya hanya Sirullah, keagungannya berzikir, namun musuhnya takut. Yang memusuhinya jatuh, tumpes ludes menyingkir, sebab raja menghendaki kesejahteraan negara dan keselamatan dunia seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun bukannya dibatasi hanya 7.000 real tak boleh lebih. Bumi satu jung (ukuran lebar. kl. 4 bahu) pajaknya setahun hanya satu dinar, sawah seribu (jung?) hasilnya (pajaknya) hanya satu uwang sehari, bebas tidak ada kewajiban yang lain. Oleh karena semuanya sudah tobat, takut kena kutuk (kuwalat) ratu adil yang berkerajaan di bumi Pethikat dengan kali Katangga, di dalam hutan Punhak. Kecepit di Karangbaya. Sampai kepada puteranya ia sirna, karena bertentangan dengan nafsunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada Ratu (raja) Asmarakingkin, sangat cantik rupanya, menjadi buah tutur pujian wadya punggawa, beribukota di Kediri. Keturunan ketiganya pindah ke tanah Madura. Tak lama kemudian Raja sirna karena bertentangan dengan kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada 3 orang raja disatu jaman, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ber-ibukota di bumi Kapanasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ber-ibukota di bumi Gegelang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ber-ibukota di bumi Tembalang. Sesudah 30 th. mereka saling bertengkar, akhirnya ketiganya sirna semua. Pada waktu itu tidak ada raja, para bupati di Mancapraja berdiri sendiri-sendiri, karena tidak ada yang dianggap (disegani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian ada seorang raja yang berasal dari sabrang (lain negeri). Nusa Srenggi menjadi raja di Pulau Jawa ber-ibukotadi sebelah timur Gunung Indrakila, di kaki gunung candramuka. Beberapa tahun kemudian datang prajurit dari Rum memerangi raja dari Nusa Srenggi, raja dari Nusa Srenggi kalah, sirna dengan bala tentaranya. Para prajurit Rum mengangkat raja keturunan Herucakra, ber-ibukota di sebelah timur kali opak, negaranya menjadi lebih sejahtera, disebut Ngamartalaya. Sampai pada keturunanya yang ke tiga, sampailah umur Pulau jawa genap 210 matahari. Ramalan di atas disambung dengan "Lambang Praja" yang dengan kata-kata indah terbungkus melukiskan sifat keadaan kerajaan kerajaan di bawah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGGALA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAJAJARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJAPAHIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEMAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAJANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATARAM KARTASURA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAKARTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JOGJAKARTA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir mengenai hal yang belum terjadi ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara Ketangga Pethik tanah madiun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara Ketangga kajepit Karangboyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi Kepanasan, Gegelang (Jipang), Tembilang (Dekat Tembayat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngamartalaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diterangkan bahwa tidak semua naskah Ramalan Jayabaya memuat "Lambang Praja". Maka hal ini banyak menimbulkan dugaan, bahwa ini sebuah tambahan belaka. Demikianlah pokok inti ramalan Jayabaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wonosari.com &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;code&gt;&lt;/div&gt; &lt;/code&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/340940370210729628-6235686442962274360?l=kebangkitan-hindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/feeds/6235686442962274360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/ramalan-jayabaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/6235686442962274360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/340940370210729628/posts/default/6235686442962274360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/2009/09/ramalan-jayabaya.html' title='RAMALAN JAYABAYA'/><author><name>red_on</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_yhxhpt0b_zI/SsrmXdWaZzI/AAAAAAAAAII/qBi8XhVgZ4Y/S220/kamasan_om.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
