Renungan


Translate

Pemahaman dan Arti Simbol Ongkare

Om Swastiastu...

Salam Bhineka Tunggal Ika, hari ini saya ingin menyampaikan suatu karya tentang pemahaman simbol simbol dalam Hindu dimana simbol simbol tersebut sangat banyak macamnya dimana salah satunya adalah ONGKARE.
Para generasi Muda Hindu yang saya banggakan...wawasan akan Simbul Ongkare ini adalah karya tulis seorang teman bernama Dede Yasa Varmadeva, yang menjelaskan arti simbol simbol pada Ongkare. Untuk itu mari kita simak.





Sat = Yang tak berwujud

Untuk memudahkan manusia menuju Sat, maka dimunculkanlah Ong Kara. Dari Ong Kara muncullah Dwi Aksara yaitu Ang dan Ah. Dwi Aksara juga adalah perlambang Rwabhineda (Dualitas), Ang adalah Purusa (Bapa Akasha) dan Ah adalah Prakerti (Ibu Prtivi).

Pada tahapan berikutnya, dari Dwi Aksara ini muncullah Tri Aksara, yaitu Ang, Ung dan Mang. Dari banyak sumber pustaka, dikatakan bahwa AUM inilah yang mengawali sehingga muncullah OM. (Apakah ini petunjuk bahwa ONG itu lebih dulu/tua daripada OM?)

Pada tahapan berikutnya, dari Tri Aksara muncullah Panca Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, dan ING. Dari Panca Aksara kemudian muncullah Dasa Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, dan YANG.

Pada arah mata angin, Dasa Aksara terletak berurutan dari Timur = SANG, Selatan = BANG, Barat = TANG, Utara = ANG, dan tengah-tengah/poros/pusat = ING, kemudian Tenggara = Nang, Barat Daya = Mang, Barat Laut = SING, Timur Laut = WANG dan tengah-tengah/poros/pusat = YANG. Ada dua aksara yang menumpuk di tengah-tengah, yaitu ING dan YANG. (Apakah ini asal muasal YING dan YANG?)

Tapak Dara (+) adalah simbol penyatuan Rwabhineda (Dualitas), (|) dan segitiga yang puncaknya ke atas, mewakili Purusa/Bapa Akasha/Maskulin/Al/El/God/Phallus. Sedangkan (-) dan segitiga yang puncaknya ke bawah mewakili Prakerti/Ibu Prtivi/Feminim/Aloah/Eloah/Goddess/Uterus.

Hanya dengan melampaui Rwabhineda (dualitas), menyatukan/melihat dalam satu kesatuan yang utuh/keuTUHAN, maka pintu gerbang menuju Sat akan ditemukan. KeuTUHAN disini, bukan menjadikan satu, namun merangkum semuanya, menemukan intisari dari semua perbedaan yang ada tanpa menghilangkan atau menghapus perbedaan yang ada. Bukan juga merangkul semuanya dalam satu sistem tertentu, bukan juga untuk satu agama tertentu, tapi temukan dan kumpulkanlah semua serpihan kebenaran yang ada di setiap perbedaan yang membungkusnya. Inilah BHINEKA TUNGGAL IKA TAN HANNA DHARMA MANGRWA.

Memang pemahaman ini masih sulit diterima oleh mereka yang terjebak dalam dogma dan doktrin agama masing-masing. Pemahaman ini memang diperuntukkan bagi mereka yang akan dan sedang menapaki jalan spiritual. Dan bagi mereka yang telah melampaui jalan spiritualitas silahkan digunakan seperlunya.

Damai dan Cinta Kasih untuk semua... _/\_

Ah... Ang... Ong _/\_
 

Read More...

Filosofi, Arti dan Makna Warna Poleng Menurut Hindu Bali

Om Swastiastu...

Hallooo...para generasi muda hindu seluruh nusantara yang saya banggakan, agak sedikit melenceng sesuai judul tetapi ini adalah ungkapan hati saya setelah sekian kali dan terus menerus terjadi di nusantara ini, belum kering kejadian Di Lampung Selatan sudah ada lagi luka baru di Sumbawa silakan baca ini kerusuhan-berbau-etnis-terjadi-di-sumbawa  sungguh ironis negeri ini. Dimana mana negeri ini sepertinya tidak bisa menghargai lagi arti PANCASILA dan Bhineka Tunggal Ika.
Kita sebagai generasi Hindu semestinya menjadi lebih kuat dan Dharma dalam menerima semua kejadian itu...Karena KARMAPALA akan berjalan seiring waktu yang tidak bisa di lawan maupun dihancurkan, dimana setelah kerusuhan Sumbawa tersebut pihak penegak hukum kembali melakukan Otopsi ulang dengan akhir cerita hasil otopsi tersebut sangat di luar dugaan silakan baca ini dokter-forensik-kematian-arniati-disebabkan-kecelakaan akhirnya  
Satyam Eva Jayate", "pada saatnya kebenaran lah yang akan menang".

Tetapi apa daya setelah semua menjadi abu dan pengungsi yang mencapai ribuan yang menjadi korban yang tidak bersalah. Mudah mudahan untuk berikutnya tidak ada lagi kejadian yang mengatasnamakan SARA di negeri ini. 

Untuk itu marilah kita membahas sesuai judul diatas yaitu Filosofi, Arti dan Makna Warna Menurut Hindu Bali. Para generasi muda hindu kita saat ini yang tidak mengetahui arti warna dan maknanya walaupun sangat sepele ttetapi mempunyai arti yang sangat dalam bagi umat hindu khususnya. Agar nanti jika ada pertanyaan tentang hal tersebut dari si K ataupun I kita bisa memberikan arti yang sesungguhnya mulai dari " kenapa pohon beringin itu dikasi/dililitkan kan kain poleng ? dengan begitu para generasi muda bisa memberikan arti penjelasan yang sebenarnya.


Warna Poleng di Bali mengandung makna yang tersendiri. Secara umum Poleng adalah merupakan perpaduan warna hitam dan putih yang banyak sekali bisa kita temukan di Bali. Warna ini merupakan makna sakral di Bali yang sampai saat ini tetap ajeg dipergunakan dalam simbol-simbol kehidupan budaya orang Bali. Orang Bali sudah terbiasa dengan warna ini dan mempergunakannya dalam keseharian mereka, dan didalam permaknaan dalam kehidupan mereka. Mereka secara sadar ataupun tidak telah ikut menjaga dan melestarikan simbol-simbol budaya para leluhurnya.


Dalam kehidupan orang Bali sebenarnya dikenal ada tiga macam warna Poleng.

Poleng yang pertama, Warna poleng ”Hitam dan Putih” seperti  warna papan catur ini disebut dengan Poleng ”Rwa Bhineda”. Warna Poleng ini terdiri dari warna hitam dan putih yang merupakan simbolik dari Dharma dan Adharma, atau unsur positif dan unsur negatif.


Poleng yang kedua, perpaduan warna antara warna Hitam, warna Abu-abu, dan warna Putih. Warna Poleng ini disebut dengan ”Poleng Sudhamala”. Makna yang terkandung didalamnya yaitu warna Hitam merupakan simbol dari Adharma/ unsur negatif, warna putih merupakan simbol dari Dharma/ unsur positif. Sedangkan warna abu-abu ini merupakan sebagai warna penyelaras dari makna Dharma/ unsur Positif (Warna Putih) dan Adharma/ unsur negatif (warna Hitam).


Warna Poleng yang ketiga, ”Poleng Tridatu” yaitu : kombinasi perpaduan dari tiga warna yaitu : Warna Merah, Warna Hitam dan Warna Putih. Warna Merah dalam ”Tridatu” ini merupakan lambang dari Rajas, sifat energik. Warna hitam dalam Tridatu ini melambangkan Tamas, atau sifat malas dan Warna Putih simbol dari Satwam yaitu kebijaksanaan atau kebaikan. Adapula yang memaknai Warna tridatu ini sebagai perlambang penyatuan dari Tri Murti yang mana warna Merah merupakan simbolik dari Dewa Brahma, Warna Hitam simbolik dari Dewa Wisnu dan Putih merupakan simbolik dari Dewa Siwa.


Warna Poleng secara umum pada masyarakat Hindu Bali biasa kita bisa lihat dan dipergunakan pada pakaian Para Pecalang, pada Kul kul (kentongan), patung-patung Penjaga Pintu Gerbang, atau juga biasanya dipakai oleh para Balian. Kesemuanya itu tadi merupakan perlambang dari Penjaga.



Makna Filosofi dari Warna Poleng, Poleng merupakan kampanye sosial kita kepada masyarakat di seluruh dunia. Dengan makna poleng hendaknya kita sebagai manusia merupakan penjaga bagi kelestarian alam dan warisan tradisi budaya kita. Melalui tema warna Poleng, menyerukan kepada kita semua ’Kita harus berbuat dalam rangka Kelestarian Alam, pelestarian, pengembangan dan penggalian budaya leluhur”. Dengan demikian, kita juga ikut menjaga alam Bali dan Budaya masyarakat Bali khususny.

Harapan kita bersama, Makna Poleng merupakan sebuah kewajiban dan Dharma kita sebagai manusia.

Om Shanti Shanti Shanti Om...
 
Sumber: sujanatanahlot.com
Read More...