Renungan


Translate

Penjelasan tentang Avatara Sri Vishnu ke-10 yang akan Hadir

OM Svastiastu,
By : Vedanta Yoga


Semoga dengan anugerah Tuhan Yang Maha Esa, terwujudkan kedamaian dan kesejahteraan kepada setiap pribadi.


Dalam kali ini  Kebangkitan Hindu  ingin menyampaikan sebuah karya artikel dari seorang teman yang bagi saya dan sobat generasi Hindu perlu ketahui untuk kedepannya bisa menjadi Seorang Hindu yang penuh wawasan dalam kehidupan ini. 
Pesan yang disampaikan dalam artikelnya tersebut seperti itulah adanya, itu adalah informasi yang ada di dalamnya, bagaimana hal tersebut terjadi dan terbukti dimasa mendatang, yang dapat mengetahuinya hanyalah pribadi yang berada pada masa dimana realitas personal_Nya hadir, kita pada masa sekarang mempertahankan informasi yang terdapat dalam Sloka yang telah disampaikan agar tidak disimpangkan atau di putarbalikan, sehingga generasi baru masyarakat Hindu tidak kehilangan pesan yang seharusnya juga mereka ketahui dan apakah sloka tersebut mulititafsir, terbukti atau tidak dimasa mendatang, waktu yang akan membuktikannya, yang menjadi point penting dalam pembahasan ini adalah kebenaran informasi yang terdapat di dalamnya tetap terjaga dari upaya pemutarbalikan dan penyimpangan yang dilakukan oleh oknum oknum yang ingin mengkonversi kesadaran masyarakat Hindu.

Bagi saya secara pribadi, pesan yang terkandung dalam sloka tersebut menyatakan, bahwa dalam Sanathana Dharma, Realitas Mutlak Tuhan Yang Maha Esa akan selalu hadir untuk menegakan Dharma kapanpun, dimanapun, dalam keadaan dan kondisi apapun atas perkenan_Nya sendiri dan kehadiran_Nya tidak akan pernah mampu dihambat atau ditentang oleh apapun dan siapapun.

Melanjutkan penjelasan tentang avatara Sri Vishnu ke-10 yang akan hadir menutup masa Kali-Yuga (masa saat ini) yaitu Sri Kalki Avatara, pembahasan dimulai dari kutipan Sloka Bhagavad Gita berikut ini :

śrībhagavānuvāca
bahūni me vyatītāni janmāni tava cārjuna
tāny ahaṃ veda sarvāṇi na tvaṃ vettha paraṃtapa
||4.5|

"Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Engkau dan Aku sudah dilahirkan berulangkali. Aku dapat ingat segala kelahiran itu, tetapi engkau tidak dapat ingat, Wahai penakluk musuh."

ajopi sann avyayātmā bhūtānām īśvaropi san
prakṛtiṃ svām adhiṣṭhāya saṃbhavāmy ātmamāyayā
||4.6|

"Walaupun Aku tidak dilahirkan dan badan rohani-Ku tidak pernah merosot, dan walaupun Aku penguasa semua makhluk hidup, Aku masih muncul pada setiap jaman dalam bentuk rohani-Ku yang asli."

yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata
abhyutthānam adharmasya tadātmānaṃ sṛjāmy aham
||4.7|

"Kapan pun dan di mana pun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela-pada waktu itulah Aku sendiri menjelma, Wahai putera keluarga Bharata."

paritrāṇāya sādhūnāṃ vināśāya ca duṣkṛtām
dharmasaṃsthāpanārthāya saṃbhavāmi yuge yuge ||4.8|

"Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada setiap jaman."

Sri Krishna menyampaikan pesan rohani_Nya kepada Arjuna, bahwasanya Ia yang merupakan Realitas Personal Tuhan Yang Maha Esa (Sri Bhagavan) akan selalu hadir ke dunia material, dengan perwujudan rohani_Nya yang asli untuk menegakan prinsip prinsip Dharma, menyelamatkan siapapun yang berjalan dalam Dharma, serta melebur (Pralina) siapapun yang berjalan dalam Adharma untuk membersihkan sang jiwa dari kegelapan dan kebodohan yang meliputinya demi sebuah tujuan agar setap jiwa yang telah dilebur tersebut kembali memperoleh kesempatan meretas samsara, mempersiapkan sebuah kehidupan yang lebih baik untuk mencapai Mokshartam Jagadhita Ya Ca Itti Dharma, mewujudkan kebahagiaan di dunia dan realisasi Moksha membebaskan diri dari penderitaan.

Di masa Dvapara – Yuga, Sri Vishnu hadir sebagai Sri Krishna, putra Vasudeva (Putra Raja Surasena) dan Devaki (Keponakan Raja Ugrasena) dari Mathura, Ibu Kota Kerajaan Surasena, kerajaan wangsa Yadava yang merupakan kerajaan yang didirikan oleh Satrughna (Putra Dewi Sumitra dan Raja Dasarata) yang juga adik Sri Rama yang memimpin Kerajaan Kosala dengan ibu kota Ayodhya. Alur sejarah ini menyatakan dengan jelas bahwasannya, Sri Rama dan Sri Krishna, terkait satu sama lain karena baik Sri Rama dan Sri Krishna adalah Sri Vishnu itu sendiri. Sri Rama hadir pada masa Tretha – Yuga menundukan dominasi asura bernama Rahvana dari kerajaan Alengka. Sri Krishna hadir setelah kehadiran Sri Rama di masa berikutnya yaitu Dvapara – Yuga, kehadiran_Nya dari jantung Dewi Devaki, dalam Bhagavata purana dijelaskan sebagai berikut :

mumucur munayo devah
sumanamsi mudanvitah
mandam mandam jaladhara
jagarjur anusagaram
nisithe tama-udbhute
jayamane janardane
devakyam deva-rupinyam
vishnuh sarva-guha-sayah
avirasid yatha pracyam
disindur iva pushkalah

||Bhagavata Purana 10.3.7-8||

“Para dewa dan pribadi suci yang agung menaburkan bunga dalam kebahagiaan hati, dan awan berkumpul di langit dengan sedikit bergemuruh, membuat suara bagaikan gelombang lautan, kemudian Realitas Mutlak Tuhan Yang Maha Esa, Vishnu, yang berada di inti hati setiap pribadi, hadir dari jantung Devaki dalam kegelapan pekat malam, bagaikan bulan purnama terbit di ujung timur, karena Devaki sebelumnya adalah bagian yang sama dari Sri Krishna"

Kehadiran Sri Krishna sebagai putra ke-8 Vasudeva dan Devaki tanpa melalui hasrat hubungan suami istri selayaknya, namun dari permohonan Vasudeva dan Devaki dalam penderitaan mereka dibawah penindasan yang dilakukan oleh Kamsa, tidak lain adalah kakak dari Devaki. Vasudeva dan Devaki hidup dalam pasungan, dikurung dalam penjara. Kelahiran 6 putra Vasudeva dan Devaki berakhir dalam kekejaman Kamsa, putra ke-7 Vasudeva berawal dari kandungan Devaki, tatkala Rohini (Istri pertama Vasudeva) menjenguk Devaki yang sedang mengandung, seketika itu kandungan Devaki berpindah kepada Rohini, keajaiban ini pada akhirnya melahirkan Balarama yang tidak lain a dalah Inkarnasi Ananta Sesa, Naga pengiring Sri Vishnu. Dan Sri Vishnu sendiri hadir sebagai putra ke-8.

Pada saat Sri Krishna hadir, pintu penjara terbuka begitu saja, para pejangga tertidur dengan lelap, Vasudeva dapat leluasa masuk dan membawa Sri Krishan kecil menyeberangi sungai Yamuna membawanya ke Goloka Vrindavana, di kediaman Nanda dan Yasodha, keluarga gopi (pemelihara sapi) selanjutnya membawa putri mereka dalam waktu bersamaan juga baru dilahirkan oleh Yasodha. Vasudeva membawa putri Yasodha kembali ke Mathura. Kamsa yang tidak mengetahui bahwa Sri Krishna telah hadir, hanya menemukan bahwa Devaki melahirkan seorang bayi perempuan (putri Yasodha) membuat Kamsa begitu berbahagia karena sebuah ramalan yang menyatakan bahwa dirinya akan berakhir ditangan putra ke-8 Vasudeva tidak terbukti benar. Pada akhirnya Kamsa berhasil di kalahkan oleh Sri Krishna dan tahta kerajaan Surasena dikembalikan kepada Vasudeva.

Selanjutnya, dari masa Dvapara – Yuga bergerak jauh kemasa Kali – Yuga (keadaan saat ini) ribuan tahun setelah kehadiran Sri Krishna dan Balarama. Sri Kalki Avatara akan hadir untuk menegakan kembali prinsip prinsip Dharma yang terabaikan di masa paling gelap dalam siklus Catur Yuga. Kali – Yuga adalah masa dimana kebodohan, ketidakbenaran, kebohongan, kejahatan mendominasi kehidupan manusia. Sri Kalki Avatara dalam bahasa sanskerta, kata “kalki” berarti “penghancur keburukan” dimana asal kata “kalka – buruk”. Untuk mendapatkan gambaran jelas kapan Sri Kalki Avatara akan hadir ke dunia, Bhagavata Purana menjelaskan sebagai berikut :

athāsau yuga-sandhyāyāḿ
dasyu-prāyeṣu rājasu
janitā viṣṇu-yaśaso
nāmnā kalkir jagat-patiḥ
||Srimad Bhagavatam 1.3.25||

“Setelah itu, pada pergantian dua yuga (Kali – Yuga dan Sathya – Yuga), Tuhan Sang Maha Pencipta akan mengambil kelahiran_Nya sebagai inkarnasi Kalki dan menjadi putra Visnu Yasa. Pada saat dimana para penguasa bumi telah merosot menjadi para perampok”
[http://vedabase.net/sb/1/3/25/en]

Sri Kalki Avatara akan hadir disaat pergantian Kali – Yuga dan Sathya – Yuga, dimana keadaan didunia sudah tidak terkendali lagi, keadaan pada saat para pemimpin dunia tidak lagi mengindahkan tugas kepemimpinannya, namun telah merosot menjadi penindas dan perampok masyarakat yang dipimpinnya sendiri, keadaan yang mewakili realitas kehidupan manusia saat ini, dimana banyak pemimpin dunia yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan penindasan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Selanjutnya Bhagavata Purana menjelaskan lebih lanjut :

kṣīyamāṇeṣu deheṣu
dehināḿ kali-doṣataḥ
varṇāśramavatāḿ dharme
naṣṭe veda-pathe nṛṇām
pāṣaṇḍa-pracure dharme
dasyu-prāyeṣu rājasu
cauryānṛta-vṛthā-hiḿsā-
nānā-vṛttiṣu vai nṛṣu
śūdra-prāyeṣu varṇeṣu
cchāga-prāyāsu dhenuṣu
gṛha-prāyeṣv āśrameṣu
yauna-prāyeṣu bandhuṣu
aṇu-prāyāsv oṣadhīṣu
śamī-prāyeṣu sthāsnuṣu
vidyut-prāyeṣu megheṣu
śūnya-prāyeṣu sadmasu
itthaḿ kalau gata-prāye
janeṣu khara-dharmiṣu
dharma-trāṇāya sattvena
bhagavān avatariṣyati
||Srimad Bhagavatam 12.2.12 – 16||

“Pada saat masa Kali - Yuga berakhir, ukurang tubuh semua mahluk akan sangat merosot, dan prinsip prinsip agama pengikut varnasrama (catur varna) akan hancur. Jalan Veda akan benar benar dilupakan oleh masyarakat manusia, dan apa yang disebut agama kebanyakan tidak berke_Tuhan_an. Raja - raja (Para pemimpin) sebagian besar akan menjadi pencuri, pekerjaan manusia menjadi pencuri, berbohong dan melakukan tindakan kekerasan, dan kualifikasi sosial akan merosot lebih rendah dari kualifikasi sudra (pekerja). Sapi akan menjadi seperti kambing, pertapaan spiritual (rohani) tidak akan berbeda dengan rumah rumah biasa, dan ikatan kekeluargaan akan memanjang tidak lebih dari sebuah ikatan pernikahan langsung. Kebanyakan tanaman dan tumbuhan akan menjadi kecil, dan semua pohon akan muncul seperti pohon sami yang pendek. Awan akan penuh petir, rumah tanpa kebaikan (moralitas), dan semua manusia akan menjadi seperti keledai (diliputi kebodohan). Pada saat itu, Realitas Mutlak Tuhan Yang Maha Esa akan hadir di bumi. Bertindak dengan kekuatan spiritual murni ke_Tuhan_an, Dia akan menyelamatkan kebenaran abadi (Dharma tranaya)"
[http://vedabase.net/sb/12/2/12-16/en]

Pada masa masa akhir Kali – Yuga, kondisi kehidupan manusia berada pada titik paling rendah, kualifikasi manusia lebih buruk dari pada Varna Sudra (Pekerja) karena sebagian besar kehidupan manusia terperosok dalam kegiatan yang bertentangan dengan kebenaran, manusia menjadi pencuri, pembohong dan pelaku tindak kekerasan antar sesamanya. Para pemimpin tidak menjalankan tugas memimpinnya tapi menjadi perampok dan penindas. Kebodohan menutupi kesadaran umat manusia. Pembunuhan terhadap sapi terjadi dimana mana. Rumah tangga dan ikatan kekeluargaan hanya sebatas sebuah ikatan pernikahan tanpa adanya moralitas atau pendidikan susila didalamnya. Cuaca dan iklim dunia tidak lagi mendukung kehidupan manusia, tumbuh tumbuhan tidak tumbuh seperti seharusnya, pohon pohon gersang dan pendek. Sebuah gambaran nyata realitas yang ada saat ini dan akan terus bergerak menjadi lebih buruk karena ketidaksadaran umat manusia itu sendiri. Prinsip prinsip pengetahuan Veda diabaikan, Catur Vrna disimpangkan. Pada saat itulah Realitas Mutlak Tuhan Yang Maha Esa akan hadir dengan kekuatan ke_Tuhan_an_Nya sendiri, Ia menyelamatkan Kebenaran Abadi (Sanathana Dharma) dan mengawali Sathya – Yuga.

carācara-guror viṣṇor
īśvarasyākhilātmanaḥ
dharma-trāṇāya sādhūnāḿ
janma karmāpanuttaye
||Srimad Bhagavatam 12.2.7||

"Realitas Mutlak Tuhan Yang Maha Esa, Vishnu. Guru spiritual (rohani) dari semua mahluk hidup, yang bergerak dan yang tidak bergerak dan semua jiwa yang agung (mulia), mengambil kelahiran untuk melindungi prinsip prinsip agama dan meringankan para pemuja suci_Nya dari reaksi kerja material"
[http://vedabase.net/sb/12/2/17/en]

Sri Vishnu, kehadirannya pada masa Kali – Yuga sebagai Sri Kalki Avatara untuk melindungi prinsip prinsip agama (Dharma) dan meringankan reaksi dosa yang terjadi akibat kerja (karma) yang dilakukan para bhakta_Nya. Bagi masyarakat Sanathana Dharma, dalam segala kegiatan apapun yang dilakukan dengan kesadaran bahwa setiap tindakan adalah wujud bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam tindakan tersebut segala bentuk hasilnya diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa tanpa ikatan pamrih. Dengan begitu reaksi dosa atas setiap kerja material (karma) dapat diminimalkan, dan walaupun segala tindakan didasarkan pada kesadaran, reaksi karma-phala tetap terjadi dan mengikat. Oleh karena itu dengan kesadaran ke_Tuhan_an ikatan karma-phala tersebut diminimalkan, dan dengan kesadaran ke_Tuhan_an pula segala tindakan buruk dan bertentangan dengan Dharma semakin dapat dihindari. Karena tujuan akhir dari semua usaha di dunia adalah mencapai realisasi tertinggi, pembebasan diri dari segala ikatan karma-phala dan samsara (siklus kehidupan dan kematian badan material) yang selalu menimbulkan penderitaan bagi setiap manusia tersadari atau tidak.

śambhala-grāma-mukhyasya
brāhmaṇasya mahātmanaḥ
bhavane viṣṇuyaśasaḥ
kalkiḥ prādurbhaviṣyati
||Srimad Bhagavatam 12.2.18||

"Realitas personal kalki akan hadir di rumah seorang brahmana yang paling mulia dari desa sambhala, jiwa yang mulia vishnuyasa"
[http://vedabase.net/sb/12/2/18/en]

Sri Kalki Avatara akan hadir dalam keluarga Varna Brahmana (Pandita/Pemimpin masyarakat Sanathana Dharma) yang paling mulia dari desa Sambhala, yang bernama Vishnuyasa. Vishnuyasa yang juga berarti seorang pemuja Vishnu mencirikan bahwa keluarga tersebut berada dalam lingkungan para bhakta sanathani yang memuja Sri Vishnu.

aśvam āśu-gam āruhya
devadattaḿ jagat-patiḥ
asināsādhu-damanam
aṣṭaiśvarya-guṇānvitaḥ
vicarann āśunā kṣauṇyāḿ
hayenāpratima-dyutiḥ
nṛpa-lińga-cchado dasyūn
koṭiśo nihaniṣyati
||Srimad Bhavatam 12.2.19 – 20||

"Realitas personal kalki, sang penguasa semesta, akan mengendarai kuda cepat_Nya, Devadatta dan pedang di tangan_Nya, mengelilingi dunia menunjukan delapan keajaiban kekuasaan_Nya dan delapan kualitas khusus ke_Tuhan_an_Nya. Menampilkan cahaya_Nya yang tidak tertandingi dan mengendarai (kuda_Nya) dengan kecepatan tinggi, Ia akan membunuh (menundukan) jutaan orang pencuri yang berani berpakaian sebagai raja"
[http://vedabase.net/sb/12/2/19-20/en]

Kehadiran Sri Kalki Avatara adalah “kiamat” bagi para penjahat, pencuri dan para pemimpin yang tidak menjalankan tugas kepemiminannya melindungi masyarakat yang dipimpin. Mereka yang bersikap dan hidup selayaknya raja namun menjadi penindas bagi sesamanya akan ditumpas habis oleh Sri Kalki Avatara, jutaan orang akan dimusnahkan karena keburukan diri mereka sendiri. Dengan kekuatan dan kemahakuasaan_Nya tidak ada satupun diantara para pencuri tersebut yang kan mampu menghambat_Nya, memurnikan dunia dari para bandit yang menindas manusia lainnya.

atha teṣāḿ bhaviṣyanti
manāḿsi viśadāni vai
vāsudevāńga-rāgāti-
puṇya-gandhānila-spṛśām
paura-jānapadānāḿ vai
hateṣv akhila-dasyuṣu
||Srimad Bhagavatam 12.2.21||

"Setelah semua raja penipu tersebut ditumpas (ditundukan), para penduduk di kota dan daerah di sekitarnya akan merasakan angin membawa aroma paling mulia (suci) dari pasta cendana dan hiasan lainnya dari Realitas Personal Vasudeva (Sri Kalki) dan pikiran mereka akan menjadi hingga tidak terpikirkan lagi"
[http://vedabase.net/sb/12/2/21/en]

Setelah semua penipu dan para pencuri yang mengaku sebagai pemimpin dunia itu di tundukan, dengan bahasa yang lebih keras, kesemuanya telah di tumpas. Masyarakat dunia seakan menerima sebuah anugerah luar biasa yang tidak terbayangkan, tidak terjelaskan dalam pikiran mereka. Realitas personal Tuhan Yang Maha Esa, Vasudeva (Sri Kalki) hadir sendiri menganugerahkan berbagai kebahagiaan dan perlindungan hidup kepada masyarakat dunia, sehingga pikiran mereka tidak mampu menggambarkan betapa bahagia dan luar biasanya anugerah yang diterima.

teṣāḿ prajā-visargaś ca
sthaviṣṭhaḥ sambhaviṣyati
vāsudeve bhagavati
sattva-mūrtau hṛdi sthite
||Srimad Bhagavatam 12.2.22||

"Ketika Realitas Personal Vasudeva (Sri Kalki), Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, hadir di dalam hati mereka dalam realitas mutlak Ke_Tuhan_an_Nya, masyarakat yang masih tersisa akan berkembang pesat mengisi kembali bumi"
[http://vedabase.net/sb/12/2/22/en]

Ketika kesadaran masyarakat dunia pulih setelah seluruh penindas dan pencuri yang mendominasi telah ditumpas, Realitas Mutlak Tuhan Yang Maha Esa hadir di dalam hati mereka dalam Kesadaran Utama_Nya. Dan dengan kesadaran ke_Tuhan_an yang ada dalam hati setiap manusia pada masa itu, perkembangan masyarakat dunia menjadi pesat dan kembali mengisi kehidupan di dunia dibawah kesadaran utama ke_Tuhan_an.

yadāvatīrṇo bhagavān
kalkir dharma-patir hariḥ
kṛtaḿ bhaviṣyati tadā
prajā-sūtiś ca sāttvikī
||Srimad Bhagavatam 12.2.23||

"Disaat Realitas Mutlak Tuhan Yang Maha Agung telah hadir di bumi sebagai Sri Kalki, sang penjaga (pelindung) agama (kebenaran), sathya - yuga akan dimulai, dan umat manusia akan melahirkan generasi yang baru (keturunan) dalam lingkungan kebaikan" [http://vedabase.net/sb/12/2/23/en]

Kehadiran Realitas Personal Sri Vishnu sebagai Sri Kalki Avatara, sang penjaga nilai nilai kebenaran agama, penegak prinsip prinsip moralitas, yang menyampaikan kembali Dharma kepada masyarakat dunia akan mengawali masa baru peradaban manusia, masa dimana generasi yang baru akan terbentuk dalam lingkungan kehidupan yang baik, Sathya – Yuga pun akan dimulai. Kehidupan umat manusia berada pada puncak kebaikan, kedamaian, keharmonisan serta kesejahteraan.

yadā candraś ca sūryaś ca
tathā tiṣya-bṛhaspatī
eka-rāśau sameṣyanti
bhaviṣyati tadā kṛtam
||Srimad Bhagavatam 12.2.24||

"Ketika bulan, matahari dan Jupiter (Brhaspati) bersama sama (sejajar) dalam gugusan bintang Karkata (Delta Cancer) dan ketiganya bergerak bersamaan memasuki gugusan bintang Pusya, pada masa tersebut Sathya - Yuga atau Kertha - Yuga akan dimulai" [http://vedabase.net/sb/12/2/24/en]

Kehadiran Sri Kalki Avatara ditandai dengan fenomena semesta sejajarnya Bulan, Matahari dan Planet Jupiter (Brhaspati) dalam gugusan bintang Cancer yang secara bersamaan bergerak memasuki guugsan bintang Pusya. Ditandai fenomena semesta tersebutlah masa baru peradaban dunia akan dimulai, Sathya – Yuga atau Kertha – Yuga, masa keemasan (golden age) umat manusia hadir kembali dibawah perlindungan langsung Realitas Mutlak Tuhan Yang Maha Esa, dibawah tegaknya kebenaran agama (Sanathana Dharma), bersama penerapan prinsip prinsip moralitas, umat manusia mencapai realisasi tertinggi kehidupan di dunia dalam kedamaian, kebahagiaan, keharmonisan serta kesejahteraan. Generasi baru umat manusia tumbuh dalam pengetahuan, kecerdasan, budi pekerti dan hidup dalam penghormatan terhadap nilai nilai kemanusiaan, harmonis dengan lingkungan hidupnya.

Keseluruhan penjelasan yang tertuang dalam Bhagavata Purana, merincikan sebuah gambaran personal Sri Kalki Avatara, kepribadian Sri Vishnu, Realitas Mutlak Tuhan Yang Maha Esa, pelindung seluruh kesadaran kehidupan yang ada di alam semesta, penegak tertinggi kebenaran, Ia Yang Maha Kuasa yang menundukan segala ketidakbenaran. Sri Vishnu, dengan kemurahan hati_Nya, memenuhi permohonan setiap bhakta_Nya hadir, menyelamatkan pribadi pribadi yang saleh, yang berjalan dalam Dharma, teguh dalam kebaikan. Sri Vishnu, Ia yang hadir disetiap hati mahluk hidup, guru spiritual setiap kesadaran kehidupan, yang bergerak dan tidak bergerak, hadir dalam realitas_Nya sendiri ke dunia material untuk sebuah misi mengembalikan umat manusia ke dalam tatanan yang seharusnya dijalani dalam mengarungi kehidupan di dunia material.

Pada akhirnya, sebuah pengetahuan telah disampaikan, masyarakat Hindu Dharma (para Bhakta Sanathani) tidaklah menunggu sebuah kiamat atau pemusnahan semesta, sebaliknya masyarakat Hindu Dharma sedang mempersiapkan akhir dari dominasi para Asura (Pribadi buruk, para pencuri yang berpakaian selayaknya raja), akhir dari dominasi ketidakbenaran (Adharma), akhir dari dominasi kebodohan (Pembodohan), kebohongan (Pembohongan), akhir dari segala ideologi yang tidak berke_Tuhan_an, tidak berkemanusiaan dan tidak mendukung keharmonisan hidup umat manusia dengan lingkungan hidupnya. Masyarakat Hindu Dharma mempersiapkan kembali masa keemasan peradaban manusia, kemuliaan dibawah naungan Realitas Personal Tuhan Yang Maha Esa, sebuah Kesadaran Utama bahwasanya, tidak ada satu pun angkara (ketidakbenaran/Adharma) yang akan mampu bertahan saat Realitas Kebenaran Mutlak ITU sendiri hadir untuk menegakan Kebenaran (Dharma).


Ke-9 Realitas Personal mampu di diskripsikan dengan jelas karena kehadiran_Nya dimasa lampau telah tercatat dalam Sastra, sudah menjadi bagian sejarah dalam masyarakat Sanathana Dharma, sedangkan diskripsi Sri Kalki adalah Realitas Personal yang akan hadir, lalu bagaimana kita yang saat ini berada dalam keterbatasan untuk mampu membuktikan Realitas_Nya akan hadir memenuhi diskripsi yang ada atau tidak, waktu yang akan membuktikannya, yang kita lakukan adalah menjaga kebenaran informasi yang terdapat dalam Sastra yang menjelaskan kehadiran_Nya dimasa mendatang
 




Seandainya kita kurang beruntung mampu menyimak langsung kehadiran_Nya, semoga generasi berikutnya memiliki kesempatan tersebut atau kelahiran kita kembali dimasa mendatang seandainya pencapaian tujuan tertinggi dalam satu siklus samsara ini masih menyisakan ikatan karma-wasana.

Akhir kata, Semoga pengetahuan ini memberikan sumbangsih kesadaran kepada kita sebagai masyarakat Hindu Dharma, bahwa dengan resiko apapun, teguh dalam Swadharma Bhakti kita, kita tidak pernah menderita oleh apapun, karena Realitas Kenaran Mutlak ITU sendiri (SAT) ada dalam pribadi kita masing masing. Aham Brahman Asmi – Aku adalah Brahman ITU sendiri. Sampai jumpa pada kesempatan dan pembahasan berikutnya. Satyameva Jayate Nanritam – Hanya Realitas Kebenaran yang pasti akan menang. 

OM Namo Bhagavate Vasudeva Ya
OM Namo Bhagavate Rudra Ya

OM Shanti Shanti Shanti OM

Sumber : facebook.com
Catatan kalki:
http://vedabase.net/bg/en
http://vedabase.net/en
http://ganesha19.blogspot.jp/2012/12/ramalan-kemunculan-kalki-awatara.html
http://vicdicara.wordpress.com/2012/07/19/calculating-kali-yuga-using-astrology/
Read More...

Perwujudan Semesta Sri Krishna Berdasarkan Sloka Bhagavad Gita ---

Om Swastiastu...

Kali ini saya ingin mengajak mengenalkan Sloka sloka Bhagavad Gita yang menceritakan tentang sebuah citra yang menjelaskan perwujudan Semesta Sri Krishna (Vishnu) yang disaksikan oleh Arjuna, Sanjaya serta Maharsi Vyasa Deva, citra ini bersumber dari Sloka Bhagavad Gita.
XI. athaikādaśodhyāyaḥ. (viśvarūpadarśanayogaḥ)

arjuna uvāca

madanugrahāya paramaṃ guhyam
adhyātmasaṃjñitam
yat tvayoktaṃ vacas tena mohoyaṃ vigato mama ||11.1|

"Arjuna berkata; Dengan mendengar wejangan tentang mata pelajaran yang paling rahasia ini yang sudah Anda berikan kepada hamba atas kemurahan hati Anda, khayalan hamba sekarang sudah dihilangkan."

bhavāpyayau hi bhūtānāṃ śrutau vistaraśo mayā
tvattaḥ kamalapatrākṣa māhātmyam api cāvyayam
||11.2|

"O Krsna yang mempunyai mata seperti bunga padma, hamba sudah mendengar dari Anda secara terperinci tentang muncul dan menghilangnya setiap makhluk hidup dan hamba sudah menginsafi kebesaran Anda yang tidak pernah dibinasakan."

evam etad yathāttha tvam ātmānaṃ parameśvara
draṣṭum icchāmi te rūpam aiśvaraṃ puruṣottama ||11.3|

"O kepribadian yang paling mulia, bentuk yang paling utama, walaupun hamba melihat Anda berdiri di sini di hadapan hamba dalam kedudukan Anda yang sejati, sesuai dengan uraian Anda tentang Diri Anda, hamba ingin melihat bagaimana Anda masuk dalam manifestasi alam semesta ini. Hamba ingin melihat bentuk Anda tersebut."

manyase yadi tac chakyaṃ mayā draṣṭum iti prabho
yogeśvara tato me tvaṃ darśayātmānam avyayam ||11.4|

"Kalau Anda berpikir hamba sanggup memandang bentuk semesta Anda, sudilah kiranya Anda memperlihatkan bentuk semesta Diri Anda yang tidak terhingga itu kepada hamba, o Tuhan yang hamba muliakan, penguasa segala kekuatan batin."

śrībhagavān uvāca

paśya me pārtha rūpāṇi śataśotha sahastraśaḥ
nānāvidhāni divyāni nānāvarṇākṛtīni ca ||11.5|

"Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Wahai Arjuna yang baik hati, wahai putera prtha, sekarang lihatlah kehebatan-Ku, beratus-ratus ribu jenis bentuk rohani yang berwarna-warni."

paśyādityān vasūn rudrān aśvinau marutas tathā
bahūny adṛṣṭapūrvāṇi paśyāścaryāṇi bhārata ||11.6|

"Wahai yang paling baik di antara para Bharatha, lihatlah di sini berbagai perwujudan para Aditya, vasu, Rudra, Asvini-kumara dan semua dewa lainnya. Lihatlah banyak keajaiban yang belum pernah dilihat atau didengar oleh siapapun sebelumnya."

ihaikasthaṃ jagat kṛtsnaṃ paśyādya sacarācaram
mama dehe guḍākeśa yac cānyad draṣṭum icchasi ||11.7|

"Wahai Arjuna apapun yang ingin engkau lihat, lihatlah dengan segera dalam badan-Ku ini! Bentuk semesta ini dapat memperlihatkan kepadamu apapun yang engkau ingin lihat sekarang dan apapun yang engkau ingin lihat pada masa yang akan datang. Segala sesuatu- baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak-berada di sini secara lengkap, di satu tempat."

na tu māṃ śakyase draṣṭum anenaiva svacakṣuṣā
divyaṃ dadāmi te cakṣuḥ paśya me yogam aiśvaram ||11.8|

"Tetapi engkau tidak dapat melihat-Ku dengan mata yang engkau miliki sekarang. Karena itu, Aku memberikan mata rohani kepadamu. Lihatlah kehebatan batin-Ku."


sañjaya uvāca

evam uktvā tato rājan mahāyogeśvaro hariḥ
darśayām āsa pārthāya paramaṃ rūpam aiśvaram ||11.9|

"Sanjaya berkata; Wahai paduka Raja, sesudah bersabda demikian, Tuhan Yang Mahakuasa, penguasa segala kekuatan batin, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, memperlihatkan bentuk semesta-Nya kepada Arjuna."


anekavaktranayanam anekādbhutadarśanam
anekadivyābharaṇaṃ divyānekodyatāyudham ||11.10|
divyamālyāmbaradharaṃ divyagandhānulepanam
sarvāścaryamayaṃ devam anantaṃ viśvatomukham
||11.11|

"11.10-11 Dalam bentuk semesta itu, Arjuna melihat mulut-mulut yang tidak terhingga, mata yang tidak terhingga, dan wahyu-wahyu ajaib yang tidak terhingga. Bentuk tersebut dihiasi dengan banyak perhiasan rohani dan membawa banyak senjata rohani yang diangkat. Beliau memakai kalung rangkaian bunga dan perhiasan rohani, dan banyak jenis minyak wangi rohani dioleskan pada seluruh badan-Nya. Semuanya ajaib, bercahaya, tidak terbatas dan tersebar kemana-mana."


divi sūryasahastrasya bhaved yugapad utthitā
yadi bhāḥ sadṛśī sā syād bhāsas tasya mahātmanaḥ
||11.12|

"Kalau beratus-ratus ribu matahari terbit di langit pada waktu yang sama, mungkin cahayanya menyerupai cahaya dari kepribadian yang paling utama dalam bentuk semesta itu."


tatraikasthaṃ jagat kṛtsnaṃ pravibhaktam anekadhā
apaśyad devadevasya śarīre pāṇḍavas tadā ||11.13|

"Pada waktu itu, dalam bentuk semesta Tuhan, Arjuna dapat melihat perwujudan-perwujudan alam semesta yang tidak terhingga terletak di satu tempat walaupun dibagi menjadi beribu-ribu."


tataḥ sa vismayāviṣṭo hṛṣṭaromā dhanaṃjayaḥ
praṇamya śirasā devaṃ kṛtāñjalir abhāṣata ||11.14|

"Kemudian Arjuna kebingungan dan kagum, dan bulu romanya tegak berdiri. Arjuna menundukkan kepalanya untuk bersujud, lalu mencakupkan tangannya dan mulai berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa."

arjuna uvāca

paśyāmi devāṃs tava deva dehe
sarvāṃs tathā bhūtaviśeṣasaṃghān
brahmāṇam īśaṃ kamalāsanasthaṃ
ṛṣīṃś ca sarvān uragāṃś ca divyān ||11.15|

"Arjuna berkata; Sri Krsna yang hamba muliakan, di dalam badan Anda hamba melihat semua dewa dan berbagai jenis makhluk hidup yang lain. Hamba melihat Brahma duduk di atas bunga padma, bersama Dewa Siva, semua resi dan naga-naga rohani."

anekabāhūdaravaktranetraṃ
paśyāmi tvāṃ sarvatonantarūpam
nāntaṃ na madhyaṃ na punas tavādiṃ
paśyāmi viśveśvara viśvarūpa ||11.16|

"O penguasa alam semesta, o bentuk semesta, di dalam badan Anda hamba melihat banyak lengan, perut, mulut dan mata, tersebar ke mana-mana, tanpa batas,. Hamba tidak dapat melihat akhir, pertengahan, maupun awal di dalam Diri Anda."

kirīṭinaṃ gadinaṃ cakriṇaṃ ca
tejorāśiṃ sarvato dīptimantam
paśyāmi tvāṃ durnirīkṣyaṃ samantād
dīptānalārkadyutim aprameyam || 11.17|

"Bentuk Anda sulit dilihat karena cahaya-Nya yang menyilaukan, tersebar ke segala sisi, seperti api yang menyala atau cahaya matahari yang tidak dapat diukur. Namun hamba melihat bentuk ini yang bernyala di mana-mana dihiasi dengan berbagai jenis mahkota, gada, dan cakra."

tvam akṣaraṃ paramaṃ veditavyaṃ
tvam asya viśvasya paraṃ nidhānam
tvam avyayaḥ śāśvatadharmagoptā
sanātanas tvaṃ puruṣo mato me ||11.18|

" Anda adalah tujuan pertama yang paling utama. Andalah sandaran utama seluruh jagat ini. Anda tidak dapat dimusnahkan, dan Andalah yang paling Tua. Andalah pemelihara dharma yang kekal, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Inilah pendapat hamba."

anādimadhyāntam anantavīryam
anantabāhuṃ śaśisūryanetram
paśyāmi tvāṃ dīptahutāśavaktraṃ
svatejasā viśvam idaṃ tapantam ||11.19|

"Anda tidak berawal, tidak ada masa pertengahan bagi Anda dan Anda tidak berakhir. Kebesaran Anda tidak terhingga. Jumlah lengan Anda tidak terbilang. Matahari dan bulan adalah mata Anda. Hamba melihat Anda dengan api yang bernyala keluar dari mulut Anda. Anda sedang membakar seluruh jagat ini dengan cahaya pribadi Anda."

dyāvāpṛthivyor idam antaraṃ hi
vyāptaṃ tvayaikena diśaś ca sarvāḥ
dṛṣṭvādbhutaṃ rupam ugraṃ tavedaṃ
lokatrayaṃ pravyathitaṃ mahātman ||11.20|

"Walaupun Anda adalah satu, Anda berada di mana-mana di seluruh angkasa, planet-planet dan antariksa antar planet-planet. O kepribadian yang Mulia dengan melihat bentuk yang mengagumkan dan mengerikan ini, semua susunan planet goyah."

amī hi tvāṃ surasaṃghā viśanti
kecid bhītāḥ prāñjalayo gṛṇanti
svastīty uktvā maharṣisiddhasaṃghāḥ
stuvanti tvāṃ stutibhiḥ puṣkalābhiḥ ||11.21|

"Semua kelompok dewa menyerahkan diri di hadapan Anda dan masuk ke dalam diri Anda. Beberapa di antaranya sangat ketakutan dan mereka mempersembahkan doa pujian sambil mencakupkan tangannya. Banyak resi yang mulia dan makhluk-makhluk yang sempurna yang sedang berseru, “semoga ada segala kedamaian!” sedang berdoa kepada Anda dengan menyanyikan mantra-mantra veda."

rudrādityā vasavo ye ca sādhyā
viśveśvinau marutaś coṣmapāś ca
gandharvayakṣāsurasiddhasaṃghā
vīkṣante tvāṃ vismitāś caiva sarve ||11.22|

"Segala manifestasi dari Dewa Siva, para Aditya, para vasu, para Sandya, para Visvedeva, dua Asvi, para Marut, para Leluhur, para Gandharva, para Yaksa, para Asura dan dewa-dewa yang sempurna memandang Anda dengan rasa kagum."

rūpaṃ mahat te bahuvaktranetraṃ
mahābāho bahubāhūrupādam
bahūdaraṃ bahudañṣṭrākarālaṃ
dṛṣṭvā lokāḥ pravyathitās tathāham ||11.23|

"O kepribadian yang berlengan perkasa, semua planet dengan dewa-dewanya goyah ketika melihat bentuk Anda yang maha Agung, dengan banyak muka, mata, lengan, paha, kaki, dan perutnya, dan banyak gigi Anda yang mengerikan; karena itu, mereka goyah, dan hamba juga goyah."

nabhaḥspṛśaṃ dīptam anekavarṇaṃ
vyāttānanaṃ dīptaviśālanetram
dṛṣṭvā hi tvāṃ pravyathitāntarātmā
dhṛtiṃ na vindāmi śamaṃ ca viṣṇo ||11.24|

"O Visnu yang berada di mana-mana, ketika hamba melihat Anda dengan berbagai warna Anda yang bercahaya dan menyentuh langit, mulut-mulut Anda yang terbuka lebar dan mata Anda yang besar dan menyala, pikiran hamba goyah karena rasa takut. Hamba tidak dapat memelihara sikap mantap maupun keseimbangan pikiran lagi."

daṃṣṭrākarālāni ca te mukhāni
dṛṣṭvaiva kālānalasaṃnibhāni
diśo na jāne na labhe ca śarma
prasīda deveśa jagannivāsa ||11.25|

"O penguasa para dewa, pelindung dunia-dunia, mohon memberi karunia kepada hamba. Hamba tidak dapat memelihara keseimbangan ketika melihat Anda seperti ini dengan wajah-wajah Anda yang menyala seperti maut dan gigi yang mengerikan. Di segala arah hamba kebingungan."

amī ca tvāṃ dhṛtarāṣṭrasya putrāḥ
sarve sahaivāvanipālasaṃghaiḥ
bhīṣmo droṇaḥ sūtaputras tathāsau
sahāsmadīyair api yodhamukhyaiḥ ||11.26|
vaktrāṇi te tvaramāṇā viśanti
daṃṣṭrākarālāni bhayānakāni
kecid vilagnā daśanāntareṣu
saṃdṛśyante cūrṇitair uttamāṅgaiḥ 11.27

"11.26-27 Semua putera Dhrtarastra, bersama raja-raja yang bersekutu dengan mereka, Bhisma, Drona, Karna dan – semua pemimpin kesatria di pihak kita – lari masuk ke dalam mulut-mulut Anda yang mengerikan. Hamba melihat beberapa di antaranya tersangkut dengan kepala-kepalanya hancur di antara gigi-gigi Anda."

yathā nadīnāṃ bahavombuvegāḥ
samudram evābhimukhā dravanti
tathā tavāmī naralokavīrā
viśanti vaktrāṇy abhivijvalanti ||11.28|

"Bagaikan ombak-ombak banyak sungai mengalir ke dalam lautan, seperti itu pula semua kesatria yang hebat ini menyala dan masuk ke dalam mulut-mulut Anda."

yathā pradīptaṃ jvalanaṃ pataṅgā
viśanti nāśāya samṛddhavegāḥ
tathaiva nāśāya viśanti lokās
tavāpi vaktrāṇi samṛddhavegāḥ ||11.29|

"Hamba melihat semua orang lari dengan kecepatan penuh ke dalam mulut-mulut Anda, bagaikan kupu-kupu yang terbang menuju kehancuran di dalam api yang menyala."

lelihyase grasamānaḥ samantāl
lokān samagrān vadanair jvaladbhiḥ
tejobhir āpūrya jagat samagraṃ
bhāsas tavogrāḥ pratapanti viṣṇo ||11.30|

"O Visnu, hamba melihat Anda menelan semua orang dari segala sisi dengan mulut-mulut Anda yang mengeluarkan banyak api. Anda menutupi seluruh alam semesta dengan cahaya Anda, Anda terwujud dengan sinar-sinar yang mengerikan dan menganguskan."

---
OM Namo Bhagavate Vasudeva Ya
OM Namo Narayana Ya 

 Sumber : http://www.facebook.com/vedanta.yoga/posts/358951320881336?comment_id=1949415&ref=notif&notif_t=like

Read More...

Siapakah Pembawa Ajaran Hindu Ke Dunia?

Om Swastiastu ...
Oleh : Sri Jahnava Nitai Das


Sejauh kita perhatikan dalam sejarah, Hindu Dharma tidak memiliki satu pendiri seperti agama-agama lain. Pustaka-pustaka suci kuno India (Veda) menyatakan bahwa dharma ini sesungguhnya didirikan atau berasal langsung dari Tuhan Sendiri (dharman tu saksadbhagavad pranitam). Dari sudut pandang kitab suci, ‘agama’ atau dharma ini termanifestasi bersamaan dengan setiap kali penciptaan oleh kehendak Tuhan. Setelah penciptaan siklik dari alam semesta yang menjadi tempat kita hidup saat ini, Tuhan Tertinggi yang disebut sebagai Narayana dalam Veda, mengajarkan dharma kepada Brahma, insan pertama di alam semesta. Brahma kemudian mengajarkannya kembali kepada putra-putranya, salah satunya adalah Narada, yang kemudian menyampaikannya lagi kepada Vyasa Mahamuni. Dengan cara inilah dharma yang purba ini diturunkan melalui sebuah rangkaian garis perguruan yang bermula langsung dari Tuhan melalui jutaan tahun yang tak terhitung lamanya.

Dengan demikian agama yang bersumber dari Veda ini dikenal sebagai sanatana-dharma, atau agama yang kekal, karena ia melampaui segala konsep ruang dan waktu buatan manusia. Kita tidak boleh bingung antara sanatana dharma dengan keyakinan agama lain yang bersifat sektarian, karena sanatana dharma ini sungguh-sungguh merupakan fungsi yang asli dari sangjivatma, sebagaimana sifat cair tidaklah dapat dipisahkan dari air.Nama atau kata modern Hinduisme atau agama Hindu, merupakan istilah yang baru sajadikembangkan pemakaiannya kira-kira 700 tahun yang lalu oleh penjajah Muslim di India. Adasebuah sungai yang disebut Shindu, yang salah disebut oleh para penjajah ini sebagai Hindu.Semua orang yang tinggal di seberang sungai itu, tak peduli apapun keyakinannya, disebut oleh mereka orang-orang Hindu. Ajaran-ajaran suci dan nilai-nilai yang dianut oleh orang-orang ‘Hindu’ ini secara mudah juga mereka sebut agama Hindu, untuk membedakannya dari keyakinan yang mereka anut. Sehingga tentu saja salah apabila kita menyimpulkan bahwa ada kemungkinan kita dapat melacak sejarah awal agama kuno India berdasarkan penggunaan kata ini dalam sejarah. Kita harus mengetahui bahwa dalam kitab-kitab suci ‘Hindu’ yang purba ini tak dapat ditemukan satu kata Hindu pun. Namun kita menemukan kata sanatana-dharma(dharma yang kekal), vaidika-dharma (dharma dari Veda), bhagavata-dharma (dharma yang berasal dari Tuhan), dan sebagainya. Dharma ini senantiasa segar dan abadi. Artinya dia tidak pernah ketinggalan jaman dan ada untuk selamanya. Dijelaskan dalam sastra suci Veda bahwa kapanpun dharma ini melemahatau bahkan lenyap, maka Tuhan Sendiri akan turun membangunnya kembali. Salah satuny adalah ketika Beliau turun sebagai Sri Krishna 5000 tahun yang lalu. Beliau menegakkan kembali dharma dengan memusnahkan berbagai kekuatan jahat dan menyabdakan kembali Bhagavad-gita di tengah medan perang Kuruksetra. “Yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya tadatmanam srijamy aham,” Kapanpun prinsip-prinsip dharma mengalami kemunduran dan adharma merajalela, pada saat itu Aku (Tuhan) sendiri turun untuk menegakkannya kembali” (Bhagavad Gita 4.7). Dalam sejarah Veda, ada tak terhitung banyaknya orang-orang suci yang datang dan menyebarluaskan ajaran-ajaran rohani yang terkandung dalam Pustaka Suci Veda, tetapi tak satupun dapat disebut sebagai pendiri agama. Masing-masing adalah murid (sishya) dari seorang guru dan masing-masing juga menyampaikan pengetahuan yang sama sebagaimana diajarkan oleh gurunya terdahulu. Inilah sistem Veda, tidak ada pendiri, karena setiap orang pertama-tama dan utamanya adalah seorang murid. Dharma tidak bisa dibuat manusia, diawali oleh manusia, atau bahkan oleh makhluk-makhluk lain yang lebih dari manusia. Dharma dijelaskan sebagai ajaran dan petunjuk langsung dari Tuhan, “dharman tu saksad bhagavad pranitam.” Dharma ini tidak bermula dari makhluk fana apapun (apauruseya).

Bagaimana kita bisa yakin bahwa ajaran Hindu yang bersumber pada Veda inisungguh-sungguh berasal dari Tuhan? Mudah saja, pertama tidak ada yang bisa membuktikan kapan Veda bermula. Veda sanatana, kekal abadi, anadi dan ananta, tiada awal dan akhirnya,karena Veda merupakan sabda-brahma yang memancar (nigama) langsung dari Tuhan YangMaha Esa, yang juga adalah sanatana, anadi, dan ananta. Kedua, Veda merupakanapauruseya, tidak berasal dari makhluk fana. Tidak satu agamapun yang bisa mengatakanajaran atau kitab sucinya apauruseya, semua agama lain terbukti memiliki nabi yang mengawaliberdirinya agama itu. Ketiga, hanya dalam Veda Tuhan Sendiri berjanji untuk menjaga dharma ini secara langsung. Beliau Sendiri bersedia menyisihkan keagungan-Nya (paratva) untuk turunke dunia menyelamatkan Veda-dharma. Beliau sungguh-sungguh menunjukkan betapa besarkasih sayang-Nya (vatsalyatva) bagi pengikut Veda. Untuk mereka Beliau menyediakan Diri-Nya untuk mudah didekati (saulabhya) dan dapat bekerja sama dengan mereka menjaga dharma (sausilya).
Dalam agama lain, ajaran seperti ini tidak ada. Secara logika (anumana) kita bisamenyimpulkan bahwa tuhan yang dipuja di sana bukanlah Tuhan Sejati, karena tuhan itu tidak mampu turun ke dunia. Apapun alasannya, apabila ada yang tidak bisa dilakukan oleh suatu Ada/Being (vastu), maka pastilah itu bukan Tuhan. Bagaimana mungkin ada tuhan yang tidak mampu melakukan sesuatu? Kemudian andaikata yang dipuja itu adalah Tuhan Sejati yang disebutkan juga dalam Veda, maka Tuhan menganggap selain Vedadharma tidak pantas atau tidak cukup layak mendapatkan perhatian yang besar. Buktinya Beliau tidak bersedia secara langsung turun ke dunia menjaga dharma non-vedik itu.
Hanya dari tiga kenyataan ini saja kita sudah mampu melihat bahwa Veda dharma ini memang sungguh-sungguh berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya lebih mudah membuktikankeabsahan Veda dibandingkan ajaran-ajaran agama bernabi. Siapa bisa menjamin kalau manusia-manusia yang disebut nabi, yang lahir tidak lebih dari beberapa ribu tahun yang lalu itu, memang benar menerima wahyu dari Tuhan? Mereka hanya membawa suatu ajaran yang berasal entah dari mana dan bersifat eksternal (external unknown source). Mereka memaksa suatu masyarakat berubah di bawah ancaman dan hukuman. 
Berbeda dengan para Maharishi. Para Maharishi menyatakan bahwa mereka hanyalah menyampaikan dharma yang kekal, dharma yang terkandung dalam diri sejati kita. Mereka hanyalah berusaha mengembalikan apa yang sesungguhnya memang milik kita, menyatu dengan jati diri kita yang asli. Para Maharishi tidak datang untuk sekedar menyuruh kita tunduk kepada Tuhan dan diri mereka sebagai utusan-Nya. Beliau-beliau ini hanya menyatakan diri sebagai orang yang lebih dahulu menginsafi Brahman Tertinggi, kemudian mengajak kita untuk turut mengalami sendiri potensi tak terbatas kita dalam berhubungan dengan Brahman. Ajarannya merupakan cara kita melatih diri menginsafi dharma sejati kita. Inilah yang menjadi dasar ajaran rohani yang kini disebut Hindu itu.  
Untuk tambahan silakan baca http://lingganarayana.blogspot.com/2009/08/pewahyuan-weda-dan-misteri-wahyu.html
Sambil mencoba mengisi content blog dan usaha untuk belajar untuk menjadi seorang narablogger(bahasa orang yang senang ngeblog versi dagdigdug.com) biar ke tingkat advance, dengan melakukan survey atau lebih tepatnya mengamalkan ilmu follow the competitor, sampailah ke satu situs yang membuat jari-jari ini berhenti ngeklik dan membaca dengan intense. Karena apa? di salah satu situs yang sangat luar biasa saya menemukan satu artikel yang menguatkan atau melengkapi postingan awal saya(Wedangga=Weda Sruti?...). Situs ini layak mendapat 4 jempol(sampai jempol kaki), saya rekomendasikan dan saya jadikan inspirasi/patokan/referensi dalam konteks pengkajian wedangga baik secara keilmuan weda maupun keilmuan ilmiah. Situs yang beralamat di http://ngarayana.web.ugm.ac.id/ ini dikelola oleh admin dengan nickname ngarayana, yang sangat lugas dan cerdas, mengulas keilmuan weda yang dikomparasikan dengan keilmuan ilmiah, sungguh ruarrrr biasa, salut!
Kembali ke judul post, pada postigan tanggal Rabu, 12 Agustus 2009, Ngarayana menulis postingan judul "Poster kronologi pewahyuan Veda", saat membacanya hati saya langsung berkata "nah ini dia yang saya cari", langsung saya minta ijin untuk mengutipnya, membaginya disini dan mencoba mekomparasinya dengan wahyu wedangga.


Pewahyuan Weda


Dalam artikel tersebut, dijelaskan bagaimana proses kitab suci Weda diturunkan (Sruti) kepada 7 Sapta Maha Rsi yang akhirnya disusun menjadi kitab (Smerti) oleh Bagawan Abiyasa/Vyasa. Bahkan sampai-sampai menyertakan posternya segala (speechless saya bro, 4 thumbs up).
Menurut Kitab Weda yang konon telah diturunkan 1,9 Milyar tahun yang lalu (buset) dengan cara lisan(Sruti), akhirnya pada tahun 3.138 sm dikodifikasi, dikumpulkan dan ditulis ulang oleh Maha Rsi Vyasa. 

Proses pewahyuan/penurunan weda ini dapat dilihat di kitab yajurveda 30.7:
Yajurveda 30.7
Tasmad Yajnat sarvahuta
Rcah samani jajnire
Chandami jajnire tasmad
Yajus tasmad ajayata
Artinya;
“Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadanya umat manusia mempersembahkan berbagai yadnya dan daripadanya muncul Rgveda dan Sama veda. Daripadanya muncul yajurveda dan Samaveda“


Dalam proses pewahyuan Weda tersebut, ada beberapa cara yang dikenal, diantaranya adalah :
1. Svaranada, gema yang diterima oleh para Rsi yang kemudian menjadi sadba Tuhan yang kemudian disampaikan kepada murid-muridnya.
2. Upanisad, pikiran para Rsi dimasuki oleh sabda Brahman dan berfungsi sebagai penghubung dalam kondisi pendidikan “Param-para”
3. Darsana atau Darsanam, dimana para Rsi berhadapan secara rohani dalam suatu situasi gaib yang bersifat spiritual.
4. Avatara, yakni pewahyuan dengan menerima langsung dari perwujudan Tuhan yang menjelma langsung ke dunia, seperti Arjuna menerima ajaran Bhagavad Gita dari Sri Krsna dalam medan perang Kurusetra
Sebagaimana dijelaskan dalam Brahma Samhita, Catur Veda diterima pertama kali dari Tuhan Yang Maha Esa oleh mahluk hidup yang pertama, yaitu Dewa Brahma. Dewa Brahma menurunkan ajaran Veda kepada sapta rsi (7 Rsi) yaitu;
1. Rsi Grtsamada, yang banyak disebut dalam hubungannya dengan turunya wahyu-wahyu pada Rgveda Mandala 2.
2. Rsi Visvamitra, yang dikaitkan dengan seluruh Mandala 3 Rgveda.
3. Rsi Vamadeva, yang dikaitkan dengan Mandala 4 Rgveda
4. Rsi Atri, yang berhubungan dengan Mandala 5 Rgveda. Dalam keluarga Rsi Atri disebut bahwa terdapat 36 Rsi penerima wahyu.
5. Rsi Bharadvaja, yang banyak dikaitkan dengan turunnya Mandala 6 Rgveda, kecuali beberapa bagian yang berhubungan dengan nama Sahotra dan Sarahotra.
6. Rsi Vasistha, yang banyak berhubungan dengan Mandala 7 Rgveda. Dalam kisah Mahabrata, rsi ini juga sering disamakan dengan Rsi Visvamitra.
7. Rsi Kanva, yang merupakan nama pribadi dan nama keluarga yang banyak dikaitkan dengan mandala 8 Rgveda. Adapun mandala 9 dan 10 adalah kumpulan wahyu yang diterima oleh beberapa Rsi yang lain.


Penyampaian Veda kepada seluruh umat manusia berlangsung melalui sistem parampara dan sebagian besar hanya disampaikan secara lisan dari guru ke murid. Hal ini berlangsung selama jutaan tahun. Sampai akhirnya pada akhir jaman Dvaparayuga atau pada awal jaman Kaliyuga, Maha Rsi Vyasa (Veda Vyasa) yang diyakini sebagai Avatara Tuhan melakukan kodifikasi, pengumpulan dan penulisan ulang Veda. Hal ini beliau lakukan karena beliau sadar bahwa pada jaman Kaliyuga ingatan manusia akan merosot tajam sehingga untuk membantu pengajaran Veda selanjutnya diperlukan teks-teks Veda yang ditulis dalam kulit kayu, batu dan sejenisnya (ngarayana,2009, Poster kronologi pewahyuan weda,( www.ngarayana.web.ugm.ac.id ).
Misteri Pewahyuan Wedangga
Nah wedangga atau diartikan "Weda Ana Ring Angga" adalah satu tingkatan spiritual dimana orang yang telah sampai di tingkat tersebut, akan bisa membahasakan bahasa roh dalam bentuk mantra atau bahasa, berkomunikasi dengan roh-roh suci, mempunyai kemampuan spiritual khusus dan dapat mendapat wahyu berupa pengetahuan spiritual.
Wedangga ini identik dengan kemampuan berbahasa (bahkan bisa berbicara arab, china, yahudi, latin/kristen dll, padahal orangnya gak pernah mempelajari bahasa tersebut) atau mengucapkan mantra-mantra tertentu sesuai maksud penggunaannya (sembahyang, pengobatan dan jaga diri) dan gerak-gerak (mudra) yang sangat kentara sebelum melakukan kegiatan terutama persembahyangan. Pewahyuan wedangga biasanya berlangsung dimana oarang tersebut masih dalam keadaan sadar ketika menyampaikan wahyu tersebut. Ini berbeda dengan praktek spiritual balian/mangku/jero dasaran (shamanic) yang umum di Bali. Kalau di Bali masih dipercaya satu orang dengan tingkatan tertentu yang dianggap mampu untuk menyampaikan pesan-pesan dari roh-roh. Biasanya menyampaikan pesan dari pitara/leluhur atau ida sesuhunan(roh yang menjadi sungsungannya dalam praktek spiritual) berupa pesan kehidupan, kesembuhan/sebab-sebab penyakit/malapetaka dan pengetahuan tentang kehidupan spiritual. Untuk Di Bali praktek-praktek pewahyuan dapat dibagi menjadi beberapa bagian:
1. Kerauhan
dimana mediator tidak sadarkan diri (trance) dalam menyampaikan pesannya, bisa melaksanakan kegiatan yang diluar nalar seperti: mendadak bisa menari, menusuk dirinya, bertingkah seperti binatang tertentu, di suatu kondisi tertentu berbahasa yang diluar kemampuannya (jawa kuno dll). Jika dilihat dari kaca spiritual, tampaknya mediator tersebut dipinjam raganya oleh roh-roh dengan energi yang lebih besar sehingga kadang-kadang terlihat mediator menjadi lemas setelah proses kerauhan tersebut dan pesannya kadang-kadang gak jelas (kadang dalam keadaan menangis atau marah-marah gak karuan.
2. Jero Dasaran/Mangku Tapakan
Ini biasanya dilaksanakan oleh seseorang yang mendapat pengakuan sosial dari masyarakat atau bisa dikatakan telah menjadi profesi di tingkat spiritual. Orang tersebut hanya bisa mengarahkan roh-roh mana yang akan dimasukan (katanya) sesuai dengan keinginan klien dengan perantaraan sarana sesajen tertentu(beras, air,dll). Biasanya pesannya dapat didengar dengan jelas dan terkontrol, namun masih bersifat kerauhan dimana mediator tidak sadarkan diri atau menggunan sarana dupa sebagai pertanda waktu mediator untuk menyadarkan diri, ketika dupa telah habis dan menyentuh tangannya (ya iyalah panas bok).
3. Titah/sabda
Ini biasanya diterima dimana kesadaran mediator masih dikontrol, biasanya mediator dalam prosesi spiritual tertentu (sembahyang, meditasi, bertapa). hanya didengar oleh mediator sendiri tidak bisa dibahasakan secara langsung bersifat pribadi.
4. Tutur
Ini berbeda dengan kerauhan dimana mediator melakukannya secara sadar. Namun pada waktu bicara, apa yang dibicarakan bukan berasal dari kehendak mediator. Biasanya berisi ajaran-ajaran atau ilmu pengetahuan spiritual untuk berkehidupan. Bahasanya dapat dimengerti, biasanya menggunakan bahasa Bali atau bahkan bahasa indonesia.Tentu hal ini sangat sulit dan hanya dapat dilakukan di tingkat spiritual tertentu, dimana keikhlasan dan pikiran mediator telah dapat dikendalikan, sehingga tidak bercampur dengan tutur tersebut. Ini biasanya dapat ditemukan setiap mengadakan persembahyangan bersama di pesraman(Purnama Tilem atau Tirtayathra). Tentu yang mampu sebagai mediator "tutur" tingkat wedangga-nya telah mumpuni dan telah mengetahui mantra kunci-kunci tertentu, agar pesan yang datang tersebut betul-betul dari beliau bukan dari roh-roh lain.
Jika dikaitkan dengan pewahyuan weda di atas nampak jelas beberapa persamaan dalam konteks pewahyuan terutama dalam Svaranada (gema yang diterima oleh para Rsi yang kemudian menjadi sadba Tuhan yang kemudian disampaikan kepada murid-muridnya). Namun tetap kami ingatkan Weda bersifat universal sedangkan wedangga untuk diri sendiri. Tutur hanya salah satu dari banyaknya ajaran agama untuk menuntun kita dalam kehidupan. Semoga bermanfaat.


Om Shanti Shanti Shanti om...


Sumber : Vedanta Yoga http://www.facebook.com/groups/diskusi.agama/
Read More...